Tampilkan postingan dengan label Puasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puasa. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Mei 2019

Fiqih Zakat Fitrah



Fiqih Zakat Fitrah

Oleh : donnieluthfiyy

Disebutkan dengan Lafadz Zakat Fitrah karena diwajibkan kepada Manusia di Hari Raya Idul Fitri setelah Puasa Ramadhan, dan dinamakan “Fitrah” bermakna asal dari Fitrah Manusia, kemudian dinamakan Juga “Zakat Badan”, seperti halnya disabdakan dalam Hadits Nabi saw :

Rasulullah saw bersabda :

زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةٌ لِلصَّائِمِ مِنْ الرَّفَثِ وَطُعْمَةٌ للفقراء والمَسَاكِينِ
“Zakat Fitrah membersihkan/ mensucikan orang yang berpuasa dari Kotoran, Dan Memberi makan kepada orang-orang Faqir dan Miskin”.

Zakat Fitrah juga sebagai Penambal ketidak - sempurnaan Puasa.

Rasulullah saw bersabda :

زَكَاةُ الْفِطْرِ لِشَهْرِ رَمَضَانَ كَسَجْدَتِي السَّهْوِ لِلصَّلاةِ، تَجْبُرُ نُقْصَانَ الصَّوْمِ كَمَا يَجْبُرُ السُّجُودُ نُقْصَانَ الصَّلاةِ
“Zakat Fitrah di Bulan Ramadhan layaknya Sujud Sahwi dalam Shalat, Menambal kekurangan Puasa sebagaimana Sujud Sahwi menambal kekurangan Shalat”.

  • Hukum Zakat Fitrah Wajib menurut Ijma’

  • Adapun Waktu-waktu mengeluarkan Zakat Fitrah ada 5 :
1.       Waktu Wajib,
Yakni dengan menemukan Sebagian Ramadhan dan sebagian Syawal. Sekiranya keberadaan seseorang masih ada pada saat Terbenamnya Matahari dimalam Idul Fitri, Maka tidaklah wajib bagi seseorang yang menemukan sebagiannya saja (Sebagian Ramadhan atau Syawal), misalnya orang yang Wafat sebelum terbenam matahari Akhir Ramadhan, atau Bayi yang lahir setelah terbenamnya Matahari Akhir Ramadhan. Begitupun halnya Kewajiban Zakat Fitrah dengan sebab Nafkah, maka tidaklah wajib bagi seorang suami Menzakati Fitrah Istrinya yang baru dinikahi setelah terbenamnya Matahari Akhir Ramadhan, Atau semisal Seorang Ayah menzakati Fitrah anaknya yang baru masuk Islam Setelah terbenamnya Matahari Akhir Ramadhan. Serta tidak gugur kewajiban Menzakati Fitrah Istri yang baru di talaqnya setelah terbenam Matahari Akhir Ramadhan walaupun Talaq Ba-in.

2.       Waktu Utama,
Yakni Hari Raya Idul Fitri setelah terbitnya Fajar sebelum Shalat Idul Fitri, dan lebih Utama lagi setelah melaksanakan Shalat Fajar.

3.       Waktu Jawaz/Mubah,
Yakni dari semenjak Awal Ramadhan.

4.       Waktu Makruh,
Yakni dengan mengakhirkannya dari saat melaksanakan Shalat Idul Fitri sampai dengan terbenamnya Matahari, Kecuali jika untuk hal yang lebih Mashlahat seperti menanti kedatangan Kerabat atau orang Faqir yang Soleh.

5.       Waktu Haram,
Yakni mengakhirkannya atau melewati dari Hari Raya Idul Fitri, kecuali ada Udzur maka diperbolehkan, maka jadilah Zakat Fitrahnya itu sebagai Qodho dan tidak berdosa, Udzur tersebut seperti halnya belum hadir Hartanya, atau tidak/belum menemukan Mustahiq.

