Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Maret 2020

Musibah dan Bencana adalah Kehendak-NYA, Kita Musti Sabar menjalani.


Musibah dan Bencana adalah Kehendak-NYA, Kita Musti Sabar menjalani.
Kajian Tafsir Surat Al Baqoroh Ayat 155.

Oleh : donnieluthfiyy
Rabu 18/03/2020 : 16:30 Wib.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Dalam menafsirkan ayat tersebut para mufassir menafsirkannya sbb :

Makna pada Lafadz الْخَوْفِ (Ketakutan), Para mufassir sepakat bahwasannya maksud dari lafadz tersebut  adalah Ketakutan terhadap Musuh. Sedangkan Dalam Tafsir As Sa’adiy Makna pada Lafadz الْخَوْفِ (Ketakutan Terhadap Musuh) dan الْجُوعِ (Kelaparan Atau Paceklik) dimaknai bahwasannya sedikit saja dari keduanya, artinya sedikit Ketakutan dan Sedikit kelaparan, sebab jika makna Ketakutan dan Kelaparan secara Sempurna, maka Umat pastilah akan binasa.

Adapun Makna pada Lafadz وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ  (kekurangan harta) dalam Tafsir Sa’adiy yaitu berkurang segalanya, termasuk keberkahan di dalam Harta, berupa harta yang mencelakaknnya, mengambil Harta dengan Dholim dari Penguasa yang Dholim, di ibaratkan seperti orang-orang yang menentang Penguasa Dholim namun mengharapkan mendapat bagian dari hartanya. Adapun Imam Baghowi dan para Mufassir lainnya memaknainya sebagai kerugian dan kebangkrutan.

Kemudian berkurangnya juga Jiwa yang menjadi makna pada lafadz وَالْأَنْفُسِ  Athaf kepada Lafadz وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ Maksud dari berkurangnya Jiwa yaitu Dengan Pembunuhan (saling Bunuh) dan kematian dan dikatakan dengan Kesakitan (wabah Penyakit) serta menua (Cepat menua dengan ditandai Uban). Imam As Sa’adi dalam tafsirnya menafsirkan berkurangnya Jiwa dengan maksud kepergian orang-orang yang tercinta seperti Sanak Family, kerabat dan sahabat, dari Kesakitan (sebab Penyakit) di tubuh para Hamba, atau Tubuh orang-orang yang dicintainya.

Dan berkurangnya juga Buah-buahan وَالثَّمَرَاتِ  maksudnya yaitu Malapetakan pada Buah-buahan (ketiadaaan Buah-buahan/ makanan), Di kisahkan dalam Tafsir Baghowi dari Perkataan Imam Syafi’i ra bahwasannya makna Berkurangnya Buah-buahan yaitu kematian Anak keturunan, sebab anak keturunan adalah buah hati orang tuanya. Dijelaskan dalam Tafsir Al Waseet bahwasannya kesemua Bala-Musibah tersebut adalah untuk menampakan sejatinya seorang Hamba apakah mampu bersabar atau tidak, maka Allah swt telah mempersiapkan Ganjaran bagi merreka yang mampu bersabar dan tetap dalam ketaatan, dan Allah swt juga telah mempersiapkan Siksa atau Akibat bagi mereka yang Tidak sabar, banyak berkeluh kesah, gelisah serta bersedih hati, juga ketiadaan untuk tetap Tunduk Patuh pada Urusan yang Allah swt telah buat.

Masih di dalam Tafsir Al Waseet Imam Ar Razi ra telah berkata : Adapun Hikmah didalam mendahulukan untuk mengenali Ujian Musibah tersebut (Pada ayat tersebut). Sebelum sampainya persitiwa Musibah tersebut, terdapat beberapa Wajah ;

1.       Agar dirinya tetap menetap dalam kesabaran terhadap Musibah, sehingga saat terjadi Musibah maka akan terjauh dari Gelisah, berkeluh kesah serta bersedih hati, dan di ringankan atas mereka setelah berlalunya Musibah tersebut.

2.       Sesungguhnya jika mereka telah mengetahui bahwa mereka kelak akan terhubung dengan Ujian Musibah tersebut maka bertambah kuatlah rasa takutnya kepada Allah swt, maka jadilah Rasa takutnya tersebut sebagai perkara yang mendahului kepada Bala Musibah (Sehingga tidak kaget lagi saat terjadinya), maka berhak-lah mereka atas Tambahan ganjarannya.

3.       Bahwa sesungguhnya orang-orang Kafir tatkala menyaksikan Baginda Nabi saw beserta para Sahabatnya Istiqomah dan menetap dalam Agamanya, bersamaan apapun yang terjadi pada diri mereka dari sempurnanya kesabaran mereka atas Ujian dan lapar, maka mereka dapat mengetahui bahwa sesungguhnya Kaum (secara Umum) hanya memilih Agama Islam ini sekedar untuk memutusnya dari kenyataan Agama, maka kemudian Allah menyeru mereka kepada tambahan renungan/Introspeksi yang terdapat dalam Firman-firmannya. Dan yang telah dimaklumi secara dhohir bahwa sesungguhnya pengikut tatkala mengetahui bahwa orang yang diikutinya berada dalam besarnya Ujian disebabkan Pijakan Keyakinan yang menolongnya. Kemudian mereka memandang Pijakan Keyakinan tersebut sebagai tempat berpijak, yang menjadikan hal tersebut pengakuan bagi mereka kepada yang di ikutinya dari apapun yang dilihatnya sebagai Ma’rifatul Haal bukan sebagai Beban atasnya di dalam Pijakan keyakinannya tersebut.

4.       Bahwa sesungguhnya Allah swt mengabarkan berkenaan akan datangnya Musibah tersebut sebelum benar-benar kedatangannya adalah menjadi sebuah misteri yang menakjubkan.

5.       Sesungguhnya sebagian dari orang-orang munafiq ada yang tampak jelas mengikuti Rasul saw dengan Tamak didalam Harta dan keluasan Rizki, maka tatkala Allah swt mengabarkan kepada mereka dengan akan diturunkannya Ujian Musibah tersebut, maka dari situlah akan bisa dibedakan antara orang-orang munafiq dengan orang-orang yang Bersesuaian dengan Allah swt dan Rasul-Nya.

6.       Sesungguhnya ke-Ikhlasan seorang Insan dalam keadaan di Uji dengan Musibah, namun tetap kembali kepada Pintu Rahmat Allah swt, (Amat disayangkan) kebanyakan ke-Ikhlasannya adalah demi keadaan apa-apa yang didapatkannya untuk Dunianya. Maka jadilah Hikmah didalam Ujian Musibahnya adalah seperti apa yang didapatnya tersebut.

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ  Kemudian berilah Kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, dan yang di maksud الصَّابِرِينَ dalam Lafadz tersebut termasuk Baginda Nabi Muhammad saw di dalamnya, sehingga bisa di maknai yaitu orang-orang yang senantiasa bersama Nabi saw, yakni mereka para Sahabat, para Awliya Allah, serta orang-orang Sholih dan merekalah sebaik-baiknya Teman (Didalam Ujian Musibah dan juga dalam hal lainnya). Siapakah mereka yang dimaksud sebagai الصَّابِرِينَ  ?, yaitu mereka yang tatkala mendapatkan Musibah mereka berkata dengan lisan dan hatinya bahwa sesungguhnya semua adalah milik Allah swt dan berasal dari-NYA dan hanya kepada-NYA lah kita mengembalikan semua urusan.

