Tampilkan postingan dengan label Umat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Umat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Januari 2018

Kisah Segolongan orang dari Bani Israil yang menghuni Pegunungan (Jabal) Qof, sebuah tempat yang di rahasiakan Allah swt.




Segolongan orang yang menghindari fitnah, pertikaian dan perselisihan umat sepeninggal Nabinya, Segolongan orang ini lah yang mendapatkan pertolongan dan Rahmat dari Allah swt....

Oleh : donnieluthfiyy

Disadur dari Tafsir Surat Yasin Syaikh Hamami Zadah Hal. 11.
Ayat ke – 36
سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ
Artinya : Maha Suci Allah yang menciptakan semua berpasang-pasangan, dari apa yang di tumbuhkan                        dari bumi serta dari diri mereka, dan  dari apa yang tidak mereka ketahui. (QS.Yasin:36).
Pada ayat  وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ   “ Dari apa yang tidak mereka ketahui “, Syaikh Hamami Zadah mengutip sebuah hadits Rasulullah saw ketika beliau di Isro’ kan.
Kisah dalam hadits tersebut adalah kisah tentang Bani Israil sepeninggal Nabi Musa as, kemudian setelah itu terjadi Fitnah berupa perselisihan dan pertikaian sehingga melahirkan Peperangan diantara mereka, mereka satu sama lain saling bunuh-membunuh sampai tidak disadari dalam waktu singkat dalam peperangan tersebut telah terbunuh sebanyak 43 Nabi Allah, kemudian Allah datangkan lagi 200 orang laki-laki yang Ahli Ibadah dan Zuhud, mereka mengajak kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran, namun 200 Laki-laki tersebut-pun dibunuh oleh mereka dalam peperangan mereka, sehingga kondisi umat saat itu menjadi kacau balau, saling tuduh sesat dan mengkafirkan satu sama lainnya.
Adalah satu golongan dari Bani Israil yang mereka tidak pernah ikut-ikutan dalam pesta pertikaian dan perselisihan Bani Israil saat itu, mereka lebih memilih berjihad kepada Hawa Nafsunya, menjauhi gelapnya kebencian dan kemarahan, menjauhi perasaan merasa lebih/ paling benar dari lainnya, menghindari mengotori tangan mereka dengan darah-darah manusia, kemudian mereka menjauh dari kelompok-kelompok orang yang sedang bertikai itu, maka sampailah mereka di tepi pantai di suatu lautan, dan mereka bermunajat menyeru do’a kepada Allah swt, Dzat yang jelas nyata pasti pertolonganNya, Dzat yang jelas nyata pasti kebenaranNya, Dzat yang jelas nyata pasti pengetahuanNya. Segolongan orang tersebut berdo’a memohon kepada Allah swt agar diselamatkan dari Fasad (Kerusakan) kaum mereka itu. Ketika mereka sedang dalam keadaan berdo’a, bermunajat serta merendahkan dirinya dihadapan Allah swt, Maka seketika tiba-tiba muncul lah sebuah lubang yang sangat besar dan dalam di bawah mereka sehingga mereka terperosok jatuh semuanya kedalam lubang tersebut, dan tetaplah mereka didalam lubang tersebut untuk mencari jalan keluar selama 18 bulan lamanya, sehingga keluarlah mereka kepada suatu tempat diantara Jabal (Gunung) Qof, diriwayatkan bahwasannya tempat tersebut berwarna putih keperak-perakan serta berkilauan seperti kaca, sehingga tinggal lah mereka di tempat tersebut dalam waktu yang hanya Allah yang mengetahuiNya, dan keberadaan mereka tersebut tidak diketahui oleh Bani adam/ Manusia yang berada diluar (Maksudnya tidak diketahui oleh seluruh manusia penduduk Bumi ini), begitupn mereka tidak mengetahui keberadaaan Bani adam/ manusia yang berada diluar (mereka juga tidak mengetahui keberadaan manusia lannya).
                Selanjutnya ketika peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad saw, Beliau saw dipertemukan oleh Allah dengan mereka, Rasulullah saw di tunjukan oleh Allah swt kepada suatu tempat yang tidak diketahui oleh Hamba-hamba Allah yang lainnya, yang berada diantara Pegunungan (Jabal) Qof, sebuah tempat yang putih keperak-perakan serta berkilauan seperti kaca. Ketika Rasulullah saw dipertemukan dengan segolongan orang dari Bani Israil yang diselamatkan Allah swt dari kerusakan kaumnya tersebut, mereka menyambut kedatangan Rasulullah saw seraya memuji kepada Allah swt “  الحمد لله الذي أرانا وجهك يا محمد artinya “ Segala puji bagi Allah yang telah (mengizinkan) kami memandang wajahmu Yaa Muhammad...” kemudian mereka beriman kepada Rasulullah saw dan selanjutnya Rasulullah saw mengajarkan kepada mereka hukum-hukum Syari’at Islam seperti Shalat, Puasa, Zakat dan lain sebagainya dari hukum-hukum Syari’at Islam. Mereka berkata kepada Rasulullah saw bahwasannya ketika Nabi Musa as masih ada bersama leluhur mereka, Nabi Musa as berwasiat kepada leluhur mereka agar nanti ketika mereka atau anak cucu mereka kelak dipertemukan dengan Nabi Akhir Zaman yang menjadi penutup para Nabi dan Rasul untuk menyampaikan Salamku (Nabi Musa as) kepada Nabi Akhir Zaman tersebut yakni Nabi Muhammad saw.
                Setelah itu Rasulullah saw berkeliling melihat perkampungan mereka, maka Rasulullah saw melihat bahwa Rumah-rumah mereka tidak memiliki pintu, dan beliau saw menanyakan sebabnya kenapa bisa seperti itu?, Merekapun menjawab bahwasannya tidak ada diantara mereka perasaan khawatir satu sama lain sehingga tiadalah perlu rumah kami untuk memiliki penutup pintu. Rasulullah saw pun melihat bahwa Tembok/ Dinding rumah-rumah mereka sama ratanya, tiada perbedaan antara rumah satu dengan lainnya, beliau saw menanyakan sebabnya tersebut, maka mereka menjawab bahwasannya kami merasa sama didalam hati kami (maksudnya tiada perbedaan baik status sosial, ekonomi maupun nasab). Selanjutnya Rasulullah saw bertanya berkenaan Masjid mereka yang jaraknya jauh dari rumah-rumah mereka, mereka menjawab bahwasannya Balasan kebaikan orang yang mendatangi masjid yang jauh lebih utama dari pada orang yang mendatangi masjid yang dekat. Rasulullah saw juga bertanya berkenaan Pekuburan mereka yang lokasinya di depan pintu rumah-rumah mereka, kenapa sebabnya ?, mereka menjawab bahwasannya agar selalu mengingatkan kami kepada tempat kembali kami kelak (Pekuburan) sehingga kami tidak terpengaruhi dan tersibukan oleh Dunia, dan kami tidak lupa kepada kematian. Rasulullah saw bertanya kembali kenapa mereka terlihat tidak pernah tertawa?, merekapun menjawab bahwasannya tertawa bisa menyebabkan hitamnya hati oleh sebab itu kami tidak suka tertawa. Rasulullah saw bertanya juga adakah diantara mereka orang yang sakit ?, mereka menjawab sesungguhnya sakit adalah kafaroh bagi dosa-dosa, sedangkan kami tidak melakukan dosa (Maksudnya mereka tidak pernah sakit). Beliau saw pun bertanya tentang bagaimana mereka bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka?, mereka pun menjawab Ya.. kami bercocok tanam, kami menanam dan kemudian sisanya kami pasrahkan dan tawakal kepada Allah swt, sehingga tiba waktu Panen (Menuai hasil) kami berkumpul bersama dan datang ke perkebunan/ pertanian kami, kemudian kami mengambil apa-apa yang kami butuhkan saja tidak lebih dan sisanya kami tinggalkan (Mereka mengambil hanya sekedar untuk kebutuhan mereka saja agar bisa melanjutkan untuk beribadah kepada Allah swt). Rasulullah saw bertanya adakah mereka juga beternak ?, mereka menjawab Ya.. kami berternak di padang pasir, kemudian kami tinggalkan ternak kami tersebut dibiarkan dipadang pasir, sampai kami membutuhkannya, maka kami datang ke padang pasir untuk mengambil beberapa ternak yang kami butuhkan saja, dan sisanya kami tinggalkan ternak kami tersebut di padang pasir (Hati mereka tidak terbelenggu dalam keserakahan). Kemudian Rasulullah saw bertanya berkenaan keadaan wajah-wajah mereka yang berwarna kekuningan-kuningan dan pucat sedangkan tiada diantara mereka orang-orang yang sakit, mereka menjawab bahwasannya inilah wajah yang senantiasa takut dengan kematian (Karena kematian adalah pertanggung jawaban kepada sang pemberi kehidupan yaitu Allah swt). Terakhir Rasulullah saw bertanya apakah banyak diantara mereka orang-orang yang wafat ?, merekapun menjawab bahwa diantara mereka dalam setiap tahun terdapat satu jenazah orang yang wafat.