  • Syarat Wajib mengeluarkan Zakat Fitrah adalah jika masih memiliki kelebihan dari perkara yang dibutuhkannya dari beberapa hal yang dirinci berikut ini :
  1. Makanan Pokok, untuk dirinya dan untuk orang-orang yang diwajibkan Nafkah atasnya.
  2. Hutang, walaupun ditangguhkan.
  3. Pembantu dan Tempat Tinggal yang pantas.
Maka apabila seseorang tidak memiliki Kelebihan untuk Hari Raya Idul Fitri dan Malam harinya dari apa-apa yang dibutuhkannya dari salah satu 3 perkara diatas , maka tidak Wajib lagi Zakat Fitrah baginya.

Wajibnya Zakat adalah satu Sho’ bagi setiap orang, 1 Sho’ = 4 Mud (Takaran Mud Nabi saw), yang disetarakan Kurang lebih dengan 2,75 Kg (Sebagain pendapat mengatakan kurang lebih setara dengan 3 Kg), maka yang lebih utama adalah Ihtiyath.

  • Kaidah : Setiap orang yang menjadi tanggungan Nafkah atasnya, maka wajib pula mengeluarkan Zakat Fitrahnya. Pengecualian adalah Istri dari Bapaknya (Ibu Tiri) Yang sama-sama sudah tidak memiliki penghasilan, maka Nafkahnya menjadi tanggungan Anaknya karena terikat oleh Bapaknya, namun bagi Istri Bapaknya tersebut hanya Wajib dalam hal memberi nafkah tetapi tidak wajib mengeluarkan Zakat Fitrahnya. Seperti halnya juga Hamba sahaya, Kerabat dan Istri yang kesemuanya Kafir.
Jikalau Suami mengalami Pailit (Bangkrut) dan tidak mampu menzakati Istrinya, maka tidak wajib lagi atas suaminya tersebut dan tidak wajib pula bagi Istrinya itu mengeluarkan Zakat fitrahnya sendiri, akan tetapi di sunahkan jika ingin mengeluarkan Zakatnya.

  • Masalah : Tidak Diperbolehkan seorang Ayah menzakati Anaknya yang telah dewasa (Mampu mencari Nafkahnya sendiri) yang menjadikan Ayahnya tidak lagi wajib menafkahinya, Kecuali dengan meminta Izinya terlebih dahulu kepada anaknya tersebut  untuk mengeluarkan Zakat Fitrahnya. Adapun seorang anak yang belum dewasa (Belum mampu mencari Nafkah sendiri) baik Laki-laki ataupun perempuan, juga atas seorang Istri dan semua orang yang menjadi Tanggungan Nafkah, maka tidak perlu Izinnya lagi untuk mengeluarkan Zakat Fitrahnya.

  • Permasalahan Niat didalam Zakat.
-          Hukum Niat dalam menunaikan Zakat adalah Wajib, karena untuk membedakan antara Zakat dengan Sedekah yang bersifat Sunah.

-          Sighat Niat Zakat Fitrah, Yang paling sederhana adalah Ucapan :

هذه زَكَاةُ فِطْرِي
“Ini Adalah Zakat Fitrahku”, Atau Ucapan ;

هذه فَرْضُ صَدَقَةِ فِطْرِي
“Ini adalah Fardlu Sedekah Fitrahku”.

Adapun Shighat Niat Zakat Fitrah secara lengkap adalah sebagai berikut :
ü  Niat zakat untuk diri sendiri :

نَوَيْتُ اَنْ اُخْرِجَ زَكاَةَ اْلفِطْرِعَنْ نَفْسِي فَرْضًا للهِ تَعَالَى
“Saya niat mengeluarkan zakat untuk diriku  suatu kewajiban karena Allah Ta’ala “

ü  Niat atas nama anaknya yang masih kecil :

نَوَيْتُ اَنْ اُخْرِجَ زَكاَةَ اْلفِطْرِعَنْ وَلَدِي الصَّغِيْرِ فَرْضًا للهِ تَعَالَى
“ Saya niat mengeluarkan zakat atas nama anakku yang masih kecil suatu kewajiban karena Allah Ta’ala”

ü  Niat atas nama ayahnya :

