Tampilkan postingan dengan label Kufur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kufur. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Februari 2018

Jangan sembarangan Memvonis/menuduh Syirik!!!




SYIRIK ( الشرك )
Jangan sembarangan Memvonis/menuduh Syirik!!!
Pahami dulu apa itu Syirik!!!

Oleh : donnieluthfiyy

Syirik terbagi menjadi 2 : Pertama adalah Syirik Akbar (Besar) dan yang kedua adalah Syirik Ashgar (Kecil), adapun perbedaan keduanya adalah :
1.       Syirik Akbar tidak diampuni dosanya kecuali dengan Taubat Nasuha, sedangkan Syirik Ashgar terjadi perbedaan pendapat dikalangan Ulama, maka dikatakan bahwasannya Syirik Ashgar terjadi dibawah kehendak (Atas keinginan Sendiri), dan ada dikatakan bahwa Pelaku Syirik Ashgar ketika meninggal dunia maka wajib baginya Adzab Akhirat, tetapi hanya bersifat sementara (Tidak selamanya).
2.       Syirik Akbar menjadikan hilangnya seluruh amal, sedangkan Syirik Ashgar tidak menjadikan hilang seluruh amal, tetapi hanya amal yang berbarengan dengan Syirik Ashgarnya saja.
3.       Syirik Akbar mengeluarkan pelakunya dari Agama Islam, sedangkan Syirik Ashgar tidak megeluarkan pelakunya dari Agama Islam jika ia masih mengamalkan seperti apa yang diamalkan orang Islam.
4.       Pelaku Syirik Akbar akan kekal selamanya di Neraka, sedangkan Pelaku Syirik Ashgar tidak, namun ia akan diperlakukan seperti para pelaku Dosa Besar.
5.       Pelaku Syirik Akbar dihalalkan diri dan hartanya, sedangkan Pelaku Syirik Ashgar sebaliknya, karena pelaku Syirik Ashgar adalah masih seorang Mu’min dan Muslim hanya saja kurang imannya. (Sumber : al Madkhal li dirasat al 'aqidah al Islamiyyah - Ibrahim Ibn Muhammad al Buraykan).

Selanjutnya Kriteria keduanya adalah sebagai berikut :
1.       Memposisikan Sekutu dengan landasan I’tiqod (Keyakinan), maka ini adalah Syirik Akbar. Contohnya : Seperti orang yang memiliki Keyakinan bahwa sesuatu bisa menciptakan sesuatu dari ketiadaan (Menyamakan dengan Sifat Khaliqnya Allah secara mutlak). Atau seperti Orang yang memiliki keyakinan bahwa sesuatu itu berhak di sembah, seperti halnya ibadah kepada Allah swt (Menyamakan Posisi Allah swt dalam hal Ibadah).
2.       Memposisikan Sekutu tanpa landasan I’tiqod (Keyakinan), Maka ini disebut dengan Syirik Ashgar. Contohnya : seperti orang yang bersumpah dengan selain nama Allah swt. Karena sumpah itu khusus dengan nama Allah, sehingga jika seseorang bersumpah dengan selain nama Allah swt namun tidak memposisikan sesuatu yang di pakai dalam sumpahnya tersebut sama posisinya dengan Allah swt secara mutlak, maka perbuatan ini masuk dalam kategori Syirik Ashgar. Seperti perkataan : “Saya bersumpah Demi Matahari (Tanpa meyakini bahwa matahari sama dengan Allah swt secara mutlak)”.

Dari keterangan diatas bisa disimpulkan bahwasannya Syarat terjadinya Syirik Akbar adalah dengan I’tiqod (Keyakinan) dan tempatnya adalah didalam Hati, sedangkan manusia tidak diberi wewenang untuk mengetahui Hati orang lain, maka Orang yang serampangan menuduh Syirik terhadap amaliah orang lain sangat berbahaya bagi dirinya sendiri Khususnya dan Umumnya bagi kehidupan sosial bermasyarakat. Kita sebagai manusia hanya bisa sekedar memberikan peringatan atau seruan kepada Umat agar berhati-hati terjatuh dalam kesyirikan, dengan menyampaikan batasan-batasannya, tanpa menuduh atau memvonis. Karena menuduh Syirik sama saja dengan menuduh Kafir.

Rasulullah saw bersabda :
وَلَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ وَمَنْ رَمَى مُؤْمِنًا بِكُفْرٍ فَهُوَ كَقَتْلِهِ.
“Dan melaknat seorang mukmin sama dengan membunuhnya, dan menuduh seorang mukmin dengan kekafiran adalah sama dengan membunuhnya.” (HR Bukhari).

أَيُّمَا رَجُلٍ قَالَ لِأَخِيْهِ : يَا كَافِرَ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَإِلاَّ رَجَعَتْ عَلَيْهِ.
“Siapa saja yang berkata kepada saudaranya,” Hai Kafir”. Maka akan terkena salah satunya jika yang vonisnya itu benar, dan jika tidak maka akan kembali kepada (orang yang mengucapkan)nya.” (HR Bukari dan Muslim).

لاَ يَرْمِى رَجُلٌ رَجُلاً بِالْفُسُوْقِ وَلاَ يَرْمِيْهِ بِالْكُفْرِ إِلاَّ ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ.
“Tidaklah seseorang memvonis orang lain sebagai fasiq atau kafir maka akan kembali kepadanya jika yang divonis tidak demikian.” (HR Bukhari).

