Tampilkan postingan dengan label Sufi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sufi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Juni 2022

Keutamaan Dan Khususiyyah Dzikrullah.

 




Keutamaan Dan Khususiyyah Dzikrullah.

 

Oleh : Al Marwiyy

 

Hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Mu’adz Bin Anas ra, dari Rasulullah saw.

“Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi saw, berkatalah laki-laki tersebut kepada Nabi saw: Jihad seperti apakah yang lebih agung pahalanya ?, kemudian Rasulullah saw bersabda : Mereka yang paling banyak berDzikir kepada Allah. Laki-laki itu bertanya Kembali : orang berpuasa seperti apakah yang lebih agung pahalanya ?, Rasulullah saw bersabda : Mereka yang paling banyak berDzikir kepada Allah. Kemudian laki-laki itu bertanya yang sama tentang Shalat, Zakat, Haji dan Shodaqoh, dan Rasulullah saw menjawabnya dengan jawaban yang sama, beliau saw bersabda : Mereka yang paling banyak berDzikir kepada Allah.

 

Diriwayatkan dari Imam At Tirmidzi ra dari Sahabat Abi Sa’id Al Khudzri ra : Ditanyakan kepada Rasulullah saw : Para Hamba seperti apa yang lebih utama derajatnya di sisi Allah swt di hari kiamat ?, kemudian Rasulullah saw bersabda : Mereka para laki-laki dan Perempuan yang banyak berDzikir kepada Allah swt. Selanjutnya Shabat Abu Sa’idz Al Khudzri ra berkata : Wahai Rasulullah, bagaimana dengan orang yang berperang fi sabilillah?, Rasulullah saw bersabda : Andaikan mereka memukulkan pedangnya kepada orang Kuffar dan Musyrikin sampai mereka (Kuffar dan Musyrikin) itu hancur dan berlumuran darah, maka Orang-orang yang banyak berDzikir kepada Allah lebih utama Derajatnya dari mereka yang berperang fi sabilillah seperti itu.

 

Dzikrullah adalah Penopang Sandaran bagi seseorang menuju Allah swt, maka seseorang tidak akan sampai kepada Allah swt dengan tanpa mendawamkan Dzikir kepada Allah swt, dan hal itu adalah bagian dari perintah-NYA, yang diperkuat pula dengan adanya dalil-dalil berikut ini :

1.    Firman Allah swt :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا · وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلً

 “Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya, Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang”.

2.    Hadits Nabi saw, beliau bersabda :

يا ابْنَ آدَمَ، إذا ذَكَرْتَنِي شَكَرْتَنِي، وإذا نَسِيتَنِي كَفَرْتَنِي

“Wahai anak Adam, Jikalau engkau berdzikir kepadaku maka berarti engkau telah bersyukur kepadaku, dan jikalau engkau lalai kepadaku maka berarti engkau telah kufur kepadaku”

3.    Hadits Nabi saw yang bunyinya :

خير الاعمال ذكر الله تعالى

“Sebaik-baiknya Amal adalah Dzikrullahi Ta’ala”

4.    Hadits Nabi saw lagi yang bunyinya :

لِكُلِّ شيْءٍ صِقَالَ وصِقالُ القلوبِ ذكْرُ اللهِ

"Pada tiap-tiap sesuatu ada Pemolesnya (agar tampak bagus), dan Pemoles hati adalah Dzikrullah”

Itulah dalil-dalil pijakan yang mengokohkan agar seorang Hamba senantiasa mendawamkan Dzikir kepada Allah swt.

 

Didalam Hadits yang lain, Ketika Baginda Nabi saw sedang Bersama para sahabatnya, beliau saw bersabda :

إِذَا رأيتم رِيَاض الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ مجلس الذِّكْرِ

“jikalau kalian melihat Taman surga, maka singgahlah dengan senang gembira. Kemudian sahabat bertanya : dimanakah taman surga itu wahai Rasulullah?, Rasulullah saw bersabda : Ia adalah Majlis Dzikir”.

 

Barang siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah swt, maka lihatlah bagaimana kedudukan Allah swt di hadapannya. Karena sesungguhnya Allah swt menempatkan kedudukan seorang Hamba dari-NYA, sebagaimana Hamba tersebut menempatkan Kedudukan Allah swt atas dirinya.

 

Imam Abu Ali Ad Daqoq ra berkata : Dzikir adalah Jalannya para Aulia, dan barang siapa menyelaraskan diri dengan Dzikir, maka sungguh ia telah mendatangi jalannya para Aulia, dan barang siapa menolak Dzikir, maka sungguh ia telah terusir (dari Jalan para Aulia).

Bahkan Imam Dzu Nun Al Mishri ra berkata : Siksa para Aulia adalah terputusnya Dzikir darinya.

 

Dzikir lebih utama dari pada Tafakur, sebab Allah swt mensifati dirinya dengan Dzikir dan tidak mensifati dirinya dengan Tafakur, dan sesungguhnya Allah swt menjadikan Kriteria pertemuan dengan-NYA melalui Dzikir kepada-NYA, Allah swt berfirman :

فاذكروني أذكركم

"Dan berdzikirlah kalian kepadaku, Niscaya akupun akan menyebut kalian”

Ayat tersebut menjadi bukti bahwa Dzikir menjadi amaliyah yang khususiyah teruntuk Umat Islam, yang Allah tidak memberikannya kepada Umat-Umat sebelumnya.

