Tampilkan postingan dengan label Taqwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taqwa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Mei 2018

Niat Puasa Setiap hari di Setiap Malam Ramadhan dan Niat Puasa Satu Bulan Penuh di Awal Malam Pertama Ramadhan.



Niat Puasa Setiap hari di Setiap Malam Ramadhan.
dan Niat Puasa Satu Bulan Penuh di Awal Malam Pertama Ramadhan.

Hanya sekedar mengingatkan menjelang Puasa di Bulan Ramadhan.

Oleh : donnieluthfiyy

Dalam Madzhab Syafi’i (Madzhab yang di anut mayoritas Ulama Indonesia) Niat berpuasa harus dilakukan setiap hari pada malam harinya.

)قوله: لكل يوم) متعلق بنية. أي تجب النية لصوم كل يوم، وذلك لان الصوم كل يوم عبادة مستقلة، لتخلل ما يناقض الصوم بين اليومين – كالصلاتين يتخللهما السلام
“(Perkataan Mushonif : Setiap Hari) di tujukan kepada Niat (Puasa Ramadhan). Maksudnya diwajibkan Niat berpuasa pada setiap harinya, hal itu dikarenakan bahwa puasa setiap hari adalah Ibadah yang berdiri sendiri-sendiri, untuk memisahkan ibadah yang berbeda dalam setiap harinya  - Seperti Dua Shalat yang di pisahkan dengan salam”. (Kitab I’anah).

Adapun permasalahan yang kerap terjadi adalah ketika kita Lupa Niat di malam harinya, apakah sah Puasa esok harinya ?. Tidak sah!

قال ولا يجزئه صيام فرض حتى ينويه أي وقت كان من الليل
“Mushonif berkata dan tidak diperbolehkan Puasa yang Fardlu sehingga ia berniat (Puasa) yaitu pada malam harinya”. (Kitab Asybah Wan Nadzoir Imam Suyuthi).

Bagaimana Solusinya ketika kita Lupa Niat di malam harinya ?.
Solusinya yaitu Niat Juga di awal malam pertama Ramadhan yakni Niat Puasa Satu bulan penuh (di awal malam pertama Ramadhan, tidak setelahnya).

Simaklah keterangan berikut ini dalam Kitab I’anah….
)قوله: لكن ينبغي ذلك) أي نية صوم جميعه أول ليلة منه.) قوله: ليحصل إلخ) علة الانبغاء. (قوله: الذي نسي النية فيه) أي له، ففي بمعنى اللام. (وقوله: عند مالك) متعلق بيحصل. أي يحصل له ذلك عنده، لانه لا يشترط النية لكل يوم. (قوله: كما تسن) أي النية. (وقوله: له) أي الناسي تبييت النية. (وقوله: ليحصل إلخ) متعلق بتسن. (وقوله: صومه) أي اليوم الذي نسي النية له
“(Perkataan Mushonif : Akan tetapi sebaiknya {disunahkan} hal tersebut) maksudnya Niat Puasa sebulan penuh di awal malam pertama Ramadhan) Perkataan Mushonif : agar hasil puasa {Sah puasa}) Sebab las an Inbigho {Disunahkan}. (Perkataan Mushonif : bagi seseorang yang lupa niat) Maksudnya bagi orang yang lupa niat, Huruf Fii “ في  “ bermakna Laam. (Dan perkataan Mushonif : Menurut pendapat Imam Malik) merujuk pada lafadz “ يحصل . Maksudnya Sah Niat Puasa sebulan penuh {Di malam pertama Ramadhan} menurut Imam Malik, karena menurut Imam Malik tidak disyaratkan Niat {Puasa} setiap harinya. (Perkataan Mushonif : Seperti halnya disunahkan) Maksudnya Niat {Puasa Satu Bulan Penuh}. (Perkataan Mushonif : Baginya) maksudnya orang yang lupa Niat di malam harinya. (Perkataan Mushonif : Agar Hasil/ Sah Puasanya) merujuk pada lafadz “ تسن  “. (Perkataan Mushonif : Puasanya) maksudnya dimalam ia lupa niat berpuasa”.

