Tampilkan postingan dengan label Pandangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pandangan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Januari 2018

Menciptakan Daya Tarik, Menghimpun, memobilisasi dan merekrut. Jangan menjadi orang yang bodoh yang mudah termakan Isu/Hasud.




Menciptakan Daya Tarik, Menghimpun, memobilisasi dan merekrut.
Jangan menjadi orang yang bodoh yang mudah termakan Isu/Hasud.

Oleh : donnieluthfiyy

Sebuah upaya yang memang terkesan wajar ketika Individu seseorang ataupun kelompok ataupun golongan membutuhkan kekuatan suara masyarakat, kemudian mereka menciptakan daya tariknya, baik melalui retorika sosial, budaya, pendidikan maupun Agama, untuk mencapai suatu tujuan tersembunyi dari apa yang di cita-citakannya, retorika-retorika yang di sampaikan bisa jadi bersifat Faktual, namun tidak menutup kemungkinan bahwa itu hanya bersifat Opini, disini kita sebagai rakyat harus mampu berfikir sedikit keras secara kritis dan cerdas agar tidak selalu dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang memiliki tujuan-tujuan tertentu yang sejatinya tidak bersesuaian dengan retorika yang disampaikannya, atau hanya sebuah pengalihan dalam menghimpun suara, yang nantinya himpunan suara tersebut akan di manfaatkan demi keuntungan mereka semata.
Hal yang sangat memprihatinkan adalah ketika retorika yang sifatnya hanya sebuah opini tersebut menimbulkan suatu kebencian dan kemarahan dihati masyarakat karena termakan hasud sara, dan kedepannya sekedar untuk menghimpun Dana bagi keberlangsungan cita-cita kelompoknya. Jika kita perhatikan bagaimana sebuah Promosi dan Iklan-iklan yang disampaikan sebuah Perusahaan atas produk-produknya membentuk sebuah pesan-pesan rayuan agar Produknya tersebut menjadi pilihan bagi masyarakat atau konsumennya, sehingga rating penjualan akan naik dan memberikan keuntungan besar bagi perusahaannya. Dan hal tersebut juga bisa dilakukan oleh selain perusahaan komersil, dan itu adalah hal yang sangat wajar dalam rangka upaya mengembangkannya, namun kita sebagai masyarakat ataupun konsumen harus bisa sedikit kritis dan cerdas menilai sebuah kebaikan bukan hanya dari kulitnya, tetapi esensi kebaikan didalamnya juga perlu kita perhatikan, agar jangan sampai kita menjadi korban yang sia-sia. Membela sesuatu yang ternyata bukan seperti apa yang kita harapkan. Sehingga kita menjadi orang-orang yang dikategorikan sebagai orang yang bodoh.

الجَاهِلُ لاَ يَعلَمُ رُتْبَةَ نَفْسِه ، فَكَيْفَ يَعْرِفُ رُتْبَةَ غَيْرِهِ (الإمام الذهبي(
“ Orang Bodoh tidak akan mengetahui kedudukan dirinya, maka bagaimana ia akan mengenali kedudukan orang lain “ (Imam Dzahabi)

كفى بالمرء جهلا أن لا يعرف قدر نفسه.( علي بن أبي طالب(
“ Cukuplah dengan seseorang yang (dikatakan) bodoh, jika ia tidak mengenali kadar dirinya “ (Imam Ali Bin Abi Thalib).

أن أعجب لشيء , فعجبي لرجال تنموا أجسامهم وتصغرعقولهم. ( الأحنف بن قيس(
“ Jika aku kagum pada sesuatu, maka kekagumanku adalah pada seorang lelaki yang membesarkan tubuhnya namun mengecilkan akalnya “. Maksudnya Semakin dewasa namun semakin bodoh. (Imam Ahnaf Bin Qaisy).

ـــ الحكيم يناقش في الرأي , والجاهل يجادل في الحقائق. (حكيم(
“ Orang yang bijak berbantahan dengan Pikiran (akalnya), dan orang bodoh berdebat didalam kebenaran “ (Imam Hakim).

ـــ الجاهل يؤكد, والعالم يشكك , والعاقل يتروى. (أرسطو(
“ Orang Bodoh itu (Cenderung) teguh pendirian (Ngotot), Orang berilmu itu (Cenderung) meragukan dirinya (Tawadu’), dan orang berakal (Cenderung) merenungi diri (Muhasabah) “.

أقل الناس قيمة أقلهم علما,فما أضعف الإنسان إذا لم يستطع أن يرفع من قيمة نفسه.
“ Sedikit sekali manusia yang menilai akalnya dengan Ilmu, Maka adapun selemah-lemahnya manusia adalah ketika ia tidak mampu kemudian ia mengangkat harga dirinya “.

ولما رأيت الجهل في الناس فاشيا تجاهلت حتى ظن إني جاهل. ( المعري(
“ Ketika aku melihat kebodohan pada diri manusia yang tersiar, maka aku menghiraukannya sehingga aku menyangka bahwa sesungguhnya aku (iuga) adalah orang yang bodoh “. (Imam Al Ma’ari). – maksudnya adalah Jika ada kebodohan yang tersiar luas maka janganlah diam membiarkan kebodohan itu terus tersiar.