 

Rasulullah saw juga bersabda dalam Hadits Qudsyi, Allah swt berfirman :

ولذكر الله أكبر

Makna hadits Qudsyi tersebut bahwasannya Dzikir kepada Allah swt yang diikrarkan dengan kalimat tersebut, ada didalam makna Firman Allah swt yang bunyinya :

أذكروتي أذكركم

“Berdzikirlah kalian kepadaku, maka aku-pun akan menyebut kalian", dan Ketika Allah swt menyebut hamba-NYA hal itu lebih Agung daripada Dzikir hamba kepada-NYA

 

Dan termasuk dari ke-Khususan Dzikir yang lain lagi adalah bahwasannya Dzikir tidak terbatas waktunya, bahkan seorang Hamba di perintahkan untuk senantiasa Berdzikir  dalam setiap waktunya, dengan Lisannya, atau dengan hatinya, baik berbentuk kefardluan maupun berupa kesunahan.

 

Wallahu A’lam.

Karawang, 15/06/2022; 11:05 wib

 

Jumat, 23 Agustus 2019

Tabiat Manusia saat di Uji dengan Musibah




Tabiat Manusia saat di Uji dengan Musibah.

Telah berkata Kanjeng Syaikh Abdul Qadir Al Jilani ra...
"Saat seseorang di uji dengan suatu Musibah, baik berupa sakit, bencana, keuangan, kekecewaan dan kebangkrutan, maka pertama Ia akan bertindak dengan kekuatan diri sendirinya, sehingga saat upaya diri sendirinya tidak menghasilkan jalan keluar, maka ia akan meminta pertolongan makhluk lain, semisal kepada Para penguasa, Pengusaha, dan orang2 berpengaruh. Jika ia sakit maka ia akan meminta pertolongan kepada dokter, Thabib dll, sehingga saat semua itu juga tidak menghasilkan jalan keluar, barulah ia akan meminta pertolongan Allah swt dengan meratap, berdo'a, beramal dengan banyaknya amal ibadah serta merendahkan dirinya dihadapan Allah swt. sekali-kali Allah swt tidak menerima semua Ratapannya tersebut, sebelum ia benar-benar memutuskan dirinya dari kebergantungannya kepada Hal-hal duniawi, setelah ia bisa melepaskan dirinya dari semua itu, barulah akan tampak Taqdir dan keputusan Allah swt dan lepaslah ia dari kebergantungan kepada sebab-sebab yang bersifat duniawi tersebut, maka hanya tinggal Ruhnya sajalah pada dirinya.

Dalam Tahap ini yang tampak olehnya hanyalah ketentuan dan perbuatan Allah swt semata, dan tertanamlah dalam hatinya keyaqinan dan ketauhidan yang nyata kepada Allah swt. Ia memahami haqiqat bahwasannya tiada pelaku atau gerak ataupun diam kecuali Allah swt saja, tiada kebaikan atau keburukan, tiada kerugian atau keuntungan, tiada Faidah atau Anugerah, tiada hidup atau mati, tiada terbuka atau tertutup, tiada kaya atau Papa (Miskin) melainkan kesemuanya itu ada dalam genggaman tangan Allah swt semata.

Ia tiada ubahnya seperti Bayi dalam susuan Ibunya, atau Mayit atas orang yang memandikannya, ataupun seperti bola yang dimainkan pemainnya, bergulir dan melambung kesana - kemari senantiasa berubah tempat dan bergerak kedudukannya, Ia tidak memiliki daya serta upaya. Maka hilanglah ia dari dirinya dan masuk kedalam Af'al (perbuatan) Allah swt semata-mata.

Hamba Allah yang semacam ini yang dilihatnya adalah perbuatan Allah swt saja, yang didengar dan diketahui hanyalah Allah swt, jika Ia melihat sesuatu, maka yang dilihatnya adalah perbuatan Allah swt, jika Ia mendengar dan mengetahui sesuatu, maka yang didengar dan diketahuinya semata adalah Firman Allah swt. Saat ia mengetahui sesuatu, maka ia mendapati pengetahuannya itu adalah pengetahuan Allah swt, Ia akan diberikan Karunia Allah swt. Maka jadilah ia hamba yang beruntung dekat dengan Allah swt, Ia menjadi hamba bertabiat indah dihiasi dan dimuliakan, Ia Ridlo kepada Allah swt, dan bertambah dekatlah ia dengan Allah swt, serta bertambahlah cintanya kepada Allah swt, semakin Khusu' ia berdzikir mengingat Allah swt, dan bersemayamlah ia disisi Allah swt, kemudian Allah swt membimbingnya dan menghiasinya dengan cahaya Ilmu Allah swt, sehingga tersingkaplah tabir yang menghalanginya dari rahasia-rahasia Allah swt yang Maha Agung, ia hanya mendengar dan mengingat Allah swt serta tiada sesuatupun hal-hal duniawi yang mampu memalingkannya dari Allah swt yang Maha Tinggi, kemudian ia menjadi hamba yang senantiasa bersyukur dan mengingat Allah swt."

Selasa, 07 Agustus 2018

Tiga pilar Agama yang tidak boleh di lupakan (Islam, Iman dan Ihsan).





Tiga pilar Agama yang tidak boleh di lupakan.