Dalam Kitab Mafahim Yajibu An Tushahhah Karya Sayyid Muhammad Bin Alwi Al Maliki Rahimahullah Hal. 9, beliau mengatakan :
فإذا دعوت مسلماً يصلي ، ويؤدي فرائض الله ، ويجتنب محارمه وينشر دعوته ، ويشيد مساجده ، ويقيم معاهده ، إلى أمر تراه حقاً ويراه هو على خلافك والرأي فيه بين العلماء مختلف قديماً إقراراً وإنكاراً فلم يطاوعك في رأيك فرميته بالكفر لمجرد مخالفته لرأيك، فقد قارفت عظيمة نكراء ، وأتيت أمراً إدّاً نهاك عنه الله ودعاك إلى الأخذ فيه بالحكمة والحسنى.
“Jika engkau mengajak seorang muslim untuk mengerjakan shalat, dan melaksanakan kewajiban-kewajibannya kepada Allah swt, menjauhi perkara yang diharamkanNya, menyebarkan Dakwah, Membangun Masjid, dan menegakkan Syiar-syiarnya kepada perkara yang engkau nilai Haq (Benar), sedangkan ada orang yang memiliki pandangan berbeda denganmu, sedang para Ulama sendiri dalam perkara tersebut sejak dahulu berbeda pendapat, kemudian orang tersebut tidak mengikuti ajakanmu, lalu engkau menuduhnya kafir karena memiliki perbedaan pandangan denganmu, maka sungguh engkau telah melakukan sebuah kesalahan besar yang Allah swt telah melarangnya kepadamu, dan DIA telah menyeru engkau untuk mengambil cara dengan penuh Hikmah (Bijak) dan baik (dalam rangka Dakwah)”.


Sekarang mari kita mengenal Syirik berdasarkan dari beberapa pendapat Ulama :
قال ابن سعدي: "حقيقة الشرك أن يُعبَد المخلوق كما يعبَد الله، أو يعظَّم كما يعظَّم الله، أو يصرَف له نوع من خصائص الربوبية والإلهية"
“ Imam Ibnu Sa’adi ra berkata : Hakikat Syirik adalah ketika ada Makhluk yang di Ibadahi sama seperti Ibadah kepada Allah swt (Maksudnya dengan I’tiqod bahwa makhluk tersebut di posisikan seperti Allah swt), Atau diagungkan seperti mengagungkan Allah swt (Maksudnya Memposisikan diri bagaikan Hamba dengan Tuhannya), atau disejajarkan dengan sebagian dari ke-Khususan Sifat Allah swt dalam hal KetuhananNya (Maksudnya seperti menyamakan Sifat Khaliknya Allah yang tiada terbatas)”. (Taisirul Karim Al Rahman Juz 2 Hal. 499).

Imam Tabbari ra dalam Tafsirnya berkata berkenaan dengan Syirik :
قال الطبري "أن تجعل لله شريكا في عبادته ودعائه فلا تخلص له في الطلب منه وحده " تفسير الطبري
“Imam Tabbari ra telah berkata : (Syirik yaitu) Ketika engkau menjadikan sekutu bagi Allah swt didalam Ibadah kepadaNya dan berdo’a kepadaNya. Maka tiadalah kemurnian pada dirimu didalam mencari ke-Esaan Allah swt”.

Imam Al Qurthubi ra didalam kitab Mufahim Juz 6 Hal. 615 berkata :
أصل الشرك المحرم اعتقاد شريك لله تعالى في الهيته وهو الشرك الأعظم وهو شرك الجاهلية
“Asalnya Syirik adalah perkara haram dengan dibarengi keyakinan (I’tiqod) sekutu bagi Allah swt didalam wilayah ketuhananNya, dan ini adalah Syirik besar dan ini adalah Syirik kaum Jahiliyah”.

Imam Al Hafidz Ibnu Katsir ra dalam Tafsir Surat Yusuf ayat 106 Juz 2 Hal. 512, berkata :
الشرك الأعظم يعبد مع الله غيره
“Syirik besar adalah seseorang yang beribadah kepada Allah swt bersamaan dengan Ibadah kepada Selain Allah swt”. (Maksudnya dengan meyakini bahwa perkara lain tersebut sejajar dengan Allah swt).

Imam Abdul Qadir Al ‘Amri Al Dahlawi dalam Kitab Tudhihul Qur’an Juz 1 Hal. 105, berkata :
الشرك هو أن يعتقد المرء في غير الله صفة من صفات الله؛ كأن يقول: إن فلانا يعلم كل شيء، أو يعتقد أن فلانا يفعل ما يشاء، أو يدعي أن فلانا بيده خيري وشري، أو يصرف لغير الله من التعظيم ما لا يليق إلا بالله – تعالى.
“Syirik adalah ketika seseorang meyakini terhadap selainnya Allah swt dengan salah satu sifat dari beberapa sifat Allah swt; sebagaimana jika berkata : Sesungguhnya si Fulan mengetahui segala sesuatu (Maha Tahu adalah Sifat Khusus bagi Allah), atau meyakini bahwasannya si Fulan mampu berbuat sekehendaknya (Maha Kuasa adalah Sifat Khusus bagi Allah swt), atau menyebut (bersama I’tiqod) dengan sebutan bahwa dalam kekuasaan si Fulan-lah kebaikan dan keburukan (Keburukan dan kebaikan adalah mutlak milik Allah swt), atau menyematkan kepada selain Allah swt dari Keagungan/kebesaran sifat yang tidak pantas kecuali hanya dimiliki Allah swt (Seperti bersujud kepada selain Allah swt dengan dibarengi I;tiqod/keyakinan bahwa sesuatu tersebut memiliki kebesarannya Allah swt secara mutlak)”.
Para malaikat sendiri pernah diperintahkan Allah swt untuk bersujud kepada Nabi Adam as, maka selama sujud tersebut tidak dengan I’tiqod seperti Sujudnya Hamba kepada Allah swt maka tidak apa-apa. Seperti sujudnya Rakyat kepada Rajanya atau Sujudnya seorang anak dengan mencium kaki orang tuanya. Selama tidak memposisikan dan meyakini orangtuanya atau rajanya sebagai Tuhan, maka tidak apa-apa.

