Tampilkan postingan dengan label Dzolim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dzolim. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Agustus 2018

Maukah engkau menjadi salah seorang yang terkena Marahnya Rasulullah saw ?




Maukah engkau menjadi salah seorang yang terkena Marahnya Rasulullah saw ?

Sungguh Para Sahabat lebih memilih tidak pernah dilahirkan ketimbang menyaksikan Rasulullah saw Marah kepadanya.

Oleh : donnieluthfiyy

Simaklah kisah berikut ini.

وَعَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدِ بْنِ حَارِثَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يُحَدِّثُ قَالَ بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْحُرَقَةِ مِنْ جُهَيْنَةَ قَالَ فَصَبَّحْنَا الْقَوْمَ فَهَزَمْنَاهُمْ قَالَ وَلَحِقْتُ أَنَا وَرَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ رَجُلًا مِنْهُمْ قَالَ فَلَمَّا غَشِينَاهُ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ فَكَفَّ عَنْهُ الْأَنْصَارِيُّ فَطَعَنْتُهُ بِرُمْحِي حَتَّى قَتَلْتُهُ قَالَ فَلَمَّا قَدِمْنَا بَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَقَالَ لِي يَا أُسَامَةُ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا كَانَ مُتَعَوِّذًا قَالَ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ الْيَوْمِ

“Dari Usamah bin Zaid bin haritsah ra, Ia bercerita : (Suatu hari) Rasulullah saw mengutus kami ke perkampungan Hurqoh (Perkampungan orang-orang kafir yang memerangi Islam) dari Bani Juhainah, Ia berkata : lalu kami menyerangnya di pagi hari yang membuat mereka lari tunggang langgang, Usamah Bin Zaid melanjutkan ceritanya : kemudian aku dan seorang lelaki dari kalangan Anshor mengejar salah satu dari mereka, saat kami mendapatinya Ia pun bersyahadat “Laa ilaha Illallah”, maka Seorang sahabat Anshor itupun menahan dirinya (Tidak mau menyerang), namun aku langsung menikam orang tersebut dengan Tombak sehingga ia tewas olehku, Selanjutnya Ia bercerita : Ketika kami sampai di Madinah, telah sampailah berita itu kepada Nabi saw, dan ia berkata : Maka Nabi saw bersabda kepadaku {Wahai, Usamah... apakah engkau membunuh seseorang setelah ia mengucapkan kalimat “Laa ilaha Illallah” ?, Usamah berkata : Aku menjawab {Wahai, Rasulullah... bahwasannya ia mengucapkan hal tersebut adalah sekedar untuk melindungi dirinya (Pura-pura)}, dan aku membunuhnya setelah ia mengucapkan “Laa ilaha Illallah”, Usamah pun bercerita : bahwa Rasulullah saw terus bertanya lagi mengulang-ulang pertanyaannya kepadaku, sehingga aku mengandai-andai kalaulah aku belum masuk Islam sebelum itu (Rasa penyesalan yang mendalam)”.

Bagaimana jadinya jika diri kita ini memerangi dan mengkafirkan orang-orang Islam yang sudah jelas mereka melakukan Sholat, Puasa, Zakat bahkan Haji, sementara seorang Sahabat yang membunuh seorang kafir yang tiba-tiba mengucapkan kalimat “Laa ilaha Illalla” sementara belumlah ia pernah melakukan Sholat satu kalipun, Rasulullah saw sangat marah kepada sahabatnya tersebut?

Beliau itu pun seorang Sahabat yang berjuang bersama Rasulullah saw!

Bagaimana dengan kita ini yang memerangi dan mengkafirkan orang-orang yang telah bersyahadat dan melakukan Sholat juga Puasa dan Zakat bahkan Haji?, Apakah Rasulullah saw tidak akan lebih marah lagi kepada kita ?


Jangan kalian ikuti orang-orang yang Rasulullah saw akan marah kepada mereka!!!

Minggu, 26 Agustus 2018

Kajian Hadits tiga perkara musibah yang akan menimpa Umat ketika mereka berlari menjauhi Ulama dan Fuqaha



Kajian Hadits tiga perkara musibah yang akan menimpa Umat ketika mereka berlari menjauhi Ulama dan Fuqaha.

Oleh : donnieluthfiyy

Rasulullah SAW bersabda :

سياتى زمانٌ على امّتى يفرّون من العلماءِ والفقهاء فيبتليهمْ اللهُ بثلاثِ بليّاتٍ : اُولاها يرفع اللهُ البركةَ من كسبهم , والثانية يسلّط الله تعالى عليهم سلطانا ظالما , والثالثة يخرجون من الدنيا بغير ايمانٍ
“Akan datang suatu Zaman kepada ummatku dimana mereka lari menjauh dari para ulama dan fuqoha, maka Allah akan menurunkan tiga macam musibah kepada mereka, yaitu :
1.       Allah menghilangkan berkah dari rizki mereka.
2.       Allah menjadikan penguasa yang zalim untuk mereka.
3.       Allah mengeluarkan mereka dari dunia ini tanpa membawa iman”. (Kitab Nashoihul Ibaad)

Dalam hadits tersebut menggambarkan kelak umat akan berlari menjauhi Ulama dan Fuqoha yakni orang-orang Sholeh yang hatinya dipenuhi kecintaan kepada Allah swt dan ketiadaan rasa bergantung mereka kepada Dunia. Mereka tidak mejauhinya secara nyata, namun mereka membuat orang-orang Sholeh menjadi samar tak jelas karena perilaku mereka yang mengaburkan peran orang-orang sholeh tersebut, sehingga banyak orang awam secara tidak sadar menjauhi para Ulama dan Fuqoha, sifat mereka Bar-bar jauh dari Sifat Murah hati, mereka tidak lagi menghormati yang lebih tua dan tidak pula menyayangi orang-orang lemah diantara mereka, mereka saling berebut Kekuasaan dan Harta Dunia, mereka sangat gemar mengobarkan peperangan seperti Kaum Jahiliyah dimasa sebelum Nabi saw di utus, ciri-ciri mereka tersebut di gambarkan dalam Hadits Nabi berikut ini.

Dari Sayyidina Ali Karomallahu Wajhah, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda :

يأتي على الناس زمان لا يُتَّبَعُ فيه العالم ، ولا يُستحيى فيه من الحليم ، ولا يُوقَّر فيه الكبير، ولا يُرحَم فيه الصغير، يقتل بعضهم بعضاً على الدنيا، قلوبهم قلوب الأعاجم ، وألسنتهم ألسنة العرب ، لا يعرفون معروفاً، ولا ينكرون منكراً، يُمسي الصالح مستخفياً، اُولئك شِرار خلق الله، لا ينظر الله إليهم يوم القيامة  (الإشاعة لأشراط الساعة: 116).

“Akan datang Suatu zaman kepada Manusia yang mereka tidak lagi mengikuti orang Alim, dan tidak lagi menghidupkan Sifat Murah Hati, tidak lagi menghormati orang yang lebih Tua, serta tidak lagi menyayangi orang yang lebih Muda, mereka satu sama lain saling memerangi demi Dunia (Harta dan Kekuasaan), Hati mereka adalah hati orang-orang ‘Ajami (Bukan Arab), namun Lisan-lisan mereka adalah lisan orang Arab (Berbicara Gaya orang Arab), mereka tidak mengerti arti kebajikan, dan tidak mengingkari kemungkaran, mereka menjadikan orang Sholeh menjadi Samar (tidak jelas), Mereka adalah seburuk-buruknya Makhluk Allah swt, dan Allah swt tidak mau memandang kepada mereka kelak di hari kiamat”.

