Tampilkan postingan dengan label Celaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Celaan. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Maret 2019

Bagaimanakah Sikap seorang Muslim kepada Kafir Dzimmi



Bagaimanakah Sikap seorang Muslim kepada Kafir Dzimmi

Oleh Donnieluthfiyy.
Karawang, 01/03/2019

Sebelum Membahas berkenaan bagaimana Sikap seorang muslim kepada Kafir Dzimmi, maka sangat perlu untuk memahami Definisi Kafir Dzimmi tersebut.

Yang pertama Definisi Kafir Dzimmi menurut Kamus Al Wasith Juz 1 Halaman 315 adalah ;
Sesugguhnya Dzimmi adalah ikatan kesepakatan dalam perjanjian yang memberikan rasa aman terhadap Harta, Tubuh, dan Agama, yaitu seseorang yang diberikan rasa aman yang tertuang dalam Syarat di dalam piagam perjanjian dengan persyaratan membayar Pajak Jizyah. Atau bisa juga di artikan sebagai Orang kafir yang lahir dan menetap dalam Negara Islam, maksudnya adalah Ia menjadikannya sebagai Tanah Air kelahirannya – dengan kewajiban membayar Pajak Jizyah dan mengikuti Hukum Islam, karena Ia adalah Non muslim yang menjadi Rakyat dalam Negara Islam. Dan Definisi lainnya yaitu Seseorang Kafir Dzimmi yang berada diantara kita, maksudnya adalah dengan adanya Suatu kesepakatan untuk tinggal menetap di Negara kita dengan jaminan keamanan serta mau membayar Pajak Jizyah.

Imam Qaunawi berkata : Dzimmi yaitu kesepakatan, karena sesungguhnya dalam kesepakatanya tersebut menyebabkan wajibnya mendapat Jaminan juga pernyataan keamanan dan tanggungan, serta dalam setiap perkara tersebut menjadikan kedekatan satu sama lain, dan dari sebagian perkara tersebut juga dikatakan kepada para pembuat perjanjian dari orang-orang kafir Dzimmi,bahwa sesungguhnya mereka mendapatkan keamanan atas hartanya, jiwanya itu dengan membayar Pajak Jizyah. [Anisu Fuqaha Juz 1 Hal. 182].

Kesimpulannya adalah bahwasannya Kafir Dzimmi yaitu orang selain Muslim yang tinggal dan menetap bersama kita sebagai Rakyat suatu Negara, yang sama-sama mengikuti aturan yang ada dan sama-sama pula membayar Pajak kepada Negara. Dan mereka mendapatkan Hak yang sama dalam perlindungan terhadap Harta, Nyawa dan jaminan keselamatannya.

Rasulullah saw bersabda :

«مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا»
“ Siapa orangnya yang memerangi/memusuhi orang Kafir yang mengadakan kesepakatan (Kafir Dzimmi), Maka ia tidak akan mencium Aroma Surga, dan sesungguhnya Aroma surga itu bisa tercium sejauh jarak perjalanan 40 tahun”. [HR. Bukhari : 3166].

Dan dalam Riwayat Imam Nasai, Rasulullah saw bersabda :

«مَنْ قَتَلَ قَتِيلًا مِنْ أَهْلِ الذِّمَّةِ لَمْ يَجِدْ رِيحَ الجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا»
“Siapa orangnnya yang memerangi/ memusuhi dengan satu peperangan/permusuhan kepada Orang Kafir Dzimmi, maka ia tidak akan menemukan Aroma Surga, dan sesungguhnya Aromanya tersebut dapat tercium sejauh jarak perjalanan 40 Tahun”.

Hadit tersebut menunjukan peringatan keras bagi orang yang memerangi/ memusuhi Orang Kafir Dzimmi (Ahlu Dzimmah).

Baginda Nabi Muhammad saw telah berwasiat berkenaan dengan hubungan bertetangga, dan agar berbuat baik kepada mereka, baik tetangganya itu seorang Yahudi, Ataupun Nasrani dan lainnya,
Rasulullah saw bersabda :

«مَا زَالَ جبريلُ يُوصِيني بالجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أنَّه سَيُورِّثُه».
“Terus menerus (Malaikat) Jibril turun memberikan wasiat kepadaku tentang tetangga, sehingga aku menyangka bahwasannya Ia akan mewariskannya”.

