Minggu, 20 Agustus 2023

Perbedaan Timtsal, Shonam dan Awtsan sebagai Berhala


*Makna Timtsal, Shonam dan Watsan dalam kajian kisah para Nabi di Al Qur'an.*

oleh : *Elmarwiyy*

*Timtsal* dalam batasan Dzatnya tiada bentuk khusus, dan bahwasannya Jin membuatkan Tamatsil (Timtsal) untuk Nabi Sulaiman as, sedangkan beliau adalah seorang Nabi, Rasul, Khalifah dan Raja. 

Dalam Surat As Saba ayat 13 Allah swt berfirman :

يَعْمَلُوْنَ لَهٗ مَا يَشَآءُ مِنْ مَّحَارِيْبَ وَتَمَاثِيْلَ وَجِفَانٍ كَا لْجَـوَابِ وَقُدُوْرٍ رّٰسِيٰتٍ

"Mereka (para jin itu) bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan apa yang dikehendakinya di antaranya (membuat) gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang (besarnya) seperti kolam, dan periuk-periuk yang tetap (berada di atas tungku)."

Maka tatkala datang satu Golongan dan menjadikan Peribadatan kepada Tamatsil (Timtsal) tersebut dengan mendakwa-kan (beralasan) bahwa mereka menggunakan tamatsil itu sekedar sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan sebenar-benarnya kedekatan  "تقربهم الى الله زلفى ", maka sesungguhnya mereka telah menjadikannya *Ashnam* (Shonam), dan wajib merobohkannya. Seperti halnya yang diperbuat oleh Nabi Ibrahim as.
 
Kemudian tatkala datang lagi satu golongan lain, menjadikan peribadatan/sesembahan pada Tamatsil (Timtsal) tersebut kepada dzatiyah-nya langsung, maka dalam keadaan tersebut dinamakan-lah sebagai *Awtsan* (Watsan), dan wajib pula dihancurkan, seperti yang telah diperbuat juga oleh Nabi Ibrahim as.

Maka adapun jika tidak untuk dijadikan peribadatan/ sesembahan maka tidak-lah apa-apa, dan tidak pula wajib dihancurkan, dan Tamatsil (Timtsal) inilah Simbolis yang dibiarkan (tidak dihancurkan) oleh Nabi Ibrahim as, sehingga menjadi penjelasan yang jelas berkaitan permasalah ini.

Selasa, 14 Juni 2022

Keutamaan Dan Khususiyyah Dzikrullah.

 




Keutamaan Dan Khususiyyah Dzikrullah.

 

Oleh : Al Marwiyy

 

Hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Mu’adz Bin Anas ra, dari Rasulullah saw.

“Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi saw, berkatalah laki-laki tersebut kepada Nabi saw: Jihad seperti apakah yang lebih agung pahalanya ?, kemudian Rasulullah saw bersabda : Mereka yang paling banyak berDzikir kepada Allah. Laki-laki itu bertanya Kembali : orang berpuasa seperti apakah yang lebih agung pahalanya ?, Rasulullah saw bersabda : Mereka yang paling banyak berDzikir kepada Allah. Kemudian laki-laki itu bertanya yang sama tentang Shalat, Zakat, Haji dan Shodaqoh, dan Rasulullah saw menjawabnya dengan jawaban yang sama, beliau saw bersabda : Mereka yang paling banyak berDzikir kepada Allah.

 

Diriwayatkan dari Imam At Tirmidzi ra dari Sahabat Abi Sa’id Al Khudzri ra : Ditanyakan kepada Rasulullah saw : Para Hamba seperti apa yang lebih utama derajatnya di sisi Allah swt di hari kiamat ?, kemudian Rasulullah saw bersabda : Mereka para laki-laki dan Perempuan yang banyak berDzikir kepada Allah swt. Selanjutnya Shabat Abu Sa’idz Al Khudzri ra berkata : Wahai Rasulullah, bagaimana dengan orang yang berperang fi sabilillah?, Rasulullah saw bersabda : Andaikan mereka memukulkan pedangnya kepada orang Kuffar dan Musyrikin sampai mereka (Kuffar dan Musyrikin) itu hancur dan berlumuran darah, maka Orang-orang yang banyak berDzikir kepada Allah lebih utama Derajatnya dari mereka yang berperang fi sabilillah seperti itu.

 

Dzikrullah adalah Penopang Sandaran bagi seseorang menuju Allah swt, maka seseorang tidak akan sampai kepada Allah swt dengan tanpa mendawamkan Dzikir kepada Allah swt, dan hal itu adalah bagian dari perintah-NYA, yang diperkuat pula dengan adanya dalil-dalil berikut ini :

1.    Firman Allah swt :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا · وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلً

 “Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya, Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang”.

2.    Hadits Nabi saw, beliau bersabda :

يا ابْنَ آدَمَ، إذا ذَكَرْتَنِي شَكَرْتَنِي، وإذا نَسِيتَنِي كَفَرْتَنِي

“Wahai anak Adam, Jikalau engkau berdzikir kepadaku maka berarti engkau telah bersyukur kepadaku, dan jikalau engkau lalai kepadaku maka berarti engkau telah kufur kepadaku”

3.    Hadits Nabi saw yang bunyinya :

خير الاعمال ذكر الله تعالى

“Sebaik-baiknya Amal adalah Dzikrullahi Ta’ala”

4.    Hadits Nabi saw lagi yang bunyinya :

لِكُلِّ شيْءٍ صِقَالَ وصِقالُ القلوبِ ذكْرُ اللهِ

"Pada tiap-tiap sesuatu ada Pemolesnya (agar tampak bagus), dan Pemoles hati adalah Dzikrullah”

Itulah dalil-dalil pijakan yang mengokohkan agar seorang Hamba senantiasa mendawamkan Dzikir kepada Allah swt.