Sehingga dengan perilaku tersebut dikarenakan Dunia yang mereka Tuju maka Allah memberikan 3 Musibah yang saling berkaitan.

  1. Allah swt mengangkat keberkahan dari apa yang mereka Capai, yakni Harta yang di dapat dari perkara Haram (Mungkar), seperti Korupsi yang merajalela yang dianggapnya sebagai bagian dari kerja keras mereka (hati mereka tidak mengingkari kemungkaran Korupsi), maka dari harta Korupsi yang mereka dapatkan tersebarlah Pos-pos peluang yang lain yang tidak halal, harta-harta tidak halal tersebut dimakan oleh orang-orang yang berada dalam lingkaran mereka.

  1. Kemudian dikarenakan serakahnya mereka dalam harta yang di dapat dari perlaku Haram tersebut (Kuropsi) maka mereka berupaya menjadikan seorang penguasa yang bisa mendukung hasrat dunia mereka tersebut, maka di jadikanlah oleh mereka seorang penguasa yang Dholim kepada Rakyatnya, namun mendukung perilaku mereka tersebut.

  1. Selanjutnya mereka menjaga dengan ketat, dengan segenap kemampuan mereka terhadap apa yang telah mereka dapatkan tersebut dari harta-harta korupsi haram yang mereka kumpulkan, sehingga mereka rela berperang dan membunuh atau terbunuh, dan pada akhirnya mereka semua keluar dari alam Dunia ini dalam keadaan tidak membawa Iman, karena kecintaan mereka yang berlebihan terhadap Harta dan Keuasaan (Dunia).

نعوذ بالله من ذلك ثم نعوذ بالله من ذالك....

Gunakanlah Hati Nuranimu wahai saudaraku, jangan sampai kita menjadi bagian dari Fitnah Akhir Zaman yang dimaksud dalam Hadits tersebut….

Wallahu A’lam….




Sabtu, 11 Agustus 2018

Mengulas Kitab Ahkam Shulthoniyah – Imam Mawardi




Mengulas Kitab Ahkam Shulthoniyah – Imam Mawardi.

Oleh : donnieluthfiyy

Sebelum Masuk Pembahasan saya akan menyampaikan Nasihat Alm. Guru saya kepada saya dulu sebagai dasar saya mencerna sebuah bahasan :

Kalo mempelajari suatu Hukum Fiqh atau Syar’i itu Pahami dulu sebab munculnya hukum tersebut, dari alasan dan maksud munculnya, sehingga nanti menjadi Mudah saat mau menggunakan hukum tersebut dalam situasi dan Kondisi yang kadang berbeda-beda

Berikut ini adalah Kutipan dalam Awal Kitab Ahkam Shulthoniyah – Imam Mawardi :

الإمامة موضوعة لخلافة النبوة في حراسة الدين وسياسة الدنيا، وعقدها لمن يقوم بها في الأمة واجب بالإجماع وإن شذ عنهم الأصم. واختلف في وجوبها هل وجبت بالعقل أو بالشرع? فقالت طائفة وجبت بالعقل لما في العقلاء من التسليم لزعيم يمنعهم من التظالم ويفصل بينهم في التنازع والتخاصم، ولولا الولاة لكانوا فوضى مهملين وهمجاً مضاعين

“Imamah (Kepemimpinan) ditempatkan sebagai Khilafah Nubuwah (maksudnya adalah sebagai Pengganti Nabi dalam hal Kepemimpinan Umat) yang menjaga Agama dan Politik Dunia, adapun Ikatan Kepemimpinan yaitu bagi orang yang mendirikan Kepemimpinan didalam Umat hukumnya adalah Wajib secara Ijma’, Sekalipun kepada orang yang menyelisihi Ijma’ dikarenakan Tuli (Tidak perduli). Dan  terjadi perbedaan pendapat (Dikalangan Ulama) berkenaan wajibanya Kepemimpinan, Apakah Wajib secara Aqliyah (Logika) atau secara Syari’at ?, Maka sebagian golongan berpendapat Wajib secara Aqliyah (Logika), dikarenakan secara Logika hal tersebut dapat membentuk kepatuhan pada Pemimpin Golongannya, yang bisa mencegah dari saling bertindak Dzolim, dan menjauhkan diantara mereka didalam pertentangan dan perbantahan, sebab jika tanpa Kepemimpinan sungguh bisa menjadikan Kekacauan dan penelantaran serta kelaparan yang bisa membinasakan”. (Ahkam Shulthoniyah – Imam Mawardi)

Jika dilihat dari keterangan dalam Kitab tersebut, inti pokok khilafah adalah Imamah/ Kepemimpinan untuk menghindarkan dari Perselisihan dan pertentangan diantara Umat, sehingga Umat bisa selamat dari celaka serta 
Kebinasaan, lalu bagaimana Jadinya jika Konsep Khilafah menurut Pandangan satu pihak yang di usung oleh sebagian golongan malah menjadikan Perselisihan dan pertentangan, bahkan beberapanya terlihat menyebabkan peperangan hingga Kebinasaan bagi Umat???

Bagaimana Logika kita berfikir ????

Fokusnya adalah pada Kepemimpinannya.... bukan Sistemnya.... jika Negara kita sudah memiliki suatu sistem Proses dalam memilih kepemimpinan, maka tinggal Patuhi siapa saja yang terpilih secara Konstitusi.

Kemudian Imam Mawardi melanjutkan penjelasannya tersebut.

وقالت طائفة أخرى: بل وجبت بالشرع دون العقل، لأن الإمام يقوم بأمور شرعية قد كان مجوناً في العقل أن لا يرد التعبد بها، فلم يكن العقل موجباً لها، وإنما أوجب العقل أن يمنع كل واحد نفسه من العقلاء عن التظالم والتقاطع. ويأخذ بمقتضى العدل التناصف والتواصل، فيتدبر بعقل لا بعقل غيره، ولكن جاء الشرع بتفويض الأمور إلى وليه في الدين، قال الله عز وجل: " يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم ".
ففرض علينا طاعة أولي الأمر فينا وهم الأئمة المتأمرون علينا

"Dan sebagian golongan lain berpendapat : Akan tetapi Bahwasannya Kepemimpinan itu Wajib secara Syar’iat, bukan secara Logika, dikarenakan seorang Imam (Pemimpin) yang memimpin dengan Perkara-perkara Syari’at, sejatinya merupakan bentuk Ketegasan Akal (Logika) agar tidak terjadi penolakan/pelarangan (Menjalankan) peribadatan yang di Syari’atkan, sehingga bukan merupakan kewajiban secara Logika, dan Bahwasannya (maksud) kewajiban secara Logika adalah untuk mencegah dari setiap orang pada Dirinya dari beberapa Pendapat Logika dari saling berbuat Dzolim dan saling memutuskan silaturahim. Kemudian mengambil pemimpin dengan kriteria seorang yang Adil yang saling melayani dan saling menjalin hubungan (Pemimpin dengan Rakyatnya). Maka Ia akan dapat mempertimbangkan dengan Logikanya, bukan dengan Logika orang lain, akan tetapi Syari’at datang dengan Otorisasi (Peribadahan) pada semua perkara bagi Pemegang kuasanya di dalam Agama (yakni setiap orang, karena setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya dan akan mempertanggung jawabkan atas kepemimpinannya tersebut), Allah swt berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kalian.
Maka hukumnya Fardlu atas Kita untuk Ta’at kepada Ulil Amri dalam (Kelompok/ Golongan/Negara) kita, karena mereka adalah para Pemimpin kita".