Oleh : donnieluthfiyy

Agama Islam terbagi menjadi 3 Bagian penting yang tak bisa terpisahkan, ketiganya saling terkait dan melengkapi, jika salah satu dari ketiga bagian tersebut tidak terimplementasikan pada diri penganutnya, maka akan terjadi kepincangan dalam menjalankan Agama.
Ketiga bagian tersebut adalah :

1.       Islam
Agama sebagai landasan hukum bagi perkara-perkara yang Wajib dan perkara-perkara yang dilarang.

2.       Iman
Agama sebagai landasan Aqidah/Keyakinan.

3.       Ihsan
Agama sebagai Penyeimbang antara Landasan Islam dan Iman.

Kebanyakan orang lebih mendominasi dalam Hal Islam dan Iman, namun melupakan bagian Ihsan, sehingga Agama menjadi hal yang kaku yang seakan tidak mampu memberikan solusi bagi kehidupan, saling bertentangan satu dengan lainnya dalam permasalahan Agama itu sendiri, banyak orang lupa bahwa Agama di ciptakan Allah, dan DIA pula yang mengatur dan mengurusnya, sehingga semua sudah dalam kendali dan pengawasannya serta dalam perencanaannya. Ketika seseorang beragama lebih dominan dalam hal Islam dan Iman, maka terkadang ia terpeleset memerankan diri sebagai Pencipta Agama itu sendiri, hal itu dikarenakan dalam menjalankan Agama ia tidak mampu memanifestasikan dalam dirinya bahwa seakan-akan ia selalu diawasi, dilihat atau melihat Allah swt.

Salah satu yang termasuk dalam Bagian Ihsan adalah Bab Ridlo.

Habib Zain bin Ibrohim Bin Sumaith Ba’alawi Al Hasani menyampaikan dalam Kitab karangannya yang berjudul Syarah Hadits Jibril berkenaan dengan Ridlo :

Ridlo dengan Qodho (Ketetapan Allah) adalah Fardhu yang tidak dapat dielakan, sama saja apakah Qodho yang manis maupun yang pahit, Ridlo adalah perkara yang dicari dalam urusan Dunia, dari orang yang Faqir maupun Kaya, dalam keadaan Untung maupun rugi, atau dalam kondisi sakit, sehat sekalipun menjelang kematian ataupun yang semisal hal tersebut. Dalam Hadits Qudsi Allah swt berfirman : ((Siapa orangnnya yang tidak ridlo dengan Qodho-Ku, dan tidak bersabar atas Bala-UjianKu, serta tidak bersyukur kepada Nikmat-nikmatKu, maka silahkan cari Tuhan selainKu)). Dan Baginda Nabi Muhammad saw bersabda : ((Orang yang merasakan kepuasan Iman adalah orang yang Ridlo bahwasannya Allah swt sebagai Tuhan, Agama Islam sebagai Agama dan Nabi Muhammad saw sebagai Nabi)) (HR. Muslim [34]).

Maka siapapun yang Ridlo kepada Allah swt sebagai Tuhan, Wajib baginya Ridlo kepada Pengaturan/PerencanaanNya serta kepada Pilihan-pilihanNya, juga dengan Pahit QodhoNya, dan agar Qona’ah (Menerima dengan Lapang hati) dengan apa yang telah di bagiNya dari perkara Rizqi, dan hendaklah menjadi penyabar ketika datangnya Bala-Ujian, meninggalkan murka ketika datangnya Musibah-musibah dan perkara-perkara yang merugikan. Dalam satu Hadits Nabi saw bersabda : ((Sesungguhnya Allah swt ketika mencintai suatu Kaum, maka Ia menurunkan Bala-UjianNya kepada mereka, maka siapa orangnya yang ridlo, Allah swt juga meridloinya, dan siapa orangnya yang murka, maka Allah swt juga murka kepadanya)). (HR. Imam Tarmidzi [2396]).

Ketahuilah alamat/ tanda-tandanya ketiadaaan Ridlo dengan Qodho adalah :

  1. Perkataan : (Kenapa?) dan (Bagaimana ?).
  2. Nyata dan Nampaknya keluhan kepada Makhluq.
Dalam sebuah Hadits di sebutkan ((Siapa orangnya yang mengeluh dengan musibah yang diturunkan kepadanya, maka seakan-akan Ia mengeluhkan Allah swt (Sebagai tuhannya))).

Syaikh Imam Abul Hasan As Syadzili ra (Seorang Wali Allah Mursyid yang agung) berkata : Satu macam perkara yang bisa menjadikan amal menjadi sia-sia, dan banyak manusia tidak memperhatikan hal tersebut, perkara tersebut yaitu : Murkanya seorang hamba atas Qodho Allah swt, Allah swt berfirman : {{Demikian itu adalah dikarenakan mereka benci terhadap apa yang di turunkan oleh Allah (Subhanahu wa Ta’ala), maka Allah (Subhanahu wa Ta’ala) menghapuskan (pahala ) segala amal perbuatan mereka}}. (Q.S. Muhammad : 9).


Wallahu A’lam....... 

Rabu, 11 Juli 2018

Musuh yang jelas dan Nyata adalah Syaitan.



Musuh yang jelas dan Nyata adalah Syaitan.

Oleh : donnieluthfiyy

Allah swt berfirman dalam Surat Yasin Ayat 60 :

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu".

Syaikh Hamami dalam Tafsir Yasin menafsirkan berkenaan Ayat ini :

Maksud ayat tersebut adalah adakah AKU (Allah swt) tidak memerintahkan kepadamu wahai Bani Adam supaya tidak mengikuti Syaitan dalam bermaksiat kepada Allah swt, dan janganlah kalian beramal dengan ucapannya Syaitan, karena sungguh permusuhannya kepada kalian itu tampak jelas dan nyata.

