Tampilkan postingan dengan label caci. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label caci. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Agustus 2018

Kajian Hadits tiga perkara musibah yang akan menimpa Umat ketika mereka berlari menjauhi Ulama dan Fuqaha



Kajian Hadits tiga perkara musibah yang akan menimpa Umat ketika mereka berlari menjauhi Ulama dan Fuqaha.

Oleh : donnieluthfiyy

Rasulullah SAW bersabda :

سياتى زمانٌ على امّتى يفرّون من العلماءِ والفقهاء فيبتليهمْ اللهُ بثلاثِ بليّاتٍ : اُولاها يرفع اللهُ البركةَ من كسبهم , والثانية يسلّط الله تعالى عليهم سلطانا ظالما , والثالثة يخرجون من الدنيا بغير ايمانٍ
“Akan datang suatu Zaman kepada ummatku dimana mereka lari menjauh dari para ulama dan fuqoha, maka Allah akan menurunkan tiga macam musibah kepada mereka, yaitu :
1.       Allah menghilangkan berkah dari rizki mereka.
2.       Allah menjadikan penguasa yang zalim untuk mereka.
3.       Allah mengeluarkan mereka dari dunia ini tanpa membawa iman”. (Kitab Nashoihul Ibaad)

Dalam hadits tersebut menggambarkan kelak umat akan berlari menjauhi Ulama dan Fuqoha yakni orang-orang Sholeh yang hatinya dipenuhi kecintaan kepada Allah swt dan ketiadaan rasa bergantung mereka kepada Dunia. Mereka tidak mejauhinya secara nyata, namun mereka membuat orang-orang Sholeh menjadi samar tak jelas karena perilaku mereka yang mengaburkan peran orang-orang sholeh tersebut, sehingga banyak orang awam secara tidak sadar menjauhi para Ulama dan Fuqoha, sifat mereka Bar-bar jauh dari Sifat Murah hati, mereka tidak lagi menghormati yang lebih tua dan tidak pula menyayangi orang-orang lemah diantara mereka, mereka saling berebut Kekuasaan dan Harta Dunia, mereka sangat gemar mengobarkan peperangan seperti Kaum Jahiliyah dimasa sebelum Nabi saw di utus, ciri-ciri mereka tersebut di gambarkan dalam Hadits Nabi berikut ini.

Dari Sayyidina Ali Karomallahu Wajhah, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda :

يأتي على الناس زمان لا يُتَّبَعُ فيه العالم ، ولا يُستحيى فيه من الحليم ، ولا يُوقَّر فيه الكبير، ولا يُرحَم فيه الصغير، يقتل بعضهم بعضاً على الدنيا، قلوبهم قلوب الأعاجم ، وألسنتهم ألسنة العرب ، لا يعرفون معروفاً، ولا ينكرون منكراً، يُمسي الصالح مستخفياً، اُولئك شِرار خلق الله، لا ينظر الله إليهم يوم القيامة  (الإشاعة لأشراط الساعة: 116).

“Akan datang Suatu zaman kepada Manusia yang mereka tidak lagi mengikuti orang Alim, dan tidak lagi menghidupkan Sifat Murah Hati, tidak lagi menghormati orang yang lebih Tua, serta tidak lagi menyayangi orang yang lebih Muda, mereka satu sama lain saling memerangi demi Dunia (Harta dan Kekuasaan), Hati mereka adalah hati orang-orang ‘Ajami (Bukan Arab), namun Lisan-lisan mereka adalah lisan orang Arab (Berbicara Gaya orang Arab), mereka tidak mengerti arti kebajikan, dan tidak mengingkari kemungkaran, mereka menjadikan orang Sholeh menjadi Samar (tidak jelas), Mereka adalah seburuk-buruknya Makhluk Allah swt, dan Allah swt tidak mau memandang kepada mereka kelak di hari kiamat”.

Sehingga dengan perilaku tersebut dikarenakan Dunia yang mereka Tuju maka Allah memberikan 3 Musibah yang saling berkaitan.