 

Didalam Hadits yang lain, Ketika Baginda Nabi saw sedang Bersama para sahabatnya, beliau saw bersabda :

إِذَا رأيتم رِيَاض الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ مجلس الذِّكْرِ

“jikalau kalian melihat Taman surga, maka singgahlah dengan senang gembira. Kemudian sahabat bertanya : dimanakah taman surga itu wahai Rasulullah?, Rasulullah saw bersabda : Ia adalah Majlis Dzikir”.

 

Barang siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah swt, maka lihatlah bagaimana kedudukan Allah swt di hadapannya. Karena sesungguhnya Allah swt menempatkan kedudukan seorang Hamba dari-NYA, sebagaimana Hamba tersebut menempatkan Kedudukan Allah swt atas dirinya.

 

Imam Abu Ali Ad Daqoq ra berkata : Dzikir adalah Jalannya para Aulia, dan barang siapa menyelaraskan diri dengan Dzikir, maka sungguh ia telah mendatangi jalannya para Aulia, dan barang siapa menolak Dzikir, maka sungguh ia telah terusir (dari Jalan para Aulia).

Bahkan Imam Dzu Nun Al Mishri ra berkata : Siksa para Aulia adalah terputusnya Dzikir darinya.

 

Dzikir lebih utama dari pada Tafakur, sebab Allah swt mensifati dirinya dengan Dzikir dan tidak mensifati dirinya dengan Tafakur, dan sesungguhnya Allah swt menjadikan Kriteria pertemuan dengan-NYA melalui Dzikir kepada-NYA, Allah swt berfirman :

فاذكروني أذكركم

"Dan berdzikirlah kalian kepadaku, Niscaya akupun akan menyebut kalian”

Ayat tersebut menjadi bukti bahwa Dzikir menjadi amaliyah yang khususiyah teruntuk Umat Islam, yang Allah tidak memberikannya kepada Umat-Umat sebelumnya.

 

Rasulullah saw juga bersabda dalam Hadits Qudsyi, Allah swt berfirman :

ولذكر الله أكبر

Makna hadits Qudsyi tersebut bahwasannya Dzikir kepada Allah swt yang diikrarkan dengan kalimat tersebut, ada didalam makna Firman Allah swt yang bunyinya :

أذكروتي أذكركم

“Berdzikirlah kalian kepadaku, maka aku-pun akan menyebut kalian", dan Ketika Allah swt menyebut hamba-NYA hal itu lebih Agung daripada Dzikir hamba kepada-NYA

 

Dan termasuk dari ke-Khususan Dzikir yang lain lagi adalah bahwasannya Dzikir tidak terbatas waktunya, bahkan seorang Hamba di perintahkan untuk senantiasa Berdzikir  dalam setiap waktunya, dengan Lisannya, atau dengan hatinya, baik berbentuk kefardluan maupun berupa kesunahan.

 

Wallahu A’lam.

Karawang, 15/06/2022; 11:05 wib

 

Jumat, 04 Maret 2022

Tata Cara Memandikan Jenazah/Mayit

 


Tata Cara Memandikan Jenazah/Mayit

 

Di Terjemahkan dari Kitab At Taqrirotu Asy Syadidah Karya Sayyid Al Habib Hasan Bin Ahmad Bin Muhammad Al Kaff yang mengambil pembelajaran dari Al Aalim Al Allaamah Ash Shuufi Sayyid Al Habib Zein Bin Ibrohim Bin Zein Bin Smith Madinah.

 

A.      Hukum Memandikan Jenazah terbagi menjadi :

  1. Wajib : pada haknya setiap orang muslim selain orang yang Syahid dalam pertempuran melawan orang-orang Kafir yang memerangi, dan selain Janin Bayi Keluron/Keguguran yang tidak Nampak jelas padanya standar bentuk Manusia.
  2. Jaiz/Boleh : Bagi orang Kafir dan Janin Bayi Keluron/Keguguran yang tidak Nampak jelas padanya standar bentuk Manusia.
  3. Haram : Bagi orang yang Gugur Syahid dalam pertempuran.

 

B.      Paling sedikitnya memandikan jenazah/mayit yang diwajibkan adalah dengan meratakan air ke seluruh badannya dengan Air.

 