Kalimat Tetangga ( Al Jaar) dalam hadits tersebut bersifat umum, tidak hanya kepada tetangga Muslim, tetapi juga tetangga Non Muslim, Imam Bukhari dan Imam Abu Dawud meriwayatkan dalam Kitab Adab Al Mufrod, dari Mujahid, ia berkata “ Aku berada bersama Abdullah Bin Umar, sedang anaknya yang sudah dewasa sedang menguliti seekor Kambing, kemudian Abdullah bin Umar berkata : Nak.. jika engkau telah selesai (Menguliti Kambing) maka mulailah dengan Kambing tetangga Yahudi kita..., maka berkatalah seorang lelaki dari kaumnya : Wahai Orang Yahudi, Adakah Allah swt berbuat baik kepadamu ?, maka Yahudi tersebut berkata : Aku mendengar Rasulullah saw berwasiat tentang tetangga, sehingga kami khawatir dan berpikir bahwa sesungguhnya Beliau akan mewariskannya”.

Imam Al Hafidz Ibnu Hajjar ra Dalam Kitab Fathul Bari berkata :

وَاسْمُ الجَار يَشْمَل المسْلِمَ وَالْكَافِرَ، وَالعَابِدَ وَالْفَاسِقَ، وَالصَّدِيقَ وَالْعَدُوَّ، وَالْغَرِيب وَالْبَلَدِيَّ، وَالنَّافِع وَالضَّارَّ، وَالْقَرِيبَ وَالأَجْنَبِيَّ، وَالْأَقْرَب دَارًا وَالْأَبْعَدَ، وَلَهُ مَرَاتِب بَعْضهَا أعلى من بعض، فَأَعْلَاهَا مَنْ اجتَمعَتْ فِيهِ الصِّفَات الْأُوَل كُلّهَا ثُمَّ أَكْثَرهَا وَهَلُمَّ جَرًّا إِلى الوَاحِد، وَعَكْسه مَن اجْتَمَعَتْ فيه الصِّفَات الأخْرَى كَذَلِكَ، فَيُعْطى كُلٌّ حَقه بِحَسَبِ حَاله، وَقَدْ تَتَعَارَض صفتان فأكثر فَيُرَجِّح أو يُسَاوِي
Nama dari Kata Tetangga mencakup Orang Muslim kemudian orang Kafir, Orang ahli Ibadah kemudian Orang Fasiq (Ahli Maksiat), Teman kemudian Musuh, Orang Asing kemudian Orang Pribumi, yang memberi manfaat kemudian yang memberi madhorot, Kerabat kemudian orang lain, yang rumahnya dekat kemudian yang jauh. dan urut-urutan tersebut satu dengan lainnya berbeda urutan tingkatannya, Maka tingkatan yang lebih tinggi (Dalam urutan bertetangga) adalah orang yang terkumpul didalamnya sifat-sifat yang awal dari semuanya, kemudian yang lebih kuat dan seterusnya. Adapun sebaliknya yaitu orang yang terkumpul sifat-sifat selainnya tersebut, Maka berikanlah haknya dengan pertimbangan keadaannya, dan sungguh saling berlawanan dua sifat tersebut dan yang lebih kuat lagi, maka saling dikuatkan-lah atau saling disetarakan-lah. [Fathul Bari Juz 10 Hal. 456].

Oleh sebab itu termasuk Akhlak Nabi saw terhadap Kafir Dzimmi adalah dengan banyak mendo’akan agar mendapatkan Hidayah, dan tida pernah melaknatnya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, beliau berkata : dikatakan (Kepada Nabi saw) : Wahai Rasulullah!, Do’akanlah keburukan bagi orang-orang Musyrik (Kafir Quraisy), kemudian Rasulullah saw bersabda : 

«إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا، وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً»
“Sesungguhnya aku tidak diutus sebagai Pelaknat, dan bahwasannya aku diutus sebagai Rahmat”.

Dan Rasulullah saw juga melarang berkata “ Wahai Kafir...!” kepada saudara, sedangkan Tetangga merupakan Saudara terdekat kita.

