Minggu, 20 Agustus 2023
Perbedaan Timtsal, Shonam dan Awtsan sebagai Berhala
Sabtu, 21 Januari 2023
Selasa, 14 Juni 2022
Keutamaan Dan Khususiyyah Dzikrullah.
Keutamaan Dan Khususiyyah Dzikrullah.
Oleh : Al Marwiyy
Hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Mu’adz Bin Anas
ra, dari Rasulullah saw.
“Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi
saw, berkatalah laki-laki tersebut kepada Nabi saw: Jihad seperti apakah yang
lebih agung pahalanya ?, kemudian Rasulullah saw bersabda : Mereka yang paling
banyak berDzikir kepada Allah. Laki-laki itu bertanya Kembali : orang berpuasa
seperti apakah yang lebih agung pahalanya ?, Rasulullah saw bersabda : Mereka
yang paling banyak berDzikir kepada Allah. Kemudian laki-laki itu bertanya yang
sama tentang Shalat, Zakat, Haji dan Shodaqoh, dan Rasulullah saw menjawabnya
dengan jawaban yang sama, beliau saw bersabda : Mereka yang paling banyak berDzikir
kepada Allah.
Diriwayatkan dari Imam At Tirmidzi ra dari Sahabat Abi
Sa’id Al Khudzri ra : Ditanyakan kepada Rasulullah saw : Para Hamba seperti apa
yang lebih utama derajatnya di sisi Allah swt di hari kiamat ?, kemudian
Rasulullah saw bersabda : Mereka para laki-laki dan Perempuan yang banyak
berDzikir kepada Allah swt. Selanjutnya Shabat Abu Sa’idz Al Khudzri ra berkata
: Wahai Rasulullah, bagaimana dengan orang yang berperang fi sabilillah?,
Rasulullah saw bersabda : Andaikan mereka memukulkan pedangnya kepada orang Kuffar
dan Musyrikin sampai mereka (Kuffar dan Musyrikin) itu hancur dan berlumuran
darah, maka Orang-orang yang banyak berDzikir kepada Allah lebih utama Derajatnya
dari mereka yang berperang fi sabilillah seperti itu.
Dzikrullah adalah Penopang Sandaran bagi seseorang
menuju Allah swt, maka seseorang tidak akan sampai kepada Allah swt dengan
tanpa mendawamkan Dzikir kepada Allah swt, dan hal itu adalah bagian dari perintah-NYA,
yang diperkuat pula dengan adanya dalil-dalil berikut ini :
1.
Firman Allah swt :
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا · وَسَبِّحُوهُ
بُكْرَةً وَأَصِيلً
“Hai
orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang
sebanyak-banyaknya, Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang”.
2.
Hadits Nabi saw, beliau bersabda :
يا ابْنَ
آدَمَ، إذا ذَكَرْتَنِي شَكَرْتَنِي، وإذا نَسِيتَنِي كَفَرْتَنِي
“Wahai anak Adam, Jikalau
engkau berdzikir kepadaku maka berarti engkau telah bersyukur kepadaku, dan
jikalau engkau lalai kepadaku maka berarti engkau telah kufur kepadaku”
3.
Hadits Nabi saw yang bunyinya :
خير الاعمال
ذكر الله تعالى
“Sebaik-baiknya Amal adalah
Dzikrullahi Ta’ala”
4.
Hadits Nabi saw lagi yang bunyinya :
لِكُلِّ
شيْءٍ صِقَالَ وصِقالُ القلوبِ ذكْرُ اللهِ
"Pada tiap-tiap sesuatu ada Pemolesnya (agar tampak bagus), dan Pemoles
hati adalah Dzikrullah”
Itulah dalil-dalil pijakan yang mengokohkan agar
seorang Hamba senantiasa mendawamkan Dzikir kepada Allah swt.
Didalam Hadits yang lain, Ketika Baginda Nabi saw
sedang Bersama para sahabatnya, beliau saw bersabda :
إِذَا رأيتم
رِيَاض الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ مجلس
الذِّكْرِ
“jikalau kalian melihat Taman
surga, maka singgahlah dengan senang gembira. Kemudian sahabat bertanya :
dimanakah taman surga itu wahai Rasulullah?, Rasulullah saw bersabda : Ia
adalah Majlis Dzikir”.