C.      Adapun sempurnanya memandikan Jenazah adalah seperti Langkah-langkah berikut ini ;

  1. Meletakan Mayit diatas tempat memandikannya, hendaklah papan tempat meletakan mayit untuk dimandikan terdapat lubang-lubang agar percikan-percikan air saat memandikannya mengalir melalui lubang tersebut (Yang lebih baik adalah agar tempat meletakan kepala Mayit lebih tinggi dari tempat meletakan kaki si mayit), dan hendaklah mayit ditutupi dengan Kain yang tipis, kemudian dibaringkan diatas punggungnya mayit (Berbaring Terlentang) dan Kaki si mayit menghadap Kiblat, hendaklah memandikannya di tempat sepi tertutup dan dibawah Atap serta tidaklah hadir dalam proses memandikan mayit kecuali orang-orang yang membantu proses memandikannya serta Wali si Mayit, dan menutup wajah si Mayit dari Awal meletakannya di atas Dipan tempat memandikannya.
  2. Orang yang memandikan Mayit agar membuat sobekan kain yang di pegang oleh tangan kirinya, kemudian menuangkan air bersih diatas mayit dari arah kepalanya sampai dengan ujung kakinya sambil memijat/ menggosok seluruh badannya mayit.
  3. Orang yang memandikan mayit menopang kepala mayit secara perlahan dan lembut, maka sandarkanlah punggung si mayit diatas kedua lutut orang yang memandikannya dan tangan kanan orang yang memandikannya menopang bahu si mayit kemudian jari jempolnya berada di tengkuk punggung mayit agar kepala mayit tidak terkulai, kemudian telapak tangan kiri bagian dalam mengusap-ngusap perut si mayit secara perlahan dan lembut untuk mengeluarkan sisa kotoran dari perutnya, setelah selesai, kembalikanlah mayit ke posisi semula, dan hendaknya membakar bukhur dari awal memandikannya hingga selesai untuk menutupi aroma tidak sedap.
  4. Orang yang memandikan mayit agar meng-istinja-kan (Menceboki) si mayit, maka cucilah qubul dan dubur (lubang kelamin dan pantat yang tampak dari luar) dan sekitarnya dengan tangan kiri orang yang memandikannya (Dengan melilitkan secercah kain di tangannya), hal tersebut dilakukan selain pada mayit yang Qubul atau duburnya rusak. Dan banyak-banyaklah menuangkan air saat melakukannya untuk menghilangkan kotoran yang keluar serta aroma yang menetap.
  5. Kemudian Orang yang memandikan mayit membasuh kotoran-kotoran dengan kain yang baru yang terdapat dibawah kuku, didalam telinga, hidung dan mulutnya seta kotoran (belek) di kedua matanya.
  6. Orang yang memandikan mayit me-wudlu-kan si mayit dengan wudlu yang sempurna beserta sunah-sunahnya serta bacaan dzikirnya, dan jadikanlah secercah kain dengan melilitkan pada jari telunjuk tangan kiri orang yang memandikannya untuk menyikat/menyela-nyela air pada anggota wudlu si mayit, dan di saat mengumurkan air ke mulutnya serta memasukan air ke hidungnya agar kepala mayit di condongkan ke atas supaya air tidak masuk ke rongga dalam tubuh si mayit, dan diwajibkan niat wudlu serta disunahkan membaca do’a setelah wudlu.
  7. Selanjutnya mayit di mandikan dengan Air campuran daun Bidara (Jika tidak ada, maka boleh dengan sabun atau sejenisnya) sebanyak 3 kali, diawali dengan menuangkan air di kepalanya dari mulai bagian atas kepala sampai dengan lihyahnya (jangutnya), kemudian tangan kanannya dimulai dari ujung jarinya sampai dengan bahunya, kemudian apa yang ada di arah sebelah kannnya si mayit sampai dengan ujung kakinya, selanjutnya berpindah ke bagian sebelah kiri dimulai seperti apa yang dilakukan pada bagian sebelah kanan, kemudian miringkanlah mayit dengan bertumpu pada tangan kirinya, sementara kaki kanannya di atas kaki kirinya, maka mandikanlah apa yang Nampak di belakang punggung si mayit sebelah kanan dari bahunya sampai dengan jari ujung kaki si mayit, kemudian lakukan hal tersebut lagi pada bagian sebelah kiri tubuh si mayit, lakukanlah kesemuanya itu masing-masing sebanyak 3 kali basuhan sambil menggosok-gosok dengan perlahan dan lembut.
  8. Kemudian basuhlah tubuh si mayit dari bekas air daun bidara atau sabun seperti proses tata cara pada point sebelumnya.
  9. Terakhir mandikanlah si mayit dengan air yang dicampur dengan kapur barus pada seluruh badannya dengan tata cara sebelumnya tadi, kemudian balikanlah kepalanya dengan perlahan untuk mengeluarkan air yang memungkinkan masuk di rongga-rongga mulutnya si mayit, dan sempurnya semua itu dilakukan sebanyak 3 kali pada masing-masingnya.

 

Diterjemahkan oleh : Doni Nurhadi Al Amarwiyy

05/03/2022; 11:17 Wib.

Selasa, 03 Agustus 2021

Kehidupan Dunia hanyalah sesaat, seperti orang yang istirahat numpang Minum, adapun Perjalanan Manusia Setelah kematian adalah perjalanan yang teramat sangat panjang.


 

RENUNGAN!

 

Kehidupan Dunia hanyalah sesaat, seperti orang yang istirahat numpang Minum, adapun Perjalanan Manusia Setelah kematian adalah perjalanan yang teramat sangat panjang.

 

1.      Ketika semua manusia dibangkitkan dari Kuburnya setelah Kiamat Kubro, maka mereka berdiri diatas Kuburnya selama 1000 Tahun lamanya dalam keadaan tampa alas kaki dan telanjang, serta dalam keadaan Lapar dan Haus yang teramat sangat.

 

2.      Selanjutnya seluruh manusia akan digiring ke Padang Mahsyar, mereka berjalan sesuai amal mereka ketika di Dunia, sebagian mereka ada yang berjalan dengan kaki mereka, wajah mereka, tangan mereka namun adapula yang terbang, perjalanan mereka menuju padang Mahsyar tersebut di iringi panasnya Matahari yang hanya berjalak 1 Mil dari kepala mereka, sehingga bercucuranlah keringat mereka dan ada sebagian dari mereka yang tenggelam oleh keringat mereka sendiri sedalam 40 Hasta.