آنما رجل قال لأخيه يا كافر فقد باء بها أحدهما آن كان كما قال وآلا رجعت عليه
“Siapa saja yang berkata kepada Saudaranya (Dengan Ucapan) : Hai Kafir…!, Maka akan kembali kepada salah satunya, jika sesuai dengan Tuduhannya, jika tidak maka akan kembali kepada orang yang mengucapkannya”.

Kemudian menurut Pendapat Madzhab Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah melarang melaknat Orang Kafir ketika masih Hidup, karena tidak diketahuinya apakah Ia akan Mati dalam keadaan Kafir atau Mati dalam keadaan Husnul Khatimah sebagai seorang Muslim nantinya.

Wallahu A’lam… Semoga bermanfaat.s

Selasa, 07 Agustus 2018

Jangan mengaitkan Bencana Alam dengan Adzab kepada Umat Nabi saw.



Jangan mengaitkan Bencana Alam dengan Adzab kepada Umat Nabi saw.

Oleh : donnieluthfiyy

Ketika Allah swt mewahyukan Firmannya berikut ini kepada Nabi Muhammad saw :

Allah SWT berfirman:

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلٰۤى اَنْ يَّبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِّنْ فَوْقِكُمْ اَوْ مِنْ تَحْتِ اَرْجُلِكُمْ اَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَـعًا وَّيُذِيْقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ ۗ اُنْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُوْنَ

"Katakanlah (Muhammad), Dialah yang berkuasa mengirimkan azab kepadamu, dari atas atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain. Perhatikanlah, bagaimana Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kekuasaan Kami) agar mereka memahami(nya)." (QS. Al-An'am 6: Ayat 65)

Dalam Tafsir Baghowi berkenaan ayat tersebut, kemudian Nabi saw memanjatkan Do'a dengan Do'a berikut ini...

عن عامر بن سعد بن وقاص عن أبيه، قال: أقبلنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى مررنا على مسجد بني معاوية فدخل فصلى ركعتين وصلينا معه فناجى ربه طويلاً ثم قال:" سألت ربي ثلاثاً: سألته أن لا يهلك أمتي بالغرق فأعطانيها، وسألته أن لا يهلك أمتي بالسنة فأعطانيها، وسألته أن لا يجعل بأسهم بينهم، فمنعنيها ".

" Diriwayatkan dari Amir bin Sa'ad bin Waqosh dari ayahnya, Ia berkata : kami melewati Masjid Bani Mu'awiyah kemudian kami memasukinya dan Shalat 2 Raka'at, selanjutnya Kami Sholat bersama Nabi saw, selesai shalat maka Nabi bermunajat begitu lama kepada Rabbnya, kemudian beliau saw berdo'a : “Aku meminta tiga (hal) pada Rabbku, Ia mengabulkan dua (hal) dan menolakku satu (hal). Aku meminta Rabbku agar tidak membinasakan ummatku dengan kekeringan, maka Ia mengabulkannya untukku. Aku meminta-Nya agar tidak membinasakan ummatku dengan banjir, maka Ia mengabulkannya untukku. Dan aku meminta-Nya agar tidak menjadikan kehancuran mereka di antara sesama mereka tapi Ia menolaknya.”

Maka apakah kalian kemudian selalu mengaitkan Bencana Alam dengan Adzab kepada Umat Muslim? Seakan2 itu adalah Adzab dunia bagi Umat Muslim...

Ketahuilah! Salah satu keutamaan Nabi Muhammad saw untuk umatnya adalah...
Bahwasannya Allah swt memberikan RahmatNya untuk Umat Nabi saw sehingga tidak menjadikan mereka seperti umat2 terdahulu yang di adzab langsung dengan bencana Alam, yang kemudian membinasakannya...

Apakah kalian Ragu bahwa Allah swt telah mengabulkan Do'a NabiNya yang tercinta, bahwasannya dengan sebab Do'a beliau saw tersebut Allah swt berkenan menunda AdzabNya kepada Umat baginda Nabi Muhammad saw hingga nanti di Akhirat kelak...

Justru satu hal do'a yang di tolakNya adalah...
Bahwa Umat Islam akan saling menghancurkan satu sama lainnya... Dan ini justru malah yang tidak kalian sadari... Malahan kalian saling menuding bahwa Bencana Alam adalah Adzab untuk masing2 mereka...