نَوَيْتُ اَنْ اُخْرِجَ زَكاَةَ اْلفِطْرِعَنْ اَبِي فَرْضًا للهِ تَعَالَى
“ Saya niat mengeluarkan zakat atas nama ayahku suatu kewajiban karena Allah Ta’ala”

ü  Niat atas nama ibunya :

نَوَيْتُ اَنْ اُخْرِجَ زَكاَةَ اْلفِطْرِعَن اُمِّي فَرْضًا للهِ تَعَالَى
“ Saya niat mengeluarkan zakat atas nama ibuku suatu kewajiban karena Allah Ta’ala”

ü  Niat atas nama anaknya yang sudah besar dan tidak mampu :

نَوَيْتُ اَنْ اُخْرِجَ زَكاَةَ اْلفِطْرِعَنْ وَلَدِي اْلكَبِيْرِ فَرْضًا للهِ تَعَالَى
“ Saya niat mengeluarkan zakat atas nama anakku yang sudah besar suatu kewajiban karena Allah Ta’ala”

ü  Niat atas nama diri sendiri dan keluarga (Orang yang ditanggung nafkahnya) :

نَوَيْتُ اَنْ اُخْرِجَ زَكاَةَ اْلفِطْرِعَنّي وَعَنْ جَمِيْعِ مَنْ يَلزَمُنِيْ نَفَقَاتُهُمْ شَرْعًا فَرْضًا للهِ تَعَالَى
“Saya niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diri saya dan untuk semua orang yang nafkahnya menjadi tanggungan saya menurut syariat agama suatu kewajiban karena Allah Ta’ala …”

-          Waktu Mengucapkan Niatnya adalah saat Penyerahan kepada Faqir-Miskin atau kepada Wakil, Atau dengan Menguasakan Niat kepada Wakil.
Diperbolehkan mendahulukan Niat sebelum menyerahkan kepada Faqir-Miskin atau Wakil, dengan Syarat : Jika Zakat Fitrahnya telah disisihkan (Dipisahkan), maksudnya harta yang akan di Zakatkan sudah dipisah dari Harta lainnya.

Sumber :
-          Kitab Att Taqrirotus Syadidah.
-          I’anatut Thalibin
-          Al Yaqutun Nafiis


Rabu, 16 Mei 2018

Niat Puasa Setiap hari di Setiap Malam Ramadhan dan Niat Puasa Satu Bulan Penuh di Awal Malam Pertama Ramadhan.



Niat Puasa Setiap hari di Setiap Malam Ramadhan.
dan Niat Puasa Satu Bulan Penuh di Awal Malam Pertama Ramadhan.

Hanya sekedar mengingatkan menjelang Puasa di Bulan Ramadhan.

Oleh : donnieluthfiyy

Dalam Madzhab Syafi’i (Madzhab yang di anut mayoritas Ulama Indonesia) Niat berpuasa harus dilakukan setiap hari pada malam harinya.

)قوله: لكل يوم) متعلق بنية. أي تجب النية لصوم كل يوم، وذلك لان الصوم كل يوم عبادة مستقلة، لتخلل ما يناقض الصوم بين اليومين – كالصلاتين يتخللهما السلام
“(Perkataan Mushonif : Setiap Hari) di tujukan kepada Niat (Puasa Ramadhan). Maksudnya diwajibkan Niat berpuasa pada setiap harinya, hal itu dikarenakan bahwa puasa setiap hari adalah Ibadah yang berdiri sendiri-sendiri, untuk memisahkan ibadah yang berbeda dalam setiap harinya  - Seperti Dua Shalat yang di pisahkan dengan salam”. (Kitab I’anah).

Adapun permasalahan yang kerap terjadi adalah ketika kita Lupa Niat di malam harinya, apakah sah Puasa esok harinya ?. Tidak sah!

قال ولا يجزئه صيام فرض حتى ينويه أي وقت كان من الليل
“Mushonif berkata dan tidak diperbolehkan Puasa yang Fardlu sehingga ia berniat (Puasa) yaitu pada malam harinya”. (Kitab Asybah Wan Nadzoir Imam Suyuthi).