 

 

3.      kemudian mereka masuk kedalam kegelapan yang amat gelap selama 1000 Tahun,

 

4.      Setelah mereka keluar dari Kegelapan maka mereka di giring ke tempat Hisab perhitungan Amal mereka, di tempat hisab tersebut ada 10 sekat dan di setiap sekat mereka tinggal selama 1000 Tahun, di setiap sekat tersebut mereka akan di adili atas Amal perbuatan mereka selama di Dunia.

-          Sekat Awal Ditanya berkenaan Shalat.

-          Sekat kedua ditanya berkenaan Hawa Nafsu yang selalu di ikutinya.

-          Sekat ketiga ditanya berkenaan Hak-hak kepada Orang Tua.

-          Sekat Keempat ditanya berkenaan Hak-hak kepada Anak-anaknya.

-          Sekat kelima ditanya berkenaan Khidmah atau Baktinya.

-          Sekat keenam ditanya berkenaan Hak-hak kepada tetangga dan kerabatnya.

-          Sekat ketujuh ditanya berkenaan Silaturahim.

-          Sekat kedelapan ditanya berkenaan Kebencian dan permusuhan.

-          Sekat kesembilan ditanya berkenaan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar.

-          Sekat kesepuluh ditanya berkenaan Ghibah, Namimah dan Berdusta.

 

5.      Selanjutnya mereka di giring keatas hamparan daftar amal mereka di Dunia selama 1000 Tahun, disana mereka akan menerima daftar catatan amal mereka, sebagian mereka ada yang diberikan dari sebelah kanan dan sebagian lainnya dari sebelah kirinya, dan mereka akan di perintahkan untuk membaca seluruh catatan amal mereka tersebut yang sangat panjang, sehingga banyak dari mereka berkata “Celakalah kami, karena apa yang ada dalam buku ini, sebab tidaklah kami meninggalkan Dosa kecil maupun besar”.

 

6.      Kemudian mereka digiring menuju Mizan untuk ditimbang amal mereka, adapun Mizan bertempat di depan Arsy, mereka tinggal di Mizan selama 1000 Tahun, dan bagi mereka yang menerima catatan dari kanan mereka, maka akan ditemui oleh Malaikat Ridwan penjaga Surga dan para Malaikat lainnya, dan bersamanya membawa Perhiasan dan Hewan tunggangan Buroq, adapu bagi mereka yang menerima dari sebelah kiri, maka mereka akan ditemui oleh para Malaikat Zabbaniyyah yang membawa rantai serta belenggu.

 

 

7.      Setelahnya datanglah para malaikat menggiring mereka menuju Jembatan Shirot, yang dibawahnya terdapat luapan panas Api neraka serta para Malaikat Zabaniyyah yang melempari tombak mereka yang panas merah membara, panjangnya Jembatan Shirot ini seperti perjalanan selama 3000 Tahun lamanya, 1000 Tahun menanjak, 1000 Tahun menurun dan 1000 Tahun mendatar. Selama melewati jembatan mereka akan diverifikasi kembali dengan pertanyaan berkenaan 1) Iman, 2) Sholat, 3) Zakat, 4) Puasa, 5) Hajji, 6) Wudlu dan Mandi, 7) serta perbuatan Dzolimnya. Jika mereka dahulu meremehkan semua amalan tersebut, maka mereka akan ditahan selama 1000 tahun pada tiap-tiap pertanyaan tersebut.

 

Oleh : Al Marwiyy

Sumber : Tafsir Yasin Syaikh Hamami. Halaman 18-20.

  

Selasa, 30 Maret 2021

Nafsu Amarah yang di pupuk dengan Seruan kebencian akan melahirkan Tindakan Buruk/ Brutal

 



*Nafsu Amarah yang di pupuk dengan Seruan kebencian akan melahirkan Tindakan Buruk/ Brutal.*

 

Nafsu dalam diri manusia seperti halnya parasit yang akan selalu merugikan manusia, darinya akan lahir penyakit-penyakit kejiwaan yang tak di sadari oleh dirinya, karena Nafsu selalu pasti akan memerintahkan kepada keburukan perilaku dan tabi’at.

 

Allah swt berfirman :

 

إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ

 

“Sesungguhnya Nafsu itu selalu memerintahkan (Amarah) kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.”

 

Menurut Ilmu Psikologi Amarah yaitu perubahan dalam diri atau emosi yang dibawa oleh kekuatan dan rasa dendam serta benci demi menghilangkan gemuruh di dalam dada.

 

Di dalam ilmu tasawuf ada yang di kenal dengan istilah Khotir Nafsani, yaitu Lintasan-lintasan gerakan dalam hati yang datang pada diri manusia, dan Khotir ini akan selalu mengajak manusia untuk berlaku buruk dan jahat, khotir ini selamanya tidak menjadi nasihat untuk diri manusia.

 

Jika Khotir Nafsani ini terus di pupuk oleh bisikan ataupun narasi-narasi kebencian, maka akan melahirkan kemarahan yang pada Fase ini hadirlah Khotir Syaithoni yakni lintasan-lintasan gerakan hati yang berasal dari bisikan Syaithon, karena syaithon telah menemukan momennya untuk menggelincirkan manusia kedalam lembah kehinaannya. Adapun Syaithon adalah persifatan dari pihak yang selalu mengajak kepada keburukan, baik dari Golongan Jin maupun Manusia.