أسكت لا تتكلم، اذا كنت لم تفهم

"Diamlah jangan berbicara, jika kalian tidak mengerti...!!!" 😠

Jangan sampai kalian yang menjadi sebab Fitnah kehancuran Umat hingga saling memerangi satu sama lainnya...

Minggu, 15 Juli 2018

Cebong (Katak) dan Kampret (Kelelawar) adalah dua makhluk yang dimuliakan Allah swt.





Cebong (Katak) dan Kampret (Kelelawar) adalah dua makhluk yang dimuliakan Allah swt.

Oleh : donnieluthfiyy

Wahai Saudaraku janganlah kalian menghinakan atau mengolok-olok Makhluk yang justru oleh Allah swt dan para RasulNya dimuliakan.

Allah swt berfirman dalam Surat Taubah ayat 65 :

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ

“Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?"

==> Cebong atau Katak (setelah Dewasa) adalah hewan yang dimuliakan, beberapa kemuliaan Katak adalah sbb :

عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: كانت الضفدع تطفئ النار عن إبراهي

“ Dari Sayyidah Aisyah rah : sesungguhnya Nabi saw bersabda : Katak adalah hewan yang  ikut berusaha memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim as”.

وعن سهل بن سعد الساعدي عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه :  نهى عن قتل الخمسة: عن النملة والنحلة والضفدع والصرد والهدهد. رواه الطبراني

“Dari Sahl bin Sa’ad As Sadiy dari Rasulullah saw, sesungguhnya Rasulullah saw melarang membunuh lima hewan : diantaranya adalah Semut, Lebah, Katak, Burung Pinguin dan Burung Hud-hud”. (HR : At Tabrani).

Kisah Katak dalam Kisah Nabi Ibrahim as ini, adalah sebuah kisah yang sangat menyentuh sanubari dimana ketika seekor katak tidak tahan melihat Nabi Ibrahim hendak dibakar oleh Raja Namrud, (padahal) tidak mampu berbuat apa-apa, ia hanya menaruh air di mulutnya. Berapakah besar mulutnya katak untuk memadamkan apinya Nabi Ibrahim? (Api menyala) lebih besar dari bukit, Katak mengambil air dari sungai dan melompat-lompat dan menyemburkan air itu ke api. Disinilah nilai ke Ikhlasan dari seekor Katak atas sebuah perjuangan, tanpa terikat dengan hasil yang bisa di raihnya. Oleh sebab itu Baginda Nabi Muhammad saw melarang membunuh Katak dikarenakan jasanya dalam keihlasan perjuangannya tersebut.

==> Kampret (Kelelawar) juga adalah hewan yang dimuliakan, diantara kemuliaannya adalah sbb :

Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 49 :

أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ

“yaitu aku (Nabi Isa as) membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah”.

Para Mufasir banyak yang menafsirkan bahwa yang di maksud burung yang dibuat oleh Nabi Isa as tersebut adalah burung Kelelawar. Kenapa burung kelelawar ?, karena menurut para Ulama ahli Tafsir bahwa kelelawar adalah Hewan yang sempurna kemiripannya dengan Manusia, Ia memiliki Payudara, Gigi dan Telinga yang mirip Manusia. Dan dikatakan pula oleh para Ulama Ahli Tafsir bahawa kelelawar adalah Hewan yang menakjubkan diantara hewan lainnya, bahkan Air Mani kelelawar mirip seperti Mani seorang laki-laki.

Akhirnya Saudaraku... janganlah merasa terhina dengan Olok-olok Cebong maupun Kampret yang kemudian saling membalas satu sama lainnya, padahal kedua makhluk tersebut adalah makhluk2 yang dimuliakan Allah swt dan para RasulNya.

Wallahu A’lam... semoga bermanfaat...



Minggu, 13 Agustus 2017

Kesempurnaan Agama menunjukan lemahnya manusia...!!, Agama lah yg disempurnakan (oleh Allah swt), bukan manusia yg disempurnakan...!!