Wallahu A’lam...
Semoga Bermanfaat...

Jumat, 23 Agustus 2019

Tabiat Manusia saat di Uji dengan Musibah




Tabiat Manusia saat di Uji dengan Musibah.

Telah berkata Kanjeng Syaikh Abdul Qadir Al Jilani ra...
"Saat seseorang di uji dengan suatu Musibah, baik berupa sakit, bencana, keuangan, kekecewaan dan kebangkrutan, maka pertama Ia akan bertindak dengan kekuatan diri sendirinya, sehingga saat upaya diri sendirinya tidak menghasilkan jalan keluar, maka ia akan meminta pertolongan makhluk lain, semisal kepada Para penguasa, Pengusaha, dan orang2 berpengaruh. Jika ia sakit maka ia akan meminta pertolongan kepada dokter, Thabib dll, sehingga saat semua itu juga tidak menghasilkan jalan keluar, barulah ia akan meminta pertolongan Allah swt dengan meratap, berdo'a, beramal dengan banyaknya amal ibadah serta merendahkan dirinya dihadapan Allah swt. sekali-kali Allah swt tidak menerima semua Ratapannya tersebut, sebelum ia benar-benar memutuskan dirinya dari kebergantungannya kepada Hal-hal duniawi, setelah ia bisa melepaskan dirinya dari semua itu, barulah akan tampak Taqdir dan keputusan Allah swt dan lepaslah ia dari kebergantungan kepada sebab-sebab yang bersifat duniawi tersebut, maka hanya tinggal Ruhnya sajalah pada dirinya.

Dalam Tahap ini yang tampak olehnya hanyalah ketentuan dan perbuatan Allah swt semata, dan tertanamlah dalam hatinya keyaqinan dan ketauhidan yang nyata kepada Allah swt. Ia memahami haqiqat bahwasannya tiada pelaku atau gerak ataupun diam kecuali Allah swt saja, tiada kebaikan atau keburukan, tiada kerugian atau keuntungan, tiada Faidah atau Anugerah, tiada hidup atau mati, tiada terbuka atau tertutup, tiada kaya atau Papa (Miskin) melainkan kesemuanya itu ada dalam genggaman tangan Allah swt semata.

Ia tiada ubahnya seperti Bayi dalam susuan Ibunya, atau Mayit atas orang yang memandikannya, ataupun seperti bola yang dimainkan pemainnya, bergulir dan melambung kesana - kemari senantiasa berubah tempat dan bergerak kedudukannya, Ia tidak memiliki daya serta upaya. Maka hilanglah ia dari dirinya dan masuk kedalam Af'al (perbuatan) Allah swt semata-mata.

Hamba Allah yang semacam ini yang dilihatnya adalah perbuatan Allah swt saja, yang didengar dan diketahui hanyalah Allah swt, jika Ia melihat sesuatu, maka yang dilihatnya adalah perbuatan Allah swt, jika Ia mendengar dan mengetahui sesuatu, maka yang didengar dan diketahuinya semata adalah Firman Allah swt. Saat ia mengetahui sesuatu, maka ia mendapati pengetahuannya itu adalah pengetahuan Allah swt, Ia akan diberikan Karunia Allah swt. Maka jadilah ia hamba yang beruntung dekat dengan Allah swt, Ia menjadi hamba bertabiat indah dihiasi dan dimuliakan, Ia Ridlo kepada Allah swt, dan bertambah dekatlah ia dengan Allah swt, serta bertambahlah cintanya kepada Allah swt, semakin Khusu' ia berdzikir mengingat Allah swt, dan bersemayamlah ia disisi Allah swt, kemudian Allah swt membimbingnya dan menghiasinya dengan cahaya Ilmu Allah swt, sehingga tersingkaplah tabir yang menghalanginya dari rahasia-rahasia Allah swt yang Maha Agung, ia hanya mendengar dan mengingat Allah swt serta tiada sesuatupun hal-hal duniawi yang mampu memalingkannya dari Allah swt yang Maha Tinggi, kemudian ia menjadi hamba yang senantiasa bersyukur dan mengingat Allah swt."

Minggu, 15 Juli 2018

Cebong (Katak) dan Kampret (Kelelawar) adalah dua makhluk yang dimuliakan Allah swt.





Cebong (Katak) dan Kampret (Kelelawar) adalah dua makhluk yang dimuliakan Allah swt.

Oleh : donnieluthfiyy

Wahai Saudaraku janganlah kalian menghinakan atau mengolok-olok Makhluk yang justru oleh Allah swt dan para RasulNya dimuliakan.

Allah swt berfirman dalam Surat Taubah ayat 65 :

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ

“Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?"

==> Cebong atau Katak (setelah Dewasa) adalah hewan yang dimuliakan, beberapa kemuliaan Katak adalah sbb :

عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: كانت الضفدع تطفئ النار عن إبراهي

“ Dari Sayyidah Aisyah rah : sesungguhnya Nabi saw bersabda : Katak adalah hewan yang  ikut berusaha memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim as”.

وعن سهل بن سعد الساعدي عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه :  نهى عن قتل الخمسة: عن النملة والنحلة والضفدع والصرد والهدهد. رواه الطبراني

“Dari Sahl bin Sa’ad As Sadiy dari Rasulullah saw, sesungguhnya Rasulullah saw melarang membunuh lima hewan : diantaranya adalah Semut, Lebah, Katak, Burung Pinguin dan Burung Hud-hud”. (HR : At Tabrani).

Kisah Katak dalam Kisah Nabi Ibrahim as ini, adalah sebuah kisah yang sangat menyentuh sanubari dimana ketika seekor katak tidak tahan melihat Nabi Ibrahim hendak dibakar oleh Raja Namrud, (padahal) tidak mampu berbuat apa-apa, ia hanya menaruh air di mulutnya. Berapakah besar mulutnya katak untuk memadamkan apinya Nabi Ibrahim? (Api menyala) lebih besar dari bukit, Katak mengambil air dari sungai dan melompat-lompat dan menyemburkan air itu ke api. Disinilah nilai ke Ikhlasan dari seekor Katak atas sebuah perjuangan, tanpa terikat dengan hasil yang bisa di raihnya. Oleh sebab itu Baginda Nabi Muhammad saw melarang membunuh Katak dikarenakan jasanya dalam keihlasan perjuangannya tersebut.

==> Kampret (Kelelawar) juga adalah hewan yang dimuliakan, diantara kemuliaannya adalah sbb :

Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 49 :

أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ

“yaitu aku (Nabi Isa as) membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah”.

Para Mufasir banyak yang menafsirkan bahwa yang di maksud burung yang dibuat oleh Nabi Isa as tersebut adalah burung Kelelawar. Kenapa burung kelelawar ?, karena menurut para Ulama ahli Tafsir bahwa kelelawar adalah Hewan yang sempurna kemiripannya dengan Manusia, Ia memiliki Payudara, Gigi dan Telinga yang mirip Manusia. Dan dikatakan pula oleh para Ulama Ahli Tafsir bahawa kelelawar adalah Hewan yang menakjubkan diantara hewan lainnya, bahkan Air Mani kelelawar mirip seperti Mani seorang laki-laki.

Akhirnya Saudaraku... janganlah merasa terhina dengan Olok-olok Cebong maupun Kampret yang kemudian saling membalas satu sama lainnya, padahal kedua makhluk tersebut adalah makhluk2 yang dimuliakan Allah swt dan para RasulNya.

Wallahu A’lam... semoga bermanfaat...