Kemudian mari kita Pahami apa yang dimaksud Syaitan ini...
Lisanul ‘Arob Juz 7 Hal. 105 ;

وقال قوم آخرون: إنَّ الشيطان مأخوذ من الفعل (شاط)؛ بمعنى: احترق من الغضب، فهو من: شاط يشيط، وتشيط: إذا لفحَته النار فاحترق أو هلك؛ مثل هيمان وغيمان؛ مِن هام وغام، وعلى هذا الاشتقاق يكون على وزن فعلان، والنون فيه زائدة
“Sesungguhnya Lafadz Syaitan “الشيطان “ di ambil dari Fi’il “شاط  “, yang bermakna :  Terbakar Amarah, maka lafadz Syaitan “الشيطان “ berasal dari Lafadz : شاط يشيط، وتشيط : Ketika api berhembus kepadanya maka terbakar atau Hancur. Di misalkan dengan Lafadz “هيمان “ dan “غيمان “ dari Fi’il “هام “ dan “غام “, dan didasarkan atas Isytiqaq (Pengasalah Kata – Etimologi) terbentuk dari Wazan “فعلان “, adapun huruf Nun di situ adalah sebagai Tambahan “زائدة “.

Jadi justru musuh terbesar Manusia yang Jelas dan nyata adalah Amarahnya, karena dengan sebab Amarah tersebut maka bermunculanlah Ar Roda-il (Penyakit-penyakit hati) lainnya seperti Hasud (Dengki atas Nikmat yg dimiliki orang lain), Haqd (Dendam), Ujub, Takabur dll. Dan kesemuanya itu identik dengan Persifatan yang di sifatkan dengan Lafadz Syaitan “الشيطان “.

Selanjutnya Syaikh hamami menafsirkan Surat Yasin ayat 62 :

وَلَقَدْ أَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلًّا كَثِيرًا أَفَلَمْ تَكُونُوا تَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar diantaramu, Maka apakah kamu tidak memikirkan?”.

Beliau berkata dalam Tafsirnya :

Ahlul Madinah dan Imam ‘Ashim membaca Lafadz Jibillan “جِبِلًّا “ dengan di Tasydid huruf Lam-nya “ اللام “ dan maknanya adalah Penciptaan (Makhluk) dan Kumpulan (Kelompok) “ الجماعة “ , jadi maksudnya adalah syaitan (Amarah) itu telah menyesatkan sebahagian besar makhluk/kelompok diantara kalian, dan mengeluarkan kalian dari jalan yang Haq menuju jalan yang Bathil.

Coba perhatikan bagaimana seorang Nabi yang jelas-jelas Maksum sangat Tawadu’ terhadap dirinya sendiri, walaupun bisa di pastikan tidak akan melakukan kesalahan, namun Nabi Yusuf as tahu bahwa Nafsu Amarahnya selalu mengintainya...

Allah swt berfirman dalam Surat Yusuf ayat 53 :

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan (Nafsu La Ammarah), kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang”.

Lalu siapkah diri kita ini yang berani-berani mengklaim kebenaran atas Penafsiran dan Kesimpulan kita sendiri???
Apakah kita ini sudah terjamin (Maksum) dari Intaian Nafsu Amarah ???
Lalu sejauh mana kita ini mengenal Allah swt ???

Silahkan direnungkan....!!!!


Wallahu A’lam...

Sabtu, 24 Maret 2018

Penjelasan Istilah Syafa'at




Bab Menjelaskan Syafa’at.

Kitab Jami’ul Ushul Fil Awliya – Syaikh Ahmad Al Kamiskhonawi An Naqsyabandi Al Kholidi.

Diterjemahkan oleh : donnieluthfiyy

(Adapun Syafa’at) maka ketahuilah bahwasannya Syafa’at adalah Meluapnya cahaya atas Inti Nubuwah, maka Allah swt memperluaskan lagi Inti Nubuwah kepada para Nabi dan para Wali, serta melimpahkan beberapa cahaya dari para Nabi dan para Wali kepada para Makhluk.

Quthbu Jami’il Maqom wa Gawtsul A’dzom  Sulthanul Awliya Al ‘Aarifiin Imam Abul Hasan Ali As Syadzili ra berkata kepada seorang lelaki yang diselimutii rasa gelisah dan kesusahan sehingga membuatnya hampir tidak dapat makan, minum dan tidur : “ Wahai Ibnu Fulan menetaplah dirimu dalam ketetapan Allah swt, dan bergantunglah hatimu kepada Allah swt, serta janganlah ber-putus asa dari rahmat Allah swt, dan sabarlah menanti kelapangan, Wajib bagimu menjaga dari Syirik kepada Allah swt, Munafiq kepada Rasulullah saw, dan berprasangka buruk kepada Allah swt dan RasulNya, maka sesungguhnya semua itu merupakan sebab-sebab yang menuju kepada lingkaran keburukan dari Allah swt, murkaNya, LaknatNya, dan bilangan-bilangan nerakaNya, serta telah disediakan bagi mereka Neraka Jahanam juga seburuk-buruknya tempat kembali, Maka hendaklah terhadap dirimu untuk membaguskan rasa malu (Malu jika selalu berkeluh kesah dan bersusah-susah hati, sementara Allah swt banyak memberikan nikmatNya). Kemudian aku (Imam Syadzili ra) melihat lelaki tersebut didalam mimpiku sebagai seorang Tawanan yang diikat tangannya dan dipegang talinya oleh Rasulullah saw, dan beliau saw membacakan sebuah Firman Allah swt Dalam Surat Al Anfal Ayat 70-71 :
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّمَن فِي أَيْدِيكُم مِّنَ الْأَسْرَىٰ إِن يَعْلَمِ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ خَيْرًا يُؤْتِكُمْ خَيْرًا مِّمَّا أُخِذَ مِنكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ. وَإِن يُرِيدُوا خِيَانَتَكَ فَقَدْ خَانُوا اللَّهَ مِن قَبْلُ فَأَمْكَنَ مِنْهُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
“ Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu: "Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil daripadamu dan Dia akan mengampuni kamu". Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Akan tetapi jika mereka (tawanan-tawanan itu) bermaksud hendak berkhianat kepadamu, maka sesungguhnya mereka telah berkhianat kepada Allah sebelum ini, lalu Allah menjadikan(mu) berkuasa terhadap mereka. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana “.