Wallahu A’lam... semoga bermanfaat.

Jumat, 02 Desember 2016

Tentang Organisasi NU



NU adalah organisasi yg sangat menghargai para pendahulunya sebagai wujud syukur atas apa yg telah mereka berikan kepada bangsa ini, Yakni Agama Islam dan kemerdekaan Indonesia...
Siapa yg menjaga situs2 sejarah peninggalan Walisongo dan para pendakwah yg membawa dinul Islam di Nusantara??? Tiada lain adalah warga NU... siapa yg turut andil dalam kemerdekaan Indonesia dan mengawal kemerdekaannya sampai saat ini?? Tiada lain adalah NU...
Lalu apa jasa mereka yg berceloteh dengan klaim paling benar dan hobi menyalah2kan saudara2 seimannya??? Kemudian berkata paling tahu dengan ajaran walisongo dan sejarah tanah air???
Ketahuilah faham yg mereka bawa itu baru saja lahir kemarin2 dan kemudian mengklaim paling tahu kebenaran dan jejak langkah dakwah para ulama di tanah air...
Harusnya kita sebagai bangsa yg cinta Tanah air dan bangsa Indonesia bisa berfikir lebih sehat... ada apa sebenarnya dengan faham yg mereka bawa itu??? Apa tujuannya?? Dan apa yg di inginkannya???
Tiada lain jawabannya adalah Harta dan tahta serta wilayah...

Dan mereka selalu mencari-cari peluang momentum untuk meraih tujuannya itu...

Dan perlulah kita juga tahu.. asal faham yg mereka bawa itu adalah sebuah negeri kekuasaan kedinastian yg lahir dimasa perang dunia ke-2, yang tiada tercatat dalam sejarah jasa2 dinasti tersebut terhadap dunia Islam... kecuali mereka pandai mengumpulkan harta duniawiyyah dan meninggi2 kan bangunan, menjadikan kehidupan individu mereka gemerlap akan dunia... sampai disitu belum merasa puaslah mereka kecuali dengan menguasai seluruh Umat Islam demi membangun kekuasaan dinasti mereka... hal ini adalah suatu konsepsi klasik yg juga pernah dilakukan pendahulu2 mereka... dan berakhir dengan kehancuran... selalu seperti itu...

Ada kebosanan dalam Ibadah



Ada kecenderungan kebosanan dengan amal ibadah dan dakwah yang bersifat damai bagi umat Islam, karena mungkin saja merindukan salah satu Amaliah Ibadah yang lama tidak mereka bisa amalkan sejak runtuhnya Khilafah terakhir di Andalusia, yakni Jihad berperang dijalan Allah melawan musuh2 Islam (kafir harbi)...
Seperti juga kebosanan umat Islam dahulu ketika masa khilafah yang selalu jihad serta dakwah dengan peperangan, dan merindukan amal ibadah dan dakwah yang bersifat damai...

Semua ini adalah sifat Khuluqiyah yang sangat wajar...
karena sifat manusia selalu kesulitan ketika mensyukuri apa2 yang ada padanya saat ini...
Ketika diberi "A" maka meminta "B", dan ketika diberi "B" maka meminta "A"...
Ketika Umat terus2an berperang maka manusia akan meminta kedamaian...
Dan ketima kedamaian terus menerus, maka mereka akan meminta peperangan... selalu seperti itu...

Sebenarnya pada masa khilafah terakhir di Andalusia yang terjadi saat itu ialah, manusia sudah bosan dan jemu terus menerus dalam ketakutan karena peperangan, akhirnya mereka bersepakat secara mandiri2 untuk mendakwahkan dengan perdamaian...

Sebenarnya penyebutan kafir harbi dan kafir zimmi itu juga berkaitan dengan kekuasaan Islam dan peperangan... sehingga yang melawan disebut kafir harbi, dan yang mau bergabung serta mau membayar pajak (jizyah) disebut kafir zimmi...

Kamis, 01 Desember 2016

Ridlo Allah...



Ridlo Allah itu sebuah kalimat yang ringan di ucapkan tetapi untuk mendapatkannya perlu beberapa langkah untuk sampai, ada tiga jembatan menuju Ridlonya Allah SWT yang harus di tempuh seorang hamba, yaitu :

1. Ridlo orang tua, Rasulullah SAW bersabda :
" رضا الله في رضا الوالدين، وسخط الله في سخط الوالدين "
" Ridlo Allah didalam ridlonya orang tua, dan murkanya Allah didalam murkanya Orang tua".
Maka seseorang yang ingin mendapatkan Ridlonya Allah harus melalui Ridlo orang tua terlebih dahulu.