Inilah kaum yang lebih memilih berjihad melawan Hawa Nafsunya ketimbang mengotori tangan mereka dengan darah-darah manusai, mengotori hatinya dengan kebencian dan kemarahan, mengotori lisannya dengan caci maki dan laknat, maka Allah swt memuliakan mereka dengan menempatkan dalam golongan hamba-hambanya yang beruntung, mereka tidak hanya mendapatkan surga di Akhirat, namun ketika hidup di dunia-pun mereka telah diberikan surga oleh Allah swt.


Wallahu A’lam.... semoga bermanfa’at.

Sabtu, 02 Desember 2017

Sejarah Peringatan Maulid Nabi saw



*Sejarah Peringatan Maulid Nabi saw.*

*_Oleh : donnieluthfiyy_*

Rasulullah saw lahir di Hari ke-12 Bulan Robiul Awwal bertepatan dengan hari Senin, dan Rasulullah saw bersabda : “هذا يوم وُلدت فيه “ Inilah hari dimana aku dilahirkan “ .
Pada masa Nabi saw banyak penyair yang berdatangan menghadap Nabi saw kemudian mempersembahkan Syair-syair Pujian yang memuji keagungan dan kemuliaan Kadar Baginda Nabi saw serta kelahirannya, syair-syair ini banyak dikutip dalam Sirah Ibnu Hisyam, Al Waqidi dan lainnya. Rasulullah saw sangat menyukai Syair-syair yang indah, berkenaan dengan ini Rasulullah saw bersabda “ Terdapat Hikmah di dalam Syair “ (Adab Al Mufrad HR Bukhari). Bahkan Paman Nabi saw yang bernama Sayyidina Abbas Bin Abdul Muthalib ra memuji Baginda Nabi saw dengan Syairnya di hadapan beliau saw (beliau saw tidak melarangnya, bahkan beliau saw mendo’akan Pamannya tersebut) yang bunyinya 
Dikala dikau dilahirkan, bumi bersinar terang hingga nyaris-nyaris pasak-pasak bumi tidak mampu untuk menanggung cahayamu, dan kami dapat terus melangkah lantaran karena sinar dan cahaya dan jalan yang terpimpin“. ( Imam Jalaluddin as-Suyuti dalam Husnul Maqoosid Hal. 5 dan Imam Ibnu Katsir dalam kitab Maulid Hal. 30 Serta didalam kitab Ibnu Hajar, Fath al-Bari).
Sehingga Tradisi membuat Syair-syair dalam memuji kelahiran dan Sifat keagungan serta kemuliaan Rasulullah saw ini semakin masyhur di kalangan para Sahabat, Tabi’in dan Atba’ut Tabi’in (Para Salafus Shalihin), kemudian secara perlahan berkembanglah menjadi Syair-syair yang dikumpulkan di dalam sebuah Kitab Maulid dan mulailah Dibacakan dengan mengadakan Perayaan Maulid Nabi saw agar berdatangan orang-orang untuk mendengarkannya, yang isinya tiada lain adalah berkenaan dengan Sirah kehidupan Baginda Nabi Muhammad saw yang diambilkan dari Al Qur’an dan Hadits dengan dibumbui rangkaian bentuk Kata-kata Syair yang indah sehingga orang-orang menyukai untuk mendengarkannya, hal tersebut adalah suatu bentuk dakwah untuk mengenalkan Keagungan dan kemuliaan Rasulullah saw serta sebagai wadah umat belajar mencintai Rasulullah saw, adapun mencintai Rasulullah saw adalah sebuah perkara Wajib, sehingga usaha untuk mencapainyapun menjadi perkara yang Wajib pula.

Menurut Imam Abu Syamah : Orang yang pertama merayakan Maulid Nabi saw yaitu seorang Hartawan ( Muainuddin Abu Hafs Umar Bin Muhammad Bin Hadhor Al Irbili Moshul {Irak}). Adapun menurut Imam Suyuthi : Orang pertama yang merayakan Maulid Nabi saw ialah Raja Mudzoffar ( Mudzofaruddin Abu Sa’id Kukubri Bin Zainuddin Ali Bin Baktakin Bin Muhammad) Seorang Gubernur Kota Irbil (Sebuah Kota di sebelah Utara Irak) Beliau merayakan dengan sangat meriah dan tertata rapih.

Sebagian Ulama di masanya menceritakan tentang Raja Mudzofar tersebut, Berkata Imam Ibnu Khalkan Beliau adalah seorang Ulama yang terkemuka dan tokoh yang Masyhur, Datang dari Tanah Maghrib masuk ke kota Syam, Irak dan melewati Kota Irbil Pada Tahun 704 H, kemudian bertemu dengan Raja Mudzofar yang sedang memperingati Maulid Nabi saw dan membacakan sebuah kitab yang bernama (At Tanwir Fi Maulid Al Basyir An Nadzir/ Barzanji), Dan Ibnu Khalkan membacakannya di hadapan Raja Mudzafar, kemudian Raja Mudzafar memberinya hadiah Seribu Dinar.

Telah berkata Imam Ibnu Katsir : Raja Mudzafar memperingati Maulid Nabi di Bulan Robi’ul Awal dan merayakannya dengan perayaan yang luar biasa besarnya, dan turut hadir di dalamnya para Cendekia, Para Pahlawan Pemberani, Para Ilmuwan, Ulama dan orang-orang yang Adil.

Telah berkata Imam Al Hafidz Ad Dzahabi : Raja Mudzofar adalah seorang yang Tawadlu’, Baik, Seorang yang Mulia, yang amat mencintai para Ulama, Fuqoha dan para Muhaddits.

Pada masa itu Perayaan diadakan di beberapa negara Islam pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW – dan dijadikan hari tersebut sebagai hari libur resmi di beberapa negara seperti: Yaman, Mesir, Suriah, Maroko, Irak, Aljazair, Palestina, Yordania, Libya, Kuwait, UEA, Oman dan Sudan.