Kewajiban Kepemimpinan secara Syari’at juga adalah agar tidak ada pelarangan Peribadatan yang bersifat aturan Hukum, selain itu agar segala pertimbangan bisa di Pusatkan pada satu orang saja, sehingga tidak saling berbantahan dan saling memusuhi, adapun para Pemimpin tersebut masing-masing akan mempertanggung jawabkan kepemimpinannya di Hadapan Allah swt kelak.

Yang jadi Pertanyaan, Dimanakah Point bahwa di Negara kita tidak melaksanakan semua Alasan yang disampaikan dalam keterangan Kitab tersebut?, Sedangkan negara kita jelas memberikan Kebebasan beribadah bagi Rakyatnya sesuai rumusan yang terdapat pada UUD ‘45.


Sekian... wallahu A’lam... 

Selasa, 07 Agustus 2018

Jangan mengaitkan Bencana Alam dengan Adzab kepada Umat Nabi saw.



Jangan mengaitkan Bencana Alam dengan Adzab kepada Umat Nabi saw.

Oleh : donnieluthfiyy

Ketika Allah swt mewahyukan Firmannya berikut ini kepada Nabi Muhammad saw :

Allah SWT berfirman:

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلٰۤى اَنْ يَّبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِّنْ فَوْقِكُمْ اَوْ مِنْ تَحْتِ اَرْجُلِكُمْ اَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَـعًا وَّيُذِيْقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ ۗ اُنْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُوْنَ

"Katakanlah (Muhammad), Dialah yang berkuasa mengirimkan azab kepadamu, dari atas atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain. Perhatikanlah, bagaimana Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kekuasaan Kami) agar mereka memahami(nya)." (QS. Al-An'am 6: Ayat 65)

Dalam Tafsir Baghowi berkenaan ayat tersebut, kemudian Nabi saw memanjatkan Do'a dengan Do'a berikut ini...

عن عامر بن سعد بن وقاص عن أبيه، قال: أقبلنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى مررنا على مسجد بني معاوية فدخل فصلى ركعتين وصلينا معه فناجى ربه طويلاً ثم قال:" سألت ربي ثلاثاً: سألته أن لا يهلك أمتي بالغرق فأعطانيها، وسألته أن لا يهلك أمتي بالسنة فأعطانيها، وسألته أن لا يجعل بأسهم بينهم، فمنعنيها ".

" Diriwayatkan dari Amir bin Sa'ad bin Waqosh dari ayahnya, Ia berkata : kami melewati Masjid Bani Mu'awiyah kemudian kami memasukinya dan Shalat 2 Raka'at, selanjutnya Kami Sholat bersama Nabi saw, selesai shalat maka Nabi bermunajat begitu lama kepada Rabbnya, kemudian beliau saw berdo'a : “Aku meminta tiga (hal) pada Rabbku, Ia mengabulkan dua (hal) dan menolakku satu (hal). Aku meminta Rabbku agar tidak membinasakan ummatku dengan kekeringan, maka Ia mengabulkannya untukku. Aku meminta-Nya agar tidak membinasakan ummatku dengan banjir, maka Ia mengabulkannya untukku. Dan aku meminta-Nya agar tidak menjadikan kehancuran mereka di antara sesama mereka tapi Ia menolaknya.”

Maka apakah kalian kemudian selalu mengaitkan Bencana Alam dengan Adzab kepada Umat Muslim? Seakan2 itu adalah Adzab dunia bagi Umat Muslim...

Ketahuilah! Salah satu keutamaan Nabi Muhammad saw untuk umatnya adalah...
Bahwasannya Allah swt memberikan RahmatNya untuk Umat Nabi saw sehingga tidak menjadikan mereka seperti umat2 terdahulu yang di adzab langsung dengan bencana Alam, yang kemudian membinasakannya...

Apakah kalian Ragu bahwa Allah swt telah mengabulkan Do'a NabiNya yang tercinta, bahwasannya dengan sebab Do'a beliau saw tersebut Allah swt berkenan menunda AdzabNya kepada Umat baginda Nabi Muhammad saw hingga nanti di Akhirat kelak...

Justru satu hal do'a yang di tolakNya adalah...
Bahwa Umat Islam akan saling menghancurkan satu sama lainnya... Dan ini justru malah yang tidak kalian sadari... Malahan kalian saling menuding bahwa Bencana Alam adalah Adzab untuk masing2 mereka...

أسكت لا تتكلم، اذا كنت لم تفهم

"Diamlah jangan berbicara, jika kalian tidak mengerti...!!!" 😠

Jangan sampai kalian yang menjadi sebab Fitnah kehancuran Umat hingga saling memerangi satu sama lainnya...

Minggu, 15 Juli 2018

Cebong (Katak) dan Kampret (Kelelawar) adalah dua makhluk yang dimuliakan Allah swt.





Cebong (Katak) dan Kampret (Kelelawar) adalah dua makhluk yang dimuliakan Allah swt.

Oleh : donnieluthfiyy

Wahai Saudaraku janganlah kalian menghinakan atau mengolok-olok Makhluk yang justru oleh Allah swt dan para RasulNya dimuliakan.

Allah swt berfirman dalam Surat Taubah ayat 65 :

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ

“Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?"

==> Cebong atau Katak (setelah Dewasa) adalah hewan yang dimuliakan, beberapa kemuliaan Katak adalah sbb :

عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: كانت الضفدع تطفئ النار عن إبراهي

“ Dari Sayyidah Aisyah rah : sesungguhnya Nabi saw bersabda : Katak adalah hewan yang  ikut berusaha memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim as”.

وعن سهل بن سعد الساعدي عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه :  نهى عن قتل الخمسة: عن النملة والنحلة والضفدع والصرد والهدهد. رواه الطبراني

“Dari Sahl bin Sa’ad As Sadiy dari Rasulullah saw, sesungguhnya Rasulullah saw melarang membunuh lima hewan : diantaranya adalah Semut, Lebah, Katak, Burung Pinguin dan Burung Hud-hud”. (HR : At Tabrani).

Kisah Katak dalam Kisah Nabi Ibrahim as ini, adalah sebuah kisah yang sangat menyentuh sanubari dimana ketika seekor katak tidak tahan melihat Nabi Ibrahim hendak dibakar oleh Raja Namrud, (padahal) tidak mampu berbuat apa-apa, ia hanya menaruh air di mulutnya. Berapakah besar mulutnya katak untuk memadamkan apinya Nabi Ibrahim? (Api menyala) lebih besar dari bukit, Katak mengambil air dari sungai dan melompat-lompat dan menyemburkan air itu ke api. Disinilah nilai ke Ikhlasan dari seekor Katak atas sebuah perjuangan, tanpa terikat dengan hasil yang bisa di raihnya. Oleh sebab itu Baginda Nabi Muhammad saw melarang membunuh Katak dikarenakan jasanya dalam keihlasan perjuangannya tersebut.

==> Kampret (Kelelawar) juga adalah hewan yang dimuliakan, diantara kemuliaannya adalah sbb :

Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 49 :

أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ

“yaitu aku (Nabi Isa as) membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah”.