Bagaimana Solusinya ketika kita Lupa Niat di malam harinya ?.
Solusinya yaitu Niat Juga di awal malam pertama Ramadhan yakni Niat Puasa Satu bulan penuh (di awal malam pertama Ramadhan, tidak setelahnya).

Simaklah keterangan berikut ini dalam Kitab I’anah….
)قوله: لكن ينبغي ذلك) أي نية صوم جميعه أول ليلة منه.) قوله: ليحصل إلخ) علة الانبغاء. (قوله: الذي نسي النية فيه) أي له، ففي بمعنى اللام. (وقوله: عند مالك) متعلق بيحصل. أي يحصل له ذلك عنده، لانه لا يشترط النية لكل يوم. (قوله: كما تسن) أي النية. (وقوله: له) أي الناسي تبييت النية. (وقوله: ليحصل إلخ) متعلق بتسن. (وقوله: صومه) أي اليوم الذي نسي النية له
“(Perkataan Mushonif : Akan tetapi sebaiknya {disunahkan} hal tersebut) maksudnya Niat Puasa sebulan penuh di awal malam pertama Ramadhan) Perkataan Mushonif : agar hasil puasa {Sah puasa}) Sebab las an Inbigho {Disunahkan}. (Perkataan Mushonif : bagi seseorang yang lupa niat) Maksudnya bagi orang yang lupa niat, Huruf Fii “ في  “ bermakna Laam. (Dan perkataan Mushonif : Menurut pendapat Imam Malik) merujuk pada lafadz “ يحصل . Maksudnya Sah Niat Puasa sebulan penuh {Di malam pertama Ramadhan} menurut Imam Malik, karena menurut Imam Malik tidak disyaratkan Niat {Puasa} setiap harinya. (Perkataan Mushonif : Seperti halnya disunahkan) Maksudnya Niat {Puasa Satu Bulan Penuh}. (Perkataan Mushonif : Baginya) maksudnya orang yang lupa Niat di malam harinya. (Perkataan Mushonif : Agar Hasil/ Sah Puasanya) merujuk pada lafadz “ تسن  “. (Perkataan Mushonif : Puasanya) maksudnya dimalam ia lupa niat berpuasa”.

Maka Selain Niat berpuasa setiap hari di setiap malam hari Ramadhan untuk Puasa esok harinya, disunahkan juga Niat di Awal Malam Pertama Ramadhan untuk Niat juga berpuasa Satu Bulan Penuh, dan Niat Puasa Satu Bulan penuh tersebut di gunakan ketika kita lupa tidak Niat Puasa dimalam harinya.
Dalam Hal ini kita tetap berusaha Niat Puasa Tiap-tiap malam harinya selama Ramadhan, dan Taqlid kepada Pendapat Imam Maliki tersebut di khususkan ketika terjadi Darurat kita Lupa Niat di malam harinya agar puasanya tetap sah.

Berikut Niat Puasa Satu Bulan Penuh Taqlid kepada Pendapat Imam Malik :
نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيْعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ فَرْضًا للهِ تَعَالى
“Aku Niat Berpuasa Seluruh Bulan Ramadhan tahun ini Wajib karena Allah semata“.


Wallahu A’lam…. Semoga bermanfaat.

Rabu, 30 Agustus 2017

Bacaan Do’a menyembelih hewan Qurban.






Bacaan Do’a menyembelih hewan Qurban.

بـِـسْــمِ اللهِ الرّحْمنِ الرَّحِيْمِ. إِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ حَنِيْفًا مُّسْلِمًا وَّمَا أَنَا مِنَ اْلمُشْرِكِيْنَ. الله أَكْبَرْ..( 3x ), لَا إِلَهَ إِلّا اللهُ وَاللهَ أَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدِ. اَللَّهُمَّ هذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ مِنِّيْ. بِسْمِ اللهِ اللهُ أَكْبَرْ. اَللَّهُمَّ هذِهِ اْلأُضْحِيَّةِ مِنْ...... (Sebutkan nama yang Qurban) 
بِسْمِ اللهِ اللهُ أَكْبَرْ....
“Bismillaahirrahmaanirrahiim. Innii wajjahtu wajhiya lilladzii fathoros samaawaati wal ardho haniifam muslimaw wamaa ana minal musyrikiin. Allaahu akbar (3x), laa ilaaha illaahu wallaahu akbar wa lillaahilhamd. Allaahumma haadzihi minka wa ilaika fataqobbal minnii. Bismillaahi allaahu akbar. Allaahumma hadzihil udhhiyah min... (Sebutkan nama yang berkurban), Bismillaahi Allaahu akbar... “.