Di Wilayah Maghrib, semua Sultan merayakan Maulid Nabi saw, yang dipimpin oleh Sultan Ahmed Al-Mansour, yang memerintah di akhir abad ke-10 Hijriyah. Jika memasuki bulan Robi’ul Awal, Beliau mengumpulkan semua muazin dari seluruh Wilayah Maghrib dan memerintahkan para penjahit untuk membuat berbagai jenis sulaman. Kemudian Sultan mengajak semua orang untuk melaksanakan Shalat Di waktu Fajar Hari Kelahiran Baginda Nabi saw dan beliau Duduk di singgasananya, kemudian orang-orang masuk dan duduk berdiam, setelah itu berdirilah seorang Penceramah dan berkhutbah dengan Khutbah yang isinya berkenaan dengan Keutamaan, Mu’jizat dan Kisah kelahirannya Baginda Nabi Muhammad saw, sehingga tatkala selesai mulailah orang-orang membacakan Syair-syair dan memuji kadar Baginda Nabi Muhammad saw. Dan ketika mereka selesai mulailah orang-orang menyantap hidangan makanan.

Masa Dinasti Fathimiyah adalah masa awal dalam merayakan Maulid Rasulullah saw, menurut Al Ustadz (Prof) Hassan Sindoby yaitu sekitar tahun 488 H (dan itu adalah masa pemerintahan Musta'ali Billah). Saat itu perayaan Maulid dirayakan untuk 4 peringatan, diantaranya yaitu : Peringatan Maulid Nabi saw, Maulid Imam Ali krw, Maulid Sayyidah Fathimah Azzahra rah, dan Maulidnya Imam Dinasti Fathimiyah saat itu.

Dr Abdul Mun’im mensifati keSultanan Dinasti Fathimiyah tersebut dalam bukunya Al Hayatul Ijtima’iyyah Fil Ashri Al Fathimiy, dan beliau berkata : Secara ringkas Perayaan Maulid Nabi saw pada masa Dinasti Fathimiyah dengan Membuat Manisan dan membagikannya serta memberikan Sedekah, Adapun Perayaan secara resminya yaitu semisal Pawai/ Arak-arakan para Qodhi pemerintahan sambil membawa peti-peti manisan, kemudian semua orang menuju Masjid Jami Al Azhar, selanjutnya menuju Istana Khalifah sekedar untuk mendengarkan Pidato Khalifah, setelah itu Khalifah berdo’a, dan orang-orang kembali ke rumahnya masing-masing.

Jadi seharusnya sudah bisa kita fahami bahwa Benih-benih peringatan Maulid Nabi saw sudah ada sejak Masa Nabi saw, dan saat itu Rasulullah saw tidak melarangnnya bahkan beliau saw sangat menyukainya, dan pada masa itu tiada seorangpun para Salafus Shalihin yang menyelisihinya, bahkan sejak di mulainya perayaan Maulid Nabi saw, pada masa itu para ulama sepakat tentang kebolehannya, dan tiada yang menyelisihinya.
Adapun berkenaan Kitab-kitab Maulid berbahasa Syair Arab yang diperdengarkan, maka janganlah Risau jika saat mendengarkannya kita tidak memahami artinya, namun dipastikan tetap dapat Manfa'at serta keberkahannya. Ibarat hal tersebut adalah seperti seseorang yang ingin mengambil Manfa'at dari Vitamin C yang ada pada Buah jeruk, maka tak perlu lah kita sampai mencari-cari Vitamin C yang terkandung dalam Buah jeruk tersebut, cukup makan saja jeruknya, karena pasti Manfa'at Vitamin C nya akan kita rasakan dengan sendirinya.


Wallahu A’lam... semoga bermanfaat.

Selasa, 28 Maret 2017

Kisah Mi'roj Rasulullah SAW...



Kisah Mi'roj Rasulullah SAW...
Di Kutip Dari Kitab Isra Mi’raj Imam Al Muhadits Jalaluddin As Suyuthi ra.

Diterjemahkan oleh : donnieluthfiyy

Imam Muslim berkata : Telah meriwayatkan kepada kami Imam Syaiban Bin Farukh, dari Imam Hammad Bin Salamah dari Imam Tsabit Al Banani dari Sahabat Anas rah :
                قال مسلم:
  حدثنا شيبان بن فروخ، عن حماد بن سلمة، عن ثابت البناني عن أنس رضي اله عنه، أن رسول الله صلى الله عليه وعلى آله قال:
" أتيت بالبراق ـ وهو دابة أبيض طويل فوق الحمال دون الغل، يضع حافره عند منتهى طرفه ـ قال: فركبته حتى أتيت بيت المقدس، فربطته بالحلقة التي يربط بها الأنبياء ثم دخلت المسجد فصليت فيه ركعتين، ثم خرجت فجاءني جبريل ( عليه السلام) بإناء من خمر وإناء من لبن فاخترت اللبن، فقال جبريل: اخترت الفطرة.
  ثم عرج بنا الى السماء الدنيا، فاستفتح جبريل؛ فقيل من أنت؟ قال: جبريل. قيل: ومن معك؟ قال محمد. قيل: وقد بعث إليه؟ قال: بعث إليه: ففتح لنا فإذا أنا بآدم، فرحب بي ودعا لي بخير ثم عرج بنا الى السماء الثانية فاستفتح جبريل، فقيل من أنت؟ فقال: جبريل. قيل: ومن معك؟ قال: محمد. قيل: قد بعث إليه؟ قال: بعث إليه. ففتح لنا فإذا أنا بابنى الخالة عيس بن مريم ويحيى بن زكريا، فرحبا بي ودعوا لي بخير.
  ثم عرج بنا الى السماء الثالثة، فاستفتح جبريل، فقيل: من أنت؟ فقال: جبريل: قيل: ومن معك؟ قال: محمد. قيل: وقد بعث اليه؟ قال: قد بعث إليه. ففتح لنا، فإذا انا بيوسف وإذا هو قد أعطي شطر الحسن، فرحب بي ودعا لي بخير.
  ثم عرج بنا الى السماء الرابعة: فاستفتح جبريل، قيل: من هذا؟ قال: جبريل. قيل: ومن معك؟ قال: محمد. قيل: وقد بعص إليه؟ قال: قد بعث الله إليه. ففتح لنا، فإذا أنا بأدريس، فرحب بي ودعا لي بخير.
قال الله تعالى:{ ورفعناه مكانا عليّا} مريم /57.
  ثم عرج بنا الى السماء الخامسة فاستفتح جبريل، قيل: من هذا؟ قال: جبريل. قيل: ومن معك؟ قال: محمد. قيل: وقد بعث إليه؟ قال: قد بعث إليه. ففتح لنا فإذا أنا بهارون، فرحب بي ودعا لي بخير.
  ثم عرج بنا الى السماء السادسة، فاستفتح جبيرل، قيل: من هذا؟ قال: جبريل. قيل: ومن معك؟ قالك محمد. قيل: وقد بعث إليه؟ قال: قد بعث إليه. ففتح لنا، فإذا انا بموسى فرحب بي ودعا لي بخير.
  ثم عرج بنا الى السماء السابعة، فاستفتح جبريل، فقيل: من هذا؟ قال: جبريل. قيل: ومن معك. قال: محمد. قيل: وقد بعث إليه؟ قال: قد بعث إليه. ففتح لنا فإذا أنا بإبراهيم مسندا ظهره الى البيت المعمور وإذا هو يدخله كل يوم سبعون ألف ملك لا يعودون اليه، ثم ذهب بي الى سدرة المنتهى فإذا ورقها كآذان الفيل، وإذا ثمرها كالقلال، قال: فلما غشيها من أمر الله ما غشى تغيرت فما أحد من خلق الله يستطيع أن ينعتها من حسنها، قال: فأوحى الى ما أوحى، ففرض عليّ خمسين صلاة في كل يوم وليلة، فنزلت حتى انتهيت الى موسى فقال: ما فرض ربك على أمتك؟ قلت: خمسين صلاة. قال: ارجع الى ربك فاسأله التخفيف فإن أمتك لا يطيقون ذلك، فإني قد بلوت بني إسرائيل وخبرتهم، قال: فرجعت الى ربي، فقلت: يا رب خفف عن أمتي فحط عني خمسا. فرجعت الى موسى فقلت: حط عني خمسا. قال: إن أمتك لا يطيقون ذلك فارجع الى ربك فسأله التخفيف. قال: فلم أزل أرجع بين ربي وبين موسى حتى قال: يا محم إنهن خمس صلوات لكل يوم وليلة لكل صلاة عشر فتلك خمسون صلاة ومن هم بحسنة فلم يعملها كتبت له حسنة فإن عملها كتبت له عشرا، ومن هم بشيئة فلم يعملها لم تكتب شيئا، فإن عملها كتبت سيئة واحدة. فنزلت حتى انتهيت الى موسى فاخبرته، فقال: ارجع الى ربك فاسأله التخفيف. فقلت: قد رجعت الى ربي حتى حتى استحييت منه" هذا سياق مسلم في صحيحه (كتاب الايمان /162) 1م145 ح 259.