  1. Allah swt mengangkat keberkahan dari apa yang mereka Capai, yakni Harta yang di dapat dari perkara Haram (Mungkar), seperti Korupsi yang merajalela yang dianggapnya sebagai bagian dari kerja keras mereka (hati mereka tidak mengingkari kemungkaran Korupsi), maka dari harta Korupsi yang mereka dapatkan tersebarlah Pos-pos peluang yang lain yang tidak halal, harta-harta tidak halal tersebut dimakan oleh orang-orang yang berada dalam lingkaran mereka.

  1. Kemudian dikarenakan serakahnya mereka dalam harta yang di dapat dari perlaku Haram tersebut (Kuropsi) maka mereka berupaya menjadikan seorang penguasa yang bisa mendukung hasrat dunia mereka tersebut, maka di jadikanlah oleh mereka seorang penguasa yang Dholim kepada Rakyatnya, namun mendukung perilaku mereka tersebut.

  1. Selanjutnya mereka menjaga dengan ketat, dengan segenap kemampuan mereka terhadap apa yang telah mereka dapatkan tersebut dari harta-harta korupsi haram yang mereka kumpulkan, sehingga mereka rela berperang dan membunuh atau terbunuh, dan pada akhirnya mereka semua keluar dari alam Dunia ini dalam keadaan tidak membawa Iman, karena kecintaan mereka yang berlebihan terhadap Harta dan Keuasaan (Dunia).

نعوذ بالله من ذلك ثم نعوذ بالله من ذالك....

Gunakanlah Hati Nuranimu wahai saudaraku, jangan sampai kita menjadi bagian dari Fitnah Akhir Zaman yang dimaksud dalam Hadits tersebut….

Wallahu A’lam….




Selasa, 07 Agustus 2018

Jangan mengaitkan Bencana Alam dengan Adzab kepada Umat Nabi saw.



Jangan mengaitkan Bencana Alam dengan Adzab kepada Umat Nabi saw.

Oleh : donnieluthfiyy

Ketika Allah swt mewahyukan Firmannya berikut ini kepada Nabi Muhammad saw :

Allah SWT berfirman:

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلٰۤى اَنْ يَّبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِّنْ فَوْقِكُمْ اَوْ مِنْ تَحْتِ اَرْجُلِكُمْ اَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَـعًا وَّيُذِيْقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ ۗ اُنْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُوْنَ

"Katakanlah (Muhammad), Dialah yang berkuasa mengirimkan azab kepadamu, dari atas atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain. Perhatikanlah, bagaimana Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kekuasaan Kami) agar mereka memahami(nya)." (QS. Al-An'am 6: Ayat 65)

Dalam Tafsir Baghowi berkenaan ayat tersebut, kemudian Nabi saw memanjatkan Do'a dengan Do'a berikut ini...

عن عامر بن سعد بن وقاص عن أبيه، قال: أقبلنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى مررنا على مسجد بني معاوية فدخل فصلى ركعتين وصلينا معه فناجى ربه طويلاً ثم قال:" سألت ربي ثلاثاً: سألته أن لا يهلك أمتي بالغرق فأعطانيها، وسألته أن لا يهلك أمتي بالسنة فأعطانيها، وسألته أن لا يجعل بأسهم بينهم، فمنعنيها ".

" Diriwayatkan dari Amir bin Sa'ad bin Waqosh dari ayahnya, Ia berkata : kami melewati Masjid Bani Mu'awiyah kemudian kami memasukinya dan Shalat 2 Raka'at, selanjutnya Kami Sholat bersama Nabi saw, selesai shalat maka Nabi bermunajat begitu lama kepada Rabbnya, kemudian beliau saw berdo'a : “Aku meminta tiga (hal) pada Rabbku, Ia mengabulkan dua (hal) dan menolakku satu (hal). Aku meminta Rabbku agar tidak membinasakan ummatku dengan kekeringan, maka Ia mengabulkannya untukku. Aku meminta-Nya agar tidak membinasakan ummatku dengan banjir, maka Ia mengabulkannya untukku. Dan aku meminta-Nya agar tidak menjadikan kehancuran mereka di antara sesama mereka tapi Ia menolaknya.”