Sehingga bisa kita ambil kesimpulan bahwasannya perkara Syirik Akbar ini lebih ditekankan kepada keyakinan, karena hasilnya Iman adalah dengan keyakinan, maka dengan keyakinan itu pula Iman bisa hilang, yaitu menyekutukan keyakinan kepada Allah swt bersamaan keyakinan kepada selain Allah swt dengan Sifat-sifat mutlak yang hanya dimiliki oleh Allah swt.


Wallahu A’lam… Semoga bermanfa’at

Rabu, 13 September 2017

Kajian Hadits Merubah kemungkaran.



Kajian Hadits Merubah kemungkaran.

Oleh : donnieluthfiyy

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ( من رأى منكم منكرا فليغيره بيده ، فإن لم يستطع فبلسانه ، فإن لم يستطع فبقلبه ، وذلك أضعف الإيمان ) رواه مسلم.
Jika diterjemahkan tanpa menerjemahkan Isim Isyaroh “ Dzalika “ terlebih dahulu...
“ Dari Abi Sa’id Al Khudri ra, ia berkata : Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda : { Siapa orangnya yang melihat (suatu) kemungkaran maka (sebaiknya) ubahlah dengan tangannya, maka jika tidak mampu (ubahlah) dengan lisannya, maka jika tidak mampu (ubahlah) dengan hatinya, dan “Dzaalika” selemah-lemahnya Iman.

Sekarang coba kita bahas berkenaan dengan lafadz “ Dzaalika “.
Di dalam kamus Ma’ani menjelaskan berkanaan dengan lafadz tersebut.
ذالك إسم إشارة للبعيد ، مثناه « ذانك » في حالة الرفع ، و >> ذينك » في حالتي النصب والجر . جمعه « أولئك <<
“ Dzaalika adalah Isim yang menunjukan Isyarat kepada sesuatu yang jauh (Jarak Jauh), Adapun Tatsniyahnya yaitu << Dzaanika >> ketika dalam keadaan Rofa’, dan << Dzainika >> ketika dalam keadaan Nashob dan Jar. Adapun Jamaknya yaitu << Uulaaika >>.
Didalam Al Qur’an Allah swt menggunakan Lafadz “ Dzaalika “ ini, salah satunya dalam Surat At Thuur ayat 47 :
وَإِنَّ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا عَذَابًا دُونَ ذَٰلِكَ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
Dan sesungguhnya untuk orang-orang yang zalim ada azab selain Dzaalika. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
Ket : Lafadz “ Dzaalika “ pada ayat tersebut menunjuk kepada ayat-ayat sebelumnya, ayat-ayat yang sudah terlewati oleh beberapa kalimat, sehingga lafadz “ Dzaalika “ tersebut menunjukan kalimat yang jauh telah ditempatkan sebelumnya.

Kemudian juga Allah menggunakan Lafadz “ Dzaalika “ dalam surat Al Baqoroh ayat 68 :
قَالُواْ ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لّنَا مَا هِيَ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لاَّ فَارِضٌ وَلاَ بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَلِكَ فَافْعَلُواْ مَا تُؤْمَرونَ
Mereka menjawab: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina apakah itu". Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan Usia antara Dzaalika; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu".
Ket : Lafadz “ Dzaalika “ pada ayat tersebut menunjuk kepada sesuatu yang tidak di sebutkan dalam ayat tersebut, artinya menunjuk kepada sesuatu yang jauh. Jadi yang dimaksud “ Dzaalika “ itu apakah remaja atau setengah baya, karena tidak muda dan tidak juga tua. Umur Sapi rata-rata adalah antara 18 s/d 22 Tahun, jadi jika di ambil pertangahan usia tersebut adalah antara 9 s/d 11 Tahun, itulah yang dimaksud tidak muda dan tidak juga tua. Dan Allah swt tidak menyebutkannya dalam ayat tersebut sehingga Allah swt menggunkan Isim Isyaroh “ Dzaalika “ dalam menunjuk kepada Lafadz yang tidak disebutkan tersebut, karena jauh dari keberadaan lafadznya.

Kemudian Lafadz “ Dzaalika “ juga Allah swt sebutkan dalam Surat An Nisa ayat 3 :
وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil[265], maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. “ Dzaalika “ adalah lebih dekat (kebaikannya) agar tidak berbuat aniaya”.