Rasulullah SAW bersabda :
“Aku didatangi Buroq, Ia adalah hewan tunggangan berwarna putih, yang tingginya setinggi unta Selain Bighol (Jenis Peranakan Kuda dengan Keledai), ia meletakkan punggungnya di batas ujung Kaki  Rasulullah SAW. Maka Rasulullah SAW berkata: “Aku menungganginya sehingga aku sampai di baitul muqoddas, kemudian aku mengikatnya (berhenti) di sebuah Halaqoh yang mana halaqoh itu sudah dibuat sebagai tempat berkumpulnya para Nabi sebelum aku. Lalu aku masuk ke dalam masjid dan aku melaksanakan shalat 2 raka’at, kemudian aku keluar maka datanglah kepadaku Jibril as dengan membawakan tempat air yang berisi khomer dan susu, maka aku memilih yang berisi susu,  selanjutnya Jibril berkata: “engkau telah memilih Fitrah/kesucian”.
Kemudian bersama kami dinaikan ke langit dunia, kemudian Jibril meminta dibukakan pintu (Pada Penjaga Pintu Langit Dunia). Dan penjaga pintu berkata :“siapa anda?”, Jibril menjawab: “aku Jibril”, Dan penjaga pintu berkata lagi : “bersama siapakah anda?”, Jibril menjawab: “Aku bersama Muhammad”, ia berkata kembali: “Sungguh Allah telah mengutus kepadanya”, kemudian Jibril menjawab: “ya, Allah telah mengutusnya”. Maka terbukalah bagi kami pintu langit, seketika itu aku (Muhammad) bertemu dengan Nabi Adam serta ia menyambutku (Dengan senangnya) dan mendoakan aku dengan kebaikan.
Catatan : Malaikat Jibril Bisa diizinkan masuk Pintu langit karena bersama Baginda Nabi SAW. Karena beliau lah yang sedang di tunggu oleh Penjaga Langit.
Kemudian aku dinaikkan lagi ke atas langit kedua, kemudian Jibril meminta dibukakan pintu (Pada Penjaga Pintu Langit Dunia). Dan penjaga pintu berkata :“siapa anda?”, Jibril menjawab: “aku Jibril”, Dan penjaga pintu berkata lagi : “bersama siapakah anda?”, Jibril menjawab: “Aku bersama Muhammad”, ia berkata kembali: “Sungguh Allah telah mengutus kepadanya”, kemudian Jibril menjawab: “ya, Allah telah mengutusnya”. Maka terbukalah bagi kami pintu langit, seketika itu aku (Muhammad) bertemu dengan Ibna-i Al Kholah, Nabi Isa bin Maryam dan Nabi Yahya bin Zakariyya, serta ia menyambutku (Dengan senangnya) dan mendoakan aku dengan kebaikan.
Kemudian aku dinaikkan lagi ke atas langit ketiga, kemudian Jibril meminta dibukakan pintu (Pada Penjaga Pintu Langit Dunia). Dan penjaga pintu berkata :“siapa anda?”, Jibril menjawab: “aku Jibril”, Dan penjaga pintu berkata lagi : “bersama siapakah anda?”, Jibril menjawab: “Aku bersama Muhammad”, ia berkata kembali: “Sungguh Allah telah mengutus kepadanya”, kemudian Jibril menjawab: “ya, Allah telah mengutusnya”. Maka terbukalah bagi kami pintu langit, seketika itu aku (Muhammad) bertemu dengan Nabi Yusuf as, dan seketika itu Ia (Nabi Yusuf) membagi dua ketampanannya serta ia menyambutku (Dengan senangnya) dan mendoakan aku dengan kebaikan.
Kemudian aku dinaikkan lagi ke atas langit keempat, kemudian Jibril meminta dibukakan pintu (Pada Penjaga Pintu Langit Dunia). Dan penjaga pintu berkata :“siapa anda?”, Jibril menjawab: “aku Jibril”, Dan penjaga pintu berkata lagi : “bersama siapakah anda?”, Jibril menjawab: “Aku bersama Muhammad”, ia berkata kembali: “Sungguh Allah telah mengutus kepadanya”, kemudian Jibril menjawab: “ya, Allah telah mengutusnya”. Maka terbukalah bagi kami pintu langit, seketika itu aku (Muhammad) bertemu dengan Nabi Idris as serta ia menyambutku (Dengan senangnya) dan mendoakan aku dengan kebaikan.
Allah swt berfirman : “ Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi “. (QS : Maryam – 57).
Kemudian aku dinaikkan lagi ke atas langit kelima, kemudian Jibril meminta dibukakan pintu (Pada Penjaga Pintu Langit Dunia). Dan penjaga pintu berkata :“siapa anda?”, Jibril menjawab: “aku Jibril”, Dan penjaga pintu berkata lagi : “bersama siapakah anda?”, Jibril menjawab: “Aku bersama Muhammad”, ia berkata kembali: “Sungguh Allah telah mengutus kepadanya”, kemudian Jibril menjawab: “ya, Allah telah mengutusnya”. Maka terbukalah bagi kami pintu langit, seketika itu aku (Muhammad) bertemu dengan Nabi Harun as serta ia menyambutku (Dengan senangnya) dan mendoakan aku dengan kebaikan.
Kemudian aku dinaikkan lagi ke atas langit keenam, kemudian Jibril meminta dibukakan pintu (Pada Penjaga Pintu Langit Dunia). Dan penjaga pintu berkata :“siapa anda?”, Jibril menjawab: “aku Jibril”, Dan penjaga pintu berkata lagi : “bersama siapakah anda?”, Jibril menjawab: “Aku bersama Muhammad”, ia berkata kembali: “Sungguh Allah telah mengutus kepadanya”, kemudian Jibril menjawab: “ya, Allah telah mengutusnya”. Maka terbukalah bagi kami pintu langit, seketika itu aku (Muhammad) bertemu dengan Nabi Musa as serta ia menyambutku (Dengan senangnya) dan mendoakan aku dengan kebaikan.
Kemudian aku dinaikkan lagi ke atas langit keenam, kemudian Jibril meminta dibukakan pintu (Pada Penjaga Pintu Langit Dunia). Dan penjaga pintu berkata :“siapa anda?”, Jibril menjawab: “aku Jibril”, Dan penjaga pintu berkata lagi : “bersama siapakah anda?”, Jibril menjawab: “Aku bersama Muhammad”, ia berkata kembali: “Sungguh Allah telah mengutus kepadanya”, kemudian Jibril menjawab: “ya, Allah telah mengutusnya”. Maka terbukalah bagi kami pintu langit, seketika itu aku (Muhammad) bertemu dengan Nabi Ibrahim as yang sedang menyandarkan punggungnya di baitul ma’mur dan Seketika ia memasukan 70.000 malaikat setiap harinya masuk ke dalam baitul ma’mur dan tidak pernah kembali lagi, Kemudian aku pergi ke sidratul muntaha, Ketika itu terlihat (Pepohonan) yang daunnya seperti telinga gajah, buahnya ibarat Buah anggur yang di topang, Maka tatkala pepohonan itu bergetar kuat karena diselubungi perintah Allah swt, dengan sebuah getaran kuat yang merubahnya maka siapakah gerangan dari makhluknya Allah swt yang mampu untuk mensifati dari keindahan peristiwa tersebut. Dan Allah memberikan wahyu kepada siapapun dan apapun yang telah diberinya wahyu, kemudian Allah mewajibkan atasku 50 shalat dalam waktu sehari semalam. Setelah itu Aku turun dari sidratul muntaha hingga bertemu dengan Nabi Musa as, lalu Nabi Musa as bertanya kepadaku:“Apa yang telah diwajibkan Tuhanmu atas umatmu?”, aku menjawab: “shalat 50 waktu”, Nabi Musa kembali berkata:“kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, sesungguhnya umatmu tak akan mampu melaksanakan hal tersebut, maka sesungguhnya aku telah berpengalaman kepada umatku Bani Israil saat aku mengabarkan hal itu kepada mereka”. Kemudian Rasulullah saw bersabda: maka aku kembali kepada Tuhanku, aku bersabda: “Wahai tuhanku, berikanlah keringanan untuk umatku”, Maka diturunkanlah dariku 5 waktu . lalu Aku kembali kepada Nabi Musa as dan berkata: “telah diturunkan dariku 5 waktu (Jadi 45)”, Nabi Musa as berkata: “umatmu masih belum mampu buntuk untuk melaksanakan hal tersebut, kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah lagi keringanan!”. Rasulullah saw bersabda: maka berangkat dan kembali diantara Tuhanku dan Nabi Musa as, sehingga Allah berfirman: “wahai Muhammad, sesungguhnya Fardlu bagi mereka (Umatmu) Shalat 5 waktu disetiap sehari semalam, untuk setiap 1 waktu shalat dihitung 10 waktu shalat sehingga menjadi 50 shalat dalam sehari semalam. Dan bagi mereka ada suatu perkara kebaikan, maka jika mereka tidak melakukannya tetap di catat baginya kebaikan, namun jika mereka melakukannya di catatnya bagi mereka 10 kebaikan, dan bagi mereka juga ada suatu perkara keburukan, maka jika mereka tidak melakukannya tidak akan di catat di buku amalnya, namun jika mereka melakukannya dicatat bagi mereka 1 keburukan.”. Kemudian aku turun kembali sehingga aku berhenti kepada Nabi Musa as, dan mengabarkan hal tersebut, Nabi Musa as kembali berkata: “kembalilah kepada Tuhanmu dan  mintalah kemurahannya”, aku bersabda: “Sungguh aku telah kembali kesana kemari menghadap Allah sehingga aku malu kepadaNya.”. Ini adalah kata riwayat Imam Muslim dalam kitab Shahihnya (Kitab Iman/ 162).