Para Mufasir banyak yang menafsirkan bahwa yang di maksud burung yang dibuat oleh Nabi Isa as tersebut adalah burung Kelelawar. Kenapa burung kelelawar ?, karena menurut para Ulama ahli Tafsir bahwa kelelawar adalah Hewan yang sempurna kemiripannya dengan Manusia, Ia memiliki Payudara, Gigi dan Telinga yang mirip Manusia. Dan dikatakan pula oleh para Ulama Ahli Tafsir bahawa kelelawar adalah Hewan yang menakjubkan diantara hewan lainnya, bahkan Air Mani kelelawar mirip seperti Mani seorang laki-laki.

Akhirnya Saudaraku... janganlah merasa terhina dengan Olok-olok Cebong maupun Kampret yang kemudian saling membalas satu sama lainnya, padahal kedua makhluk tersebut adalah makhluk2 yang dimuliakan Allah swt dan para RasulNya.

Wallahu A’lam... semoga bermanfaat...



Rabu, 11 Juli 2018

Musuh yang jelas dan Nyata adalah Syaitan.



Musuh yang jelas dan Nyata adalah Syaitan.

Oleh : donnieluthfiyy

Allah swt berfirman dalam Surat Yasin Ayat 60 :

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu".

Syaikh Hamami dalam Tafsir Yasin menafsirkan berkenaan Ayat ini :

Maksud ayat tersebut adalah adakah AKU (Allah swt) tidak memerintahkan kepadamu wahai Bani Adam supaya tidak mengikuti Syaitan dalam bermaksiat kepada Allah swt, dan janganlah kalian beramal dengan ucapannya Syaitan, karena sungguh permusuhannya kepada kalian itu tampak jelas dan nyata.

Kemudian mari kita Pahami apa yang dimaksud Syaitan ini...
Lisanul ‘Arob Juz 7 Hal. 105 ;

وقال قوم آخرون: إنَّ الشيطان مأخوذ من الفعل (شاط)؛ بمعنى: احترق من الغضب، فهو من: شاط يشيط، وتشيط: إذا لفحَته النار فاحترق أو هلك؛ مثل هيمان وغيمان؛ مِن هام وغام، وعلى هذا الاشتقاق يكون على وزن فعلان، والنون فيه زائدة
“Sesungguhnya Lafadz Syaitan “الشيطان “ di ambil dari Fi’il “شاط  “, yang bermakna :  Terbakar Amarah, maka lafadz Syaitan “الشيطان “ berasal dari Lafadz : شاط يشيط، وتشيط : Ketika api berhembus kepadanya maka terbakar atau Hancur. Di misalkan dengan Lafadz “هيمان “ dan “غيمان “ dari Fi’il “هام “ dan “غام “, dan didasarkan atas Isytiqaq (Pengasalah Kata – Etimologi) terbentuk dari Wazan “فعلان “, adapun huruf Nun di situ adalah sebagai Tambahan “زائدة “.

Jadi justru musuh terbesar Manusia yang Jelas dan nyata adalah Amarahnya, karena dengan sebab Amarah tersebut maka bermunculanlah Ar Roda-il (Penyakit-penyakit hati) lainnya seperti Hasud (Dengki atas Nikmat yg dimiliki orang lain), Haqd (Dendam), Ujub, Takabur dll. Dan kesemuanya itu identik dengan Persifatan yang di sifatkan dengan Lafadz Syaitan “الشيطان “.

Selanjutnya Syaikh hamami menafsirkan Surat Yasin ayat 62 :

وَلَقَدْ أَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلًّا كَثِيرًا أَفَلَمْ تَكُونُوا تَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar diantaramu, Maka apakah kamu tidak memikirkan?”.

Beliau berkata dalam Tafsirnya :

Ahlul Madinah dan Imam ‘Ashim membaca Lafadz Jibillan “جِبِلًّا “ dengan di Tasydid huruf Lam-nya “ اللام “ dan maknanya adalah Penciptaan (Makhluk) dan Kumpulan (Kelompok) “ الجماعة “ , jadi maksudnya adalah syaitan (Amarah) itu telah menyesatkan sebahagian besar makhluk/kelompok diantara kalian, dan mengeluarkan kalian dari jalan yang Haq menuju jalan yang Bathil.

Coba perhatikan bagaimana seorang Nabi yang jelas-jelas Maksum sangat Tawadu’ terhadap dirinya sendiri, walaupun bisa di pastikan tidak akan melakukan kesalahan, namun Nabi Yusuf as tahu bahwa Nafsu Amarahnya selalu mengintainya...

Allah swt berfirman dalam Surat Yusuf ayat 53 :

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan (Nafsu La Ammarah), kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang”.

Lalu siapkah diri kita ini yang berani-berani mengklaim kebenaran atas Penafsiran dan Kesimpulan kita sendiri???
Apakah kita ini sudah terjamin (Maksum) dari Intaian Nafsu Amarah ???
Lalu sejauh mana kita ini mengenal Allah swt ???

Silahkan direnungkan....!!!!


Wallahu A’lam...

Jumat, 19 Januari 2018

Kisah Segolongan orang dari Bani Israil yang menghuni Pegunungan (Jabal) Qof, sebuah tempat yang di rahasiakan Allah swt.




Segolongan orang yang menghindari fitnah, pertikaian dan perselisihan umat sepeninggal Nabinya, Segolongan orang ini lah yang mendapatkan pertolongan dan Rahmat dari Allah swt....