Maka apakah kalian kemudian selalu mengaitkan Bencana Alam dengan Adzab kepada Umat Muslim? Seakan2 itu adalah Adzab dunia bagi Umat Muslim...

Ketahuilah! Salah satu keutamaan Nabi Muhammad saw untuk umatnya adalah...
Bahwasannya Allah swt memberikan RahmatNya untuk Umat Nabi saw sehingga tidak menjadikan mereka seperti umat2 terdahulu yang di adzab langsung dengan bencana Alam, yang kemudian membinasakannya...

Apakah kalian Ragu bahwa Allah swt telah mengabulkan Do'a NabiNya yang tercinta, bahwasannya dengan sebab Do'a beliau saw tersebut Allah swt berkenan menunda AdzabNya kepada Umat baginda Nabi Muhammad saw hingga nanti di Akhirat kelak...

Justru satu hal do'a yang di tolakNya adalah...
Bahwa Umat Islam akan saling menghancurkan satu sama lainnya... Dan ini justru malah yang tidak kalian sadari... Malahan kalian saling menuding bahwa Bencana Alam adalah Adzab untuk masing2 mereka...

أسكت لا تتكلم، اذا كنت لم تفهم

"Diamlah jangan berbicara, jika kalian tidak mengerti...!!!" 😠

Jangan sampai kalian yang menjadi sebab Fitnah kehancuran Umat hingga saling memerangi satu sama lainnya...

Minggu, 13 Agustus 2017

Kesempurnaan Agama menunjukan lemahnya manusia...!!, Agama lah yg disempurnakan (oleh Allah swt), bukan manusia yg disempurnakan...!!





*Kesempurnaan Agama menunjukan lemahnya manusia...!!*
*Agama lah yg disempurnakan (oleh Allah swt), bukan manusia yg disempurnakan...!!*

Oleh : donnieluthfiyy

*الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا*
Ayat tersebut di jadikan dalil oleh sebagian kelompok untuk meniadakan bid'ah hasanah... dan memvonis bahwa semua bid'ah adalah sesat, apakah benar seperti itu ??

Imam Baghowi dalam Tafsirnya mengutip sebuah hadits berkenaan dengan Ayat tersebut, seperti berikut ini..
سمعت عبد الواحد المليحي قال : سمعت أبا محمد بن أبي حاتم قال : سمعت أبا بكر النيسابوري سمعت أبا بكر محمد بن الحسن بن المسيب المروزي ، سمعت أبا حاتم محمد بن إدريس الحنظلي ، سمعت عبد الملك بن مسلمة أبا مروان المصري سمعت إبراهيم بن أبي بكر بن المنكدر رضي الله عنه سمعت عمي محمد بن المنكدر سمعت جابر بن عبد الله رضي الله عنه يقول : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : " قال جبريل عليه السلام قال الله تعالى : هذا دين إرتضيته لنفسي ولن يصلحه إلا السخاء وحسن الخلق، فأكرموه بهما ما صحبتموه
*_“Aku mendengar dari Abdul Wahid Al Malihi, ia berkata : Aku mendengar dari Abu Muhammad Bin Abu Hatim, ia berkata : Aku mendengar dari Abu Bakar An Naisaburi, Aku mendengar dari Abu Bakar Muhammad Bin Hasan Bin Musib Al Maruzi, Aku mendengar dari Abu Hatim Muhammad Bin Idris Handzali, Aku mendengar dari Abdul Malik Bin Musallamah Abu Marwan Al Mishri Aku mendengar dari Ibrahim Bin Abu Bakar Bin Munkidar ra, aku mendengar dari Pamanku Muhammad Bin Munkidar aku mendengar dari Jabir Bin Abdullah ra, ia berkata : Aku mendengar dari Rasulullah saw, beliau bersabda : *”Malaikat Jibril as berkata : Allah swt berfirman : Agama ini (Islam)... AKU telah Ridlo kepadanya bagi diriKU dan tidaklah menjadi baik kecuali dengan Kemurahan hati dan kebagusan Akhlak, maka muliakanlah oleh kalian semua Agama Islam tersebut dengan keduanya didalam perkara yang kalian semua (itu sebagai) pendampingnya (Agama Islam)*”._*

Di firmankan oleh Allah swt dalam hadits Qudsi diatas, bahwa agama ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan kemurahan hati dan Akhlak yg baik (yg dimiliki oleh Umat Islam), tidak merasa paling benar, paling berhak, paling suci, paling tahu Agama dan lain-lainnya.