Maka aku bertanya (Kepada Rasulullah saw) : Apa yang dimaksud dengan sikap Munafiq kepada Rasulullah saw ?, Rasulullah saw bersabda : Memperlihatkan diri dengan kesunahan (Agar Nampak Nyunah), Dan adapun Allah swt lebih tahu dari kalian dengan perkara yang selain hal tersebut (yakni Memperlihatkannya untuk tujuan Dunia belaka). Aku bertanya lagi : Dan apa maksud dari Syirik kepada Allah swt ?, Rasulullah saw bersabda : Mengambil Awliya (Para Penolong) dan (As Syufa’a (Para Pemberi Syafa’at) selain Allah swt (kalimat Awliya dan Syufa’a bentuknya adalah Jamak, artinya ada penolong dan pemberi syafa’at yang distempel atas Izin Allah swt).

Allah swt berfirman dalam Surat As Sajdah Ayat 4 dan Az Zumar ayat 43 :
مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ, أَمِ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ شُفَعَاءَ قُلْ أَوَلَوْ كَانُوا لا يَمْلِكُونَ شَيْئًا وَلا يَعْقِلُونَ
“ Tidak ada bagi kamu selain dari pada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?, Bahkan mereka mengambil pemberi syafa'at selain Allah (Maksudnya adalah berhala). Katakanlah: "Dan apakah (kamu mengambilnya juga) meskipun mereka tidak memiliki sesuatupun dan tidak berakal? (Karena berhala-berhala tersebut adalah buatan manusia yang tidak memiliki apapun dan tidak pula berakal) “.

Kemudian Rasulullah saw bersabda : Berikan syafaat (bantuan) maka kalian akan mendapatkan pahala didalam perkara Haq dengan Haq pula, sekiranya Allah swt dan RasulNya memerintahkan kalian dengan Haq. Dan sungguh telah dijelaskan hal tersebut dengan penjelasan yang nyata, dengan Sabdanya : “Kalian akan mendapatkan Pahala”. Sesungguhnya orang yang memberikan bantuan (syafa’at) didalam hal Maksiat atau mencari jabatan serta kedudukan, atau didalam mencari Dunia karena kecintaannya (pada Dunia), tidaklah diberikan Pahala, malah justru mendapatkan Adzab disebabkan bantuannya tersebut. Dan Allah swt menerima Taubat atas siapa saja yang dikehendakinya. Selanjutnya aku (Imam Syadzili) bertanya lagi : Apa maksudnya berprasangka buruk kepada Allah swt ?, Rasulullah saw bersabda : Siapa saja yang berharap kepada selain Allah swt, dan mengharapkan pertolongan kepada selain Allah swt, maka sungguh buruk prasangkanya itu kepada Allah swt.

Allah swt berfirman dalam Surat :
مَنْ كَانَ يَظُنُّ أَنْ لَنْ يَنْصُرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَلْيَمْدُدْ بِسَبَبٍ إِلَى السَّمَاءِ ثُمَّ لْيَقْطَعْ فَلْيَنْظُرْ هَلْ يُذْهِبَنَّ كَيْدُهُ مَا يَغِيظُ
“ Barangsiapa yang menyangka bahwa Allah sekali-kali tiada menolongnya (Muhammad) di dunia dan akhirat, maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit, kemudian hendaklah ia melaluinya, kemudian hendaklah ia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya “.


Wallahu A’lam…. Semoga bermanfa’at.

Kamis, 01 Februari 2018

Hukum Dzikir Para Shufi dengan gerakan-gerakan tertentu mirip Tarian





Hukum Dzikir Para Shufi dengan gerakan-gerakan tertentu mirip Tarian


Oleh : donnieluthfiyy

Dalil pertama :
Allah swt memberikan kebebasan kepada HambaNya ketika berdzikir untuk mengingatNya, boleh sambil duduk, berdiri ataupun sambil berbaring, Allah swt berfirman dalam Surat Ali ‘Imron ayat 191 :
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ
“ (yaitu) orang-orang yang Berdzikir (mengingat Allah) sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring “.
Dalam ayat ini Allah swt tidak memberikan kekhususan posisi atau keadaan tertentu berkenaan dengan cara berdzikir, Allah swt memberikan kebebasan dalam rangka mengungkapkan perasaan cinta hambaNya ketika berdzikir mengingatNya. Dan dalam perkara Agama tidak diperbolehkan meng-generalisasikan (menjadikan Umum) perkara yang telah Allah swt khususkan, serta tidak boleh mengkhususkan sebuah perkara yang justru di Generalisasikan (di jadikan Umum) oleh Allah swt, seperti dalam Dzikir tersebut.
Salah satu contoh Allah swt telah mengkhususkan waktu dalam Shalat Fardlu, maka tidak boleh Shalat disembarang waktu, atau shalat dengan waktu yang acak. Atau seperti gerakan didalam Shalat yang Allah swt Khususkan, maka tidak boleh meng-generalisasi gerakan dalam shalat, kemudian bergerak-gerak semaunya.
Berbeda didalam Berdzikir, Allah memberikan kebebasan dalam gerakannya, Allah swt tidak mengkhususkan gerakan tertentu ketika berdzikir, dan Allah swt pun tidak mengkhususkan pada Batasan jumlah tertentu dalam berdikir, Allah SWT berfirman dalam surat Ali ‘Imron ayat 41
وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالإبْكَارِ
“ Dan Berdzikirlah (sebutlah nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari. “
Dalam ayat ini jelas Allah swt meng-generalisasi Jumlah dalam berdzikir, sehingga di perbolehkan berdzikir dengan Jumlah 10, 100, 1000 atau lebih dari itu semampunya.