Maka Selain Niat berpuasa setiap hari di setiap malam hari Ramadhan untuk Puasa esok harinya, disunahkan juga Niat di Awal Malam Pertama Ramadhan untuk Niat juga berpuasa Satu Bulan Penuh, dan Niat Puasa Satu Bulan penuh tersebut di gunakan ketika kita lupa tidak Niat Puasa dimalam harinya.
Dalam Hal ini kita tetap berusaha Niat Puasa Tiap-tiap malam harinya selama Ramadhan, dan Taqlid kepada Pendapat Imam Maliki tersebut di khususkan ketika terjadi Darurat kita Lupa Niat di malam harinya agar puasanya tetap sah.

Berikut Niat Puasa Satu Bulan Penuh Taqlid kepada Pendapat Imam Malik :
نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيْعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ فَرْضًا للهِ تَعَالى
“Aku Niat Berpuasa Seluruh Bulan Ramadhan tahun ini Wajib karena Allah semata“.


Wallahu A’lam…. Semoga bermanfaat.

Jumat, 10 November 2017

Peran Sabar dalam kehidupan seorang Hamba Allah swt.





Diterjemahkan oleh : donnieluthfiyy

Sayyidil Habib Zein Bin Ibrahim Bin Smith berkata di dalam Kitabnya Syarhul Ahadits Jibril :
Sabar adalah membentengi diri dari Tipudaya Hawa Nafsu, Dan memaksanya untuk senantiasa melazimkan menjalankan Syari’at, di katakan didalam sebuah Atsar :
إنكم لا تدركون ما تحبّون إلاّ بصبركم على ما تكرهون.
“ Sesungguhnya kalian semua tidak akan menemukan perkara yang kalian sukai, kecuali dengan kesabaran kalian terhadap perkara yang kalian benci “.
Dan sungguh di dalam Al Qur’an Allah swt telah menyebutkan berkenaan Sabar sebanyak kurang lebih 70 tempat.
Dan diriwayatkan dalam sebuah Hadits :
الصبر نصف الإيمان, وما أعطي أحد عطاء خيرا له وأوسع من الصبر.
“ Sabar adalah setengah dari Iman, dan adakah  seseorang diberikan suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada sabar “.
Dan Sayyidina Ali KrW berkata :
الصبر من الإيمان بمنزلة الرأس من الجسد, ولا إيمان لمن لا صبر له.
“ Sabar berasal dari Iman, dengan kedudukan bagaikan kepala dari Jasad, dan tiadalah Iman bagi seseorang yang tidak memiliki kesabaran “.
Adapun sabar terbagi menjadi 3 bagian :
1.     الصبر على طاعة الله.
“ Sabar terhadap ketaatan kepada Allah swt “, yaitu melaksanakan ketaatan kepada Allah seperti apa yang diperintahkan Allah swt dan dibarengi dengan keikhlasan dan Hudlur (Hadirnya Hati kepada Allah swt).
2.     وصبر عن معصية الله
“ Sabar dari Maksiat kepada Allah “, yaitu dengan menjauhi Maksiat kepada Allah swt, seperti (meninggalkan) perkara yang telah dilarang oleh Allah swt, dengan rasa malu kepada Allah swt dan Takut akan SiksaNya.

Sangat menarik pada pembagian sabar yang kedua ini, karena saya anggap sangat tepat di bahas dalam fenomena yang terjadi saat ini.
Sabar dari Maksiat Kepada Allah maksudnya adalah Meninggalkan perkara yang dilarang oleh Allah swt, dan larangan Allah swt bukan saja hanya sebatas Mencuri, Berjudi, Mabuk, berzina dan dosa-dosa besar lainnya, dalam hal ini termasuk larangan Allah adalah :
  1. Allah tidak menyukai perkataan yang buruk.
لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا
“ Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “. (QS. Annisa : 148)
Rasulullah saw bersabda :
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلاَ اللَّعَّانِ وَلاَ الْفَاحِشِ وَلاَ الْبَذِيءِ
Seorang mukmin itu bukanlah orang yang suka mencela, suka melaknat, suka berkata keji, dan suka berkata kotor.” (HR. at-Tirmidzi no.1977)
  1. Allah melarang berbuat Zalim atau aniaya
وَلا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لا تُنْصَرُونَ
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi  pertolongan”.  ( QS.huud:113 ).
ذَٰلِكَ وَمَنْ عَاقَبَ بِمِثْلِ مَا عُوقِبَ بِهِۦ ثُمَّ بُغِىَ عَلَيْهِ لَيَنصُرَنَّهُ ٱللَّهُ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ
Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. (Al-Hajj 22:60)
ð  Sehingga Jika kita mau bersabar dengan perbuatan-perbuatan tersebut maka Allah swt yang akan menolong kita, karena sesungguhnya pembelaan dan pembalasan kita tiadalah akan berarti jika tanpa pertolongan Allah swt.