Oleh : donnieluthfiyy

Disadur dari Tafsir Surat Yasin Syaikh Hamami Zadah Hal. 11.
Ayat ke – 36
سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ
Artinya : Maha Suci Allah yang menciptakan semua berpasang-pasangan, dari apa yang di tumbuhkan                        dari bumi serta dari diri mereka, dan  dari apa yang tidak mereka ketahui. (QS.Yasin:36).
Pada ayat  وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ   “ Dari apa yang tidak mereka ketahui “, Syaikh Hamami Zadah mengutip sebuah hadits Rasulullah saw ketika beliau di Isro’ kan.
Kisah dalam hadits tersebut adalah kisah tentang Bani Israil sepeninggal Nabi Musa as, kemudian setelah itu terjadi Fitnah berupa perselisihan dan pertikaian sehingga melahirkan Peperangan diantara mereka, mereka satu sama lain saling bunuh-membunuh sampai tidak disadari dalam waktu singkat dalam peperangan tersebut telah terbunuh sebanyak 43 Nabi Allah, kemudian Allah datangkan lagi 200 orang laki-laki yang Ahli Ibadah dan Zuhud, mereka mengajak kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran, namun 200 Laki-laki tersebut-pun dibunuh oleh mereka dalam peperangan mereka, sehingga kondisi umat saat itu menjadi kacau balau, saling tuduh sesat dan mengkafirkan satu sama lainnya.
Adalah satu golongan dari Bani Israil yang mereka tidak pernah ikut-ikutan dalam pesta pertikaian dan perselisihan Bani Israil saat itu, mereka lebih memilih berjihad kepada Hawa Nafsunya, menjauhi gelapnya kebencian dan kemarahan, menjauhi perasaan merasa lebih/ paling benar dari lainnya, menghindari mengotori tangan mereka dengan darah-darah manusia, kemudian mereka menjauh dari kelompok-kelompok orang yang sedang bertikai itu, maka sampailah mereka di tepi pantai di suatu lautan, dan mereka bermunajat menyeru do’a kepada Allah swt, Dzat yang jelas nyata pasti pertolonganNya, Dzat yang jelas nyata pasti kebenaranNya, Dzat yang jelas nyata pasti pengetahuanNya. Segolongan orang tersebut berdo’a memohon kepada Allah swt agar diselamatkan dari Fasad (Kerusakan) kaum mereka itu. Ketika mereka sedang dalam keadaan berdo’a, bermunajat serta merendahkan dirinya dihadapan Allah swt, Maka seketika tiba-tiba muncul lah sebuah lubang yang sangat besar dan dalam di bawah mereka sehingga mereka terperosok jatuh semuanya kedalam lubang tersebut, dan tetaplah mereka didalam lubang tersebut untuk mencari jalan keluar selama 18 bulan lamanya, sehingga keluarlah mereka kepada suatu tempat diantara Jabal (Gunung) Qof, diriwayatkan bahwasannya tempat tersebut berwarna putih keperak-perakan serta berkilauan seperti kaca, sehingga tinggal lah mereka di tempat tersebut dalam waktu yang hanya Allah yang mengetahuiNya, dan keberadaan mereka tersebut tidak diketahui oleh Bani adam/ Manusia yang berada diluar (Maksudnya tidak diketahui oleh seluruh manusia penduduk Bumi ini), begitupn mereka tidak mengetahui keberadaaan Bani adam/ manusia yang berada diluar (mereka juga tidak mengetahui keberadaan manusia lannya).
                Selanjutnya ketika peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad saw, Beliau saw dipertemukan oleh Allah dengan mereka, Rasulullah saw di tunjukan oleh Allah swt kepada suatu tempat yang tidak diketahui oleh Hamba-hamba Allah yang lainnya, yang berada diantara Pegunungan (Jabal) Qof, sebuah tempat yang putih keperak-perakan serta berkilauan seperti kaca. Ketika Rasulullah saw dipertemukan dengan segolongan orang dari Bani Israil yang diselamatkan Allah swt dari kerusakan kaumnya tersebut, mereka menyambut kedatangan Rasulullah saw seraya memuji kepada Allah swt “  الحمد لله الذي أرانا وجهك يا محمد artinya “ Segala puji bagi Allah yang telah (mengizinkan) kami memandang wajahmu Yaa Muhammad...” kemudian mereka beriman kepada Rasulullah saw dan selanjutnya Rasulullah saw mengajarkan kepada mereka hukum-hukum Syari’at Islam seperti Shalat, Puasa, Zakat dan lain sebagainya dari hukum-hukum Syari’at Islam. Mereka berkata kepada Rasulullah saw bahwasannya ketika Nabi Musa as masih ada bersama leluhur mereka, Nabi Musa as berwasiat kepada leluhur mereka agar nanti ketika mereka atau anak cucu mereka kelak dipertemukan dengan Nabi Akhir Zaman yang menjadi penutup para Nabi dan Rasul untuk menyampaikan Salamku (Nabi Musa as) kepada Nabi Akhir Zaman tersebut yakni Nabi Muhammad saw.
                Setelah itu Rasulullah saw berkeliling melihat perkampungan mereka, maka Rasulullah saw melihat bahwa Rumah-rumah mereka tidak memiliki pintu, dan beliau saw menanyakan sebabnya kenapa bisa seperti itu?, Merekapun menjawab bahwasannya tidak ada diantara mereka perasaan khawatir satu sama lain sehingga tiadalah perlu rumah kami untuk memiliki penutup pintu. Rasulullah saw pun melihat bahwa Tembok/ Dinding rumah-rumah mereka sama ratanya, tiada perbedaan antara rumah satu dengan lainnya, beliau saw menanyakan sebabnya tersebut, maka mereka menjawab bahwasannya kami merasa sama didalam hati kami (maksudnya tiada perbedaan baik status sosial, ekonomi maupun nasab). Selanjutnya Rasulullah saw bertanya berkenaan Masjid mereka yang jaraknya jauh dari rumah-rumah mereka, mereka menjawab bahwasannya Balasan kebaikan orang yang mendatangi masjid yang jauh lebih utama dari pada orang yang mendatangi masjid yang dekat. Rasulullah saw juga bertanya berkenaan Pekuburan mereka yang lokasinya di depan pintu rumah-rumah mereka, kenapa sebabnya ?, mereka menjawab bahwasannya agar selalu mengingatkan kami kepada tempat kembali kami kelak (Pekuburan) sehingga kami tidak terpengaruhi dan tersibukan oleh Dunia, dan kami tidak lupa kepada kematian. Rasulullah saw bertanya kembali kenapa mereka terlihat tidak pernah tertawa?, merekapun menjawab bahwasannya tertawa bisa menyebabkan hitamnya hati oleh sebab itu kami tidak suka tertawa. Rasulullah saw bertanya juga adakah diantara mereka orang yang sakit ?, mereka menjawab sesungguhnya sakit adalah kafaroh bagi dosa-dosa, sedangkan kami tidak melakukan dosa (Maksudnya mereka tidak pernah sakit). Beliau saw pun bertanya tentang bagaimana mereka bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka?, mereka pun menjawab Ya.. kami bercocok tanam, kami menanam dan kemudian sisanya kami pasrahkan dan tawakal kepada Allah swt, sehingga tiba waktu Panen (Menuai hasil) kami berkumpul bersama dan datang ke perkebunan/ pertanian kami, kemudian kami mengambil apa-apa yang kami butuhkan saja tidak lebih dan sisanya kami tinggalkan (Mereka mengambil hanya sekedar untuk kebutuhan mereka saja agar bisa melanjutkan untuk beribadah kepada Allah swt). Rasulullah saw bertanya adakah mereka juga beternak ?, mereka menjawab Ya.. kami berternak di padang pasir, kemudian kami tinggalkan ternak kami tersebut dibiarkan dipadang pasir, sampai kami membutuhkannya, maka kami datang ke padang pasir untuk mengambil beberapa ternak yang kami butuhkan saja, dan sisanya kami tinggalkan ternak kami tersebut di padang pasir (Hati mereka tidak terbelenggu dalam keserakahan). Kemudian Rasulullah saw bertanya berkenaan keadaan wajah-wajah mereka yang berwarna kekuningan-kuningan dan pucat sedangkan tiada diantara mereka orang-orang yang sakit, mereka menjawab bahwasannya inilah wajah yang senantiasa takut dengan kematian (Karena kematian adalah pertanggung jawaban kepada sang pemberi kehidupan yaitu Allah swt). Terakhir Rasulullah saw bertanya apakah banyak diantara mereka orang-orang yang wafat ?, merekapun menjawab bahwa diantara mereka dalam setiap tahun terdapat satu jenazah orang yang wafat.

Inilah kaum yang lebih memilih berjihad melawan Hawa Nafsunya ketimbang mengotori tangan mereka dengan darah-darah manusai, mengotori hatinya dengan kebencian dan kemarahan, mengotori lisannya dengan caci maki dan laknat, maka Allah swt memuliakan mereka dengan menempatkan dalam golongan hamba-hambanya yang beruntung, mereka tidak hanya mendapatkan surga di Akhirat, namun ketika hidup di dunia-pun mereka telah diberikan surga oleh Allah swt.


Wallahu A’lam.... semoga bermanfa’at.