Barang siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di
sisi Allah swt, maka lihatlah bagaimana kedudukan Allah swt di hadapannya.
Karena sesungguhnya Allah swt menempatkan kedudukan seorang Hamba dari-NYA,
sebagaimana Hamba tersebut menempatkan Kedudukan Allah swt atas dirinya.
Imam Abu Ali Ad Daqoq ra berkata : Dzikir adalah Jalannya
para Aulia, dan barang siapa menyelaraskan diri dengan Dzikir, maka sungguh ia telah
mendatangi jalannya para Aulia, dan barang siapa menolak Dzikir, maka sungguh
ia telah terusir (dari Jalan para Aulia).
Bahkan Imam Dzu Nun Al Mishri ra berkata : Siksa para
Aulia adalah terputusnya Dzikir darinya.
Dzikir lebih utama dari pada Tafakur, sebab Allah swt
mensifati dirinya dengan Dzikir dan tidak mensifati dirinya dengan Tafakur, dan
sesungguhnya Allah swt menjadikan Kriteria pertemuan dengan-NYA melalui Dzikir
kepada-NYA, Allah swt berfirman :
فاذكروني أذكركم
"Dan berdzikirlah kalian kepadaku, Niscaya akupun akan menyebut kalian”
Ayat tersebut menjadi bukti bahwa Dzikir menjadi
amaliyah yang khususiyah teruntuk Umat Islam, yang Allah tidak memberikannya
kepada Umat-Umat sebelumnya.
Rasulullah saw juga bersabda dalam Hadits Qudsyi,
Allah swt berfirman :
ولذكر الله أكبر
Makna hadits Qudsyi tersebut bahwasannya Dzikir kepada
Allah swt yang diikrarkan dengan kalimat tersebut, ada didalam makna Firman
Allah swt yang bunyinya :
أذكروتي أذكركم
“Berdzikirlah kalian kepadaku,
maka aku-pun akan menyebut kalian",
dan Ketika Allah swt menyebut hamba-NYA hal itu lebih Agung daripada Dzikir hamba
kepada-NYA
Dan termasuk dari ke-Khususan Dzikir yang lain lagi
adalah bahwasannya Dzikir tidak terbatas waktunya, bahkan seorang Hamba di
perintahkan untuk senantiasa Berdzikir
dalam setiap waktunya, dengan Lisannya, atau dengan hatinya, baik
berbentuk kefardluan maupun berupa kesunahan.
Wallahu A’lam.
Karawang, 15/06/2022; 11:05 wib
Jumat, 04 Maret 2022
Tata Cara Memandikan Jenazah/Mayit
Tata Cara
Memandikan Jenazah/Mayit
Di Terjemahkan dari Kitab At Taqrirotu Asy
Syadidah Karya Sayyid Al Habib Hasan Bin Ahmad Bin Muhammad Al Kaff yang
mengambil pembelajaran dari Al Aalim Al Allaamah Ash Shuufi Sayyid Al Habib
Zein Bin Ibrohim Bin Zein Bin Smith Madinah.
A. Hukum
Memandikan Jenazah terbagi menjadi :
- Wajib : pada haknya setiap orang muslim selain orang
yang Syahid dalam pertempuran melawan orang-orang Kafir yang memerangi, dan
selain Janin Bayi Keluron/Keguguran yang tidak Nampak jelas padanya standar
bentuk Manusia.
- Jaiz/Boleh : Bagi orang Kafir dan Janin Bayi
Keluron/Keguguran yang tidak Nampak jelas padanya standar bentuk Manusia.
- Haram : Bagi orang yang Gugur Syahid dalam
pertempuran.
B. Paling
sedikitnya memandikan jenazah/mayit yang diwajibkan adalah dengan meratakan air
ke seluruh badannya dengan Air.