Jumat, 19 Januari 2018

Menciptakan Daya Tarik, Menghimpun, memobilisasi dan merekrut. Jangan menjadi orang yang bodoh yang mudah termakan Isu/Hasud.




Menciptakan Daya Tarik, Menghimpun, memobilisasi dan merekrut.
Jangan menjadi orang yang bodoh yang mudah termakan Isu/Hasud.

Oleh : donnieluthfiyy

Sebuah upaya yang memang terkesan wajar ketika Individu seseorang ataupun kelompok ataupun golongan membutuhkan kekuatan suara masyarakat, kemudian mereka menciptakan daya tariknya, baik melalui retorika sosial, budaya, pendidikan maupun Agama, untuk mencapai suatu tujuan tersembunyi dari apa yang di cita-citakannya, retorika-retorika yang di sampaikan bisa jadi bersifat Faktual, namun tidak menutup kemungkinan bahwa itu hanya bersifat Opini, disini kita sebagai rakyat harus mampu berfikir sedikit keras secara kritis dan cerdas agar tidak selalu dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang memiliki tujuan-tujuan tertentu yang sejatinya tidak bersesuaian dengan retorika yang disampaikannya, atau hanya sebuah pengalihan dalam menghimpun suara, yang nantinya himpunan suara tersebut akan di manfaatkan demi keuntungan mereka semata.
Hal yang sangat memprihatinkan adalah ketika retorika yang sifatnya hanya sebuah opini tersebut menimbulkan suatu kebencian dan kemarahan dihati masyarakat karena termakan hasud sara, dan kedepannya sekedar untuk menghimpun Dana bagi keberlangsungan cita-cita kelompoknya. Jika kita perhatikan bagaimana sebuah Promosi dan Iklan-iklan yang disampaikan sebuah Perusahaan atas produk-produknya membentuk sebuah pesan-pesan rayuan agar Produknya tersebut menjadi pilihan bagi masyarakat atau konsumennya, sehingga rating penjualan akan naik dan memberikan keuntungan besar bagi perusahaannya. Dan hal tersebut juga bisa dilakukan oleh selain perusahaan komersil, dan itu adalah hal yang sangat wajar dalam rangka upaya mengembangkannya, namun kita sebagai masyarakat ataupun konsumen harus bisa sedikit kritis dan cerdas menilai sebuah kebaikan bukan hanya dari kulitnya, tetapi esensi kebaikan didalamnya juga perlu kita perhatikan, agar jangan sampai kita menjadi korban yang sia-sia. Membela sesuatu yang ternyata bukan seperti apa yang kita harapkan. Sehingga kita menjadi orang-orang yang dikategorikan sebagai orang yang bodoh.

الجَاهِلُ لاَ يَعلَمُ رُتْبَةَ نَفْسِه ، فَكَيْفَ يَعْرِفُ رُتْبَةَ غَيْرِهِ (الإمام الذهبي(
“ Orang Bodoh tidak akan mengetahui kedudukan dirinya, maka bagaimana ia akan mengenali kedudukan orang lain “ (Imam Dzahabi)

كفى بالمرء جهلا أن لا يعرف قدر نفسه.( علي بن أبي طالب(
“ Cukuplah dengan seseorang yang (dikatakan) bodoh, jika ia tidak mengenali kadar dirinya “ (Imam Ali Bin Abi Thalib).

أن أعجب لشيء , فعجبي لرجال تنموا أجسامهم وتصغرعقولهم. ( الأحنف بن قيس(
“ Jika aku kagum pada sesuatu, maka kekagumanku adalah pada seorang lelaki yang membesarkan tubuhnya namun mengecilkan akalnya “. Maksudnya Semakin dewasa namun semakin bodoh. (Imam Ahnaf Bin Qaisy).

ـــ الحكيم يناقش في الرأي , والجاهل يجادل في الحقائق. (حكيم(
“ Orang yang bijak berbantahan dengan Pikiran (akalnya), dan orang bodoh berdebat didalam kebenaran “ (Imam Hakim).

ـــ الجاهل يؤكد, والعالم يشكك , والعاقل يتروى. (أرسطو(
“ Orang Bodoh itu (Cenderung) teguh pendirian (Ngotot), Orang berilmu itu (Cenderung) meragukan dirinya (Tawadu’), dan orang berakal (Cenderung) merenungi diri (Muhasabah) “.

أقل الناس قيمة أقلهم علما,فما أضعف الإنسان إذا لم يستطع أن يرفع من قيمة نفسه.
“ Sedikit sekali manusia yang menilai akalnya dengan Ilmu, Maka adapun selemah-lemahnya manusia adalah ketika ia tidak mampu kemudian ia mengangkat harga dirinya “.

ولما رأيت الجهل في الناس فاشيا تجاهلت حتى ظن إني جاهل. ( المعري(
“ Ketika aku melihat kebodohan pada diri manusia yang tersiar, maka aku menghiraukannya sehingga aku menyangka bahwa sesungguhnya aku (iuga) adalah orang yang bodoh “. (Imam Al Ma’ari). – maksudnya adalah Jika ada kebodohan yang tersiar luas maka janganlah diam membiarkan kebodohan itu terus tersiar.


Wallahu A’lam... semoga bermanfaat.

Jumat, 30 Juni 2017

Hakikat Para Awliya Allah swt pembawa Panji-panji Kebenaran yang Hakiki.



*Hakikat Para Awliya Allah swt pembawa Panji-panji Kebenaran yang Hakiki.*

Oleh : donnieluthfiyy

Kebenaran di zaman akhir ini adalah kebenaran yang Fatamorgana, sangat sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang semu, kita tidak pernah tahu bagaimana karakter seseorang yang mempelajari dengan membaca dan mentakwil Al Qur’an dan Hadits menurut pemahamannya serta keinginannya, yang telah dipengaruhi oleh doktrin tertentu tanpa sanad dan sumber doktrin yang jelas, sedangkan apakah ada jaminan bahwasannya ia adalah orang-orang yang diberikan kewenangan Allah swt untuk melihat kebenaran tersebut, dengan dibersihkannya hati dan akalnya dari perkara-perkara hina dan penyakit-penyakit ruhaninya oleh Allah swt ?, dan bahwasannya setiap manusia memiliki sakit kejiwaan pada dirinya, yang jika ia tidak menyadarinya maka bertambah parahlah sakitnya itu.

sebuah tulisan bisa saja di maknai dengan makna yang berbeda2 sebagaimana cara pandang atau interpretasi orang yang membacanya yang disesuaikan dengan karakter yang dimilikinya. Inilah juga kenapa terjadi perbedaan dalam Agama padahal sama2 merujuk kepada Al Qur’an dan Hadits2 Shahih ?

Al Qur’an adalah Kalam Qodim dan berlaku sebagai pegangan manusia dalam hidupnya. Oleh sebab itu Allah swt memberi solusi bagi hambanya dalam mencari kebenaran, dan kepada siapa kebenaran itu ia titipkan serta memberi kewenangan untuk membimbing manusia kepada kebenaran yang hakiki tersebut.

Dalam Kajian Tafsir Baghawi.