Dalil kedua :
Bahwa Nabi Musa as saat mabuk kepayang karena cintanya kepada Allah swt, maka Nabi Musa as pergi ke gunung tursina dan beliau menari-nari sambil menyebut nama Allah swt dimalam hari sebagai ungkapan cintanya yang sangat menggebu-gebu kepada Allah swt, peristiwa ini di sampaikan para Ahli Tafsir ketika menafsirkan Surat Al A’rof ayat 142 :
Allah swt berfirman :
وَوَاعَدْنَا مُوسَىٰ ثَلَاثِينَ لَيْلَةً
“ Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam “.
Syaikh Hamami Zadah dalam Tafsir yasin Hal. 12 ketika mengutip ayat tersebut menuliskan sebuah kisah dimana Ketika Nabi Musa as berada di Gunung Tursina, beliau as mabuk akan cintanya kepada Allah swt, dan jadilah beliau as menari-nari (Sambil menyebut-nyebut nama Allah swt) karena merasa sangat Rindu kepada Allah swt.
وموسى عليه السلام كان في جبل طورسين سكران من محبة الله تعالى وجعل يرقص من صوقه...
“ Dan adapun Nabi Musa as saat berada di Gunung Tursina, beliau Mabuk karena Cintanya kepada Allah swt, dan jadilah beliau as menari-nari (Sambil menyebut memanggil nama Allah swt) karena kerinduannya “.

Kemudian dalam sebuah Atsar dari Sahabat yang diriwayatkan oleh Imam Abu Naim dari Imam Fudhail Bin Iyadl berkata :
فقد روى أبو نعيم عن الفضيل بن عياض رحمه الله تعالى أنه قال: (كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم إذا ذكروا الله تمايلوا كما تتمايل الشجرة بالريح العاصف إلى أمام ثم تراجع إلى وراء(
Sungguh telah diriwayatkan oleh Imam Abu Naim dari Imam Fudhail Bin Iyadl ra, ia berkata : (Ada beberapa seorang sahabat Rasulullah saw, ketika mereka berdzikir  kepada Allah swt, mereke saling mengayunkan badannya seperti Ayunan pepohonan yang tertiup angin Ribut, bergerak ke depan kemudian kembali ke belakang) “.

Sehingga tidak ada larangannya dalam berdzikir walapun dengan gerakan yang menyerupai tarian, selama dalam aktifitasnya itu tidak melanggar batas-batas Syari’at, hanya saja gerakan-gerakan tertentu dalam berdzikir memerlukan seorang pemandu, tidak boleh dengan gerakan-gerakan semaunya, para Salik Thoriqoh ketika berdzikir selalu di pandu oleh seorang Mursyid, begitupun dzikir dengan gerakan-gerakan tertentu, semuanya tidak lepas dari panduan Sang Mursyid, sehingga apa yang menjadi maksud dan tujuan dzikirnya bisa tercapai dengan baik serta tidak melenceng dari ajaran Islam.

Dalil tambahan :
وفي رواية عن سيدنا أنس رضي الله عنه قال: (كان الحبشة يرقصون بين يدي رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم ويقولون بكلام لهم: محمد عبد صالح فقال صلى الله عليه وآله وسلم (ماذا يقولون؟) فقيل:يقولون : محمد عبد صالح.
“ Didalam sebuah riwayat dari Sayyidina Anas ra, ia berkata : (Ada di tanah Habasyah mereka (Orang-orang Habasyah) menari-nari di hadapan Rasulullah saw dan berkata-kata dengan perkataan : ... Muhammad adalah Hamba yang Shalih..., kemudian Baginda Nabi Muhammad saw bersabda (Bertanya kepada Sayyidina Anas ra) : “ Apa yang mereka ucapkan itu ? “, maka dikatakan; Mereka mengucapkan : Muhammad adalah Hambda Yang Shalih “. (HR, Bukhari No. 949 ; Dan HR. Muslim No. 2062)

وقال حجة الإسلام الإمام الغزالي رحمه الله تعالى : (والرقص سبب في تحريك السرور والنشاط ولو كان حراما لما نظرت عائشة إلى الحبشة مع رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم وهم )يزفنون(
“ Telah berkata Hujjatul Islam Imam Ghazali ra : (Adapun Tarian itu disebabkan oleh gerakan dan refleksi (dari ungkapan) kegembiraan, walaupun tariannya berupa gerakan yang diharamkan, suatu saat Sayyidah Aisyah rah melihat kaum Habasyah bersama Rasulullah saw, dan mereka semua (sedang menari)). ( Kitab Syarah Shahih Muslim yang di tulis oleh Imam Nawawi Juz 6 Hal. 486 ) “.

Wallahu A’lam.... semoga bermanfa’at....



Minggu, 24 September 2017

Kehati-hatian dalam Agama dan Kehidupan.




Kehati-hatian dalam Agama dan Kehidupan.