Kemudian kita Kaji ayat tersebut dari Tafsir Baghowi :
ما ملكت أيمانكم أي: ما ينفذ فيه أقاسمكم ، جعله من يمين الحلف ، لا يمين الجارحة "ذلك أدنى"،أقرب، " أن لا تعولوا " أي: لا تجوروا ولا تميلوا، يقال: ميزان عائل،أي: جائر مائل، هذا قول أكثر
{ budak-budak Aiman (Atas Sumpah) yang kamu miliki : yaitu Budak-budak yang melaksanakan dengan Sumpah, yang dijadikan dari Sumpah yang benar atas nama Allah, bukan sumpah untuk menyakiti “ Dzaalika “ lebih dekat “ Aqrobu “ agar tidak aniaya” maksudnya : kalian Tidak berbuat curang dan tidak berbuat seleweng, Dikatakan : Sebagai keseimbangan keluarga, maksudnya : dari orang yang curang dan seleweng, ini adalah perkataan kebanyakan dari para Mufasir. (Tafsir Baghowi)

Jadi lafadz “ Dzaliika “ dalam ayat tersebut menunjuk kembali kepada kalimat pertama yang telah terlewati beberapa kalimat, yaitu :
وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا”    " ذلك أدنى أن لا تعولوا "
Jika Kalian (punya) ke-Khawatiran tidak bisa berbuat adil “     “ Itu lebih dekat (kebaikannya) agar tidak aniaya “.
Karena ayat tersebut berkenaan dengan :
كان عروة بن الزبير يحدث أنه سأل عائشة رضي الله عنها " وإن خفتم أن لا تقسطوا في اليتامى فانكحوا ما طاب لكم من النساء "قالت: هي اليتيمة تكون في حجر وليها فيرغب في جمالها ومالها ويريد أن يتزوجها بأدنى من سنة نسائها ، فنهوا عن نكاحهن إلا أن يقسطوا لهن في إكمال الصداق، وأمروا بنكاح من سواهن من النساء.
Adalah Urwah Bin Zubair bercerita, bahwa sesungguhnya ia bertanya kepada Sayyidatuna Aisyah rah berkenaan ayat : “ Dan jika kamu Khawatir tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi “ Sayyidatuna Aisyah rah berkata : Mereka adalah wanita yatim yang ada dalam asuhan walinya, maka walinya tersebut menyukai pada kecantikannya dan hartanya dan menginginkan untuk menikahinya dengan dekat dari tahun (pernikahan) istrinya, maka mereka (Para Walinya) dilarang untuk menikahinya kecuali jika (mampu) berbuat adil kepada mereka di dalam sempurnanya nafkah, dan mereka diperintahkan untuk menikahi wanita selain mereka. “
Ket : Jadi jelas berdasarkan Asbabun Nuzulnya maksud dari Lafadz “ Dzaalika “ pada ayat tersebut kembali kepada kalimat awal yang maksudnya : Jika kalian memiliki ke-khawatiran tidak bisa berbuat adil kepada mereka itu lebih dekat kebaikannya agar tidak menjadi aniaya kepada mereka. Jangan dipaksakan karena menyukai pada kecantikan dan hartanya, sedang Istrinya akan merasa tersakiti.

Sekarang silahkan di maknai sendiri kemanakan Isim Isyaroh “ Dzaalika “ itu kembali dalam Hadits merubah kemungkaran tersebut.

“Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar” (QS. al-Baqarah: 153)

قيل : الصبر هو إمساك القلب عن الإعتراض على التقدير (سلوة العارفين وأنس المشتاقين – لأبي حلف الطبري.  ص : 103 )
“Ada dikatakan (Oleh Ulama Shufi) : Sabar adalah Menahan hati dari menyelisihi Takdir “. ( Kitab Salwah Al Arifin wa Unsul Musytaqin – Oleh Abu Halaf At Thobari hal. 103).

Tambihun : sekedar analogi... Ketika kita akan memecahkan sebuah batu maka kita akan mencoba menggunakan : 1. Tangan untuk memecahkannya, jika tidak bisa maka pake 2. palu besar, dan jika masih tidak bisa maka 3. pake Alat peledak (Bom). sehingga urutannya dari yang terlemah ke yang lebih kuat dan jika masih juga belum bisa maka dipakailah yang paling kuat.
Sekarang cobalah terapkan urutan dalam hadits merubah kemungkaran tersebut, karena jika urutannya dibalik maka maksudnya jadi tak jelas...
contoh : Ketika akan memecahkan Batu, 1. pakai Alat Peledak, jika tidak mampu maka 2. pakai Palu besar, jika tidak mampu maka 3. pakai Tangan ?????, nah disini kalimatnya menjadi tak jelas maksudnya...
seharusnya ketidak mampuan itu selalu akan menuju yang lebih memperkuat di urutan berikutnya

Qolbun adalah bagian terkuat dan terpenting dalam diri manusia, yg juga merupakan tempatnya iman...

Wallahu A’lam... Semoga ada manfaatnya.


Rabu, 09 Agustus 2017

Kita Tidak akan pernah bisa sama...





Kita Tidak akan pernah bisa sama...