Semoga bermanfa’at dan menjadi keberkahan.

Silahkan cukup bacakan sholawat untuk saya 10x saja... terimakasih.

Minggu, 29 Januari 2017

Menjadi Orang yang Baik, Merasa Baik dan Aib diri sendiri.




Untuk menjadi orang baik maka perlu ada ikhtiar yg mengarah kepada kebaikan yang di ridloi Allah SWT.
Yang menjadi Masalah adalah ketika proses ikhtiar untuk menjadi orang yang baik, kemudian muncul perasaan sudah baik??? Hal ini yang kemudian akan merusak kebaikan...

Perlu diketahui... sesungguhnya kebaikan itu pada hakikatnya adalah karena Allah SWT menutupi Aib-aib yang ada pada diri hambaNya, Aib2  HambaNya tersebut oleh Allah SWT ditutupi, sehingga orang lain hanya melihat kebaikan saja yg ada pada hambaNya tersebut.... tanpa Allah SWT menutupi aib2 pada HambaNya maka HambaNya tidak akan bisa menjadi Hamba yg Baik di hadapan Allah SWT maupun di mata manusia, sebab ada dikatakan :

الانســـان محــل الخطاء و النسيان و خير الخطاء التوبــون
“ Sesunggunya manusia itu tempatnya salah dan lupa sebaik-baiknya kesalahan adalah dengan bertaubat kepada Allah “.

Jadi telah jelas pada hakikatnya tiada kebaikan yang ada pada seorang hamba, kecuali Allah SWT menolong hambaNya dan menutup Aib2 yang ada pada diri hambaNya tersebut...

Syarat agar Allah SWT menutupi aib2 yg ada pada diri kita adalah.... Jangan membuka-buka Aib2 orang lain... Jangan mencari-cari kesalahan orang lain dan jangan menyebar-nyebarkan Aib orang lain yang kita dengar atau lihat.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلم يَدْخُل الإيمَانُ قَلْبَهُ ! لاَ تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِيْنَ وَلاَ تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ بَيْتِهِ

"Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya akan tetapi iman belum masuk kedalam hatinya, janganlah kalian mengghibahi kaum muslimin, dan janganlah pula mencai-cari aib mereka, sesungguhnya barang siapa yang mencari-cari aib saudaranya sesama muslim maka Allah akan mencari-cari kesalahannya, dan barangsiapa yang Allah cari-cari kesalahannya maka Allah akan mempermalukannya meskipun ia berada di dalam rumahnya" (HR Abu Dawud no 4880)

Kemudian banyaklah berdo’a agar Allah SWT berkenan menutupi Aib2 yang ada pada diri kita, dan sebagian dari do’a nya adalah sebagai berikut...

اَللُّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا اِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمًّا اِلاَّ فَرَّجْتَهُ، وَلاَ عَيْبًا اِلاَّ سَتَرْتَهُ، وَلاَ دَيْنًا اِلاَّ قَضَيْتَهُ، وَلاَ سَقَمًا اِلاَّ شَفَيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً اِلاَّ قَضَيْتَهَا وَيَسَّرْتَهَا، فَيَسِّرْ لَنَا اُمُوْرَنَا، وَاشْرَحْ صُدُوْرَنَا، وَنَوِّرْ قُلُوْبَنَا، وَاخْتِمْ بِالصَّالِحَاتِ اَعْمَالَنَا

“ Wahai Allah tiada dosa kami melainkan Engkaulah yang mengampuninya. Tiada kesedian melainkan Engkaulah yang menghilangkannya.Tiada ‘aib bagi kami melainkan Engkaulah yang menutupinya. Tiada hutang kami melainkan Engkaulah yang (memudahkan) pembayarannya. Tiada penyakit pada kami melainkan Engkaulah yang menyembuhkannya. Tiada keinginan kami melainkan Engkaulah yang memenuhi dan yang meudahkanya, maka berilah kemudahan dalam semua urusan kami, bukalah hati kami, terangilah kalbu kami dan akhirilah dengan kebaikan semua amal ibadah kami “.

Wallahu A'lam... Semoga ada manfa'atnya....