 

Allah swt berfirman :

 

الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ, مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

 

“Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.”

 

Kemudian Allah swt juga berfirman :

 

وَإِنَّ كَثِيرًا لَيُضِلُّونَ بِأَهْوَائِهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِينَ

 

“Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas”.

 

Inilah peran Nafsu dan Syaithon kepada diri manusia, yang akan selalu mengajak kepada perkara-perkara yang melampaui batas (Berlebihan) yang sangat tidak disukai Allah dan Rasul-NYA.

 

Adapun Nafsu (Amarah) yang selalu mengajak kepada kejahatan akan bisa di netralisir dengan mengajak dan mengingatkannya kepada Rahmat Allah swt,


إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ

 

“kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku”.

 

Maka saat Nafsu Amarah sedang membara, hendaklah untuk selalu mendengarkan nasihat-nasihat yang menyejukan, yang mendeskripsikan bahwa Allah swt memiliki Rahmat yang maha luas, karena dengan begitu seseorang yang sedang di kendalikan oleh Nafsu dan Syaithon akan segera tersadar dari kelalaiannya dan segera akan kembali kepada Rahmat Allah swt.

 

Seseorang yang sedang diliputi oleh pengaruh Nafsu dan Syaithon akan terganggu kejiwaannya, dan menjadikannya semakin sulit membedakan antara perkara yang baik maupun buruk, kebaikan akan tertutupi dari akalnya, sedangkan keburukan akan selalu menjadi jalan fikirannya yang akan serta merta menjadi kesimpulan dari bakal tindakan juga perilakunya.

 

Penyakit kejiwaan ataupun mental adalah suatu penyakit yang tidak mungkin akan di ketahui atau disadari oleh penderitanya, maka dalam Dunia Ilmu Medis seseorang yang terganggu kejiwaan atau mentalnya akan membutuhkan seorang psikolog untuk mendeteksi sakit yang dideritanya yang kemudian akan dilakukan pengobatan secara medis. Sedangkan menurut Ilmu Tasawuf seseorang yang dalam dirinya terdapat Radza-il (Peyakit-penyakit hati) yang mempengaruhi Jiwanya, cara penyembuhannya adalah melalui Dzikir yang dilakukan secara dawam terus-menerus melalui bimbingan seorang Ahlinya (Ahlidz Dzikri – Mursyid).

 

Allah swt berfirman :

 

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

 

“Ingatlah, hanya dengan Dzikir (Kepada) Allah-lah hati menjadi tenteram”.

 

Karena dengan cara Berdzikir secara terus menerus akan menjadikan dirinya selalu ingat kepada Allah mendapat perlindungan Allah swt dari Bujuk rayu Khotir Syaithoni dan Nafsani yang menyerang jiwanya. Semakin dirinya banyak berdzikir semakin tidak terdengar pula lintasan-lintasan bisikan gerakan hati yang berasal dari Nafsu dan Syaithon. Sehingga akalnya akan mampu berfikir secara jernih dan bijak megikuti naluri penghambaannya kepada Allah swt dalam setiap aspek tindakan, perilaku serta tabi’atnya.

 

Semoga kita semua dijadikan Allah swt bagian dari orang-orang yang selamat, dan dijauhkan dari segala perkara yang akan merugikan diri kita kelak. Aamiin.

 

Oleh : Al Marwiyy

30/03/2021; 14:11 Wib.

PC MATAN Karawang

Ranggon Kopling Al Akwan

Sabtu, 13 Maret 2021

Dawuh Syaikh Abdul Qadir Al Jilani ra : Faqir yang sabar dan bersyukur


*Kanjeng Syaikh Abdul Qadir Al Jilani ra dawuh :*

الفقير الصابر افضل من الغني الشاكر

"seorang faqir yang sabar itu lebih utama daripada orang kaya yang bersyukur"
=> perumpamaannya orang Faqir yang sabar adalah orang yang dunianya serba kekurangan, namun ia tetap menjalankan kewajibannya sebatas apa yang diwajibkan atas dirinya dan tetap teguh menjaga dirinya dari hal-hal yang dilarang Allah swt, walaupun dirinya masih saja mengeluh dan merasa susah terhadap dunianya dengan keluh-kesah yang masih dalam kewajaran.

Sedangkan... 

الفقير الشاكر افضل منهما

"Orang faqir yang  bersyukur itu lebih utama dari keduanya (Faqir yang Sabar dan orang kaya yang bersyukur)"
=> Perumpamaan orang faqir yang bersyukur adalah orang yang serba kekurangan dunianya, namun ia mampu menjalankan kewajibannya sebagai hamba Allah swt serta tetap teguh menjaga dirinya dari maksiyat, ia masih mampu mensyukuri keadaannya dengan tetap berusaha memaksimalkan usahanya demi mencari Ridlo Allah swt, ia tetap istiqomah menyisakan waktunya duduk dalam majlis2 Ilmu, Dzikir dan mujalasah bersama orang2 sholeh, tanpa mengeluhkan segala hambatan kebutuhan hidupnya.

Kemudian... 