Oleh : donnieluthfiyy

Menyatukan pemikiran dan penafsiran serta cara pandang memang amat sangat sulit dan memang hampir mustahil kecuali dengan Hidayah Allah swt...
Manusia diciptakan dengan Tabi'at, sifat dan karakter yang berbeda-beda, dan itu pula yang mempengaruhi perbedaan dalam cara pandang dan pemikirannya...
Walaupun sama yang dibaca atau sama-sama menyaksikan namun tetap saja ada celah perbedaan dalam memahami serta menafsirkannya...
Kenapa bisa seperti itu....
Hakikinya adalah supaya Manusia bisa menyadari bahwasannya dirinya hanyalah makhluk yang lemah dan tak berdaya dengan segala kekurangannya...
Dalam Memahami Ilmu-ilmu Agama... para ulamapun berbeda-beda dalam memahami dan menafsirkan...
Seperti dalam Fiqih terdapat 4 Madzhab dan masing-masing Madzhabpun memiliki manhaj yang berbeda dalam berijtihad...
begitupun dalam Ilmu Tafsir bahkan Nahwu (Tata Bahasa)...
Jika kita sebagai manusia masih belum menyadari Fitrahnya yang diciptakan berbeda-beda, serta masih belum bisa menerima adanya perbedaan, maka sungguh rugi kehidupannya... karena hanya akan terus tersiksa oleh suatu keadaan yang merupakan Sunatullah yang secara pasti Ia tidak akan bisa dan kuasa untuk merubahnya...
Maka berenanglah mengikuti Arus sungai agar tidak kelelahan dan membuang energi cuma-cuma... namun janganlah menjadi sampah ataupun limbah yang merugikan bagi kebersihan dan kesucian air sungai tersebut...
Allah swt berfirman dalam Surat Ar-Rum ayat 22

وَمِنْ آَيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.

Allah swt berfirman Surat Al-Hujurat ayat 13

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Wallahu A'lam....

Minggu, 19 Maret 2017

Janganlah sesama muslim saling mencela dengan sebutan binatang yang buruk, Fasiq, Munafiq atau Kafir. Dan tidak pula dengan panggilan Yahudi, Nasrani setelah ia beriman.



Janganlah sesama muslim saling mencela dengan sebutan binatang yang buruk, Fasiq, Munafiq atau Kafir. Dan tidak pula dengan panggilan Yahudi, Nasrani setelah ia beriman.

Oleh : donnieluthfiyy

Surat Al Hujurat Ayat 11 dilihat dari berbagai Tafsir
   يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah ٍSuatu Kaum mengejek (mencemooh) Kaum yang lain, boleh Jadi yang di-ejek (dicemooh) itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan mengejek (mencemooh) kumpulan lainnya, boleh Jadi yang di-ejek (Dicemooh) itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri, dan janganlah kalian semua saling mencela (memanggil) dengan julukan yang buruk. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) Fasiq sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.

Dalam tafsir Abi Hatim Ar Razi menafsirkan berkenaan dengan Lafat ayat berikut ini..
عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ،"﴿وَلا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ﴾، قَالَ: أَنْ يَقُولَ: إِذَا كَانَ الرَّجُلُ يَهُودِيًّا فَأَسْلَمَ: يَا يَهُودِيُّ، يَا نَصْرَانِيُّ، يَا مَجُوسِيُّ، وَيَقُولُ لِلرَّجُلِ الْمُسْلِمِ: يَا فَاسِقُ".
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Firman Allah swt “dan janganlah kalian semua saling mencela (memanggil) dengan julukan yang buruk “, beliau berkata : Maksud larangan tersebut adalah jika berkata seperti ini: “ Ketika seorang laki-laki Yahudi masuk Islam ; (Mencelanya dengan memanggil) Wahai Yahudi, Wahai Nashrani, Wahai Majusi, dan berkata kepada seorang laki-laki Muslim (dengan panggilan) Wahai Orang Fasiq.”

Dalam Tafsir Baghowi, beliau mufasir berkata berkenaan dengan Ayat ini pada lafadz....
ولا تنابزوا بالألقاب "، التنابز: التفاعل من النبز، وهو اللقب، وهو أن يدعى الإنسان بغير ماسمي به. قال عكرمة : هو قول الرجل للرجل: يا فاسق يا منافق يا كافر. وقال الحسن : كان اليهودي والنصراني يسلم، فيقال له بعد إسلامه يا يهودي يا نصراني، فنهوا عن ذلك. قال عطاء : هو أن تقول لأخيك: يا كلب يا حمار يا خنزير. وروي عن ابن عباس قال: (( التنابز بالألقاب )): أن يكون الرجل عمل السيئات ثم تاب عنها فنهي أن يعير بما سلف من عمله. " بئس الاسم الفسوق بعد الإيمان "، أي بئس الاسم أن يقول: يا يهودي أو يا فاسق بعد ما آمن وتاب، وقيل معناه: إن من فعل ما نهي عنه من السخرية واللمز والنبز فهو فاسق، وبئس الاسم الفسوق بعد الإيمان، فلا تفعلوا ذلك فتستحقوا اسم الفسوق، " ومن لم يتب "، من ذلك، " فأولئك هم الظالمون ".
“ Dan janganlah kalian semua saling mencela (memanggil) dengan julukan yang buruk “, Lafadz “  التنابز  “ : (adalah) Perbuatan Mencela, Yaitu mencela dengan Laqob (Julukan), Yakni memanggil seseorang dengan panggilan yang bukan dirinya. Berkata Sayyidah Ikrimah rah : “ Lafadz  التنابز   adalah ucapan seorang laki-laki kepada laki-laki lain (dengan ucapan) Wahai Orang Fasiq, Wahai Orang Munafiq, Wahai orang kafir “. Dan Imam Hasan ra berkata : Adalah seorang Yahudi dan Nashrani yang masuk Islam, maka mereka berdua setelah menjadi Muslim dipanggil dengan panggilan Wahai Yahuid... Wahai Nashrani..., Maka para sahabat melarang hal tersebut “. Imam Atho’ berkata : “ Lafadz  التنابز    adalah jika engkau memanggil kepada Saudaramu (Muslim) : Wahai Anjing... Wahai Keladai... Wahai Babi...
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra (berkenaan dengan Lafadz dalam Surat Hujurat – 11) : ((التنابز بالألقاب  )) Ketika ada seorang laki-laki yang punya amal jelek kemudian ia bertaubat dari amal jeleknya maka Allah swt melarang untuk menjelek-jelekan amalnya yang telah lalu itu. “ Sejelek-jeleknya sebutan setelah beriman adalah sebutah Fasiq “, Yakni sejelek-jeleknya sebutan adalah jika mengatakan : Wahai Yahudi.... Wahai Nashrani...  Wahai Fasiq... setelah perkara keimanan dan pertaubatan, Dan dikatakan maknanya yaitu : Sesungguhnya seseorang yang melakukan suatu perkara yang telah di larang baginya dari perbuatan mengejek, Memaki dan mencela maka ia adalah orang yang Fasiq, dan sejelek-jeleknya sebutan adalah sebutan Fasiq setelah berimannya, Maka janganlah kalian semua melakukan hal tersebut, (Jika melakjukannya) maka kalian semua berhak atas sebutan Fasiq (pula), “ Dan siapa orangnya tidak bertaubat “, dari perbuatan tersebut, “Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim “.