3.     وصبر على المصيبة
“ Sabar Terhadap Musibah “, yaitu dengan meninggalkan keluh kesah dan mengadu kepada Makhluk sehingga Ia menolak musibah dengan kebagusan kemauannya yang teguh.
Dan diriwayatkan dari Sayyidina Abbas ra, sesungguhnya sabar di dalam Al Qur’an terdapat 3 derajat :
1.     الصبر على أداء الفرائض
“ Sabar terhadap menjalankan kefardluan “, baginya 300 Derajat.
2.     وصبر عن المحارم
“ Sabar dari perkara yang diharamkan “, baginya 600 Derajat.
3.     وصبر على المصاءب عند الصدمة الأُولى
“ Sabar terhadap Musibah yang menggoncang jiwanya lebih utama “, Baginya 900 Derajat,
Kemudian Allah berfirman :
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ  الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ  أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“ Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk “. (Al Baqarah : 155 – 157).

Wallahu A’lam... semoga bermanfaat...


Minggu, 24 September 2017

Kehati-hatian dalam Agama dan Kehidupan.




Kehati-hatian dalam Agama dan Kehidupan.

Oleh : donnieluthfiyy.

Allah swt berfirman :

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ
“ Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana “. (Asy Syura’ 51).
 Interaksi Allah swt dengan Hambanya melalui Wahyu atau melalui perantara MalaikatNya adalah interaksi yang dikhususkan Allah swt hanya kepada para Nabi.
Sehingga para Nabi berinteraksi dengan Allah swt adalah bersifat Haqiqiy (secara langsung dan gamblang) atau melalui perantara malaikatnya.

Sedangkan manusia biasa, berinteraksi dengan Allah swt adalah bersifat Dzoniyy (Prasangka - yg baik) untuk merasakan kehadirannya dalam hati kemudian mengimani apa2 yang datang dari utusanNya sebagai perantara RisalahNya kepada Manusia.

Kita sebagai manusia biasa yang tidak diberikan kemampuan untuk berinteraksi secara langsung dengan Allah swt, atau dengan Nabi saw. Maka sangat perlu kehatia-hatian dalam menjalani kehidupan ini, Ada dua cara ketika kita menghadapi problematika kehidupan ini yang kita tidak mengetahui hakikat kebenarannya kecuali hanya berupa terkaan dan perkiraan dari penafsiran atas pengetahuan kita sendiri...
Dua cara tersebut adalah :
Rasulullah saw bersabda :

ما خاب من استخار، وما ندم من استشار
“ Tidak akan gagal orang yang mau Istikhoroh, dan tidak akan menyesal orang yang mau bermusyawarah”.

Cara yang pertama adalah dengan jalan Istikhoroh sampai Allah swt memberikan jawaban dari problematika tersebut, jika dalam Istikhoroh Allah swt belum juga memberikan jawaban, maka berarti Allah swt sedang menguji kesabaran kita atau menunggu saat yang tepat menurut kehendak Allah swt atas jawabaNya tersebut.

Syaikh Ibnu Athoillah dalam Hikamnya menyampaikan :

لاَ يَــكُنْ تَــأَخُّرُ أَ مَدِ الْعَطَاءِ مَعَ اْلإِلْـحَـاحِ فيِ الدُّعَاءِ مُوْجِـبَاً لِـيَأْسِكَ؛ فَـهُـوَ ضَمِنَ لَـكَ اْلإِجَـابَـةَ فِيمَا يَـخْتَارُهُ لَـكَ لاَ فِيمَا تَـختَارُ لِـنَفْسِكَ؛ وَفيِ الْـوَقْتِ الَّـذِيْ يُرِ يـْدُ لاَ فيِ الْـوَقْتِ الَّذِي تُرِ يدُ
" Janganlah karena keterlambatan datangnya pemberian-Nya kepadamu, saat engkau telah bersungguh-sungguh dalam berdoa, menyebabkan engkau berputus asa; sebab Dia telah menjamin bagimu suatu ijabah (pengabulan doa) dalam apa-apa yang Dia pilihkan bagimu, bukan dalam apa-apa yang engkau pilih untuk dirimu; dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau kehendaki."