Kesunahan penyembelihan.
  1. Pada Kambing dan Sapi bagian leher yang di sembelih adalah yang sejajar dengan telinganya.
  2. Pada unta adalah pada bagian leher dekat dengan dadanya.
  3. Menggunakan alat sembelih yang sangat tajam.
  4. Dilakukan sekali potong pada jenis saluran ini :
a.       Saluran udara ke paru-paru atau disebut Hulqum (حلقوم).
b.      Saluran Tempat lewat makan dan minum atau disebut Mari' (مرئ).
c.       Saluran tempat lewatnya darah atau disebut Dua wadaj (ودجان).
# Syafi’iyyah hanya mewajibkan putusnya bagian pada point a dan b.

  1. Mulai di sembelih ketika nafas sedang dihembuskan keluar oleh hewan Qurban.

Minggu, 04 Juni 2017

3 Amal yang di lebih istimewakan oleh Allah swt




*_Ada 3 Amal yang di lebih istimewakan oleh Allah swt, amalan2 tersebut yaitu ;_*

Oleh : donnieluthfiyy

1.     1.   *Shalat.*
Semua perintah ibadah diperintahkan Allah swt kepada Baginda Nabi Muhammad saw melalui perantara Malaikat Jibril kecuali Shalat, maka perintah shalat ini di perintahkan langsung oleh Allah swt kepada Nabi saw ketika Mi’raj tanpa melalui malaikat Jibril. Nabi saw bertemu langsung dengan Allah swt di Sidratil Muntaha.
Dalil : http://doni-nurhadi.blogspot.co.id/2017/03/kisah-miroj-rasulullah-saw.html

2.     2.   *Puasa.*
Semua amal kembali kepada diri sendiri orang yang beramal kecuali Puasa, karena puasa untuk Allah semata dan Allah swt akan membalasnya khusus di akhirat nanti, Seperti di Firmankan Alla swt dalam Haditz Qudsi;

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Rasulullah saw bersabda : Allah swt berfirman “ Semua Amal Bani Adam adalah Baginya kecuali puasa, maka sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan sesungguhnya aku akan membalasnya”.

3.     3.   *Shalawat Atas Nabi saw.*
Semua amal yang diperintahkan Allah swt kepada HambaNya tiadalah Allah swt mencontohkannya/ melakukannya kecuali Shalawat Atas Nabi saw, Allah swt memerintahkan Hambanya untuk bershalawat atas Nabi saw dan Allah swt beserta para malaikatNya senantiasa bershalawat atas Nabi saw, seperti Firmannya :

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

"Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (Al-Ahzaab: 56)


Wallahu A’lam..... Semoga bermanfaat....

Kamis, 06 April 2017

Ada apa di tanggal 10 rojab ???



Ada apa di Tanggal 10 Rojab???