Di dalam Tafsir Alusy, meriwayatkan sebuah hadits berkenaan dengan ayat tersebut sebagai berikut :
وأخرج البخاري وأبو داود والترمذي والنسائي وابن ماجه وجماعة عن ابن جبيرة بن الضحاك قال : فينا نزلت في بني سلمة ( ولا تنابزوا بالألقاب ) قدم رسول الله صلى الله تعالى عليه وسلم المدينة وليس فينا رجل إلا وله اسمان أو ثلاثة فكان إذا دعا أحدا منهم باسم من تلك الأسماء قالوا : يا رسول الله إنه يكرهه فنزلت ( ولا تنابزو بالألقاب(
Hadits di riwayatkan oleh Imam Bukhori ra, Imam Abu Dawud ra, Imam Tirmidzi ra, Imam Nasai ra, Imam Ibnu Majah ra, dan Jama’ah dari Imam Ibnu Jabiroh Ad Dhohak ra berkata : Kepada kami turun ayat kepada Bani Salamah, ayat (ولا تنابزوا بالألقاب  ) Rasulullah saw datang ke madinah dan tiada diantara kami seorang laki-laki kecuali bagi mereka dua sebutan atau tiga sebutan, maka adalah ketika seseorang memanggil seorang diantara mereka dengan sebutan-sebutan seperti itu (Maksudnya panggilan buruk terhadap julukan), maka para sahabat berkata : Yaa Rasulullah sesungguhnya ia membencinya. Maka turunlah ayat (dan janganlah kalian semua saling mencela (memanggil) dengan julukan yang buruk ).
Artinya dalam kebencian-pun kita dilarang untuk mencela seseorang dengan julukan/ sebutan yang buruk.

Imam Ibnu Katsir didalam tafsirnya mengomentari berkenaan dengan ayat ini, sebagai berikut :
ينهى تعالى عن السخرية بالناس وهو احتقارهم والاستهزاء بهم, كما ثبت في الصحيح عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: «الكبر بطر الحق وغمص الناس ـ ويروى ـ وغمط الناس» والمراد من ذلك احتقارهم واستصغارهم, وهذا حرام فإنه قد يكون المحتقر أعظم قدراً عند الله تعالى
Allah swt melarang dari ejekan kepada manusia (secara Umum) yaitu memandang rendah kepada mereka, dan memperolok (Meremehkan) mereka, Seperti juga yang di tetapkan di dalam hadits Shahih dari Rasulullah saw, Beliau saw bersabda : << Dosa besar adalah menyalah gunakan perkara yang hak dan meremehkan manusia (Secara umum) – dan riwayat lain meriwayatkan – memandang rendah manusia>> adapun maksud dari hal tersebut adalah memandang rendah  manusia dan menganggap kecil manusia, dan hal ini adalah haram karena hal tersebut nyata bahwasannya merendahkan (Makhluk) adalah paling agungnya kuasa Allah swt.


Wallahu A’lam.... Semoga bermanfa’at...

Minggu, 29 Januari 2017

Menjadi Orang yang Baik, Merasa Baik dan Aib diri sendiri.




Untuk menjadi orang baik maka perlu ada ikhtiar yg mengarah kepada kebaikan yang di ridloi Allah SWT.
Yang menjadi Masalah adalah ketika proses ikhtiar untuk menjadi orang yang baik, kemudian muncul perasaan sudah baik??? Hal ini yang kemudian akan merusak kebaikan...

Perlu diketahui... sesungguhnya kebaikan itu pada hakikatnya adalah karena Allah SWT menutupi Aib-aib yang ada pada diri hambaNya, Aib2  HambaNya tersebut oleh Allah SWT ditutupi, sehingga orang lain hanya melihat kebaikan saja yg ada pada hambaNya tersebut.... tanpa Allah SWT menutupi aib2 pada HambaNya maka HambaNya tidak akan bisa menjadi Hamba yg Baik di hadapan Allah SWT maupun di mata manusia, sebab ada dikatakan :

الانســـان محــل الخطاء و النسيان و خير الخطاء التوبــون
“ Sesunggunya manusia itu tempatnya salah dan lupa sebaik-baiknya kesalahan adalah dengan bertaubat kepada Allah “.