Allah swt berfirman dalam Surat Yunus ayat 62 – 63 ;

قوله تعالى: "ألا إن أولياء الله لا خوف عليهم ولا هم يحزنون" واختلفوا فيمن يستحق هذا الاسم. قال بعضهم: هم الذين ذكرهم الله تعالى فقال:

Firman Allah swt : *” Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati “*, Terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama berkenaan siapakah yang meng-hak-i nama tersebut (Awliya). Sebagian dari mereka berpendapat : Mereka adalah orang-orang yang telah disebutkan Allah swt, Ia berfirman :

"الذين آمنوا وكانوا يتقون"، وقال قوم: هم المتحابون في الله عز وجل. أخبرنا أحمد بن عبد الله الصالحي، أخبرنا أبو الحسن علي بن محمد بن بشران، أخبرنا إسماعيل بن محمد الصفار، حدثنا أحمد بن منصور الرمادي، حدثنا عبد الرزاق أخبرنا معمر عن ابن أبي حسين عن شهر بن حوشب، عن أبي مالك الأشعري رضي الله عنه قال: كنت عند النبي صلى الله عليه وسلم فقال: "إن لله عبادا ليسوا بأنبياء ولا شهداء يغبطهم النبيون والشهداء لقربهم ومقعدهم من الله يوم القيامة، قال: وفي ناحية القوم أعرابي فجثا على ركبتيه ورمى بيديه ثم قال: حدثنا يا رسول الله عنهم من هم؟ قال: فرأيت في وجه النبي صلى الله عليه وسلم البشر، فقال: هم عباد من عباد الله من بلدان شتى وقبائل، لم يكن بينهم أرحام يتواصلون بها، ولا دنيا يتباذلون بها، يتحابون بروح الله، يجعل الله وجوههم نورا، ويجعل لهم منابر من لؤلؤ قدام الرحمن، يفزع الناس ولا يفزعون، ويخاف الناس ولا يخافون". ورواه عبد الله بن المبارك عن عبد الحميد بن بهرام قال: حدثنا شهر بن حوشب، حدثني عبد الرحمن بن غنم عن أبي مالك الأشعري، عن النبي صلى الله عليه وسلم" سئل! من أولياء الله؟ فقال: الذين إذا رؤوا ذكر الله". ويروى عن النبي صلى الله عليه وسلم: "قال الله تعالى: إن أوليائي من عبادي الذين يذكرون بذكري وأذكر بذكرهم".

*” (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa ”*, Suatu Kaum telah berkata : Mereka adalah orang-orang yang mencintai didalam kridloan Allah swt. Telah mengabarkan kepada kami Ahmad Bin Abdillah Ash Sholahi, Telah mengabarkan kepada kami Abul Hasan Ali Bin Muhammad Bin Busyron, Telah mengabarkan kepada kami Ismail Bin Muhammad Ash Shofar, Telah Menceritakan kepada kami Ahmad Bin Manshur Ar Romadi, Telah Menceritakan kepada kami Abdur Rozaq Telah mengabarkan kepada kami Mu’ammar dari Ibnu Abi Husain dari Sahr Bin Hawasyib, dari Abu Malik Al Asy’ari ra, ia berkata : Adalah aku berada di samping Rasulullah saw, maka Rasulullah saw bersabda : *” Sesungguhnya Allah swt memiliki para Hamba, mereka bukanlah para Nabi dan juga bukan para Syuhada, namun Para Nabi dan Para Syuhada menginginkan keadaan seperti Dia (Para Hamba Allah tersebut) Karena kedekatannya serta kedudukannya disisi Allah swt kelak di hari kiamat, selanjutnya Abu Malik Al Asy’ari bertanya : Dari segi Kaum apakah mereka adalah sebangsa Arab ? kemudian Nabi saw berlutut dengan kedua lututnya dan meletakan kedua tangannya, selanjutnya Abu Malik Al Asy’ari bertanya : Ceritakanlah kepada kami Wahai Rasulullah saw tentang mereka, siapakah mereka ?, dan Abu Malik Al Asy’ari berkata : Aku melihat pada Wajah Rasulullah saw ekspresi kebahagiaan, Maka Nabi saw bersabda : Mereka adalah para Hamba dari beberapa Hamba Allah swt yang berasal dari negeri yang memiliki musim dingin dan Kabilah-kabilah (suku-suku), Tiada ditemukan diantara mereka hubungan persaudaraan, dan bukanlah dunia yang saling mereka dermakan/upayakan, mereka mencintai dengan sebab Rahmat Allah swt, Allah swt menjadikan pada wajah mereka cahaya, Dan Allah swt menjadikan mimbar-mimbar bagi mereka yang terbuat dari Mutiara Qidamur Rohman, Ketika manusia semuanya merasa takut maka mereka tidaklah merasa takut, dan ketika semua manusia merasa khawatir maka mereka tidaklah merasa khawatir “*. Dan telah diriwayatkan oleh Abdullah Bin Mubarok dari Abdul Hamid Bin Bahram, Ia berkata : Telah mengabarkan kepada kami Syahr Bin Hawasyib, Telah menceritakan kepadaku Abdurrahman Bin Ghanam dari Abu Malik Al Asy’ari, dari Baginda Nabi saw *” Nabi saw ditanya ! Siapakah Awliya Allah itu ? Maka Nabi saw bersabda : Mereka adalah orang-orang yang jika melihat mereka membuat hati Berdzikir (Ingat) Kepada Allah swt “*. Dan diriwayatkan dari Nabi saw : *” Allah swt berfirman : Sesungguhnya Para Wali-Ku dari para Hamba-Ku adalah mereka yang berdzikir dengan mengingat-Ku dan Akupun membalas berdzikir dengan mengingat mereka “.

Sehingga dapat disimpulkan bahwasannya Para Awliya Allah swt yang membawa kebenaran disisi Allah swt memiliki tanda-tanda sebagai berikut :
1.       Mereka senantiasa menjaga hubungan persaudaraan dengan siapapun walaupun bukan sebagai kerabat atau saudara kandung.
2.       Dan mereka tidak saling memberikan dunia serta bukanlah para pemburu dunia, baik harta, tahta maupun wanita.
3.       Mereka tidak pernah merasa Takut atas apa yang akan terjadi dan tidak merasa khawatir dengan apa yang telah terjadi, hatinya tenang dan tentram bersama Allah swt karena keyakinan kuat mereka terhadap ketetapan dan Takdir Allah swt.
4.       Ketika melihat mereka membuat hati kita ingat kepada Allah swt dan membuat akal dan fikiran menjadi tentram.
5.       Mereka orang-orang yang senantiasa berdzikir kepada Allah swt.


Allah swt berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا. وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
" Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang “. (Al Ahzab 41-42).


الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ

“ (yaitu) orang-orang yang berdzikir kepada Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring “. (Ali Imran 191)


*_Dan tahukan anda Kesemua tanda-tanda ini ada pada para Ulama dan Salik Ahli Thoriqoh._*


Wallahu A’lam.... semoga ada manfa’atnya...


Jumat, 16 Juni 2017

Hadits Keutamaan Ramadhan




*Hadits Keutamaan Ramadhan.*

Oleh : donnieluthfiyy

Rasulullah saw bersabda :

*مَن صام رمضان إيمانًا واحتسابًا، غُفِر له ما تقدَّم من ذنبه*

*Siapa orangnya yang berpuasa Di Bulan Ramadhan dengan* (dua Syarat yaitu) *Iman* (maksudnya yaitu membenarkan bahwasannya Puasa Ramadhan adalah suatu kewajiban dan meyakini dengan kebenaran kefardluannya) *dan dengan Ihtisaban* (Maksudnya memperhitungkan diri agar mengintrospeksi terhadap kesalahan dan kelemahan diri dan kemudian berusaha untuk memperbaiki dirinya serta agar semua amalnya tersebut di tujukan karena Allah semata juga berusaha sebaik mungkin mencari Tsawab yakni Rahmat dan Ampunan Allah swt, dan jika dua syarat ini terpenuhi maka) *Allah akan mengampun apa-apa yang telah mendahuluinya dari Dosa-Dosa dan kesalahannya* Mutafaq Alaih (HR. Bukhari – Muslim).