Jumat, 29 Desember 2017

Hukum menyebarkan Kabar/Berita/Rumor bohong




*Berhati-hatilah menggunakan Sosmed...*

*_Oleh : donnieluthfiyy_*

*Hukum menyebarkan Kabar/Berita/Rumor bohong.*

Menyebarkan berita bohong adalah suatu perbuatan Dosa yang besar, ketika berita bohong tersebut menjadi Fitnah terhadap diri seseorang maka secara maknawinya sama dengan membunuhnya dan men-teror-nya.
Dalam Hal ini Allah swt berfirman dalam Surat Al Hujurat ayat 6 :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“ Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik yang membawa suatu berita, maka Bertabayun-lah (periksalah dengan teliti) oleh kalian, agar kalian tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum yang mereka tidak mengetahui (Duduk persoalan sebenarnya), dan menyebabkan kalian menyesal atas perbuatanmu itu “.

Ayat tersebut menjadi dalil perlunya kita melakukan Tabayun sebelum menerima atau menyebarkan sebuah berita yang tak jelas asalnya, Tabayun adalah sebuah proses mencari kejelasan atas sebuah berita dengan menganalisa dari berbagai data dan dengan ketelitian serta kehati-hatian hingga mendapatkan sebuah keyakinan yang kongkret.
Dan dikatakan dalam ayat tersebut bahwasannya orang yang membawa berita/kabar dusta (Tidak sesuai fakta dan sudah dibumbui atau ditambahi) disebut sebagai orang Fasiq (Fasiq Bin Naba), begitupun orang-orang setelahnya yang membawa berita/kabar dusta tersebut dengan tanpa melakukan tabayun terlebih dahulu, maka semua orang yang ikut andil membawa dan menyebarkan berita/kabar tersebut dinamakan “ Fasiq Bin Naba “.

Oleh sebab itu tidaklah halal/ Boleh bagi seorang muslim untuk menyebarkan berita/kabar sebelum menguatkannya dengan ke Valid-an berita/kabar tersebut. Dan cukupkan lah dengan berkata dengan lisan atau hati kita bahwa “ tidaklah semua perkara itu aku ketahui ”, maka ada saatnya kita harus berbicara dan ada saatnya kita harus diam. Karena terkadang para Ulama-pun menyembunyikan sebagian Ilmunya  kepada sebagian Manusia agar tidak menjadi fitnah bagi mereka.
Rasulullah saw bersabda :
كفى بالمرء كذِباً أن يُحدِّثَ بكل ما سمع
“ Cukuplah bagi seseorang dikatakan sebagai pembohong, jika ia menceritakan setiap perkara yang didengarnya “. (HR. Muslim).
Imam Ibnu Hibban berkomentar tantang hadits tersebut : “ Hadits tersebut adalah sebuah larangan bagi seseorang untuk menceritakan setiap apa yang didengarnya sehingga ia mengetahui dengan yaqin atas kebenaran kabar berita tersebut, (Setelah yaqin dengan kebenarannya) kemudian barulah ia bisa menceritakan kabar berita tersebut yang bukan merupakan kabar berita yang bohong “. Imam Abu Anas ra berkata : “ Hal tersebut dikarenakan bisa berpindah dan tersebarnya sebuah Fitnah dengan disengaja ataupun tanpa disengaja “. Dan hal itu adalah sebesar-besarnya kerusakan.
Dan bahwasannya Kabar/ berita bohong pernah menjadikan sebab kekalahan bagi Umat Muslim ketika perang Uhud, yakni ketika ada orang-orang Musyrik menyebarkan kabar/berita bohong berkenaan terbunuhnya Rasulullah saw.
Kabar/berita bohong juga pernah menjadi penyebab utama terbunuhnya Khalifah Utsman Bin Affan ra, yakni ketika Ibnu Saba seorang Yahudi yang menyebarkan kabar/berita bahwa Khalifah Utsman telah menyeleweng dari Al Qur’an.
Adapun langkah-langkah untuk meneliti sebuah kabar/berita adalah sbb ;
1.       Mengembalikan perkara kabar/berita tersebut kepada orang-orang yang dikhususkan atau kepada yang bersangkutan.
Allah swt berfirman dalam surat An Nisa ayat 83 ;
و إذا جاءهم أمر من الأمن أو الخوف أذاعوا به و لو ردوه إلى الرسول وإلى أولي الأمر منهم لعلمه الذين يستنبطونه منهم
“ Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri) “.
Syaikh Sadi berkata : “ Pada Ayat ini, Allah swt ingin mengajarkan adab kepada Hamba-hambaNya dari suatu perbuatan yang tidak pantas, dan seharusnya bagi mereka ketika datang kepada mereka sebuah perkara dari beberapa perkara penting yang bersifat kemashlahatan umum, yaitu sebuah perkara yang menjadi tempat bergantungnya kebahagiaan orang mukmin atau ketakutannya, yang didalamnya ada suatu musibah bagi mereka, maka agar memerikasanya terlebih dahulu dan janganlah tergesa-gesa terhadap kabar/ berita tersebut.

2.       Menganalisa/ Meneliti Isi kabar/beritanya.
Karena tidak semua kabar/berita yang kita terima adalah kabar/berita yang benar, namun ada juga yang berupa kebohongan atau telah di tambahi dan dibumbui.

Sebagian Ulama berkata : “ Dan sudah seharusnya bagi seorang muslim ketika mendengar suatu kabar/berita berpijak pada 5 perkara ini ;
1.       Mendahulukan Husnu Dzon (Prasangka Baik) terhadap saudara Muslim kita.
2.       Agar mencari Dalil atau Data lengkap sebagai bukti.
3.       Agar jangan langsung menceritakan terhadap kabar/berita yang didengarnya dan jangan langsung menyebarkannya.
4.       Agar menyerahkan perkaranya (Kabar/berita yang diterima) kepada Ulil Amri atau Ahli Dzikri, walaupun Ulil amrinya adalah seorang yang Fajir (Aniaya).
5.       Jangan mendengarkan apa-apa yang disampaikan oleh pembohong.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya Fitnah ketika jatuh atau mendatangi maka bisa melemahkan Aqal dari menolak mengakui ketidak tahuannya.
Allah swt berfirman dalam surat Al Anfal ayat 25 ;
واتَّقُوا فِتْنَةً لاَّ تُصِيبَنَّ الَذِينَ ظَلَمُوا مِنكُمْ خَاصَّةً
“ Dan peliharalah dirimu dari pada fitnah yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja diantara kamu “.
Fitnah itu bisa menerpa siapapun baik orang yang Dzalim maupun orang yang sholih.


Wallahu A’lam... semoga bermanfaat.

Kamis, 01 Juni 2017

Berbuat Adil, Ihsan menjaga kekerabatan kemudian menjauhi perbuatan keji, mungkar dan permusuhan serta Bagaimana cara Menghadapi permusuhan...