Oleh : donnieluthfiyy.

Allah swt berfirman :

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ
“ Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana “. (Asy Syura’ 51).
 Interaksi Allah swt dengan Hambanya melalui Wahyu atau melalui perantara MalaikatNya adalah interaksi yang dikhususkan Allah swt hanya kepada para Nabi.
Sehingga para Nabi berinteraksi dengan Allah swt adalah bersifat Haqiqiy (secara langsung dan gamblang) atau melalui perantara malaikatnya.

Sedangkan manusia biasa, berinteraksi dengan Allah swt adalah bersifat Dzoniyy (Prasangka - yg baik) untuk merasakan kehadirannya dalam hati kemudian mengimani apa2 yang datang dari utusanNya sebagai perantara RisalahNya kepada Manusia.

Kita sebagai manusia biasa yang tidak diberikan kemampuan untuk berinteraksi secara langsung dengan Allah swt, atau dengan Nabi saw. Maka sangat perlu kehatia-hatian dalam menjalani kehidupan ini, Ada dua cara ketika kita menghadapi problematika kehidupan ini yang kita tidak mengetahui hakikat kebenarannya kecuali hanya berupa terkaan dan perkiraan dari penafsiran atas pengetahuan kita sendiri...
Dua cara tersebut adalah :
Rasulullah saw bersabda :

ما خاب من استخار، وما ندم من استشار
“ Tidak akan gagal orang yang mau Istikhoroh, dan tidak akan menyesal orang yang mau bermusyawarah”.

Cara yang pertama adalah dengan jalan Istikhoroh sampai Allah swt memberikan jawaban dari problematika tersebut, jika dalam Istikhoroh Allah swt belum juga memberikan jawaban, maka berarti Allah swt sedang menguji kesabaran kita atau menunggu saat yang tepat menurut kehendak Allah swt atas jawabaNya tersebut.

Syaikh Ibnu Athoillah dalam Hikamnya menyampaikan :

لاَ يَــكُنْ تَــأَخُّرُ أَ مَدِ الْعَطَاءِ مَعَ اْلإِلْـحَـاحِ فيِ الدُّعَاءِ مُوْجِـبَاً لِـيَأْسِكَ؛ فَـهُـوَ ضَمِنَ لَـكَ اْلإِجَـابَـةَ فِيمَا يَـخْتَارُهُ لَـكَ لاَ فِيمَا تَـختَارُ لِـنَفْسِكَ؛ وَفيِ الْـوَقْتِ الَّـذِيْ يُرِ يـْدُ لاَ فيِ الْـوَقْتِ الَّذِي تُرِ يدُ
" Janganlah karena keterlambatan datangnya pemberian-Nya kepadamu, saat engkau telah bersungguh-sungguh dalam berdoa, menyebabkan engkau berputus asa; sebab Dia telah menjamin bagimu suatu ijabah (pengabulan doa) dalam apa-apa yang Dia pilihkan bagimu, bukan dalam apa-apa yang engkau pilih untuk dirimu; dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau kehendaki."

Cara kedua jika problematika sudah sangat membutuhkan suatu keputusan maka langkah selanjutnya yaitu dengan musyawarah, dan jangan bercerai-berai karena belum adanya kesepakatan serta jangan berselisih, tetaplah bersabar.

Allah swt berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 103 :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“ Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk “.

kemudian selalu ingatlah bahwasannya Allah swt juga selalu menguji para Hambanya, Allah swt berfirman dalam surat Al Anfal ayat 30 :

ويمكرون وَيَمْكُرُ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

Dalam tafsir Baghowi menafsirkan berkenaan ayat ini ;

ويمكرون ويمكر الله " ، قال الضحاك : يصنعون ويصنع الله ، والمكر والتدبير وهو من الله التدبير بالحق . وقيل : يجازيهم جزاء المكر " والله خير الماكرين " .
“Mereka makar kepada  Allah dan Allah membalas makar itu “, Imam Dhohak berkata : Mereka membuat (makar) dan Allah membuat (balasan Makar itu), dan adapun Makar serta Tadbir (Perencanaan makar) adalah dari Allah yaitu berupa perencanaan yang haq. Dan dikatakan : Allah membalas dengan balasan makar “ Dan Allah sebaik-baik Pembalas makar “.

Selanjutnya Allah SWT berfirman:

اَفَاَمِنُوْا مَكْرَ اللّٰهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْخٰسِرُوْنَ

"Atau apakah mereka merasa aman dari makar Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidak ada yang merasa aman dari makar Allah selain orang-orang yang rugi." (QS. Al-A'raf 7: Ayat 99)

Disini perlunya kehati-hatian dalam setiap tindak-tanduk serta keputusan kita dalam Agama dan menjalani kehidupan ini.

Dalam Kitab Jami’ul Ushul fil Aulia Mushonif menyampaikan berkenaan dengan Bab Haqiqat Niat dan Istikhoroh sebagai berikut :

كم عبد أمين عن الأموال غير أمين عن الفروخ, ورب عبد أمين عن الفروخ غير أمين عن الأخلاق, ورب عبد أمين عن الأخلاق غير أمين عن الأحوال, ورب عبد أمين عن الأحوال غير أمين عن الدين
“ Berapa banyak hamba yang aman dari hartanya namun tidak aman dari farjinya (Kemaluannya), dan tidak sedikit hamba yang aman dari kemaluannya namun tidak aman dari akhlaknya, dan tidak sedikit hamba yang aman dari akhlaknya namun tidak aman dari Keadaan (Jiwa) nya, dan tidak sedikit pula hamba yang aman dari Keadaan (jiwa) nya namun tidak aman dari agamanya.