Dalam hadits lainnya Rasulullah saw bersabda :

*من قام رمضان إيمانًا واحتسابًا، غُفر له ما تقدم من ذنبه*

*Siapa orangnnya yang mendirikan* (Ibadah) *di Bulan Ramadhan* (Sighot “قام “ memiliki makna umum Maksudnya yaitu mendirikan Ibadah bagi Laki-laki maupun perempuan di Bulan Ramadhan dengan Berpuasa di siang hari dan memperbanyak Ibadah di malam harinya. Dengan dua syarat yaitu) *dengan Iman* (Imam Nawawi ra memaknai lafadz Iman dengan maksud membenarkan akan keutamaannya mendirikan Ibadah di bulan Ramadhan) *dan dengan Ihtisaban* (Maksudnya yaitu Berupaya mengintrospeksi diri akan kelemahan dan kekurangannya dan berupaya agar Ibadahnya tersebut ditujukan hanya karena Allah semata, tidak karena ingin di nilai Manusia atau mengharapkan lainnya, maka jika dua syarat ini terpenuhi maka...) *Allah akan mengampuni apa-apa yang telah mendahuluinya dari dosa-dosa dan kesalahannya.* Mutafaq Alaih (HR. Bukhari – Muslim).


Kedua hadits tersebut diberikan catatan dalam hadits Rasulullah saw yang lain, Rasulullah saw bersabda :

*رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع والعطش، ورب قائم ليس له من قيامه إلا الهسر والحمى*

*Banyak orang yang berpuasa* (Namun) *tiadalah baginya dari puasanya itu* (Maksudnya yaitu tiada hasil dari puasanya tersebut karena rusak oleh perkara-perkara buruk yang tidak disadarinya dari penyakit-penyakit hati, lisan, pendengaran, mata dan anggota tubuh lainnya kemudain ia tidak mau mengintrospeksi dirinya dan mengenali kelemahan dan kekurangannya untuk selanjutnya berusaha memperbaikinya) *kecuali* (hanya sekedar) *lapar dan haus* (saja), *Dan banyak orang yang mendirikan Ramadhan* (Ibadah Di Bulan Ramadhan yaitu Siangnya berpuasa dan Malamnya memperbanyak Ibadah, Namun) *Tiadalah baginya dari mendirikan ibadahnya itu* (Maksudnya yaitu tiada hasil dari Ibadah Puasa dan memperbanyak Ibadah  di malam hari di Bulan Ramadhan tersebut karena rusak oleh perkara buruk yang tidak disadarinya seperti penyakit-penyakit Hati, lisan, telinga, mata dan anggota tubuh lainnya yang terus di lakukannya sebab tidak mau mengintrospeksi diri untuk mengenali kelemahan dan kekurangannya dan kemudian berupaya memperbaiki dirinya tersebut) *kecuali* (hanya sekedar) *Bergadang* (tidak tidur) *Dan Demam* (karena kelelahan). – (Hadits Shahih Riwayat Imam Ibnu Majjah Dalam Kitab Sunan Ibnu Majjah No. 1690; Dan di dalam Kitab Al Kubro Imam Nasai Juz 2 No. 239 Hal. 3250).


Wallahu A’lam... Semoga ada manfa’atnya.

Kamis, 01 Juni 2017

Berbuat Adil, Ihsan menjaga kekerabatan kemudian menjauhi perbuatan keji, mungkar dan permusuhan serta Bagaimana cara Menghadapi permusuhan...



*Tafsir baghawi*
*Surat an nahl ayat 90*

*_Berbuat Adil dan Ihsan serta menjauhi perbuatan keji dan mungkar, serta senanglah mendengarkan Nasihat baik._*

قوله عز وجل : " إن الله يأمر بالعدل " ، بالإنصاف ، " والإحسان " ، إلى الناس . وعن ابن عباس ( العدل ) : التوحيد ، و ( الإحسان ) : أداء الفرائض. وعنه : ( الإحسان ) : الإخلاص في التوحيد ، وذلك معنى قول النبي صلى الله عليه وسلم : " الإحسان أن تعبد الله كأنك تراه " . وقال مقاتل : ( العدل ) : التوحيد ، و( الإحسان ) : العفو عن الناس . " وإيتاء ذي القربى " ،صلة الرحم . " وينهى عن الفحشاء " ما قبح من القول والفعل . وقال ابن عباس : الزنا ، " والمنكر " ، ما لا يعرف في شريعة ولا سنة ، " والبغي " ، الكبر والظلم . وقال ابن عيينة : ( العدل ) استواء السر والعلانية ، و( الإحسان ) أن تكون سريرته أحسن من علانيته ، و ( الفحشاء والمنكر ) أن تكون علانيته أحسن من سريته . " يعظكم لعلكم تذكرون " ، تتعظون . قال ابن مسعود : أجمع آية في القرآن هذه الآية . وقال أيوب عن عكرمة : "إن النبي صلى الله عليه وسلم قرأ على الوليد : " إن الله يأمر بالعدل " إلى آخر الآية فقال له : يا ابن أخي أعد فأعاد عليه ، فقال : إن له والله لحلاوة وإن عليه لطلاوة وإن أعلاه لمثمر وإن أسفله لمغدق ، وما هو بقول البشر ".

*”Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil”*, Maksudnya dengan Penuh Kesadaran, *”dan berbuat kebajikan”*, Kepada Manusia (Secara Umum). Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra (Lafadz Adil) : Yaitu Tauhid, dan (Lafadz Ihsan) : yaitu melaksanakan kefardluan. Dan diriwayatkan dari beliau lagi : (Lafadz Ihsan) : Yaitu Ikhlas di dalam Tauhid, dan Seperti hal tersebut makna Sabda Nabi saw : “ Ihsan Yaitu bahwasannya Engkau beribadah kepada Allah swt seperti seakan-akan kalian melihatnya “. Dan Imam Muqatil berkata : (Lafadz Al Adl) : yaitu Tauhid, dan (Lafadz Ihsan) : yaitu Memafkan kepada manusia (secara umum). *” memberi kepada kaum kerabat”*, Silaturohim. *”dan Allah melarang dari perbuatan keji”*, yaitu sesuatu yang buruk baik berupa ucapan maupun perbuatan. Imam Ibnu Abbas ra berkata : itu adalah Zina, *”kemungkaran*”, Sesuatu yang tidak diketahui didalam Syari’at dan sunah, *”dan permusuhan”*, Sombong dan Dholim/aniaya. Dan Ibnu Uyaynah : (Lafadz Al Adl) yaitu pertengahan antara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, dan (Lafadz Ihsan) yaitu agar menjadikan sembunyi/rahasianya (Bathinnya) lebih bagus dari pada keterbukaannya (Dhohirnya), dan (Lafadz Fahsy dan Munkar) Agar menjadikan keterbukaannya (Dhohirnya) lebih bagus dari persembunyiannya (Bathinnya) *”Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”*, maksudnya mau menerima nasihat. Ibnu Mas’ud berkata : Ayat di dalam Al Quran terhimpun di dalam Ayat ini. Telah berkata Ayub dari Ikrimah : “ *Sesungguhnya Nabi saw membacakannya kepada Al Walid : Lafadz “" إن الله يأمر بالعدل “ sampai kepada akhir ayat dan Al Walid berkata kepada Nabi saw : "Ulang kembali hai saudaraku", maka Rasul saw mengulang kembali membaca ayat itu. lalu Al Walid berkata: "Demi Allah sungguh Alquran ini memiliki kelezatan dan keindahan, di atasnya berbuah di bawahnya berakar, dan bukanlah dia kata-kata manusia.”*