C. Adapun
sempurnanya memandikan Jenazah adalah seperti Langkah-langkah berikut ini ;
- Meletakan Mayit diatas tempat memandikannya, hendaklah papan tempat meletakan mayit untuk dimandikan terdapat lubang-lubang agar percikan-percikan air saat memandikannya mengalir melalui lubang tersebut (Yang lebih baik adalah agar tempat meletakan kepala Mayit lebih tinggi dari tempat meletakan kaki si mayit), dan hendaklah mayit ditutupi dengan Kain yang tipis, kemudian dibaringkan diatas punggungnya mayit (Berbaring Terlentang) dan Kaki si mayit menghadap Kiblat, hendaklah memandikannya di tempat sepi tertutup dan dibawah Atap serta tidaklah hadir dalam proses memandikan mayit kecuali orang-orang yang membantu proses memandikannya serta Wali si Mayit, dan menutup wajah si Mayit dari Awal meletakannya di atas Dipan tempat memandikannya.
- Orang yang memandikan Mayit agar membuat
sobekan kain yang di pegang oleh tangan kirinya, kemudian menuangkan air bersih
diatas mayit dari arah kepalanya sampai dengan ujung kakinya sambil memijat/
menggosok seluruh badannya mayit.
- Orang yang memandikan mayit menopang kepala
mayit secara perlahan dan lembut, maka sandarkanlah punggung si mayit diatas
kedua lutut orang yang memandikannya dan tangan kanan orang yang memandikannya
menopang bahu si mayit kemudian jari jempolnya berada di tengkuk punggung mayit
agar kepala mayit tidak terkulai, kemudian telapak tangan kiri bagian dalam
mengusap-ngusap perut si mayit secara perlahan dan lembut untuk mengeluarkan
sisa kotoran dari perutnya, setelah selesai, kembalikanlah mayit ke posisi
semula, dan hendaknya membakar bukhur dari awal memandikannya hingga selesai
untuk menutupi aroma tidak sedap.
- Orang yang memandikan mayit agar
meng-istinja-kan (Menceboki) si mayit, maka cucilah qubul dan dubur (lubang
kelamin dan pantat yang tampak dari luar) dan sekitarnya dengan tangan kiri
orang yang memandikannya (Dengan melilitkan secercah kain di tangannya), hal
tersebut dilakukan selain pada mayit yang Qubul atau duburnya rusak. Dan
banyak-banyaklah menuangkan air saat melakukannya untuk menghilangkan kotoran
yang keluar serta aroma yang menetap.
- Kemudian Orang yang memandikan mayit membasuh
kotoran-kotoran dengan kain yang baru yang terdapat dibawah kuku, didalam telinga,
hidung dan mulutnya seta kotoran (belek) di kedua matanya.
- Orang yang memandikan mayit me-wudlu-kan si
mayit dengan wudlu yang sempurna beserta sunah-sunahnya serta bacaan dzikirnya,
dan jadikanlah secercah kain dengan melilitkan pada jari telunjuk tangan kiri
orang yang memandikannya untuk menyikat/menyela-nyela air pada anggota wudlu si
mayit, dan di saat mengumurkan air ke mulutnya serta memasukan air ke hidungnya
agar kepala mayit di condongkan ke atas supaya air tidak masuk ke rongga dalam
tubuh si mayit, dan diwajibkan niat wudlu serta disunahkan membaca do’a setelah
wudlu.
- Selanjutnya mayit di mandikan dengan Air
campuran daun Bidara (Jika tidak ada, maka boleh dengan sabun atau sejenisnya)
sebanyak 3 kali, diawali dengan menuangkan air di kepalanya dari mulai bagian
atas kepala sampai dengan lihyahnya (jangutnya), kemudian tangan kanannya
dimulai dari ujung jarinya sampai dengan bahunya, kemudian apa yang ada di arah
sebelah kannnya si mayit sampai dengan ujung kakinya, selanjutnya berpindah ke
bagian sebelah kiri dimulai seperti apa yang dilakukan pada bagian sebelah
kanan, kemudian miringkanlah mayit dengan bertumpu pada tangan kirinya,
sementara kaki kanannya di atas kaki kirinya, maka mandikanlah apa yang Nampak
di belakang punggung si mayit sebelah kanan dari bahunya sampai dengan jari
ujung kaki si mayit, kemudian lakukan hal tersebut lagi pada bagian sebelah
kiri tubuh si mayit, lakukanlah kesemuanya itu masing-masing sebanyak 3 kali
basuhan sambil menggosok-gosok dengan perlahan dan lembut.