Oleh : donnieluthfiyy

روى عبد الرزاق بسنده في كتابه (جنة الخلد) عن جابر بن عبد الله الأنصاري قال: قلت: {يا رسول الله بأبي أنت وأمي أخبرني عن أول شيء خلقه الله قبل الأشياء؟ قال: يا جابر إن الله خلق قبل الأشياء نور نبيك من نوره، فجعل ذلك النور يدور بالقدرة حيث شاء الله تعالى، ولم يكن في ذلك الوقت لوح ولا قلم ولا جنة ولا نار، ولا ملك ولا سماء ولا أرض ولا شمس ولا قمر ولا جن ولا إنس، فلما أراد الله أن يخلق الخلق قَسّم ذلك النور أربعة أجزاء: فخلق من الجزء الأول القلم، ومن الثاني اللوح، ومن الثالث العرش، ثم قسم الجزء الرابع أربعة أجزاء: فخلق من الجزء الأول حملة العرش، ومن الثاني الكرسي، ومن الثالث باقي الملائكة، ثم قسم الجزء الرابع أربعة أجزاء: فخلق من الجزء الأول السموات، ومن الجزء الثاني الأراضين، ومن الثالث الجنة والنار، ثم قسم الجزء الرابع إلى أربعة أجزاء: فخلق من الجزء الأول نور أبصار المؤمنين، ومن الثاني نور قلوبهم، وهي المعرفة بالله، ومن الثالث نور أنسهم، وهو التوحيد لا إله إلا الله محمد رسول الله. ثم نظر إليه فترشح النور عرقاً، فتقطرت منه مائة ألف قطرة وعشرين ألفاً وأربعة آلاف قطرة، فخلق الله من كل قطرة روح نبي رسول، ثم تنفست أرواح الأنبياء فخلق الله من أنفاسهم أرواح الأولياء والسعداء والشهداء والمطيعين من المؤمنين إلى يوم القيامة، فالعرش والكرسي من نوري، والكروبيون من نوري، والروحانيون من نوري، والجنة وما فيها من النعيم من نوري والشمس والكواكب من نوري، والعقل والعلم والتوفيق من نوري، وأرواح الأنبياء والرسل من نوري، والسعداء والصالحون من نتائج نوري، ثم خلق الله آدم من الأرض ورَّكب فيه النور وهو الجزء الرابع، ثم انتقل منه إلى شيث وكان ينتقل من طاهر إلى طيب إلى أن وصل إلى صلب عبد الله ومنه إلى وجه أمي آمنة ثم أخرجني إلى الدنيا فجعلني سيد المرسلين وخاتم النبيين وقائد الغر المحجلين. هكذا بدأ خلق نبيك يا جابر}. حديث صحيح
Imam Abdur Razak meriwayatkan sebuah hadits sahih dalam kitabnya “Jannatul Khuldi”, pada hadits tersebut menjelaskan tentang peristiwa penciptaan Nur Baginda Nabi Muhammad SAW sampai pada penciptaan makhluk lainnya, sehingga sampai pada peristiwa perpindahan Nur Muhammad dari Sulbi Sayyidina Abdullah kepada Rahim Sayyidah Aminah.
Kemudian  dalam tarikh Nabawiyah para ulama meriwayatkan :
لما رأى وهب من كرامة والد النبي صلى الله عليه وسلم فزوجه بها في رجب ليلة الجمعة فانتقل النور إليها
Bahwasannya perpindahan Nur Muhammad dari Sulbi Sayyidina Abdullah kepada Sayyidah Aminah terjadi pada Malam Jum’at di bulan Rojab, dan sebagian ulama berpendapat bahwasannya tanggalnya yaitu pada malam ke-10 Rojab.
Dari dasar ini banyak ulama ikut bergembira dan bersuka cita akan datangnya malam 10 Rojab, bahkan di sunahkan Puasa di 10 Rojab dan banyak-banyak membaca Sholawat atas Nabi saw... dan ada anjuran Pula melakukan hubungan suami istri di malam tersebut dan berharap mendapatkan Anak yang Sholeh/ sholehah.... Silahkan yang kepingin punya anak Sholeh nanti malam berjuang... dan semoga bisa menjadi sababiyah yang belum punya keturunan bisa punya keturunan dengan barokah malam yang mulia, yakni malam yang menjadi awal pertanda akan lahirnya Manusia utama yang terpilih... amiiin...


Wallahu A’lam.... Semoga ada manfa’atnya...