*Kesempurnaan Agama menunjukan lemahnya manusia...!!*
*Agama lah yg disempurnakan (oleh Allah swt), bukan manusia yg disempurnakan...!!*

Oleh : donnieluthfiyy

*الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا*
Ayat tersebut di jadikan dalil oleh sebagian kelompok untuk meniadakan bid'ah hasanah... dan memvonis bahwa semua bid'ah adalah sesat, apakah benar seperti itu ??

Imam Baghowi dalam Tafsirnya mengutip sebuah hadits berkenaan dengan Ayat tersebut, seperti berikut ini..
سمعت عبد الواحد المليحي قال : سمعت أبا محمد بن أبي حاتم قال : سمعت أبا بكر النيسابوري سمعت أبا بكر محمد بن الحسن بن المسيب المروزي ، سمعت أبا حاتم محمد بن إدريس الحنظلي ، سمعت عبد الملك بن مسلمة أبا مروان المصري سمعت إبراهيم بن أبي بكر بن المنكدر رضي الله عنه سمعت عمي محمد بن المنكدر سمعت جابر بن عبد الله رضي الله عنه يقول : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : " قال جبريل عليه السلام قال الله تعالى : هذا دين إرتضيته لنفسي ولن يصلحه إلا السخاء وحسن الخلق، فأكرموه بهما ما صحبتموه
*_“Aku mendengar dari Abdul Wahid Al Malihi, ia berkata : Aku mendengar dari Abu Muhammad Bin Abu Hatim, ia berkata : Aku mendengar dari Abu Bakar An Naisaburi, Aku mendengar dari Abu Bakar Muhammad Bin Hasan Bin Musib Al Maruzi, Aku mendengar dari Abu Hatim Muhammad Bin Idris Handzali, Aku mendengar dari Abdul Malik Bin Musallamah Abu Marwan Al Mishri Aku mendengar dari Ibrahim Bin Abu Bakar Bin Munkidar ra, aku mendengar dari Pamanku Muhammad Bin Munkidar aku mendengar dari Jabir Bin Abdullah ra, ia berkata : Aku mendengar dari Rasulullah saw, beliau bersabda : *”Malaikat Jibril as berkata : Allah swt berfirman : Agama ini (Islam)... AKU telah Ridlo kepadanya bagi diriKU dan tidaklah menjadi baik kecuali dengan Kemurahan hati dan kebagusan Akhlak, maka muliakanlah oleh kalian semua Agama Islam tersebut dengan keduanya didalam perkara yang kalian semua (itu sebagai) pendampingnya (Agama Islam)*”._*

Di firmankan oleh Allah swt dalam hadits Qudsi diatas, bahwa agama ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan kemurahan hati dan Akhlak yg baik (yg dimiliki oleh Umat Islam), tidak merasa paling benar, paling berhak, paling suci, paling tahu Agama dan lain-lainnya.

Oleh karena itu jika kita lebih teliti memahami maksudnya baik secara tekstual maupun kontekstual akan kita dapati bahwasannya :

1. Maqosid secara tekstual dari pada ayat tersebut menunjukan bahwa semua kebaikan  yg ada dasarnya dari agama adalah diperbolehkan, karena semua kebaikan asalnya dari Agama dan dengan sempurnanya Agama berarti juga kebaikan yg diajarkan agama pun telah sempurna, dan kebaikan itu bisa berupa apa saja selama tidak bertentangan dengan perintah dan ketiadaan larangannya.

2. Adapaun maqosid secara kontekstual mengisyaratkan berkenaan manusia yg telah diberikan kelonggaran didalam memilih kebaikan itu sendiri dengan dasar ke tamyizan (fase kedewasaan manusia) dalam kematangan berfikirnya, sehingga secara naluriah manusia sendiri diberikan kemampuan untuk bisa membedakan perkara yg baik maupun yg buruk, sehingga jika perkara baik tersebut memiliki landasan dasar dari agama maka Agamapun membolehkannya. Dan kebaikan dalam kondisi dan keadaan selalu berubah-ubah dalam setiap zamannya, jadi apakah berbuat baik itu harus seperti apa yg dilakukan orang2 terdahulu??.

Karena faktanya ketika dikatakan bahwa Agama telah sempurna, maka siapakah yg mampu menguasai Agama secara sempurna kecuali Rasulullah saw ??