الفقير الصابر والشاكر افضل من الكل

"Orang faqir yang sabar serta bersyukur itu lebih utama dari semuanya (orang Faqir yang Sabar, orang kaya yang bersykur dan orang faqir yang bersyukur)".
=>Perumpamaan Orang Faqir yang sabar dan bersyukur adalah orang yang dalam serba kekurangan serta kesulitan kebutuhan dunianya, ia tetap teguh menjalankan perintah Allah swt, serta menjauhi segala yang tidak disukai Allah swt, ia berusaha mencintai Allah swt serta apapun yang berkaitan dengan-Nya, sifat rahmannya Allah swt bertajalli dalam dirinya kepada setiap Makhluk Ciptaan-NYA, dalam serba kekurangannya itu, hati dan jiwanya selalu berhasrat untuk memberikan apa yang dimilikinya, entah itu Ilmunya, tenaganya, serta sisa hartanya jika ada, sifat rendah hati menjadikan dirinya Hamba yang sejati, penghambaan yang melahirkan kesadaran diri atas kelemahannya di hadapan Allah swt, duduknya dalam Majlis2 Ilmu, dzikir dan majlis2 orang2 sholeh lainnya dilandaskan atas kecintaannya, rasa cinta terhadap apa yang Allah swt pun mencintainya, tak tampak sedikitpun di raut wajahnya kegelisahan dan kebingungan atas dunianya, wajahnya penuh cahaya nan elok dipandang, bibirnya terus bergerak menyebut Asma Allah, seakan2 dunia bukan beban baginya, dan Allah swt adalah maksud, tujuan serta yang dicari Ridlo-NYA.

Oleh : *_Doni Nurhadi Al Marwiyy_*

Cara Kerja Setan


*Cara Kerja Setan.*

Pada hakikinya Setan tak memiliki kemampuan untuk menjerumuskan Manusia, namun setan diberikan kemampuan untuk membisikan sesuatu ke hati manusia, karena sejatinya sumber kesalahan itu ada pada diri manusia sendiri, perumpamaannya seperti Gas yang menyebar pada satu ruangan, maka yang dibutuhkan untuk membakarnya cukup dengan hanya memantikan sepercik Api kecil kedalam ruangan tersebut. Itulah cara kerja Setan, hanya cukup memiliki sepercik api, sedangkan Gas nya sudah ada dalam diri manusia.

Dalam diri manusia ada bagian yang dikenal dengan hawa nafsu, dan ini akan tetap ada pada diri manusia sejak lahir hingga wafatnya, namun ada kalanya manusia mampu untuk mengendalikannya, dan sebagian lainnya justru tak menyadari bahkan membiarkan menguasai dirinya. Saat Setan mengawasi manusia, ia terus mengawasi bagaimana hawa nafsu pada diri manusia bekerja, ia terus menunggu kesempatan hingga hawa nafsu itu terus memenuhi setiap rongga yang ada dalam diri manusia, dan pada saatnya yaitu saat nafsu telah mengarah pada suatu kesalahan, maka Setan sudah siap dengan pemantik yang akan digunakannya untuk membakar manusia.

Karakteristik Setan dalam membisikan sesuatu ke hati manusia adalah agar manusia melakukan sebuah kesalahan, namun jika manusia mampu menghindar dari satu bisikan tersebut, maka Setan akan membisikan hal yang lain agar manusia melakukan kesalahan lainnya. Seperti misalnya, Ketika Setan membisikan sesuatu ke hati manusia agar dirinya berbuat Ria (Pamer) dalam amal/ibadahnya, akan tetapi ia segera tersadarkan dan menghindari perbuatan Ria itu, sedangkan Setan tetap tidak putus asa dari upayanya dan membisikan Hal lainnya lagi ke hati manusia, yakni dengan membisikan bahwasannya selamatnya si manusia dari perbuatan Ria (pamer) adalah karena semata dirinya kuat serta Iman yang kokoh, seketika itu muncul lah Ujub (merasa takjub) di hati manusia, sehingga ketika manusia mampu selamat dari kesalahan yang satu, akan tetapi tetap saja terjatuh dalam kesalahan yang lain, ia selamat dari perbuatan Ria, namun masuk dalam perbuatan Ujub, dirinya tetap lalai/lupa akan keberadaan Allah swt, bahwa Allah swt lah yang menolongnya.

Itu lah cara kerja Setan, berupaya agar manusia selalu lalai kepada Allah swt, lalai akan sifat Qudrah, Iradah, Rahmat, maghfirah serta kepada Qodho dan Qodar-NYA. Karena jika manusia selalu lupa kepada Allah swt, maka manusia akan lupa pada kedudukannya sebagai Hamba-NYA, sehingga dirinya akan mentuhankan dirinya sendiri, akalnya, kekuatannya, eksistensinya, hartanya bahkan mentuhankan nafsunya sendiri, serta lain sebagainya.

Maka, banyak-banyaklah dan senantiasa langgengkanlah Dzikirmu, di lisan dan hatimu, jangan hanya di pikiranmu, agar engkau selalu tersadarkan akan kedudukanmu di hadapan Tuhanmu, agar keberadaanmu tak menutupi keberadaan Allah swt, kemudian tersadar bahwasannya hanya Allah swt sajalah yang Wujud, sedangkan dirinya ada karena diwujudkan oleh-NYA (mawjuud).

Wallahu A'alam Bish Showaab.

Oleh : *_Doni Nurhadi Al Marwiyy_*
Minggu, 14 Maret 2021; 00:32.

Jumat, 20 Maret 2020

Kisah 2 Sahabat Nabi saw dalam menyikapi Wabah Penyakit di masa Khalifah Umar Bin Khottob ra.



Kisah 2 Sahabat Nabi saw dalam menyikapi Wabah Penyakit di masa Khalifah Umar Bin Khottob ra.