Kamis, 26 Januari 2017

Ahlul Haq Menurut Imam Syafi'i ra



Siapakah ِAhlul Haq itu ??
قال الإمام الشافعي: "تتبع سهام العدو تعرف أهل الحق"
Imam Syafi'i ra berkata: " Ikutilah kemanah arah panah-panah musuhmu (diarahkan) maka engkau akan mengenali orang-orang yang benar (Haq).
Dalam atsar yang lain Imam Syafi’i berkata :
إتبع سهام العدو ترشدك إلى الحق ، فتأملوا من إجتمع عليه الكافر والمنافق والمتأسلم والعميل والخائن لتعرف الحق وأهله
“ Ikutilah kemanah arah panah-panah musuhmu (diarahkan), maka engkau akan di pandu menuju perkara yang Haq. Maka kemudian berharaplah kalian kepada orang yang berkumpul diantara mereka, orang kafir, munafiq, Murtad, Agen Yahudi dan Nasrani serta pengkhianat untuk mengenali perkara Haq dan orang-orangnya. “
Perkataan Imam Syafi’i menunjukan bahwa orang-orang yang benar (Haq) alamatnya adalah banyaknya panah-panah musuh diarahkan kepadanya, panah itu bisa berarti fitnah ataupun peperangan, namun berkenaan dengan hal ini mereka para Ahlul Haq tiada lain pastilah seorang Waliyullah, sedangkan Sifat dan Akhlaq Para Waliyullah adalah mereka yang tiada menyukai untuk membalas Fitnahan, cacian dan makian dari musuh2nya, kecuali jika diperangi dengan pedang...
Beberapa dari kisah2 para Wali mereka adalah manusia mulia sangat akrab dengan fitnah serta hujatan. Diantaranya adalah Kisah Imam Ali Zainal Abidin putra dari Imam Husein ra, dimana beliau mengabdikan seluruh hidupnya untuk memberi pencerahan dan pengajaran kepada umat akan Islam dan kebenaran yang berpusat di Masjid Nabawi, dan beliau adalah orang yang ahli Ibadah sehingga di juluki As-Sajjad. Dikisahkan beliau juga setiap malam menggotong sekarung gandum untuk diberikan kepada orang-orang faqir dan miskin disekitarnya dan tiada seorangpun yang mengetahuinya, hingga setelah beliau wafat barulah penduduk mengerti bahwasannya yang setiap malam memberikan gandum di pintu-pintu rumah mereka adalah Imam Ali Zainal Abidin, Seorang yang Haq selalu menyembunyikan amalnya dari manusia agar terjaga keikhlasan amalnya.
Imam Ali Zainal Abidin tidak pernah berbaur dengan dunia politik yang saat itu kekuasaan daulah Islamiyah di pegang oleh Dinasti Umayah, tidak sedikit fitnah, hujatan dan makian yang ditujukan kepadanya, namun beliau tiada membalasnya dan hanya mengadukannya kepada Allah SWT, beliau berkata : “ Yaa Robb, dalam setiap masalah yang ku hadapi, aku telah melihat kelemahanku, aku telah menyadari ketidak mampuanku “. Fitnah demi fitnah terus ditujukan kepada beliau hingga wafatnya. Namun seorang Waliyullah memiliki kasih sayang yang amat luas kepada Makhluk Allah, maka semua itu hanya ia hadapi dengan tawakal dan memohon kekuatan dari Allah SWT serta hanya kepadaNya ia berkeluh kesah.
Begitupun banyak kisah2 para ahlul Haq (Waliyullah) yang hidupnya penuh dengan fitnah dari musuh2nya, namun tiada ia membalasnya, bahkan lebih banyak mendo’akan untuk mereka (Musuh2nya).
Wallahu A'lam.... semoga ada manfa'atnya...

Rabu, 25 Januari 2017

Belajar Menyikapi perbedaan Dari Kyai-Kyai NU...





Didalam tubuh NU sebuah perbedaan adalah hal yang biasa, karena masing-masing menyadari bahwasannya perbedaan itu adalah Fitroh Manusia, Allah SWT sendiri berfirman dalam Surat al Hujurat [10] :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْناكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثى وَجَعَلْناكُمْ شُعُوباً وَقَبائِلَ لِتَعارَفُوا
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal.”

Walaupun berbeda-beda namun tujuannya adalah bukan untuk saling bermusuhan, seperti apa-apa yang dikatakan oleh para Ulama Sholihin berikut ini :

Imam Al-Hasan Al-Bashri ra berkata: "Untuk ikhtilaf lah Allah menciptakan mereka." Namun "Sebagai rahmat mereka diciptakan."

Imam Thawus ra berkata: "Allah tidak menciptakan mereka untuk berselisih, akan tetapi menciptakan mereka untuk bersatu dan rahmat."

Imam Ibnu Abbas ra berkata : "Untuk rahmatlah mereka itu diciptakan dan tidak untuk azab."

Oleh sebab itu sesungguhnya Allah SWT bisa saja atau kuasa dan mampu untuk menciptakan manusia dalam golongan/agama yang satu (tiada perbedaan pada mereka), namun Allah SWT menghendaki manusia agar mampu menjadi Rahmat bagi lainnya.

Imam Ibnu Katsir ra berkata : "Pada ayat ini, Allah memberitakan bahwa Ia mampu untuk menjadikan manusia semuanya menjadi umat yang satu, baik di atas keimanan ataupun di atas kekufuran. Seperti firman Allah :
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ
"Dan jikalau Rabbmu menghendaki tentulah beriman orang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? " (Yunus: 99)

Karena kelak mereka diakhirat juga terbagi menjadi dua golongan....
Imam Ibnu Abbas ra berkata: "Allah menciptakan mereka menjadi dua golongan. Hal itu seperti firman Allah :
فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ
"Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia." (Hud: 105)

Jadi sebenarnya hikmah dibalik ciptaanNya yang berbeda-beda ini adalah Allah SWT  ingin menunjukan Kuasa dan keadilanNya atas makhlukNya.

Berkenaan dengan hal ini maka para Kyai NU sangat menjaga tali silaturahim diantara satu dengan lainnya, agar tidak sampai saling bermusuhan ketika mereka berbeda dalam pendapat, maka satu sama lain saling menghormati pendapat masing-masing.

Seperti kisah Hadlrotus Syaikh Mbah KH Hasyim Asy’ari (Ro’is Akbar NU) ketika terjadi perbedaan pendapat dengan Mbah Kyai Faqih Maskumambang (Wakil Ro’is NU) berkenaan dengan penggunaan kentongan dan bedug di musholla dan masjid, bagaimana sikap mereka satu sama lainnya, bukan fanatisme faham yang di tunjukan, tetapi justru saling hormat dan tawadlu’ masing-masing.

Kemudian juga bagaimana kisah Mufaroqoh KH As’ad Syamsul ‘Arifin dari Ketua Umum PBNU Gusdur, dalam keseharian mereka tetap saling menghormati bahkan sikap mereka tiada perbedaan sama sekali, tiada hujatan dan makian diantara keduanya, yang muncul dari lisan Mbah As’ad hanya sebuah ungkapan halus, beiau berkata “Ibarat imam shalat, Gus Dur sudah batal kentut. Karena itu tak perlu lagi bermakmum kepadanya.” Namun ternyata dibalik mufaroqoh ini adalah bentuk kasih sayang Mbah As’ad kepada Gusdur yang merupakan Cucu Guru beliau tersebut. KH Khotib Umar bertutur berkenaan rahasia Mufaroqoh Mbah KHR As’ad. “ Mbah KHR As’ad dawuh bahwa memusuhi Gus Dur merupakan strategi menghadapi rezim Orde Baru. Supaya Gus Dur tidak dihabisi maka beliau memusuhi Gus Dur. Untuk menyelamatkan beliau. “Saya dengan Gus Dur hanya berbeda dalam siyasi, politik! Mufaraqah bukan berarti benci Gus Dur. Malah saya sangat mengasihi Gus Dur. Saya khawatir kalau Gus Dur di penjara oleh penguasa karena sikap kritisnya, lalu siapa yang akan membela?” Demikian dawuh beliau.

Juga bagaimana perbedaan pandangan antara Gus Mus (KH Musthofa Bishri) dengan Gus Najih Maimun, kenyataannya dalam kesehariannya mereka tetap hidup rukun bersama dengan pandangan masing-masing, dan tanggapan Gus Mus berkenaan dengan hal ini hanya sebuah ungkapan maklum saja, beliau menanggapi dengan perkataan “Najih niku ponakan kulo” (Gus Najih itu keponakan saya), ia tidak pernah kumpul-kumpul dengan kerabat, kyai dan sebagainya untuk tabayyun. Asal ia dengar, langsung diyakini tanpa klarifikasi.”. dan hal tersebut tidak sampai menjadi renggang tali silaturahim dan kekerabatan antar keduanya.