Oleh karena itu jika kita lebih teliti memahami maksudnya baik secara tekstual maupun kontekstual akan kita dapati bahwasannya :

1. Maqosid secara tekstual dari pada ayat tersebut menunjukan bahwa semua kebaikan  yg ada dasarnya dari agama adalah diperbolehkan, karena semua kebaikan asalnya dari Agama dan dengan sempurnanya Agama berarti juga kebaikan yg diajarkan agama pun telah sempurna, dan kebaikan itu bisa berupa apa saja selama tidak bertentangan dengan perintah dan ketiadaan larangannya.

2. Adapaun maqosid secara kontekstual mengisyaratkan berkenaan manusia yg telah diberikan kelonggaran didalam memilih kebaikan itu sendiri dengan dasar ke tamyizan (fase kedewasaan manusia) dalam kematangan berfikirnya, sehingga secara naluriah manusia sendiri diberikan kemampuan untuk bisa membedakan perkara yg baik maupun yg buruk, sehingga jika perkara baik tersebut memiliki landasan dasar dari agama maka Agamapun membolehkannya. Dan kebaikan dalam kondisi dan keadaan selalu berubah-ubah dalam setiap zamannya, jadi apakah berbuat baik itu harus seperti apa yg dilakukan orang2 terdahulu??.

Karena faktanya ketika dikatakan bahwa Agama telah sempurna, maka siapakah yg mampu menguasai Agama secara sempurna kecuali Rasulullah saw ??

Disini seharusnya kita sudah bisa berfikir ketika seseorang dengan kaku memahami bahwa semua bid'ah adalah sesat, brrt dia juga harus bisa membuktikan bahwa dirinya telah dapat menguasai agama secara sempurna!!! *Apakah mungkin dan bisa ???*

Wallahu A'lam.... semoga bermanfa'at...

Rabu, 09 Agustus 2017

Janganlah mudah menuduh dan mencaci munafiq, fahami dulu apa itu kemunafiqan....





Janganlah mudah menuduh dan mencaci munafiq, fahami dulu apa itu kemunafiqan....

oleh : donnieluthfiyy

Munafiq itu adalah adanya sesuatu hal yg bertolak belakang antara apa yg diyakininya (yang berangkat dari pengetahuannya) dengan apa yg dikatakan dan diperbuatnya secara sadar dan disengaja.
Karena sangat jelas sekali makna munafiq tersebut di dalam Al Qur'an Surat Al Baqarah ayat 14 - 15 :
Allah swt berfirman ;

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آَمَنُوا قَالُوا آَمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ - اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ. (البقرة: 14 – 15(
Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan : "Kami telah beriman". Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka (pemimpin-pemimpin mereka), mereka mengatakan : "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok." - Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. (QS.Al-Baqarah : 14 – 15).

Jelas sekali bahwa kemunafikan itu lahir dari kesadaran yg nyata, dan adanya maksud untuk mengolok-olok, serta mempermainkan.
Namun jika seseorang tanpa sadar karena adanya perbedaan dalam hal cara berfikir dan cara pandang atau interpretasi atas sesuatu hal atau hukum tertentu yang kesemuanya muncul dari apa yg diketahuinya dan kemudian diyakininya, hal ini bukanlah yang disebut kemunafiqan. orang yang seperti ini dikatakan orang-orang yang sedang mencari dan menuju kebaikan atau kebenaran, hanya saja ia belum menemukan hakikat dan hikmahnya, maka sebagai saudara seiman wajiblah bagi kita untuk menjelaskan dengan mauidhoh hasanah dan akhlak penyampaian yg baik.

Wallahu A'lam.... Semoga bermanfa'at

Minggu, 19 Maret 2017

Janganlah sesama muslim saling mencela dengan sebutan binatang yang buruk, Fasiq, Munafiq atau Kafir. Dan tidak pula dengan panggilan Yahudi, Nasrani setelah ia beriman.