*Tafsir baghawi*
*Surat an nahl ayat 90*

*_Berbuat Adil dan Ihsan serta menjauhi perbuatan keji dan mungkar, serta senanglah mendengarkan Nasihat baik._*

قوله عز وجل : " إن الله يأمر بالعدل " ، بالإنصاف ، " والإحسان " ، إلى الناس . وعن ابن عباس ( العدل ) : التوحيد ، و ( الإحسان ) : أداء الفرائض. وعنه : ( الإحسان ) : الإخلاص في التوحيد ، وذلك معنى قول النبي صلى الله عليه وسلم : " الإحسان أن تعبد الله كأنك تراه " . وقال مقاتل : ( العدل ) : التوحيد ، و( الإحسان ) : العفو عن الناس . " وإيتاء ذي القربى " ،صلة الرحم . " وينهى عن الفحشاء " ما قبح من القول والفعل . وقال ابن عباس : الزنا ، " والمنكر " ، ما لا يعرف في شريعة ولا سنة ، " والبغي " ، الكبر والظلم . وقال ابن عيينة : ( العدل ) استواء السر والعلانية ، و( الإحسان ) أن تكون سريرته أحسن من علانيته ، و ( الفحشاء والمنكر ) أن تكون علانيته أحسن من سريته . " يعظكم لعلكم تذكرون " ، تتعظون . قال ابن مسعود : أجمع آية في القرآن هذه الآية . وقال أيوب عن عكرمة : "إن النبي صلى الله عليه وسلم قرأ على الوليد : " إن الله يأمر بالعدل " إلى آخر الآية فقال له : يا ابن أخي أعد فأعاد عليه ، فقال : إن له والله لحلاوة وإن عليه لطلاوة وإن أعلاه لمثمر وإن أسفله لمغدق ، وما هو بقول البشر ".

*”Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil”*, Maksudnya dengan Penuh Kesadaran, *”dan berbuat kebajikan”*, Kepada Manusia (Secara Umum). Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra (Lafadz Adil) : Yaitu Tauhid, dan (Lafadz Ihsan) : yaitu melaksanakan kefardluan. Dan diriwayatkan dari beliau lagi : (Lafadz Ihsan) : Yaitu Ikhlas di dalam Tauhid, dan Seperti hal tersebut makna Sabda Nabi saw : “ Ihsan Yaitu bahwasannya Engkau beribadah kepada Allah swt seperti seakan-akan kalian melihatnya “. Dan Imam Muqatil berkata : (Lafadz Al Adl) : yaitu Tauhid, dan (Lafadz Ihsan) : yaitu Memafkan kepada manusia (secara umum). *” memberi kepada kaum kerabat”*, Silaturohim. *”dan Allah melarang dari perbuatan keji”*, yaitu sesuatu yang buruk baik berupa ucapan maupun perbuatan. Imam Ibnu Abbas ra berkata : itu adalah Zina, *”kemungkaran*”, Sesuatu yang tidak diketahui didalam Syari’at dan sunah, *”dan permusuhan”*, Sombong dan Dholim/aniaya. Dan Ibnu Uyaynah : (Lafadz Al Adl) yaitu pertengahan antara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, dan (Lafadz Ihsan) yaitu agar menjadikan sembunyi/rahasianya (Bathinnya) lebih bagus dari pada keterbukaannya (Dhohirnya), dan (Lafadz Fahsy dan Munkar) Agar menjadikan keterbukaannya (Dhohirnya) lebih bagus dari persembunyiannya (Bathinnya) *”Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”*, maksudnya mau menerima nasihat. Ibnu Mas’ud berkata : Ayat di dalam Al Quran terhimpun di dalam Ayat ini. Telah berkata Ayub dari Ikrimah : “ *Sesungguhnya Nabi saw membacakannya kepada Al Walid : Lafadz “" إن الله يأمر بالعدل “ sampai kepada akhir ayat dan Al Walid berkata kepada Nabi saw : "Ulang kembali hai saudaraku", maka Rasul saw mengulang kembali membaca ayat itu. lalu Al Walid berkata: "Demi Allah sungguh Alquran ini memiliki kelezatan dan keindahan, di atasnya berbuah di bawahnya berakar, dan bukanlah dia kata-kata manusia.”*



*Tafsir Baghawi*
*Surat Al Fushilat Ayat 34*
*_Cara menghadapi permusuhan menurut Al Qur’an..._*

قوله عز وجل: " ولا تستوي الحسنة ولا السيئة "، قال الفراء : ((لا)) هاهنا صلة، معناه: ولا تستوي الحسنة والسيئة، يعني الصبر والغضب، والحلم والجهل، والعفو والإساءة. " ادفع بالتي هي أحسن "، قال ابن عباس: أمر بالصبر عند الغضب، وبالحلم عند الجهل، وبالعفو عند افساءة. " فإذا الذي بينك وبينه عداوة "، يعني: إذا فعلت ذلك خضع لك عدوك، وصار الذي بينك وبينه عداوة، " كأنه ولي حميم" كالصديق والقريب . قال مقاتل بن حيان : نزلت في أبي سفيان بن حرب وذلك أنه لان للمسلمين بعد شدة عداوته بالمصاهرة التي حصلت بينه وبين النبي صلى الله عليه وسلم، ثم أسلم فصار ولياً بالإسلام، حميماً بالقرابة.

Firman Allah swt : *”Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan”*, Al Faro berkata : ((Tidak)) Ini adalah perhubungan/pertalian, maknanya : yaitu Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan, yakni Sabar dan marah, Akal Pikiran dan ketidak tahuan, Memaafkan dan berbuat salah. *”Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik”*, Ibnu Abbas berkata : menguasai diri dengan kesabaran ketika marah, dan dengan Akal Pikiran ketika Tidak tahu, dan dengan memafkan ketika bersalah. *”maka tiba-tiba orang yang ada diantaramu dan antara dia ada permusuhan”*, Yakni : ketika engkau melakukan seperti hal tersebut diatas maka musuhmu akan tunduk kepadamu, dan berakhirlah perkara antara kamu dan dia sebagai permusuhan, *”seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia”*, Seperti Teman dan kerabat. Muqatil Bin Hayan berkata : Ayat ini turun berkaitan dengan kisah Abu Sufyan Bin Harb hal tersebut sesungguhnya bagi orang2 Muslim setelah dahsyatnya permusuhan kemudian menjalin hubungan perbesanan yang menghasilkan kekerabatan antara Abu Sufyan dan Nabi saw, dan selanjutnya Abu Sufyan masuk Islam maka jadilah teman setia di dalam Islam, Dengan kedekatan sebagai kerabat.


Wallahu A’lam.... Semoga ada manfa’atnya....