Itulah perbedaan... manusia memang di ciptakan berbeda-beda... Kepala dan isinya pun berbeda-beda, namun dalam perbedaan hingga perselisihan itu bukan untuk saling musuh memusuhi, tetapi justru harus menjadi rahmat bagi umat. Memberi penjelasan yang santun dan halus, tidak saling memaki dan menghujat karena menghendaki pembenaran atas apa yang di fahami dan diyakini. Yang lebih parah adalah adanya usaha-usaha untuk memperuncing permasalahan melalui fitnah dan pernyataan-pernyataan asumtif. Jadi pilihannya Silahkan ingin menjadi Rohmat Allah SWT atau ingin menjadi seorang Hasud seperti Syaitan???

>>
Allah SWT berfirman :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَ لاَ نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَ لاَ تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَ لاَ تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ اْلإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mencela kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang dicela) lebih baik dari mereka (yang mencela) dan jangan pula wanita-wanita (mencela) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita (yang dicela itu) lebih baik dari wanita (yang mencela) dan jangalah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman. Dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (Q.S. Al-Hujarat [49] : 11).
>>
Rasulullah SAW bersabda :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلاَ إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلاَ لاَ فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلاَلِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلاَ لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلاَ أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلاَّ بِالتَّقْوَى
“Wahai manusia, ingatlah, sesungguhnya Tuhanmu adalah satu, dan nenek moyangmu juga satu. Tidak ada kelebihan bangsa Arab terhadap bangsa lain. Tidak ada kelebihan bangsa lain terhadap bangsa Arab. Tidak ada kelebihan orang yang berkulit merah terhadap orang yang berkulit hitam, tidak ada kelebihan orang yang berkulit hitam terhadap yang berkulit merah, kecuali dengan taqwanya..” (H.R. Ahmad, al-Baihaqi, dan al-Haitsami).

Wallahu A'lam... Semoga ada manfa'atnya...



Rabu, 28 Desember 2016

Hadits kemuliaan Ibu.. Kenapa Nabi SAW menjawab dengan Lafadz yang sama 3 kali.



عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)
Dalam hadits ini Nabi SAW menjawab pertanyaan sahabat yang bertanya tiga kali dan dijawab Nabi dengan Ibumu...Ibumu... Ibumu...
Kenapa Nabi SAW menjawab dengan kata yang sama???
Lafadz " أم " "Umm " dalam bahasa arab bisa berarti :
1. " Induk " Contoh kalimat Ummul Qur'an yang artinya Induk Al Qur'an (Ummul Qur'an yaitu surat Al Fatihah).
2. " Ibu " secara umum contoh kalimat Ummul Mu'minin yaitu Ibu bagi seluruh umat Islam (Ummul Mu'minin yaitu Istri2 Nabi SAW)
3. " Sumber " Contoh kalimat Ummul Quro yang artinya sumber Semua Negeri (Ummul Quro yaitu Mekah).

Sehingga lafadz " Umm " yang disebut tiga kali tersebut bisa bermakna :
1. Induk Manusia yaitu Ibu yang melahirkan..
2. Ibu secara Umum yaitu Ibu dari Istri (Mertua).
3. Sumber Pengetahuan yaitu Guru - Terutama Guru yang mengenalkan kepada Allah dan RasulNya.

Wallahu A'lam...

Kamis, 01 Desember 2016

Ta'rif Jihad



Jihad secara bahasa yaitu Perkara yang di ambil dari kesungguhan dan mengerahkan segala usaha (اللسان : جهد). Yakni mengorbankan/mencurahkan kelapangan. suatu perbuatan dengan mencurahkan kemampuan/ kekuatan.

Sedangkan secara Istilah yaitu kemutlakan/keumuman didalam suatu perselisihan yang berubah menjadi Jihad kepada Kufar yang memeranginya dan terhadap sebagian dari orang2 yang durhaka yang memerangi, serta orang2 yang murtad, Bughot (Pemberontak) dan semisalnya, dengan tujuan mengagungkan kalimat Allah SWT, dan ini adalah makna Jihad secara khusus.

Adapun makna secara Umum yakni mengorbankan/ mencurahkan kelapangan berkenaan dengan kemampuan untuk menghasilkan perkara yang dicintai oleh Al Haq مجموع الفتاوى (10/192).)

Berkata Ibnu Qayyim RH : “ Adapun Pembuktian bahwasannya sesungguhnya Jenis Jihad itu hukumnya Fardlu ‘Ain baik dengan hati, dengan lisan, dengan harta ataupun dengan Tangan (kekuatan/ kekuasaan), maka atas setiap muslim agar berjihad dengan bagian dari beberapa bagian tersebut. زاد المعاد (3/64).)

maka atas setiap muslim agar berjihad dengan bagian dari beberapa bagian tersebut, yakni :
1. Dengan Hati,
2. Dengan Lisan,
3. Dengan harta ataupun,
4. Dengan tangan (Kekuatan).
5. Dan kami katakan di masa kita sekarang termasuk juga jihad dengan pena.

Pembagian Jihad.
Macam2 jihad.

1. Jihad Kufar yakni jihad mengajak dan Membela (melawan).
a) Jihad mengajak/menyeru (Melalui dakwah) kepada Islam tanpa adanya paksaan karena Allah SWT berfirman : ﴿لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّين﴾ [سورة البقرة : الآية 256] “ Tiada paksaan didalam Agama “ (QS : Al Baqarah : 256).
b) Jihad membela yakni Jihad ketika orang2 kafir menyerang/menyerbu perkampungan wilayah orng2 muslim. Allah SWT berfirman : ﴿وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ﴾ [سورة البقرة : الآية 190] “ Berperanglah kalian semua di jalan Allah kepada orang2 yang memerangi kalian “ (QS : Al Baqarah : 190).

2. Jihad kepada orang2 munafiq dan orang2 murtad.
- Bisa dengan Jihad hati, Lisan, harta dan dengan tangan. (Menyeru agar kembali ke jalan yang benar). Karena jihad tidak selalu dalam peperangan.

3. Jihad terhadap Bughat (Pemberontak) yang keluar dari pada Imam, imamnya orang2 muslim yang Haq.
- Jihad ini terjadi pada masa kekhalifahan Islam (Sekarang sudah tidak ada), termasuk pemberontakan pada masa Ke Khalifahan Islam dinasi Ustmani adalah pemberontakan yang di motori oleh gerakan Muhammad Bin Abdul Wahab (Wahabi) dan Saud yang sekarang menjadi Saudi Arabia.

Urutan2 Jihad.
Telah berkata para Ulama : sesungguhnya didalam jihad ada 4 urutan :
1. Jihad melawan Hawa Nafsu.
2. Jihad melawan Syaitan (Sifat2 tercela).
3. Jihad melawan orang2 kafir yang memerangi dan orang2 munafiq, serta
4. Jihad Melawan Ashabud Dholim, bid’ah dan mungkar.

Sesuai urutannya maka sebelum Jihad melawan orang2 kafir yang memerangi maka terlebih dahulu harus dimulai dengan Jihad melawan Hawa Nafsu dan Jihad melawan Sifat2 tercela (Syaitan) pada diri sendiri.

Jika sesuai urutannya maka Insya Allah Jihadnya menjadi jihad yang di ridloi Allah SWT.

==>Sekedar Torehan Pena, semoga menjadi Jihad....<==

Ridlo Allah...