Donnieluthfiyy
20/03/2020 : 10:30 Wib

Kita Awali dengan memahami bahwasannya Kita tentu Yakin dan tahu bahwasannya Sayyidina Umar Bin Khottob adalah Sahabat Nabi saw yang paling pemberani, bahkan di jadikan benteng Awal saat Dakwah Islam mulai secara terang-terangan.

Masuk dalam Kisah Sejarah...
Dikisahkan setelah tentara Islam mendapatkan kemenangan atas Romawi kemudian terjadi Musibah besar yang terjadi di Wilayah Syams dimana daerah tersebut sedang diduduki oleh para Pasukan Islam yang masih berjaga setelah mendapat kemenangan atas tentara Romawi, namun di tempat tersebut juga terjadi Wabah penyakit yang dahsyat sehingga membunuh kurang-lebih 25 Ribu penduduknya dalam kurun waktu satu Bulan saja. Dikatakan bahwa Wabah tersebut adalah Wabah yang sangat mematikan, siapapun yang terkena akan mati.

Suatu saat Sayyidina Umar Bin Khottob ra bermaksud mengunjungi Syams untuk mengurusi beberapa hal berkenaan Wilayah yang telah di bebaskan tersebut. Namun sesampainya di Tabuk Sayyidina Umar Bin Khottob ra bersama pasukannya diberitahu bahwa di wilayah Syams sedang terjadi Wabah yang sangat mematikan, kemudian Sayyidina Umar ra memanggil para pimpinan pasukan yang diantaranya adalah Sayyidina Abu ubaidillah Bin Jarrah ra yang menjadi Panglima perang saat itu. Dalam dialog antara Sayyidina Umar ra dan Sayyidina Abu Ubiadillah ra terjadi perbedaan sikap dalam menyikapi Wabah yang sangat mematikan yang terjadi saat itu, saat Sayyidina Umar ra mengajak Sayyidina Abu Ubaidillah ra kembali ke madinah untuk menghindari Wabah tersebut, Sayyidina Abu Ubaidillah menolaknya dengan dalih....

“Apakah engkau lari dari taqdir ?” tanya Abu Ubaidah bin Jarrah kepada Umar bin Khaththab

“Ya, saya lari dari taqdir Allah yang satu menuju kepada taqdir yang lain”. Jawab Umar tegas.

Lebih lanjut Amirul Mukminin itu memberi misal. “Jika ada dua lembah, satu lembah rumputnya hijau yang satu rumputnya kering. Maka jika anda menggembalakan unta di lembah yang berumput kering itu adalah taqdir. Kemudian jika berpindah ke lembah yang berumput hijau itu juga taqdir.”

Akhirnya Sayyidina Umar ra kembali ke Madinah dan Sayyidina Abu Ubaidillah ra tetap menetap di Syams hingga Wafatnya bersama beberapa Sahabat besar Nabi saw di sana sebab terkena Wabah penyakit mematikan tersebut. Mendengar kabar tersebut Sayyidina Umar ra pun menangis sedih.

Ingatlah bahwasannya Allah swt selalu memberikan kepada hambanya duaTaqdir dalam bentuk Ikhtiyariy yang belum terjadi atau ditetapkan-NYA, yakni Taqdir untuk memilih, maka disinilah Makna Perintah Ikhtiyar dalam Islam.

Wallahu A’lam.....
Semoga bermanfaat.

Rabu, 18 Maret 2020

Musibah dan Bencana adalah Kehendak-NYA, Kita Musti Sabar menjalani.


Musibah dan Bencana adalah Kehendak-NYA, Kita Musti Sabar menjalani.
Kajian Tafsir Surat Al Baqoroh Ayat 155.

Oleh : donnieluthfiyy
Rabu 18/03/2020 : 16:30 Wib.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Dalam menafsirkan ayat tersebut para mufassir menafsirkannya sbb :

Makna pada Lafadz الْخَوْفِ (Ketakutan), Para mufassir sepakat bahwasannya maksud dari lafadz tersebut  adalah Ketakutan terhadap Musuh. Sedangkan Dalam Tafsir As Sa’adiy Makna pada Lafadz الْخَوْفِ (Ketakutan Terhadap Musuh) dan الْجُوعِ (Kelaparan Atau Paceklik) dimaknai bahwasannya sedikit saja dari keduanya, artinya sedikit Ketakutan dan Sedikit kelaparan, sebab jika makna Ketakutan dan Kelaparan secara Sempurna, maka Umat pastilah akan binasa.

Adapun Makna pada Lafadz وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ  (kekurangan harta) dalam Tafsir Sa’adiy yaitu berkurang segalanya, termasuk keberkahan di dalam Harta, berupa harta yang mencelakaknnya, mengambil Harta dengan Dholim dari Penguasa yang Dholim, di ibaratkan seperti orang-orang yang menentang Penguasa Dholim namun mengharapkan mendapat bagian dari hartanya. Adapun Imam Baghowi dan para Mufassir lainnya memaknainya sebagai kerugian dan kebangkrutan.

Kemudian berkurangnya juga Jiwa yang menjadi makna pada lafadz وَالْأَنْفُسِ  Athaf kepada Lafadz وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ Maksud dari berkurangnya Jiwa yaitu Dengan Pembunuhan (saling Bunuh) dan kematian dan dikatakan dengan Kesakitan (wabah Penyakit) serta menua (Cepat menua dengan ditandai Uban). Imam As Sa’adi dalam tafsirnya menafsirkan berkurangnya Jiwa dengan maksud kepergian orang-orang yang tercinta seperti Sanak Family, kerabat dan sahabat, dari Kesakitan (sebab Penyakit) di tubuh para Hamba, atau Tubuh orang-orang yang dicintainya.