- Kemudian basuhlah tubuh si mayit dari bekas air
daun bidara atau sabun seperti proses tata cara pada point sebelumnya.
- Terakhir mandikanlah si mayit dengan air yang
dicampur dengan kapur barus pada seluruh badannya dengan tata cara sebelumnya
tadi, kemudian balikanlah kepalanya dengan perlahan untuk mengeluarkan air yang
memungkinkan masuk di rongga-rongga mulutnya si mayit, dan sempurnya semua itu
dilakukan sebanyak 3 kali pada masing-masingnya.
Diterjemahkan oleh : Doni Nurhadi Al
Amarwiyy
05/03/2022; 11:17 Wib.
Selasa, 03 Agustus 2021
Kehidupan Dunia hanyalah sesaat, seperti orang yang istirahat numpang Minum, adapun Perjalanan Manusia Setelah kematian adalah perjalanan yang teramat sangat panjang.
RENUNGAN!
Kehidupan Dunia hanyalah sesaat, seperti orang yang
istirahat numpang Minum, adapun Perjalanan Manusia Setelah kematian adalah
perjalanan yang teramat sangat panjang.
1. Ketika semua
manusia dibangkitkan dari Kuburnya setelah Kiamat Kubro, maka mereka berdiri
diatas Kuburnya selama 1000 Tahun lamanya dalam keadaan tampa alas kaki dan telanjang,
serta dalam keadaan Lapar dan Haus yang teramat sangat.
2. Selanjutnya
seluruh manusia akan digiring ke Padang Mahsyar, mereka berjalan sesuai amal
mereka ketika di Dunia, sebagian mereka ada yang berjalan dengan kaki mereka,
wajah mereka, tangan mereka namun adapula yang terbang, perjalanan mereka
menuju padang Mahsyar tersebut di iringi panasnya Matahari yang hanya berjalak
1 Mil dari kepala mereka, sehingga bercucuranlah keringat mereka dan ada
sebagian dari mereka yang tenggelam oleh keringat mereka sendiri sedalam 40
Hasta.
3. kemudian mereka
masuk kedalam kegelapan yang amat gelap selama 1000 Tahun,
4. Setelah mereka
keluar dari Kegelapan maka mereka di giring ke tempat Hisab perhitungan Amal
mereka, di tempat hisab tersebut ada 10 sekat dan di setiap sekat mereka
tinggal selama 1000 Tahun, di setiap sekat tersebut mereka akan di adili atas
Amal perbuatan mereka selama di Dunia.
-
Sekat Awal Ditanya berkenaan Shalat.
-
Sekat kedua ditanya berkenaan Hawa Nafsu yang
selalu di ikutinya.
-
Sekat ketiga ditanya berkenaan Hak-hak kepada
Orang Tua.
-
Sekat Keempat ditanya berkenaan Hak-hak kepada
Anak-anaknya.
-
Sekat kelima ditanya berkenaan Khidmah atau
Baktinya.
-
Sekat keenam ditanya berkenaan Hak-hak kepada
tetangga dan kerabatnya.
-
Sekat ketujuh ditanya berkenaan Silaturahim.
-
Sekat kedelapan ditanya berkenaan Kebencian dan
permusuhan.
-
Sekat kesembilan ditanya berkenaan Amar Ma’ruf
Nahi Mungkar.
-
Sekat kesepuluh ditanya berkenaan Ghibah,
Namimah dan Berdusta.
5. Selanjutnya
mereka di giring keatas hamparan daftar amal mereka di Dunia selama 1000 Tahun,
disana mereka akan menerima daftar catatan amal mereka, sebagian mereka ada
yang diberikan dari sebelah kanan dan sebagian lainnya dari sebelah kirinya,
dan mereka akan di perintahkan untuk membaca seluruh catatan amal mereka
tersebut yang sangat panjang, sehingga banyak dari mereka berkata “Celakalah
kami, karena apa yang ada dalam buku ini, sebab tidaklah kami meninggalkan Dosa
kecil maupun besar”.