Jadi telah jelas pada hakikatnya tiada kebaikan yang ada pada seorang hamba, kecuali Allah SWT menolong hambaNya dan menutup Aib2 yang ada pada diri hambaNya tersebut...

Syarat agar Allah SWT menutupi aib2 yg ada pada diri kita adalah.... Jangan membuka-buka Aib2 orang lain... Jangan mencari-cari kesalahan orang lain dan jangan menyebar-nyebarkan Aib orang lain yang kita dengar atau lihat.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلم يَدْخُل الإيمَانُ قَلْبَهُ ! لاَ تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِيْنَ وَلاَ تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ بَيْتِهِ

"Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya akan tetapi iman belum masuk kedalam hatinya, janganlah kalian mengghibahi kaum muslimin, dan janganlah pula mencai-cari aib mereka, sesungguhnya barang siapa yang mencari-cari aib saudaranya sesama muslim maka Allah akan mencari-cari kesalahannya, dan barangsiapa yang Allah cari-cari kesalahannya maka Allah akan mempermalukannya meskipun ia berada di dalam rumahnya" (HR Abu Dawud no 4880)

Kemudian banyaklah berdo’a agar Allah SWT berkenan menutupi Aib2 yang ada pada diri kita, dan sebagian dari do’a nya adalah sebagai berikut...

اَللُّهُمَّ لاَ تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا اِلاَّ غَفَرْتَهُ، وَلاَ هَمًّا اِلاَّ فَرَّجْتَهُ، وَلاَ عَيْبًا اِلاَّ سَتَرْتَهُ، وَلاَ دَيْنًا اِلاَّ قَضَيْتَهُ، وَلاَ سَقَمًا اِلاَّ شَفَيْتَهُ، وَلاَ حَاجَةً اِلاَّ قَضَيْتَهَا وَيَسَّرْتَهَا، فَيَسِّرْ لَنَا اُمُوْرَنَا، وَاشْرَحْ صُدُوْرَنَا، وَنَوِّرْ قُلُوْبَنَا، وَاخْتِمْ بِالصَّالِحَاتِ اَعْمَالَنَا

“ Wahai Allah tiada dosa kami melainkan Engkaulah yang mengampuninya. Tiada kesedian melainkan Engkaulah yang menghilangkannya.Tiada ‘aib bagi kami melainkan Engkaulah yang menutupinya. Tiada hutang kami melainkan Engkaulah yang (memudahkan) pembayarannya. Tiada penyakit pada kami melainkan Engkaulah yang menyembuhkannya. Tiada keinginan kami melainkan Engkaulah yang memenuhi dan yang meudahkanya, maka berilah kemudahan dalam semua urusan kami, bukalah hati kami, terangilah kalbu kami dan akhirilah dengan kebaikan semua amal ibadah kami “.

Wallahu A'lam... Semoga ada manfa'atnya....

Kamis, 26 Januari 2017

Ahlul Haq Menurut Imam Syafi'i ra



Siapakah ِAhlul Haq itu ??
قال الإمام الشافعي: "تتبع سهام العدو تعرف أهل الحق"
Imam Syafi'i ra berkata: " Ikutilah kemanah arah panah-panah musuhmu (diarahkan) maka engkau akan mengenali orang-orang yang benar (Haq).
Dalam atsar yang lain Imam Syafi’i berkata :
إتبع سهام العدو ترشدك إلى الحق ، فتأملوا من إجتمع عليه الكافر والمنافق والمتأسلم والعميل والخائن لتعرف الحق وأهله
“ Ikutilah kemanah arah panah-panah musuhmu (diarahkan), maka engkau akan di pandu menuju perkara yang Haq. Maka kemudian berharaplah kalian kepada orang yang berkumpul diantara mereka, orang kafir, munafiq, Murtad, Agen Yahudi dan Nasrani serta pengkhianat untuk mengenali perkara Haq dan orang-orangnya. “
Perkataan Imam Syafi’i menunjukan bahwa orang-orang yang benar (Haq) alamatnya adalah banyaknya panah-panah musuh diarahkan kepadanya, panah itu bisa berarti fitnah ataupun peperangan, namun berkenaan dengan hal ini mereka para Ahlul Haq tiada lain pastilah seorang Waliyullah, sedangkan Sifat dan Akhlaq Para Waliyullah adalah mereka yang tiada menyukai untuk membalas Fitnahan, cacian dan makian dari musuh2nya, kecuali jika diperangi dengan pedang...
Beberapa dari kisah2 para Wali mereka adalah manusia mulia sangat akrab dengan fitnah serta hujatan. Diantaranya adalah Kisah Imam Ali Zainal Abidin putra dari Imam Husein ra, dimana beliau mengabdikan seluruh hidupnya untuk memberi pencerahan dan pengajaran kepada umat akan Islam dan kebenaran yang berpusat di Masjid Nabawi, dan beliau adalah orang yang ahli Ibadah sehingga di juluki As-Sajjad. Dikisahkan beliau juga setiap malam menggotong sekarung gandum untuk diberikan kepada orang-orang faqir dan miskin disekitarnya dan tiada seorangpun yang mengetahuinya, hingga setelah beliau wafat barulah penduduk mengerti bahwasannya yang setiap malam memberikan gandum di pintu-pintu rumah mereka adalah Imam Ali Zainal Abidin, Seorang yang Haq selalu menyembunyikan amalnya dari manusia agar terjaga keikhlasan amalnya.
Imam Ali Zainal Abidin tidak pernah berbaur dengan dunia politik yang saat itu kekuasaan daulah Islamiyah di pegang oleh Dinasti Umayah, tidak sedikit fitnah, hujatan dan makian yang ditujukan kepadanya, namun beliau tiada membalasnya dan hanya mengadukannya kepada Allah SWT, beliau berkata : “ Yaa Robb, dalam setiap masalah yang ku hadapi, aku telah melihat kelemahanku, aku telah menyadari ketidak mampuanku “. Fitnah demi fitnah terus ditujukan kepada beliau hingga wafatnya. Namun seorang Waliyullah memiliki kasih sayang yang amat luas kepada Makhluk Allah, maka semua itu hanya ia hadapi dengan tawakal dan memohon kekuatan dari Allah SWT serta hanya kepadaNya ia berkeluh kesah.
Begitupun banyak kisah2 para ahlul Haq (Waliyullah) yang hidupnya penuh dengan fitnah dari musuh2nya, namun tiada ia membalasnya, bahkan lebih banyak mendo’akan untuk mereka (Musuh2nya).
Wallahu A'lam.... semoga ada manfa'atnya...