Kamis, 25 Mei 2017

Tiada Kehalalan Membunuh sesama orang Mukmin



*Tafsir Baghawi*
*Surat Annisa Ayat 92*
Diterjemahkan Oleh : donnieluthfiyy

قوله تعالى:"وما كان لمؤمن أن يقتل مؤمناً" ، الآية نزلت في عياش(بن أبي ربيعة) المخزومي، وذلك أنه أتى رسول الله صلى الله عليه وسلم بمكة قبل الهجرة فأسلم ثم خاف أن يظهر إسلامه لأهله فخرج هارباً إلى المدينة ، وتحصن في أطم من آطامها ، فجزعت أمة لذلك جزعاً شديداً وقالت لابنيها الحارث وأبي جهل ابن هاشم وهما أخواه لأمه : والله لا يظلني سقف ولا أذوق طعاماً ولا شرباً حتى تأتوني به ، فخرجا في طلبه ، وخرج معهما الحارث بن زيد بن أبي أنيسة حتى أتوا المدينة ، فأتوا عياشاً وهو في الأطم ، قالا له: انزل فإن أمك لم يؤوها سقف بيت بعدك، وقد حلفت الا تأكل طعاماً ولا تشرب شراباً حتى ترجع إليها (ولك عهد الله) علينا أن لا نكرهك على شيء ولا نحول بينك وبين دينك ، فلما ذكروا له جزع امه وأوثقوا له بالله نزل إليهم فأخرجوه من المدينة ثم اوثقوه بنسعة، فجلده كل واحد منهم مائة جلدة ، ثم قدموا به على أمه فلما أتاها قالت: والله لا أحلك من وثاقك حتى تكفر بالذي آمنت به ، ثم تركوه موثقاً مطروحاً في الشمس ما شاء الله ، فأعطاهم الذي أرادوا فأتاه الحارث بن زيد فقال: يا عياش أهذا الذي كنت عليه فوا الله لئن كان هدىً لقد تركت الهدى، ولئن كانت ضلالة لقد كنت عليها، فغضب عياش من مقالته ، وقال : والله لا ألقاك خالياً أبداً إلا قتلتك ، ثم إن عياشاً أسلم بعد ذلك وهاجر ثم أسلم الحارث ابن زيد بعده وهاجر إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وليس عياش حاضراً يومئذ ولم يشعر بإسلامه ، فبينا عياش يسير بظهر قباء إذ لقي الحارث فقتله ، فقال الناس: ويحك أي شيء صنعت؟ إنه قد أسلم ،فرجع عياش إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وقال: يا رسول الله قد كان من أمري وأمر الحراث ما قد علمت ، وإني لم أشعر بإسلامه حتى قتلته ، فنزل :"وما كان لمؤمن أن يقتل مؤمناً إلا خطأ". وهذا نهى عن قتل المؤمن

Firman Allah swt “ Dan tiadalah bagi seorang mu’min untuk membunuh mu’min yang lainnya “, Ayat ini turun berkenaan dengan kisah Ayyasy (Bin Abi Robi’ah) Al Makhzumi, Pada saat itu Ia mendatangi Rasulullah saw di Kota Makah sebelum Hijrah, maka Ia masuk Islam di hadapan Nabi saw kemudian ia merasa khawatir/takut jika Ke-Islamannya di ketahui oleh keluarganya, maka berangkatlah ia melarikan diri ke Kota Madinah, dan membentengi dirinya di sana di dalam penjagaan orang2 yang melindunginya. Namun Bibinya menjadi sangat gelisah/cemas atas kepergiannya tersebut dan berkata kepada kedua anaknya yaitu Harits dan  Abu Jahal Bin Hisyam, keduanya adalah saudaranya dari Ibunya : Demi Allah, aku tidak akan bernaung pada atap, tidak mencicip makanan dan tidak pula minum sehingga kau membawakan ia kepadaku, maka keduanya pergi mencarinya, dan pergi juga bersama mereka Harits Bin Zaid Bin Abi Anisah sehingga mereka sampai di Madinah, kemudian mereka mendatangi ‘Ayyasy yang saat itu ia berada dalam sebuah tempat perlindungan, kemudian keduanya berkata kepadanya : keluarlah, karena ibumu tidak mau berteduh pada atap rumahnya dari terik panas setelah kepergianmu, dan Ibumu sungguh telah berjanji untuk tidak makan dan minum sehingga engkau kembali kepadanya (Dan bagimu Janji Allah atas kami untuk tidak membenci kamu dan tidak pula merubah atas sesuatu yang berada diantara kamu dan agamamu, maka ketika mereka menceritakan hal tersebut tentang kecemasan Ibunya, dan mengikat kesepakatan kepadanya dengan nama Allah, maka keluarlah ia kepada mereka, dan berangkatlah mereka keluar dari Kota Madinah dengn membelenggu Ayyasy, maka masing-masing dari mereka mencambuknya sebanyak 100 cambukan, kemudian menghadaplah mereka dengan membawa Ayyasy kepada Ibunya, maka ketika ia mendatangi Ibunya, Ibunya berkata : Demi Allah tidak lah halal bagimu dari tali belenggu mu sehingga engkau kafir/menentang terhadap perkara yang aku yakini, maka kemudian mereka meninggalkannya dalam keadaan terbelenggu dan dibiarkan terjemur terik matahari (Ma Sya Allah), kemudian diberikannya kepada mereka apa-apa yang mereka inginkan, maka datanglah kepadanya Harits Bin Zaid, ia berkata : Wahai Ayyasy apakah ini yang engkau inginkan, maka demi Allah jika ada suatu petunjuk maka engkau akan tinggalkan petunjuk itu, dan jika ada kesesatan sungguh engkau berada padanya, maka Ayyasy menjadi marah atas perkataannya, dan berkata : Demi Allah tidaklah aku bertemu denganmu dalam keadaan sendiri selamanya kecuali aku akan membunuhmu.

Maka setelah peristiwa tersebut Ayyasy telah masuk Islam kembali dan berhijrah begitu juga Harits Bin Zaid setelahnya dan ikut berhijrah kepada Rasulullah saw dan tidaklah Ayyasy hadir dan menyadari ketika Harits masuk Islam, Maka tatkala Ayyasy sedang berjalan dan nampak dari jarak dekat tiba-tiba bertemu dengan Harits maka ia langsung membunuhnya, maka orang-orang berkata : Celakalah apa yang telah engkau perbuat ? sesungguhnya dia telah masuk Islam, maka kembalilah Ayyasy kepada Rasulullah saw dan berkata : Wahai Rasulullah saw sungguh ada dalam urusanku dan urusan harits apa-apa yang Engkau ketahui, dan aku tidaklah menyadari akan Ke-Islamannya sehingga aku membunuhnya, maka turunlah ayat “ Dan tiadalah bagi seorang mu’min untuk membunuh mu’min yang lainnya kecuali karena tidak sengaja “. Dan inilah Dalil larangan membunuh sesama mu’min.

*Berkenaan dengan teroris, Bom Bunuh diri dan juga peperangan saudara se Iman yang pastinya akan saling membunuh satu sama lain dan banyak mu’min yang tidak bersalahpun ikut terbunuh, maka jika dikaitkan dengan ayat ini berarti mereka semua adalah orang-orang yang mendurhakai Allah swt.*

Perhatikan kelanjutan Ayat tersebut...
Allah SWT berfirman:

وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَــئًا فَتَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ وَّدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ اِلٰٓى اَهْلِهٖۤ اِلَّاۤ اَنْ يَّصَّدَّقُوْا ؕ فَاِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَّـكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ ؕ وَاِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍۢ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِّيْثَاقٌ فَدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ اِلٰٓى اَهْلِهٖ وَ تَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ ۚ فَمَنْ لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ ۖ تَوْبَةً مِّنَ اللّٰهِ ؕ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا

"Barang siapa membunuh seorang yang beriman karena tersalah, (hendaklah) dia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta (membayar) tebusan yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) membebaskan pembayaran. Jika dia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal dia orang beriman, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Dan jika dia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar tebusan yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barang siapa tidak mendapatkan (hamba sahaya) maka hendaklah dia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai tobat kepada Allah. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana."
(QS. An-Nisa': Ayat 92)

orang beriman yg bersalah atau memusuhi pun di haramkan untuk membunuhnya...

Dan Jika membunuh seorang mu'min di perbolehkan pun, hal itu adalah dalam Ranah Tugas Qodli/Imam sebagai pelaksanan kedaultan... bukan setiap orang mu'min diperbolehkan saling bunuh membunuh,,!!!

Kesimpulannya tiada kehalalan membunuh sesama mu'min dengan alasan apapun...


Wallahu A’lam... Semoga bermanfa’at.

List Video