Wallahu A’lam..... Semoga bermanfa’at.

Senin, 08 Mei 2017

Definisi Takwa dan Tingkatan Takwa...

Oleh : donnieluthfiyy

Dalam Kitab Maqomatus Suniyah Lis Saadatis Shufiyah Sayyid Muhammad Wafa Bahru Shofa berkata :

التقوى : " هي حصر الهفوات النفسانية بضابط القوانين الشرعية

“Takwa adalah menahan diri dari kekeliruan hawa nafsu dengan berpegang kepada Tuntunan Syari’at”
maksudnya bahwa sesungguhnya takwa adalah berupaya mencari jalan Mujahadah, dan Muhasabah bagi hawa nafsu dan menyempitkan celah kecil atas hawa nafsu. Dengan merujuk kaidah yang spesifik, dan perkiraan yang membatasi, maka ketahuilah hal tersebut adalah dengan berpegang kepada tuntunan Syari’at. Yakni agar menjadikan Mujahadah nafsu dan beribadah kepada Allah swt sebagai muasis atas manhaj Robbani yang benar. Hal ini Bukanlah perbuatan Bid’ah atau mengada-ada, tetapi hal tersebut adalah sebagai pokok-pokoknya dan penerimaan-penerimaannya di hadapan Allah swt.

Manhaj Robbani tersebut adalah yang menjadikan buah amal di dalam kesucian jiwa, dan apapun bentuk buahnya tersebut adalah sama-sama menjadikan mahabbah, atau Muroqobbah, atau senantiasa berpegang pada pintu Allah swt atau juga senantiasa istiqomah terhadap perintah-perintah Allah swt.

Dan tidaklah berfaedah kecuali orang yang di berikan faedahnya, serta dengan mengikuti orang yang mengikuti Sunah Rasulullah saw maka Manhaj Robbani ini lah yang benar, karena sesungguhnya Rasulullah saw adalah Robbani di dalam tingkah dan perkataannya, dan sesungguhnya Akhlak Rasulullah saw adalah Al Qur’an.

Allah swt berfirman Dalam surat An Nur ayat 54 :

وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا
“ Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk “.

Kemudian Allah swt berfirman dalam Surat An Nisaa ayat 80 :

مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ
“ Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah “.

Para Saadah Sufiyyah As Shodiqin rahm, mereka tidak ridlo dengan selain kepada Kitabullah dan Sunah Rasul saw sebagai pengganti, kemudian Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al Jilani berkata :

طِر إلى الله بجناحي الكتاب والسنة، وأدخل على الله ويدك في يد رسول الله صلى الله عليه وسلم.

“ Terbanglah kalian kepada Allah swt dengan dua sayap, Kitabullah dan Sunah, dan masuklah menghadap Allah swt, sedang tanganmu dalam genggaman tangan Rasulullah saw “.
ي
Kemudian Sayyid Muhammad Wafa Bahru Shofa berkata pula :

وحقيقتها : رفع العقل المعيشي ميزان الشرع لاعتبار النقص والزيادة

Hakikatnya Takwa yaitu dengan Meningkatnya akal sebagai standar kehidupan adalah sebagai takaran Syari’at agar bisa digunakan untuk mempertimbangkan kekurangan dan kelebihan.

Maksudnya yaitu sesungguhnya manusia mengetahui akan kelemahan akalnya, seperti halnya kelemahannya dalam menentukan perkara halal dan haram dengan cara menggali sendiri tanpa mengikuti Manhaj/ tuntunan Robbani, atau tanpa melalui undang-undang Ilahiyah. Disinilah Hakikat apa yang membedakannya, maksudnya dengan orang-orang yang melayani akalnya. Adapun mereka  yang mengikuti Manhaj Robbani telah memisahkan antara yang halal dan yang haram melalui pancaran cahaya manhaj Ilahi, kemudian mereka melihat terhadap orang-orang selainnya di dalam kesenangan yang berturut turut mendatanginya dan  dosa-dosa yang dilakukannya. Dan terus menariknya kedalam dosa-dosa, ini sesungguhnya adalah karena perbuatan dosanya selalu di ulang-ulang dalam setiap waktu.

Dan beliau juga berkata :

وغايتها : إخراج أضغان النفس وردعها عن الدعاوى المكدرة لصفاء جوهر القربات

Tujuannya Takwa adalah mengeluarkan Racun hawa nafsu untuk mencegahnya dari bujukan yang menggelincirkan demi bersihnya unsur taqorrub.

Takwa tidak akan datang kecuali dengan mengikuti Syari’at, dan menjalankan sunah, maka ada Tiga urutan pendakian Takwa bagi manusia :  

1.   1. Libasut Takwa, maksudnya adalah mensimulasikan keyakinan, Akal dan Dhohir, hal itu bisa mencegah dari kemusyrikan, dan menjadikan Allah swt sebagai Tuhan dan Islam sebagai Agama dan Al Qur’an yang mulia sebagai Imam dan Baginda Nabi Muhammad saw sebagai Nabi dan utusan.

2.  2. Haqut Takwa : yaitu perkara yang mensimulasikan Hati dan bathin, yaitu dengan melakukan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya dengan hati yang selamat dan ridlo, dan inilah Thoriqoh/ Jalan.


3.  3. ‘Ainut Takwa : yaitu perkara yang mensimulasikan ruh dan sirr, maksudnya yaitu ketiadaan mencari sesuatu selain Allah swt dan merasa puas denganNya, dan ini adalah Hakikat.

List Video