Disini seharusnya kita sudah bisa berfikir ketika seseorang dengan kaku memahami bahwa semua bid'ah adalah sesat, brrt dia juga harus bisa membuktikan bahwa dirinya telah dapat menguasai agama secara sempurna!!! *Apakah mungkin dan bisa ???*

Wallahu A'lam.... semoga bermanfa'at...

Rabu, 09 Agustus 2017

Janganlah mudah menuduh dan mencaci munafiq, fahami dulu apa itu kemunafiqan....





Janganlah mudah menuduh dan mencaci munafiq, fahami dulu apa itu kemunafiqan....

oleh : donnieluthfiyy

Munafiq itu adalah adanya sesuatu hal yg bertolak belakang antara apa yg diyakininya (yang berangkat dari pengetahuannya) dengan apa yg dikatakan dan diperbuatnya secara sadar dan disengaja.
Karena sangat jelas sekali makna munafiq tersebut di dalam Al Qur'an Surat Al Baqarah ayat 14 - 15 :
Allah swt berfirman ;

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آَمَنُوا قَالُوا آَمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ - اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ. (البقرة: 14 – 15(
Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan : "Kami telah beriman". Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka (pemimpin-pemimpin mereka), mereka mengatakan : "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok." - Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. (QS.Al-Baqarah : 14 – 15).

Jelas sekali bahwa kemunafikan itu lahir dari kesadaran yg nyata, dan adanya maksud untuk mengolok-olok, serta mempermainkan.
Namun jika seseorang tanpa sadar karena adanya perbedaan dalam hal cara berfikir dan cara pandang atau interpretasi atas sesuatu hal atau hukum tertentu yang kesemuanya muncul dari apa yg diketahuinya dan kemudian diyakininya, hal ini bukanlah yang disebut kemunafiqan. orang yang seperti ini dikatakan orang-orang yang sedang mencari dan menuju kebaikan atau kebenaran, hanya saja ia belum menemukan hakikat dan hikmahnya, maka sebagai saudara seiman wajiblah bagi kita untuk menjelaskan dengan mauidhoh hasanah dan akhlak penyampaian yg baik.

Wallahu A'lam.... Semoga bermanfa'at

Kita Tidak akan pernah bisa sama...





Kita Tidak akan pernah bisa sama...

Oleh : donnieluthfiyy

Menyatukan pemikiran dan penafsiran serta cara pandang memang amat sangat sulit dan memang hampir mustahil kecuali dengan Hidayah Allah swt...
Manusia diciptakan dengan Tabi'at, sifat dan karakter yang berbeda-beda, dan itu pula yang mempengaruhi perbedaan dalam cara pandang dan pemikirannya...
Walaupun sama yang dibaca atau sama-sama menyaksikan namun tetap saja ada celah perbedaan dalam memahami serta menafsirkannya...
Kenapa bisa seperti itu....
Hakikinya adalah supaya Manusia bisa menyadari bahwasannya dirinya hanyalah makhluk yang lemah dan tak berdaya dengan segala kekurangannya...
Dalam Memahami Ilmu-ilmu Agama... para ulamapun berbeda-beda dalam memahami dan menafsirkan...
Seperti dalam Fiqih terdapat 4 Madzhab dan masing-masing Madzhabpun memiliki manhaj yang berbeda dalam berijtihad...
begitupun dalam Ilmu Tafsir bahkan Nahwu (Tata Bahasa)...
Jika kita sebagai manusia masih belum menyadari Fitrahnya yang diciptakan berbeda-beda, serta masih belum bisa menerima adanya perbedaan, maka sungguh rugi kehidupannya... karena hanya akan terus tersiksa oleh suatu keadaan yang merupakan Sunatullah yang secara pasti Ia tidak akan bisa dan kuasa untuk merubahnya...
Maka berenanglah mengikuti Arus sungai agar tidak kelelahan dan membuang energi cuma-cuma... namun janganlah menjadi sampah ataupun limbah yang merugikan bagi kebersihan dan kesucian air sungai tersebut...
Allah swt berfirman dalam Surat Ar-Rum ayat 22

وَمِنْ آَيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.

Allah swt berfirman Surat Al-Hujurat ayat 13

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Wallahu A'lam....

List Video