Jumat, 02 Desember 2016

Puasa Asyura




Berkenaan dengan hadits2 Puasa Asyuro...
Hadits pertama.
كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانُ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ لَا يَصُومُهُ
“Orang-orang Quraisy biasa berpuasa pada hari asyura di masa jahiliyyah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melakukannya pada masa jahiliyyah. Tatkala beliau sampai di Madinah beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.”
Penjelasan : Bahwasannya orang2 jahiliyyah berpuasa pada hari Asyuro (Mereka mengikuti kebiasaan nenek moyang mereka dan nenek moyang mereka pun mengikuti kebiasaan kaum2 sebelumnya yang mengikuti para Nabi sebelum Rasulullah SAW), namun Nabi SAW berpuasa hari itu di mekah atas perintah Allah. (Makanya Rasulullah belum mengenal puasa tersebut dengan nama puasa Asyuro).
Hadits Kedua.
وروى البخاري ومسلم عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَدِينَةَ فَرَأَى اليَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: «مَا هَذَا؟»، قَالُوا: هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ، فَصَامَهُ مُوسَى، قَالَ: «فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ»، فَصَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya :”Apa ini?” Mereka menjawab :”Sebuah hari yang baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur. Maka beliau Rasulullah menjawab :”Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi), maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu.”
Penjelasan : Ketika Nabi SAW datang ke madinah kemudian melihat orang2 yahudi juga berpuasa di hari yang sama (Asyuro) bahkan orang2 yahudi menjadikannya hari raya, maka Nabi bertanya “Ada apa dengan hal ini ?” (Maksudnya Nabi ingin tahu apa yang mereka kerjakan) kemudian mereka menjawab bahwa hari ini adalah hari dimana Bani Isroil di selamatkan dari musuh, dan Nabi Musa berpuasa di hari ini. Maka Nabi menjawab “Kami lebih berhak atas hari ini dari kalian” (Karena Nabi berpuasa Asyuro atas perintah Allah SWT).
Hadits ketiga.
روى البخاري ومسلم عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانُوا يَصُومُونَ عَاشُورَاءَ قَبْلَ أَنْ يُفْرَضَ رَمَضَانُ، وَكَانَ يَوْمًا تُسْتَرُ فِيهِ الكَعْبَةُ، فَلَمَّا فَرَضَ اللَّهُ رَمَضَانَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ شَاءَ أَنْ يَصُومَهُ فَلْيَصُمْهُ، وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَتْرُكَهُ فَلْيَتْرُكْهُ». واللفظ للبخاري

dari ‘Aaisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Manusia melaksanakan puasa hari ‘Asyura’ sebelum diwajibkan puasa Ramadhan dan hari itu adalah hari ditutupnya Ka’bah (dengan kiswah). Ketika Allah mewajibkan puasa Ramadhan, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa berkehendak untuk berpuasa maka berpuasalah, dan barangsiapa berkehendak untuk meninggalkannya maka tinggalkanlah.”
Penjelasan : Nabi SAW biasa puasa di hari Asyuro, kemudian memerintahkan para sohabat berpuasa juga, namun setelah di fardlukannya puasa romadhon kemudian Nabi meninggalkannya, hal ini supaya para sohabat tahu bahwa puasa Asyuro adalah Sunah mustahab saja (Tidak wajib).
Hadits ke empat.
روى مسلم في " صحيحه " عن ابن عباس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم حين صام يوم عاشوراء وأمر بصيامه قالوا : يا رسول الله إنه يوم تعظمه اليهود والنصارى فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم ((إذا كان العام المقبل إن شاء الله صمنا اليوم التاسع فلم يأت العام المقبل حتى توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم))
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan berpuasa. Para shahabat berkata:”Ya Rasulullah, sesungguhnya hari itu diagungkan oleh Yahudi.” Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Di tahun depan insya Allah kita akan berpuasa pada tanggal 9.”, tetapi sebelum datang tahun depan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat.”
Penjelasan : Nah pada hadits ini (Satu tahun sebelum beliau SAW Intiqol/wafat) Rasulullah sudah mengenal puasa hari tersebut adalah puasa Asyuro yang biasa dilakukan juga oleh orang2 yahudi, baru kemudian Rasulullah mensunahkan puasa hari Tasu’a untuk membedakan dengan puasa orang2 yahudi.
والله أعلم


List Video