6. Kemudian mereka
digiring menuju Mizan untuk ditimbang amal mereka, adapun Mizan bertempat di
depan Arsy, mereka tinggal di Mizan selama 1000 Tahun, dan bagi mereka yang
menerima catatan dari kanan mereka, maka akan ditemui oleh Malaikat Ridwan penjaga
Surga dan para Malaikat lainnya, dan bersamanya membawa Perhiasan dan Hewan
tunggangan Buroq, adapu bagi mereka yang menerima dari sebelah kiri, maka
mereka akan ditemui oleh para Malaikat Zabbaniyyah yang membawa rantai serta
belenggu.
7. Setelahnya
datanglah para malaikat menggiring mereka menuju Jembatan Shirot, yang
dibawahnya terdapat luapan panas Api neraka serta para Malaikat Zabaniyyah yang
melempari tombak mereka yang panas merah membara, panjangnya Jembatan Shirot
ini seperti perjalanan selama 3000 Tahun lamanya, 1000 Tahun menanjak, 1000
Tahun menurun dan 1000 Tahun mendatar. Selama melewati jembatan mereka akan diverifikasi
kembali dengan pertanyaan berkenaan 1) Iman, 2) Sholat, 3) Zakat, 4) Puasa, 5)
Hajji, 6) Wudlu dan Mandi, 7) serta perbuatan Dzolimnya. Jika mereka dahulu meremehkan
semua amalan tersebut, maka mereka akan ditahan selama 1000 tahun pada
tiap-tiap pertanyaan tersebut.
Oleh : Al Marwiyy
Sumber : Tafsir Yasin Syaikh Hamami.
Halaman 18-20.
Selasa, 30 Maret 2021
Nafsu Amarah yang di pupuk dengan Seruan kebencian akan melahirkan Tindakan Buruk/ Brutal
*Nafsu
Amarah yang di pupuk dengan Seruan kebencian akan melahirkan Tindakan Buruk/
Brutal.*
Nafsu dalam
diri manusia seperti halnya parasit yang akan selalu merugikan manusia, darinya
akan lahir penyakit-penyakit kejiwaan yang tak di sadari oleh dirinya, karena
Nafsu selalu pasti akan memerintahkan kepada keburukan perilaku dan tabi’at.
Allah swt
berfirman :
إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ
إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Sesungguhnya
Nafsu itu selalu memerintahkan (Amarah) kepada kejahatan, kecuali nafsu yang
diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha
Penyanyang.”
Menurut Ilmu Psikologi Amarah yaitu perubahan dalam diri atau emosi yang dibawa oleh kekuatan
dan rasa dendam serta benci demi menghilangkan gemuruh di dalam dada.
Di dalam
ilmu tasawuf ada yang di kenal dengan istilah Khotir Nafsani, yaitu
Lintasan-lintasan gerakan dalam hati yang datang pada diri manusia, dan Khotir
ini akan selalu mengajak manusia untuk berlaku buruk dan jahat, khotir ini
selamanya tidak menjadi nasihat untuk diri manusia.
Jika Khotir
Nafsani ini terus di pupuk oleh bisikan ataupun narasi-narasi kebencian, maka
akan melahirkan kemarahan yang pada Fase ini hadirlah Khotir Syaithoni yakni
lintasan-lintasan gerakan hati yang berasal dari bisikan Syaithon, karena
syaithon telah menemukan momennya untuk menggelincirkan manusia kedalam lembah
kehinaannya. Adapun Syaithon adalah persifatan dari pihak yang selalu mengajak
kepada keburukan, baik dari Golongan Jin maupun Manusia.
Allah swt
berfirman :
الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ
النَّاسِۙ, مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
“Yang
membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.”
Kemudian Allah
swt juga berfirman :
وَإِنَّ كَثِيرًا لَيُضِلُّونَ
بِأَهْوَائِهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِينَ
“Dan
sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang
lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah
yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas”.
Inilah
peran Nafsu dan Syaithon kepada diri manusia, yang akan selalu mengajak kepada
perkara-perkara yang melampaui batas (Berlebihan) yang sangat tidak disukai Allah
dan Rasul-NYA.