Kamis, 15 Desember 2016

Maksud manusia sama dimata Allah SWT



Coba renungkan sejenak...
Fikirkan dengan Jujur berdasar fakta dan pengamatan apa adanya yang terjadi...
Begini...
Bahwasannya... dari mulai yang dianggap mulia entah ia adalah seorang Da'i, pejabat, dokter, guru, artis, aktor, Prajurit, Polisi, hingga yang dinilai hina seperti buruh rendahan, preman, pencuri, PSK, penari bugil, bandar narkoba maupun judi, penipu dan pengemis...
Kesemuanya tiada lain adalah sama berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup dan keluarganya dengan cara dan usahanya masing2... untuk dunianya... untuk kenyamanan hidupnya... untuk perut dan hajat2 dunianya...
Hanya saja ada yg beruntung diberi hidayah dan kesempatan...
Dan ada yang belum sampai kepadanya kebaikan dan kesempatan...
Dan kesemuanya itu tidak lepas dari keadilannya Allah SWT...
Lalu apa hak kita untuk memperlakukan dan menilainya secara berbeda...
Jika mereka semua dalam perjuangan itu adalah untuk dunianya semata... lalu apa bedanya???
Rasulullah SAW ketika menikah dengan Sayyidatina Khadijah adalah orang yang kaya raya... kemudian beliau menggunakan harta dan dunianya itu untuk perjuangan menyelamatkan umatnya agar selamat di akhirat kelak... sampai di akhir hayat beliau adalah seorang yang faqir, bahkan termasuk laqobnya beliau SAW adalah dengan sebutan Abal Fuqoro... dan tidak terwariskan sedirham pun untuk keturunannya... ini menunjukan perjuangan beliau SAW bukan untuk dunianya semata....
Coba renungkan dengan bijak...
Mudah2an kita akan bisa melihat setiap sesuatu dengan kacamata Rohmat Allah dan RasulNya...
 أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ* حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ* كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ* ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ* كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ* لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ* ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ* ثُمَّ تُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ 
[ سورة التكاثر ]

Jumat, 02 Desember 2016

Hakikat Bersyukur.



Bertambahnya Dunia berarti bertambahnya Tugas sebagai Hamba.

Kekayaan Adalah amanat dan bertambahnya tugas sebagai hamba Allah SWT...
Ketika seseorang bertambah dunianya, maka bukan berarti hal tersebut menjadikannya hamba yang hanya menikmati keadaannya, bersantai dan merasa berbangga hati, serta ketakutan yang berlebihan jika apa yang telah dimilikinya itu sirna darinya atau rusak (karena cinta yang berlebihan dan rasa memiliki yang melupakan sang Pemberi).
Kemudian Justru seharusnya bertambah dunianya itu juga seiring merasa bertambahnya amanat tugas sebagai kholifah dimuka bumi untuk menjalankan Tugas sebagai Hamba Allah SWT... bertambah tugasnya untuk menolong orang lain, bertambah tugas untuk membantu dakwah para ulama, bertambah tugas untuk menghidupkan syi'ar Islam dan lain sebagainya... semua itu tiada lain karena kemampuannya untuk melakukan itu semua, sebab Allah telah memberikan kelebihan kepadanya...

الباجوري ١/٢٨٥

.إختلف هل الأفضل الغني الشاكر أو الفقير الصابر والمعتمد أن الغني الشاكر أفضل خلافا للبلقيني ولا ينافيه ما ورد من دخول الفقراء قبل الأغنياء بنصف يوم من أيام الآخرة لأنه قد يوجد في المفضول ما لا يوجد في الفاضل .
" Ulama berbeda pendapat berkenaan apakah lebih utama orang kaya yang bersyukur ataukah orang faqir yang bersabar, dan pendapat yang lebih dikuatkan adalah lebih utama orang kaya yang bersyukur (termasuk caranya mensyukurinya yaitu seperti yang tertulis diatas). Berbeda dengan pendapat Imam Bulquniy (yang berpendapat lebih utama orang faqir yang sabar). Namun bukan sebuah ketidak mungkinan masuknya orang fakir ke dalam surga adalah sebelum orang kaya dengan selisih satengah hari dari hari-hari akhirat. Sebab didalam surga tidak ada hari yang istimewa bagi orang yang lebih diutamakan karena sebuah keistimewaan dan tidak juga bagi orang yang lebih utama. (Al Bajuriy Juz 1 Hal. 285)

List Video