*Tafsir Baghawi*
*Surat Al Fushilat Ayat 34*
*_Cara menghadapi permusuhan menurut Al Qur’an..._*

قوله عز وجل: " ولا تستوي الحسنة ولا السيئة "، قال الفراء : ((لا)) هاهنا صلة، معناه: ولا تستوي الحسنة والسيئة، يعني الصبر والغضب، والحلم والجهل، والعفو والإساءة. " ادفع بالتي هي أحسن "، قال ابن عباس: أمر بالصبر عند الغضب، وبالحلم عند الجهل، وبالعفو عند افساءة. " فإذا الذي بينك وبينه عداوة "، يعني: إذا فعلت ذلك خضع لك عدوك، وصار الذي بينك وبينه عداوة، " كأنه ولي حميم" كالصديق والقريب . قال مقاتل بن حيان : نزلت في أبي سفيان بن حرب وذلك أنه لان للمسلمين بعد شدة عداوته بالمصاهرة التي حصلت بينه وبين النبي صلى الله عليه وسلم، ثم أسلم فصار ولياً بالإسلام، حميماً بالقرابة.

Firman Allah swt : *”Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan”*, Al Faro berkata : ((Tidak)) Ini adalah perhubungan/pertalian, maknanya : yaitu Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan, yakni Sabar dan marah, Akal Pikiran dan ketidak tahuan, Memaafkan dan berbuat salah. *”Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik”*, Ibnu Abbas berkata : menguasai diri dengan kesabaran ketika marah, dan dengan Akal Pikiran ketika Tidak tahu, dan dengan memafkan ketika bersalah. *”maka tiba-tiba orang yang ada diantaramu dan antara dia ada permusuhan”*, Yakni : ketika engkau melakukan seperti hal tersebut diatas maka musuhmu akan tunduk kepadamu, dan berakhirlah perkara antara kamu dan dia sebagai permusuhan, *”seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia”*, Seperti Teman dan kerabat. Muqatil Bin Hayan berkata : Ayat ini turun berkaitan dengan kisah Abu Sufyan Bin Harb hal tersebut sesungguhnya bagi orang2 Muslim setelah dahsyatnya permusuhan kemudian menjalin hubungan perbesanan yang menghasilkan kekerabatan antara Abu Sufyan dan Nabi saw, dan selanjutnya Abu Sufyan masuk Islam maka jadilah teman setia di dalam Islam, Dengan kedekatan sebagai kerabat.


Wallahu A’lam.... Semoga ada manfa’atnya....

Senin, 08 Mei 2017

Definisi Takwa dan Tingkatan Takwa...

Oleh : donnieluthfiyy

Dalam Kitab Maqomatus Suniyah Lis Saadatis Shufiyah Sayyid Muhammad Wafa Bahru Shofa berkata :

التقوى : " هي حصر الهفوات النفسانية بضابط القوانين الشرعية

“Takwa adalah menahan diri dari kekeliruan hawa nafsu dengan berpegang kepada Tuntunan Syari’at”
maksudnya bahwa sesungguhnya takwa adalah berupaya mencari jalan Mujahadah, dan Muhasabah bagi hawa nafsu dan menyempitkan celah kecil atas hawa nafsu. Dengan merujuk kaidah yang spesifik, dan perkiraan yang membatasi, maka ketahuilah hal tersebut adalah dengan berpegang kepada tuntunan Syari’at. Yakni agar menjadikan Mujahadah nafsu dan beribadah kepada Allah swt sebagai muasis atas manhaj Robbani yang benar. Hal ini Bukanlah perbuatan Bid’ah atau mengada-ada, tetapi hal tersebut adalah sebagai pokok-pokoknya dan penerimaan-penerimaannya di hadapan Allah swt.

Manhaj Robbani tersebut adalah yang menjadikan buah amal di dalam kesucian jiwa, dan apapun bentuk buahnya tersebut adalah sama-sama menjadikan mahabbah, atau Muroqobbah, atau senantiasa berpegang pada pintu Allah swt atau juga senantiasa istiqomah terhadap perintah-perintah Allah swt.

Dan tidaklah berfaedah kecuali orang yang di berikan faedahnya, serta dengan mengikuti orang yang mengikuti Sunah Rasulullah saw maka Manhaj Robbani ini lah yang benar, karena sesungguhnya Rasulullah saw adalah Robbani di dalam tingkah dan perkataannya, dan sesungguhnya Akhlak Rasulullah saw adalah Al Qur’an.

Allah swt berfirman Dalam surat An Nur ayat 54 :

وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا
“ Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk “.

Kemudian Allah swt berfirman dalam Surat An Nisaa ayat 80 :

مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ
“ Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah “.

Para Saadah Sufiyyah As Shodiqin rahm, mereka tidak ridlo dengan selain kepada Kitabullah dan Sunah Rasul saw sebagai pengganti, kemudian Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al Jilani berkata :

طِر إلى الله بجناحي الكتاب والسنة، وأدخل على الله ويدك في يد رسول الله صلى الله عليه وسلم.

“ Terbanglah kalian kepada Allah swt dengan dua sayap, Kitabullah dan Sunah, dan masuklah menghadap Allah swt, sedang tanganmu dalam genggaman tangan Rasulullah saw “.
ي
Kemudian Sayyid Muhammad Wafa Bahru Shofa berkata pula :

وحقيقتها : رفع العقل المعيشي ميزان الشرع لاعتبار النقص والزيادة

Hakikatnya Takwa yaitu dengan Meningkatnya akal sebagai standar kehidupan adalah sebagai takaran Syari’at agar bisa digunakan untuk mempertimbangkan kekurangan dan kelebihan.

Maksudnya yaitu sesungguhnya manusia mengetahui akan kelemahan akalnya, seperti halnya kelemahannya dalam menentukan perkara halal dan haram dengan cara menggali sendiri tanpa mengikuti Manhaj/ tuntunan Robbani, atau tanpa melalui undang-undang Ilahiyah. Disinilah Hakikat apa yang membedakannya, maksudnya dengan orang-orang yang melayani akalnya. Adapun mereka  yang mengikuti Manhaj Robbani telah memisahkan antara yang halal dan yang haram melalui pancaran cahaya manhaj Ilahi, kemudian mereka melihat terhadap orang-orang selainnya di dalam kesenangan yang berturut turut mendatanginya dan  dosa-dosa yang dilakukannya. Dan terus menariknya kedalam dosa-dosa, ini sesungguhnya adalah karena perbuatan dosanya selalu di ulang-ulang dalam setiap waktu.

Dan beliau juga berkata :

وغايتها : إخراج أضغان النفس وردعها عن الدعاوى المكدرة لصفاء جوهر القربات

Tujuannya Takwa adalah mengeluarkan Racun hawa nafsu untuk mencegahnya dari bujukan yang menggelincirkan demi bersihnya unsur taqorrub.