Cara kedua jika problematika sudah sangat membutuhkan suatu keputusan maka langkah selanjutnya yaitu dengan musyawarah, dan jangan bercerai-berai karena belum adanya kesepakatan serta jangan berselisih, tetaplah bersabar.

Allah swt berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 103 :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“ Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk “.

kemudian selalu ingatlah bahwasannya Allah swt juga selalu menguji para Hambanya, Allah swt berfirman dalam surat Al Anfal ayat 30 :

ويمكرون وَيَمْكُرُ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

Dalam tafsir Baghowi menafsirkan berkenaan ayat ini ;

ويمكرون ويمكر الله " ، قال الضحاك : يصنعون ويصنع الله ، والمكر والتدبير وهو من الله التدبير بالحق . وقيل : يجازيهم جزاء المكر " والله خير الماكرين " .
“Mereka makar kepada  Allah dan Allah membalas makar itu “, Imam Dhohak berkata : Mereka membuat (makar) dan Allah membuat (balasan Makar itu), dan adapun Makar serta Tadbir (Perencanaan makar) adalah dari Allah yaitu berupa perencanaan yang haq. Dan dikatakan : Allah membalas dengan balasan makar “ Dan Allah sebaik-baik Pembalas makar “.

Selanjutnya Allah SWT berfirman:

اَفَاَمِنُوْا مَكْرَ اللّٰهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْخٰسِرُوْنَ

"Atau apakah mereka merasa aman dari makar Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidak ada yang merasa aman dari makar Allah selain orang-orang yang rugi." (QS. Al-A'raf 7: Ayat 99)

Disini perlunya kehati-hatian dalam setiap tindak-tanduk serta keputusan kita dalam Agama dan menjalani kehidupan ini.

Dalam Kitab Jami’ul Ushul fil Aulia Mushonif menyampaikan berkenaan dengan Bab Haqiqat Niat dan Istikhoroh sebagai berikut :

كم عبد أمين عن الأموال غير أمين عن الفروخ, ورب عبد أمين عن الفروخ غير أمين عن الأخلاق, ورب عبد أمين عن الأخلاق غير أمين عن الأحوال, ورب عبد أمين عن الأحوال غير أمين عن الدين
“ Berapa banyak hamba yang aman dari hartanya namun tidak aman dari farjinya (Kemaluannya), dan tidak sedikit hamba yang aman dari kemaluannya namun tidak aman dari akhlaknya, dan tidak sedikit hamba yang aman dari akhlaknya namun tidak aman dari Keadaan (Jiwa) nya, dan tidak sedikit pula hamba yang aman dari Keadaan (jiwa) nya namun tidak aman dari agamanya.


Wallahu A’lam..... Semoga bermanfa’at.

Senin, 08 Mei 2017

Definisi Takwa dan Tingkatan Takwa...

Oleh : donnieluthfiyy

Dalam Kitab Maqomatus Suniyah Lis Saadatis Shufiyah Sayyid Muhammad Wafa Bahru Shofa berkata :

التقوى : " هي حصر الهفوات النفسانية بضابط القوانين الشرعية

“Takwa adalah menahan diri dari kekeliruan hawa nafsu dengan berpegang kepada Tuntunan Syari’at”
maksudnya bahwa sesungguhnya takwa adalah berupaya mencari jalan Mujahadah, dan Muhasabah bagi hawa nafsu dan menyempitkan celah kecil atas hawa nafsu. Dengan merujuk kaidah yang spesifik, dan perkiraan yang membatasi, maka ketahuilah hal tersebut adalah dengan berpegang kepada tuntunan Syari’at. Yakni agar menjadikan Mujahadah nafsu dan beribadah kepada Allah swt sebagai muasis atas manhaj Robbani yang benar. Hal ini Bukanlah perbuatan Bid’ah atau mengada-ada, tetapi hal tersebut adalah sebagai pokok-pokoknya dan penerimaan-penerimaannya di hadapan Allah swt.