Adapun Nafsu (Amarah) yang selalu mengajak kepada kejahatan akan bisa di netralisir dengan mengajak dan mengingatkannya kepada Rahmat Allah swt,
إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ
“kecuali
nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku”.
Maka saat
Nafsu Amarah sedang membara, hendaklah untuk selalu mendengarkan nasihat-nasihat
yang menyejukan, yang mendeskripsikan bahwa Allah swt memiliki Rahmat yang maha
luas, karena dengan begitu seseorang yang sedang di kendalikan oleh Nafsu dan
Syaithon akan segera tersadar dari kelalaiannya dan segera akan kembali kepada
Rahmat Allah swt.
Seseorang
yang sedang diliputi oleh pengaruh Nafsu dan Syaithon akan terganggu
kejiwaannya, dan menjadikannya semakin sulit membedakan antara perkara
yang baik maupun buruk, kebaikan akan tertutupi dari akalnya, sedangkan
keburukan akan selalu menjadi jalan fikirannya yang akan serta merta menjadi
kesimpulan dari bakal tindakan juga perilakunya.
Penyakit
kejiwaan ataupun mental adalah suatu penyakit yang tidak mungkin akan di
ketahui atau disadari oleh penderitanya, maka dalam Dunia Ilmu Medis seseorang yang
terganggu kejiwaan atau mentalnya akan membutuhkan seorang psikolog untuk
mendeteksi sakit yang dideritanya yang kemudian akan dilakukan pengobatan
secara medis. Sedangkan menurut Ilmu Tasawuf seseorang yang dalam dirinya
terdapat Radza-il (Peyakit-penyakit hati) yang mempengaruhi Jiwanya, cara
penyembuhannya adalah melalui Dzikir yang dilakukan secara dawam terus-menerus melalui
bimbingan seorang Ahlinya (Ahlidz Dzikri – Mursyid).
Allah swt
berfirman :
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ
الْقُلُوبُ
“Ingatlah,
hanya dengan Dzikir (Kepada) Allah-lah hati menjadi tenteram”.
Karena
dengan cara Berdzikir secara terus menerus akan menjadikan dirinya selalu ingat
kepada Allah mendapat perlindungan Allah swt dari Bujuk rayu Khotir Syaithoni dan
Nafsani yang menyerang jiwanya. Semakin dirinya banyak berdzikir semakin tidak
terdengar pula lintasan-lintasan bisikan gerakan hati yang berasal dari Nafsu
dan Syaithon. Sehingga akalnya akan mampu berfikir secara jernih dan bijak
megikuti naluri penghambaannya kepada Allah swt dalam setiap aspek tindakan,
perilaku serta tabi’atnya.
Semoga kita
semua dijadikan Allah swt bagian dari orang-orang yang selamat, dan dijauhkan
dari segala perkara yang akan merugikan diri kita kelak. Aamiin.
Oleh : Al Marwiyy
30/03/2021;
14:11 Wib.
PC MATAN
Karawang
Ranggon Kopling Al Akwan
Sabtu, 13 Maret 2021
Dawuh Syaikh Abdul Qadir Al Jilani ra : Faqir yang sabar dan bersyukur
Cara Kerja Setan
Jumat, 20 Maret 2020
Kisah 2 Sahabat Nabi saw dalam menyikapi Wabah Penyakit di masa Khalifah Umar Bin Khottob ra.
20/03/2020 : 10:30 Wib
Dikisahkan setelah tentara Islam mendapatkan kemenangan atas Romawi kemudian terjadi Musibah besar yang terjadi di Wilayah Syams dimana daerah tersebut sedang diduduki oleh para Pasukan Islam yang masih berjaga setelah mendapat kemenangan atas tentara Romawi, namun di tempat tersebut juga terjadi Wabah penyakit yang dahsyat sehingga membunuh kurang-lebih 25 Ribu penduduknya dalam kurun waktu satu Bulan saja. Dikatakan bahwa Wabah tersebut adalah Wabah yang sangat mematikan, siapapun yang terkena akan mati.
Semoga bermanfaat.