Takwa tidak akan datang kecuali dengan mengikuti Syari’at, dan menjalankan sunah, maka ada Tiga urutan pendakian Takwa bagi manusia :  

1.   1. Libasut Takwa, maksudnya adalah mensimulasikan keyakinan, Akal dan Dhohir, hal itu bisa mencegah dari kemusyrikan, dan menjadikan Allah swt sebagai Tuhan dan Islam sebagai Agama dan Al Qur’an yang mulia sebagai Imam dan Baginda Nabi Muhammad saw sebagai Nabi dan utusan.

2.  2. Haqut Takwa : yaitu perkara yang mensimulasikan Hati dan bathin, yaitu dengan melakukan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya dengan hati yang selamat dan ridlo, dan inilah Thoriqoh/ Jalan.


3.  3. ‘Ainut Takwa : yaitu perkara yang mensimulasikan ruh dan sirr, maksudnya yaitu ketiadaan mencari sesuatu selain Allah swt dan merasa puas denganNya, dan ini adalah Hakikat.

Rabu, 26 April 2017

Memandang Allah kelak di Surga



إلى ربها ناظرة"، قال ابن عباس: وأكثر الناس تنظر إلى ربها عياناً بلا حجاب. قال الحسن: تنظر إلى الخالق وحق لها أن تنضر وهي تنظر إلى الخالق. أخبرنا أبو بكر بن أبي الهيثم الترابي، أخبرنا عبد الله بن أحمد الحموي، أخبرنا إبراهيم بن خزيم الشاشي، أخبرنا عبد بن حميد، حدثنا شبابة، عن إسرائيل، عن ثوير قال: سمعت ابن عمر يقول: "قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن أدنى أهل الجنة منزلة لمن ينظر إلى جنانه وأزواجه ونعيمه وخدمه وسرره مسيرة ألف سنة، وأكرمهم على الله من ينظر إلى وجهه غدوة وعشية، ثم قرأ رسول الله صلى الله عليه وسلم: " وجوه يومئذ ناضرة * إلى ربها ناظرة "".

Tafsir Baghawi Surat Qiyamah Ayat 23 :

Diterjemahkan oleh : donnieluthfiyy

“ Memandang kepada Tuhannya “, Ibnu Abbas berkata : Adapun kebanyakan manusia (ahli surga) mereka melihat kepada Tuhannya secara nyata tanpa Penghalang. Al Hasan berkata : Melihat kepada Sang Kholik, dan Tetap baginya Wajah yang berseri-seri maksudnya adalah ketika mereka melihat kepada Sang Khalik. Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar bin Abil Haitsami At Turabi, dari Abdullah bin Ahmad Al Hamuwi, dari Ibrahim bin Khozim As Syasyi, dari Abd Bin Hamid, menceritakan kepada kami Syababah dari Israil dari Tsuwairi, ia berkata : Aku telah mendengar Ibnu Umar berkata : Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya derajat yang paling dekat kepada Ahli Surga adalah bagi seseorang yang melihat kepada surga-surganya, Istri-istrinya, nikmat-nikmatnya, pengabdiannya, dan kegembiraannya yang berlangsung selama 1000 tahun, dan yang paling mulia diantara ahli surga di hadapan Allah swt adalah seseorang yang melihat kepada Wajah Allah swt di waktu pagi dan petang, kemudian Rasulullah saw membacakan Firman Allah swt : “ Wajah-wajah (Orang Mu’min) pada hari itu berseri-seri # Memandang Tuhannya. “”

Rabu, 05 April 2017

BAB MENERANGKAN KHAUF DAN ROJA



Bab Khouf dan Roja
Dari Kitab Syarah Hadits Jibril Karya Al Allamah Sayyidil Habib Zain Bin Ibrahim Bin Sumith ra halaman 146.
Diterjemahkan oleh : donnieluthfiyy

Khouf yaitu Pengenalan Hati atas keagungannya Allah, keperkasaanNya, Dahsyat hukumanNya dan Pedih siksaNya. Adapun Buah dari khouf adalah Terhindarkan dari perkara yang tidak di Ridloi Allah swt, Khouf adalah gerakan hati yang mencegah manusia dari Maksiat dan hal-hal yang menyelisihi Allah swt.
Roja yaitu suatu prasangka yang baik kepada Allah swt dengan sebab mengenalnya hati atas keluasan rahmatnya Allah swt dan agungnya kelembutan Allah swt serta belas kasihNya. Adapun buahnya roja yaitu Baiknya amal dengan amal-amal yang sholeh, Roja adalah tertuntunnya seorang hamba kepada ketaatan dan hal-hal yang bersesuaian dengan kehendak Allah swt.
Maka dapat diketahui, sesungguhnya Khouf dan Roja adalah dua obat yang bermanfa’at untuk penyakit-penyakit hati, seperti penyakit merasa aman dari makar (Tipu daya sebagai ujian) Allah swt dan penyakit keputus asaan dari Rahmatnya Allah swt, dan keduanya adalah sebagian dari dosa-dosa besar.
** Seorang hamba ketika merasa telah paling pintar, paling baik, paling sholeh, paling taat, paling mengetahui akan agama Allah dan merasa paling benar maka berhati-hatilah bahwasannya Allah swt sedang membuat makar untuknya, apakah ia akan tertipu atau tidak dengan apa yang ia perbuat tersebut.
** Dan jangan sampai karena rasa takut yang berlebihan kemudian meninggalkan pengharapan kepada Allah swt, sehingga bersikap berlebihan dalam Agama, menyalahkan dan mencacimaki lainnya, seakan ia tidak mengetahui akan sifat Rahmat dan kelembutannya Allah swt kepada seluruh makhluknya.
Allah swt berfirman dalam surat Al A’raf ayat 99 :
فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ
“ Tiada (orang) yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi “.
Dan Allah swt berfirman dalam surat Yusuf ayat 87 :
إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
“ Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir ".
Dan dalam sebuah hadits Qudsi dari Allah swt berfirman :
وعزتي وجلالي لا أجمع على عبدي خوفين وأمنين إذا خافني في الدنيا أمنته يوم القيامة وإذا أمنني في الدنيا أخفته يوم القيامة
“ Demi keperkasaan dan keagunganku tidak akan aku mengumpulkan pada hambaku dua Khouf dan dua rasa aman, ketika ia punya rasa khouf kepadaku di dunia maka ia aku akan berikan rasa aman kepadanya di hari kiamat, dan ketika ia merasa aman dariku di dunia aku akan berikan rasa khouf kepadanya kelak di hari kiamat “.
** Khouf dan Roja adalah dua hal yang harus seimbang dalam kehidupan manusia sebagai Hamba Allah swt, karena jika lebih kuat khouf daripada roja’nya maka ia akan terhantui oleh rasa takut berlebihan terhadap dosa dan mengakibatkan kedholiman juga kerusakan di muka bumi serta akan dikhawatirkan masuk kedalam dosa yang besar, begitupun sebaliknya, jika lebih kuat Roja’nya daripada khoufnya maka akan meremehkan Agamanya sehingga masuk pula kedalam dosa besar.
Para ahli ma’rifat (Semoga Allah swt memberikan kemanfaatan ilmu mereka kepada kita) berkata : “ Hal yang paling utama pada jalan yang benar di dalam agamanya adalah agar hendaknya menyeimbangkan antara khoufnya dan Roja’nya, sehingga menjadi seperti dua sayap burung . dan bahwasannya adapun selain jalan yang benar adalah meremehkan atas perintah-perintah Allah swt dan larangan-larangan Allah swt, dan melampaui atas batas-batas hukum Allah swt dan kemaksiatan kepadaNya. Maka perbaikilah baginya dengan cenderung kepada Khouf sampai kepada jalan yang benar, kecuali orang yang mendekati kematian. Dan akan menghadap Allah swt dan yang akan kembali kepada kampung akhirat, maka sebaiknya (orang-orang yang seperti tersebut) agar menjadikan Roja adalah menguasai hatinya, agar ia meninggal dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah swt, maka dalam sebuah hadits di sabdakan :
لا يموت أحدكم إلا وهو يحسن الظن بالله تعالى
“ Tidaklah meninggal dunia seseorang diantara kalian kecuali ia berprasangka baik kepada Allah swt “.
Dan telah berkata Ibnu Abbas ra “ Ketika kalian melihat seorang lelaki sedang menghadapi kematiannya, maka berikanlah kabar kembira kepadanya atas pertemuannya dengan Allah swt, dan hal itu adalah dengan berprasangka baik kepada Allah swt, namun ketika ia masih hidup maka takut-takutilah ia (terhadap Siksa dan Makarnya Allah swt).