Manhaj Robbani tersebut adalah yang menjadikan buah amal di dalam kesucian jiwa, dan apapun bentuk buahnya tersebut adalah sama-sama menjadikan mahabbah, atau Muroqobbah, atau senantiasa berpegang pada pintu Allah swt atau juga senantiasa istiqomah terhadap perintah-perintah Allah swt.

Dan tidaklah berfaedah kecuali orang yang di berikan faedahnya, serta dengan mengikuti orang yang mengikuti Sunah Rasulullah saw maka Manhaj Robbani ini lah yang benar, karena sesungguhnya Rasulullah saw adalah Robbani di dalam tingkah dan perkataannya, dan sesungguhnya Akhlak Rasulullah saw adalah Al Qur’an.

Allah swt berfirman Dalam surat An Nur ayat 54 :

وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا
“ Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk “.

Kemudian Allah swt berfirman dalam Surat An Nisaa ayat 80 :

مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ
“ Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah “.

Para Saadah Sufiyyah As Shodiqin rahm, mereka tidak ridlo dengan selain kepada Kitabullah dan Sunah Rasul saw sebagai pengganti, kemudian Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al Jilani berkata :

طِر إلى الله بجناحي الكتاب والسنة، وأدخل على الله ويدك في يد رسول الله صلى الله عليه وسلم.

“ Terbanglah kalian kepada Allah swt dengan dua sayap, Kitabullah dan Sunah, dan masuklah menghadap Allah swt, sedang tanganmu dalam genggaman tangan Rasulullah saw “.
ي
Kemudian Sayyid Muhammad Wafa Bahru Shofa berkata pula :

وحقيقتها : رفع العقل المعيشي ميزان الشرع لاعتبار النقص والزيادة

Hakikatnya Takwa yaitu dengan Meningkatnya akal sebagai standar kehidupan adalah sebagai takaran Syari’at agar bisa digunakan untuk mempertimbangkan kekurangan dan kelebihan.

Maksudnya yaitu sesungguhnya manusia mengetahui akan kelemahan akalnya, seperti halnya kelemahannya dalam menentukan perkara halal dan haram dengan cara menggali sendiri tanpa mengikuti Manhaj/ tuntunan Robbani, atau tanpa melalui undang-undang Ilahiyah. Disinilah Hakikat apa yang membedakannya, maksudnya dengan orang-orang yang melayani akalnya. Adapun mereka  yang mengikuti Manhaj Robbani telah memisahkan antara yang halal dan yang haram melalui pancaran cahaya manhaj Ilahi, kemudian mereka melihat terhadap orang-orang selainnya di dalam kesenangan yang berturut turut mendatanginya dan  dosa-dosa yang dilakukannya. Dan terus menariknya kedalam dosa-dosa, ini sesungguhnya adalah karena perbuatan dosanya selalu di ulang-ulang dalam setiap waktu.

Dan beliau juga berkata :

وغايتها : إخراج أضغان النفس وردعها عن الدعاوى المكدرة لصفاء جوهر القربات

Tujuannya Takwa adalah mengeluarkan Racun hawa nafsu untuk mencegahnya dari bujukan yang menggelincirkan demi bersihnya unsur taqorrub.

Takwa tidak akan datang kecuali dengan mengikuti Syari’at, dan menjalankan sunah, maka ada Tiga urutan pendakian Takwa bagi manusia :  

1.   1. Libasut Takwa, maksudnya adalah mensimulasikan keyakinan, Akal dan Dhohir, hal itu bisa mencegah dari kemusyrikan, dan menjadikan Allah swt sebagai Tuhan dan Islam sebagai Agama dan Al Qur’an yang mulia sebagai Imam dan Baginda Nabi Muhammad saw sebagai Nabi dan utusan.

2.  2. Haqut Takwa : yaitu perkara yang mensimulasikan Hati dan bathin, yaitu dengan melakukan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya dengan hati yang selamat dan ridlo, dan inilah Thoriqoh/ Jalan.


3.  3. ‘Ainut Takwa : yaitu perkara yang mensimulasikan ruh dan sirr, maksudnya yaitu ketiadaan mencari sesuatu selain Allah swt dan merasa puas denganNya, dan ini adalah Hakikat.

List Video