Ridlo Allah itu sebuah kalimat yang ringan di ucapkan tetapi untuk mendapatkannya perlu beberapa langkah untuk sampai, ada tiga jembatan menuju Ridlonya Allah SWT yang harus di tempuh seorang hamba, yaitu :

1. Ridlo orang tua, Rasulullah SAW bersabda :
" رضا الله في رضا الوالدين، وسخط الله في سخط الوالدين "
" Ridlo Allah didalam ridlonya orang tua, dan murkanya Allah didalam murkanya Orang tua".
Maka seseorang yang ingin mendapatkan Ridlonya Allah harus melalui Ridlo orang tua terlebih dahulu.

2. Ridlo Syaikh (Guru yang mengenalkan dan menunjukan jalan kepada Allah), dikatakan dalam sebuah Sya'ir :
اُقَدِّمُ أُسْتَا ذِىْ عَلَى نَفْسِ وَالِدِيْ # وَإِنْ نَا لَنِيْ مِنْ وَالِدِى الْفَضْلَ وَالشَّرَفُ

فَدَاكَ مُرَبِّ الرُّوْحِ وَالرُّوْحُ جَوْهَرُ # وَهَذَا مُرَبِّ الْجِسْمِ وَالْجِسْمِ كَالصَّدَفِ

“Saya mengutamakan guru daripada orang tua # walaupun saya mendapatkan kemuliaan darinya”
“Namun, guru adalah orang yang menuntun jiwa yang diibaratkan sebagai mutiara # sementara orang tua adalah orang yang menuntun raga yang diibaratkan sebagai wadahnya mutiara”
Maka ridlo seorang Syaikh menjadi tolok ukur Ridlonya Allah SWT.
dan jika seseorang sudah bisa mendapatkan ridlonya orang tua dan Syaikh maka kemudian ia akan mendapatkan Ridlonya....

3. Rasulullah SAW.
Maka jika seseorang sudah mendapatkan Ridlonya Rasulullah SAW, maka bisa dipastikan Allah SWT pun ridlo kepadanya, Allah SWT berfirman dalam Surat Ad Dhuha Ayat 5 :
وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ
" Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu ,Sampai (hati) kamu menjadi puas (Ridlo)"
Maka Allah akan rildo dengan sebab Ridlonya Baginda Nabi Muhammad SAW.

Itulah urutan perjalanan seorang hamba untuk mendapatkan Rildo dari Allah SWT, melalui perantara Orang Tua dan Syaikh, dan dari perantara merekalah yang akan menghantarkan kepada Ridlonya Rasulullah SAW, dan atas karunia yang Allah berikan kepada Rasulullah SAW sehingga Rasululah SAW Ridlo (Puas) maka disitulah Allah SWT juga Ridlo kepada hambanya dengan sebab ridlonya Rasulullah SAW.

Hadits tanda2 akhir zaman.



Telah bercerita kepada kami Yahya bin Bukair telah bercerita kepada kami Al Laits dari 'Uqail dari Ibnu Syihab dari 'Urwah bin Az Zubairbahwa Zainab binti Abu Salamahbercerita kepadanya dari Ummu Habibah binti Abu Sufyan dariZainab binti Jahsy radliallahu 'anhuma bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam datang kepadanya dengan gemetar sambil berkata: Laa ilaaha illallah, celakalah bangsa Arab karena keburukan yang telah dekat, hari ini telah dibuka benteng Ya'juj dan Ma'juj seperti ini. Beliau memberi isyarat dengan mendekatkan telunjuknya dengan jari sebelahnya. Zainab binti Jahsy berkata, Aku bertanya; Wahai Rasulullah, apakah kita akan binasa sedangkan di tengah-tengah kita banyak orang-orang yang shalih?. Beliau menjawab: Ya, benar jika keburukan telah merajalela. (HR Bukhari 3097 , 3331, 6535, 6602) (HR Muslim 128, 5129)
==> hadits ini menggambarkan kelak di akhir zaman akan banyak orang2 arab muslim namun jarang sekali yang sholih, mereka membuat keburukan2 yang merajalela. Ulama2 mereka tidak ada yang sampai kepada Maqom As Sholihiin.

Dari Sahl bin Saad as-Sa ‘idi Ra. ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Ya Allah! Jangan Engkau pertemukan aku dan mudah-mudahan kamu (sahabat) tidak bertemu dengan suatu zaman dikala para ulama sudah tidak diikuti lagi, dan orang yang penyantun sudah tidak dihiraukan lagi. Hati mereka seperti hati orang Ajam (pada fasiqnya), lidah mereka seperti lidah orang Arab (pada fasihnya).” (HR. Ahmad)
==> Kelak di akhir zaman akan banyak ulama2 yang fasih berdialek arab, namun mereka berbuat hal2 yang merusak agama. Ulama sholihin yang penyantun sudah tidak diikuti dan dihiraukan lagi.

Dari Ali bin Abi Thalib Ra. ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.: “Sudah hampir tiba suatu zaman, kala itu tidak ada lagi dari Islam kecuali hanya namanya, dan tidak ada dari Al-Qur’an kecuali hanya tulisannya. Masjid-masjid mereka indah, tetapi kosong dari hidayah. Ulama mereka adalah sejahat-jahat makhluk yang ada di bawah kolong langit. Dari merekalah keluar fitnah, dan kepada mereka fitnah itu akan kembali .” (HR. al-Baihaqi)
==> Akan datang di akhir zaman ketika Islam bukan lagi sebagai agama. Islam hanya sebuah nama, mereka banyak membangun masjid2 dan memakmurkannya namun tiadalah kebaikan didalamnya, karena tidak ada hidayah dan keridloan Allah SWT. Dan ulama2 mereka banyak membuat2 fitnah yang kelak mereka sesali, karena fitnah itu akan kembali kepada mereka.

==> Yaa Robb Jauhkanlah kami dari fitnah akhir zaman, dan selamatkanlah hati kami dari bisikan nafsu yang bersembunyi <==

Mari kita koreksi diri...





Apakah engkau mau beramal dengan Ilmu, maka sering2lah duduk dalam majlis2 Ilmu dengan merendahkan dan menghinakan dirimu dihadapan teman2 majlismu... jika engkau tidak bisa berbuat seperti itu, maka engkau tidak akan mendapatkan nurnya Ilmu, karena Ilmu tidak datang pada hati yang sombong...

Jika engkau mau beramal saja tanpa ilmu, sehingga kau tidak pernah memahami Al Qur'an yg terucap melalui lisanmu, tidak pernah memahami sujudmu, rukukmu, dzikirmu, bahkan engkau tidak pernah memahami untuk apa dan siapa kau beramal... dan tidak pula akan pernah mengenal Dzat yang kau sembah... maka amalmu itu hanya akan menambah dirimu jauh dari tujuanmu...

Orang2 yang beramal dengan Nur Ilmunya, memang tidak sebanyak amalnya orang2 yg beramal saja, karena sibuknya dalam samudera luasnya Ilmu Allah, namun dalam setiap amalnya ia tahu makna dibalik itu semua, hatinya menjadi lembut, tutur katanya menjadi baik, hatinya selalu waspada, dan akalnya sebagai penguat keyakinannya... maka terbentuklah Ihsan.... ketahuilah bahwasannya Ihsan itu tempatnya di dalam hati, karena Allah tidak bisa dilihat dengan kasat mata... namun hati yang akan melihatNya dengan Cahaya Ilmu dan iman...

Maka jika engkau masih berlaku sombong dengan ilmu yang kau ketahui, sesungguhnya engkau hanya seorang yang bodoh, karena Ilmu tidak akan masuk dihati orang2 yang sombong...

Oleh sebab itu jika ilmu yang kau dapatkan itu tanpa adanya susah payahmu dengan merendahkan dan menghinakan dirimu ketika kau mencarinya, maka sesungguhnya kau tidak mendapatkannya...

List Video