Khouf dan Roja adalah dua perasaan hati yang harus tetap di jaga keseimbangannya, agar bisa mencapai Mustaqiem (Jalan lurus yang tengah), sehingga akan menciptakan dampak yang baik bagi makhluk Allah swt dan juga senantiasa bisa beribadah dengan kebaikan kepada Allah swt.

Wallahu a’lam... Semoga ada manfa’atnya... amiin.



Rabu, 15 Maret 2017

Keutamaan Dzikrullah



Keutamaan Berdzikir
Oleh : donnieluthfiyy

Ketahuilah bahwa sesungguhnya Dzikir adalah semulia-mulianya Ibadah, karena sesungguhnya kesemua Ibadah itu akan selesai dengan Selesainya kehidupan dunia kecuali Dzikrullah. Ada terdapat dalam kitan Lawami’un Nuur Karya Imam Syihabuddin Al ‘Asqolani ra : “ Sesungguhnya Ahlul Jannah (Penghuni Surga) mereka mendawamkan Dzikir di dalam surga, karena sesungguhnya kesemua Ibadah itu akan selesai dengan Selesainya kehidupan dunia kecuali Dzikirullah, maka sejatinya Dzikir itu tidak akan selesai, tetapi akan berlaku terus menerus bagi orang-orang mu’min di Dunia dan Akhirat “. Dan diriwayatkan bahwasannya Ahli Surga akan meneguk minum dari Kalimat Tahmid (Al Hamdulillah) dan Tasbih (Subhanallah), seperti  jasad yang meneguk minuman. Mereka (Ahl Surga) berkata dengan kalimat Alhamdulillah dan Subhanallah sehingga merasakan kelezatan dua kalimat tersebut, bukan merasa sebagai Ibadah, seperti seseorang yang merasakan lezatnya meneguk air yang sejuk ketika dahaga. Dalam Kitab Asrorut Tanzil Imam Fakhruddin Ar Razi berkata : “ Ketahuilah bahwasannya seluruh ketaatan akan hilang pada hari kiamat, adapun ketaatan dzikir Tahlil dan Tahmid tidak akan hilang dari orang mu’min, sebab bagaimana mungkin hilang darinya, sedangkan Al Qur’an menunjukan dalil bahwa sesungguhnya Ahli Surga tekun dalam ber-Tahmid. Dan ketekunan di dalam ber-tahmid mewajibkan ketekunan dalam Dzikir dan Tauhid. Allah swt berfirman mengkisahkan keadaan orang-orang mu’min di surga dalam Surat Fathir – 34 :
الحمد لله الذي أذهب عنّا الحزن
“ Alhamdulillah yang telah menghilangkan duka cita dari kami “.
Dan Ahli Surga berkata : “ Alhamdulillah kami benarkan janjiNya “, dan Allah berfirman dalam surat yunus – 10 :
دعواهم فيها سبحانك اللّهمّ و تحيّتهم فيها سلام
“Doa mereka di dalamnya ialah:" Subhanakallahumma", dan salam penghormatan mereka ialah:" Salam ".
Dari sini bisa diketahui bahwasannya semua ibadah itu akan hilang ketika di surha, kecuali ketaatan di dalam dzikir.
Allah swt berfirman berkenaan keutamaan dzikir ini :
-         وقال تعالى: {يا أيها الذين آمنوا اذكروا الله ذكراً كثيراً وسَبِّحُوه بكرةً وأصيلاً} الأحزاب
-         وقال {فاذكروني أذكركم واشكروا لي ولا تكفرون}البقرة
-         وقال تعالى {الذين آمنوا وتطمئن قلوبهم بذكر الله ألا بذكر الله تطمئن القلوب} الرعد
-         و قال { اذكروا الله كثيرا لعلكم تفلحون } الجمعة
-         وقال أيضاً: {والذاكرين الله كثيراً والذاكراتِ أعدّ اللهُ لهُم مغفرة وأجراً عظيماً}الأحزاب
Dan banyak lagi selain ayat-ayat tersebut.
Diriwayatkan dari Imam Ibnu hibban dan Imam Ahmad serta Imam Alhakim, Imam Al Hakim berkata “ Hadits ini Marfu dan Shahih Sanadnya “. Rasulullah saw bersabda :
أكثروا من ذكر الله حتى يقولوا مجنون
“ Perbanyaklah kalian berdzikir kepada Allah sehingga mereka (orang-orang) berkata (kepadamu) gila “.
Diriwayatkan dari Ibnu Majjah dan Ibnu Hibban dalam Kitab Shahihnya sebuah hadits Marfu’, Rasulullah saw bersabda, Allah swt berfirman :
أنا مع عبدي إذا هو ذكرني و تحركت بي شفتاه
“ Aku bersama hambaku ketika dia berdzikir kepadaku dan ketika dia menggerakan lisannya dengan dzikir kepadaku “
Diriwayatkan dari Imam Tarmidzi dan Ibnu Hibban serta Imam Ibnu Majjah, Imam Ibnu Majjah berkata menilai hadits ini hadits Shahih Sanadnya.
أن رجلا قال :" يا رسول الله إن شرائع الإسلام قد كثرت علي فأخبرني بشيء أتثبت به قال :" لا يزال لسانك رطبا من ذكر الله "
“ Seorang laki-laki berkata kepada Nabi saw : “ Yaa Rasulullah sesungguhnya syari’at-syari’at Islam telah nyata banyaknya bagiku , maka kabarkanlah kepadaku dengan sesuatu yang dapat mengokohkanku “, Rasulullah saw bersabda : “ Jangan hentikan lisanmu daripada selalu basah berdzikir kepada Allah “
Dan diriwayatkan dari Imam Abid Dunya dan Imam Thobroni  dan Imam Bizar dari Sahabat Mu’adz Bin Jabal. Rasulullah saw bersabda :
آخر كلام فارقت عليه رسول الله صلى الله عليه و سلم  أن قلت : أي الأعمال أحب إلى الله قال :" أن تموت و لسانك رطب من ذكر الله ".
“ Akhir suatu ucapan yang memisahkanku dari Rasulullah saw yaitu bahwasannya aku berkata : “ Amal manakah yang paling di cintai Allh swt ? “, kemudian Rasulullah saw bersabda : “ Ketika engkau menjelang wafat dan lisanmu basah dengan dzikir kepada Allah swt “.

Wallahu A’lam....

Semoga kita dijadikan orang-orang yang selalu berdzikir kepada Allah swt dengan Lisan, Hati dan ruh kita... Amiin...

List Video