Janganlah sesama muslim saling mencela dengan sebutan binatang yang buruk, Fasiq, Munafiq atau Kafir. Dan tidak pula dengan panggilan Yahudi, Nasrani setelah ia beriman.

Oleh : donnieluthfiyy

Surat Al Hujurat Ayat 11 dilihat dari berbagai Tafsir
   يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah ٍSuatu Kaum mengejek (mencemooh) Kaum yang lain, boleh Jadi yang di-ejek (dicemooh) itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan mengejek (mencemooh) kumpulan lainnya, boleh Jadi yang di-ejek (Dicemooh) itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri, dan janganlah kalian semua saling mencela (memanggil) dengan julukan yang buruk. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) Fasiq sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.

Dalam tafsir Abi Hatim Ar Razi menafsirkan berkenaan dengan Lafat ayat berikut ini..
عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ،"﴿وَلا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ﴾، قَالَ: أَنْ يَقُولَ: إِذَا كَانَ الرَّجُلُ يَهُودِيًّا فَأَسْلَمَ: يَا يَهُودِيُّ، يَا نَصْرَانِيُّ، يَا مَجُوسِيُّ، وَيَقُولُ لِلرَّجُلِ الْمُسْلِمِ: يَا فَاسِقُ".
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Firman Allah swt “dan janganlah kalian semua saling mencela (memanggil) dengan julukan yang buruk “, beliau berkata : Maksud larangan tersebut adalah jika berkata seperti ini: “ Ketika seorang laki-laki Yahudi masuk Islam ; (Mencelanya dengan memanggil) Wahai Yahudi, Wahai Nashrani, Wahai Majusi, dan berkata kepada seorang laki-laki Muslim (dengan panggilan) Wahai Orang Fasiq.”

Dalam Tafsir Baghowi, beliau mufasir berkata berkenaan dengan Ayat ini pada lafadz....
ولا تنابزوا بالألقاب "، التنابز: التفاعل من النبز، وهو اللقب، وهو أن يدعى الإنسان بغير ماسمي به. قال عكرمة : هو قول الرجل للرجل: يا فاسق يا منافق يا كافر. وقال الحسن : كان اليهودي والنصراني يسلم، فيقال له بعد إسلامه يا يهودي يا نصراني، فنهوا عن ذلك. قال عطاء : هو أن تقول لأخيك: يا كلب يا حمار يا خنزير. وروي عن ابن عباس قال: (( التنابز بالألقاب )): أن يكون الرجل عمل السيئات ثم تاب عنها فنهي أن يعير بما سلف من عمله. " بئس الاسم الفسوق بعد الإيمان "، أي بئس الاسم أن يقول: يا يهودي أو يا فاسق بعد ما آمن وتاب، وقيل معناه: إن من فعل ما نهي عنه من السخرية واللمز والنبز فهو فاسق، وبئس الاسم الفسوق بعد الإيمان، فلا تفعلوا ذلك فتستحقوا اسم الفسوق، " ومن لم يتب "، من ذلك، " فأولئك هم الظالمون ".
“ Dan janganlah kalian semua saling mencela (memanggil) dengan julukan yang buruk “, Lafadz “  التنابز  “ : (adalah) Perbuatan Mencela, Yaitu mencela dengan Laqob (Julukan), Yakni memanggil seseorang dengan panggilan yang bukan dirinya. Berkata Sayyidah Ikrimah rah : “ Lafadz  التنابز   adalah ucapan seorang laki-laki kepada laki-laki lain (dengan ucapan) Wahai Orang Fasiq, Wahai Orang Munafiq, Wahai orang kafir “. Dan Imam Hasan ra berkata : Adalah seorang Yahudi dan Nashrani yang masuk Islam, maka mereka berdua setelah menjadi Muslim dipanggil dengan panggilan Wahai Yahuid... Wahai Nashrani..., Maka para sahabat melarang hal tersebut “. Imam Atho’ berkata : “ Lafadz  التنابز    adalah jika engkau memanggil kepada Saudaramu (Muslim) : Wahai Anjing... Wahai Keladai... Wahai Babi...
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra (berkenaan dengan Lafadz dalam Surat Hujurat – 11) : ((التنابز بالألقاب  )) Ketika ada seorang laki-laki yang punya amal jelek kemudian ia bertaubat dari amal jeleknya maka Allah swt melarang untuk menjelek-jelekan amalnya yang telah lalu itu. “ Sejelek-jeleknya sebutan setelah beriman adalah sebutah Fasiq “, Yakni sejelek-jeleknya sebutan adalah jika mengatakan : Wahai Yahudi.... Wahai Nashrani...  Wahai Fasiq... setelah perkara keimanan dan pertaubatan, Dan dikatakan maknanya yaitu : Sesungguhnya seseorang yang melakukan suatu perkara yang telah di larang baginya dari perbuatan mengejek, Memaki dan mencela maka ia adalah orang yang Fasiq, dan sejelek-jeleknya sebutan adalah sebutan Fasiq setelah berimannya, Maka janganlah kalian semua melakukan hal tersebut, (Jika melakjukannya) maka kalian semua berhak atas sebutan Fasiq (pula), “ Dan siapa orangnya tidak bertaubat “, dari perbuatan tersebut, “Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim “.