Dan berkurangnya juga Buah-buahan وَالثَّمَرَاتِ  maksudnya yaitu Malapetakan pada Buah-buahan (ketiadaaan Buah-buahan/ makanan), Di kisahkan dalam Tafsir Baghowi dari Perkataan Imam Syafi’i ra bahwasannya makna Berkurangnya Buah-buahan yaitu kematian Anak keturunan, sebab anak keturunan adalah buah hati orang tuanya. Dijelaskan dalam Tafsir Al Waseet bahwasannya kesemua Bala-Musibah tersebut adalah untuk menampakan sejatinya seorang Hamba apakah mampu bersabar atau tidak, maka Allah swt telah mempersiapkan Ganjaran bagi merreka yang mampu bersabar dan tetap dalam ketaatan, dan Allah swt juga telah mempersiapkan Siksa atau Akibat bagi mereka yang Tidak sabar, banyak berkeluh kesah, gelisah serta bersedih hati, juga ketiadaan untuk tetap Tunduk Patuh pada Urusan yang Allah swt telah buat.

Masih di dalam Tafsir Al Waseet Imam Ar Razi ra telah berkata : Adapun Hikmah didalam mendahulukan untuk mengenali Ujian Musibah tersebut (Pada ayat tersebut). Sebelum sampainya persitiwa Musibah tersebut, terdapat beberapa Wajah ;

1.       Agar dirinya tetap menetap dalam kesabaran terhadap Musibah, sehingga saat terjadi Musibah maka akan terjauh dari Gelisah, berkeluh kesah serta bersedih hati, dan di ringankan atas mereka setelah berlalunya Musibah tersebut.

2.       Sesungguhnya jika mereka telah mengetahui bahwa mereka kelak akan terhubung dengan Ujian Musibah tersebut maka bertambah kuatlah rasa takutnya kepada Allah swt, maka jadilah Rasa takutnya tersebut sebagai perkara yang mendahului kepada Bala Musibah (Sehingga tidak kaget lagi saat terjadinya), maka berhak-lah mereka atas Tambahan ganjarannya.

3.       Bahwa sesungguhnya orang-orang Kafir tatkala menyaksikan Baginda Nabi saw beserta para Sahabatnya Istiqomah dan menetap dalam Agamanya, bersamaan apapun yang terjadi pada diri mereka dari sempurnanya kesabaran mereka atas Ujian dan lapar, maka mereka dapat mengetahui bahwa sesungguhnya Kaum (secara Umum) hanya memilih Agama Islam ini sekedar untuk memutusnya dari kenyataan Agama, maka kemudian Allah menyeru mereka kepada tambahan renungan/Introspeksi yang terdapat dalam Firman-firmannya. Dan yang telah dimaklumi secara dhohir bahwa sesungguhnya pengikut tatkala mengetahui bahwa orang yang diikutinya berada dalam besarnya Ujian disebabkan Pijakan Keyakinan yang menolongnya. Kemudian mereka memandang Pijakan Keyakinan tersebut sebagai tempat berpijak, yang menjadikan hal tersebut pengakuan bagi mereka kepada yang di ikutinya dari apapun yang dilihatnya sebagai Ma’rifatul Haal bukan sebagai Beban atasnya di dalam Pijakan keyakinannya tersebut.

4.       Bahwa sesungguhnya Allah swt mengabarkan berkenaan akan datangnya Musibah tersebut sebelum benar-benar kedatangannya adalah menjadi sebuah misteri yang menakjubkan.

5.       Sesungguhnya sebagian dari orang-orang munafiq ada yang tampak jelas mengikuti Rasul saw dengan Tamak didalam Harta dan keluasan Rizki, maka tatkala Allah swt mengabarkan kepada mereka dengan akan diturunkannya Ujian Musibah tersebut, maka dari situlah akan bisa dibedakan antara orang-orang munafiq dengan orang-orang yang Bersesuaian dengan Allah swt dan Rasul-Nya.

6.       Sesungguhnya ke-Ikhlasan seorang Insan dalam keadaan di Uji dengan Musibah, namun tetap kembali kepada Pintu Rahmat Allah swt, (Amat disayangkan) kebanyakan ke-Ikhlasannya adalah demi keadaan apa-apa yang didapatkannya untuk Dunianya. Maka jadilah Hikmah didalam Ujian Musibahnya adalah seperti apa yang didapatnya tersebut.

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ  Kemudian berilah Kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, dan yang di maksud الصَّابِرِينَ dalam Lafadz tersebut termasuk Baginda Nabi Muhammad saw di dalamnya, sehingga bisa di maknai yaitu orang-orang yang senantiasa bersama Nabi saw, yakni mereka para Sahabat, para Awliya Allah, serta orang-orang Sholih dan merekalah sebaik-baiknya Teman (Didalam Ujian Musibah dan juga dalam hal lainnya). Siapakah mereka yang dimaksud sebagai الصَّابِرِينَ  ?, yaitu mereka yang tatkala mendapatkan Musibah mereka berkata dengan lisan dan hatinya bahwa sesungguhnya semua adalah milik Allah swt dan berasal dari-NYA dan hanya kepada-NYA lah kita mengembalikan semua urusan.

Wallahu A’lam...
Semoga Bermanfaat...

List Video