Di dalam Tafsir Alusy, meriwayatkan sebuah hadits berkenaan dengan ayat tersebut sebagai berikut :
وأخرج البخاري وأبو داود والترمذي والنسائي وابن ماجه وجماعة عن ابن جبيرة بن الضحاك قال : فينا نزلت في بني سلمة ( ولا تنابزوا بالألقاب ) قدم رسول الله صلى الله تعالى عليه وسلم المدينة وليس فينا رجل إلا وله اسمان أو ثلاثة فكان إذا دعا أحدا منهم باسم من تلك الأسماء قالوا : يا رسول الله إنه يكرهه فنزلت ( ولا تنابزو بالألقاب(
Hadits di riwayatkan oleh Imam Bukhori ra, Imam Abu Dawud ra, Imam Tirmidzi ra, Imam Nasai ra, Imam Ibnu Majah ra, dan Jama’ah dari Imam Ibnu Jabiroh Ad Dhohak ra berkata : Kepada kami turun ayat kepada Bani Salamah, ayat (ولا تنابزوا بالألقاب  ) Rasulullah saw datang ke madinah dan tiada diantara kami seorang laki-laki kecuali bagi mereka dua sebutan atau tiga sebutan, maka adalah ketika seseorang memanggil seorang diantara mereka dengan sebutan-sebutan seperti itu (Maksudnya panggilan buruk terhadap julukan), maka para sahabat berkata : Yaa Rasulullah sesungguhnya ia membencinya. Maka turunlah ayat (dan janganlah kalian semua saling mencela (memanggil) dengan julukan yang buruk ).
Artinya dalam kebencian-pun kita dilarang untuk mencela seseorang dengan julukan/ sebutan yang buruk.

Imam Ibnu Katsir didalam tafsirnya mengomentari berkenaan dengan ayat ini, sebagai berikut :
ينهى تعالى عن السخرية بالناس وهو احتقارهم والاستهزاء بهم, كما ثبت في الصحيح عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: «الكبر بطر الحق وغمص الناس ـ ويروى ـ وغمط الناس» والمراد من ذلك احتقارهم واستصغارهم, وهذا حرام فإنه قد يكون المحتقر أعظم قدراً عند الله تعالى
Allah swt melarang dari ejekan kepada manusia (secara Umum) yaitu memandang rendah kepada mereka, dan memperolok (Meremehkan) mereka, Seperti juga yang di tetapkan di dalam hadits Shahih dari Rasulullah saw, Beliau saw bersabda : << Dosa besar adalah menyalah gunakan perkara yang hak dan meremehkan manusia (Secara umum) – dan riwayat lain meriwayatkan – memandang rendah manusia>> adapun maksud dari hal tersebut adalah memandang rendah  manusia dan menganggap kecil manusia, dan hal ini adalah haram karena hal tersebut nyata bahwasannya merendahkan (Makhluk) adalah paling agungnya kuasa Allah swt.


Wallahu A’lam.... Semoga bermanfa’at...

List Video