2. Ridlo Syaikh (Guru yang mengenalkan dan menunjukan jalan kepada Allah), dikatakan dalam sebuah Sya'ir :
اُقَدِّمُ أُسْتَا ذِىْ عَلَى نَفْسِ وَالِدِيْ # وَإِنْ نَا لَنِيْ مِنْ وَالِدِى الْفَضْلَ وَالشَّرَفُ

فَدَاكَ مُرَبِّ الرُّوْحِ وَالرُّوْحُ جَوْهَرُ # وَهَذَا مُرَبِّ الْجِسْمِ وَالْجِسْمِ كَالصَّدَفِ

“Saya mengutamakan guru daripada orang tua # walaupun saya mendapatkan kemuliaan darinya”
“Namun, guru adalah orang yang menuntun jiwa yang diibaratkan sebagai mutiara # sementara orang tua adalah orang yang menuntun raga yang diibaratkan sebagai wadahnya mutiara”
Maka ridlo seorang Syaikh menjadi tolok ukur Ridlonya Allah SWT.
dan jika seseorang sudah bisa mendapatkan ridlonya orang tua dan Syaikh maka kemudian ia akan mendapatkan Ridlonya....

3. Rasulullah SAW.
Maka jika seseorang sudah mendapatkan Ridlonya Rasulullah SAW, maka bisa dipastikan Allah SWT pun ridlo kepadanya, Allah SWT berfirman dalam Surat Ad Dhuha Ayat 5 :
وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ
" Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu ,Sampai (hati) kamu menjadi puas (Ridlo)"
Maka Allah akan rildo dengan sebab Ridlonya Baginda Nabi Muhammad SAW.

Itulah urutan perjalanan seorang hamba untuk mendapatkan Rildo dari Allah SWT, melalui perantara Orang Tua dan Syaikh, dan dari perantara merekalah yang akan menghantarkan kepada Ridlonya Rasulullah SAW, dan atas karunia yang Allah berikan kepada Rasulullah SAW sehingga Rasululah SAW Ridlo (Puas) maka disitulah Allah SWT juga Ridlo kepada hambanya dengan sebab ridlonya Rasulullah SAW.

Hadits tanda2 akhir zaman.



Telah bercerita kepada kami Yahya bin Bukair telah bercerita kepada kami Al Laits dari 'Uqail dari Ibnu Syihab dari 'Urwah bin Az Zubairbahwa Zainab binti Abu Salamahbercerita kepadanya dari Ummu Habibah binti Abu Sufyan dariZainab binti Jahsy radliallahu 'anhuma bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam datang kepadanya dengan gemetar sambil berkata: Laa ilaaha illallah, celakalah bangsa Arab karena keburukan yang telah dekat, hari ini telah dibuka benteng Ya'juj dan Ma'juj seperti ini. Beliau memberi isyarat dengan mendekatkan telunjuknya dengan jari sebelahnya. Zainab binti Jahsy berkata, Aku bertanya; Wahai Rasulullah, apakah kita akan binasa sedangkan di tengah-tengah kita banyak orang-orang yang shalih?. Beliau menjawab: Ya, benar jika keburukan telah merajalela. (HR Bukhari 3097 , 3331, 6535, 6602) (HR Muslim 128, 5129)
==> hadits ini menggambarkan kelak di akhir zaman akan banyak orang2 arab muslim namun jarang sekali yang sholih, mereka membuat keburukan2 yang merajalela. Ulama2 mereka tidak ada yang sampai kepada Maqom As Sholihiin.

Dari Sahl bin Saad as-Sa ‘idi Ra. ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Ya Allah! Jangan Engkau pertemukan aku dan mudah-mudahan kamu (sahabat) tidak bertemu dengan suatu zaman dikala para ulama sudah tidak diikuti lagi, dan orang yang penyantun sudah tidak dihiraukan lagi. Hati mereka seperti hati orang Ajam (pada fasiqnya), lidah mereka seperti lidah orang Arab (pada fasihnya).” (HR. Ahmad)
==> Kelak di akhir zaman akan banyak ulama2 yang fasih berdialek arab, namun mereka berbuat hal2 yang merusak agama. Ulama sholihin yang penyantun sudah tidak diikuti dan dihiraukan lagi.

Dari Ali bin Abi Thalib Ra. ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.: “Sudah hampir tiba suatu zaman, kala itu tidak ada lagi dari Islam kecuali hanya namanya, dan tidak ada dari Al-Qur’an kecuali hanya tulisannya. Masjid-masjid mereka indah, tetapi kosong dari hidayah. Ulama mereka adalah sejahat-jahat makhluk yang ada di bawah kolong langit. Dari merekalah keluar fitnah, dan kepada mereka fitnah itu akan kembali .” (HR. al-Baihaqi)
==> Akan datang di akhir zaman ketika Islam bukan lagi sebagai agama. Islam hanya sebuah nama, mereka banyak membangun masjid2 dan memakmurkannya namun tiadalah kebaikan didalamnya, karena tidak ada hidayah dan keridloan Allah SWT. Dan ulama2 mereka banyak membuat2 fitnah yang kelak mereka sesali, karena fitnah itu akan kembali kepada mereka.

==> Yaa Robb Jauhkanlah kami dari fitnah akhir zaman, dan selamatkanlah hati kami dari bisikan nafsu yang bersembunyi <==

Mari kita koreksi diri...





Apakah engkau mau beramal dengan Ilmu, maka sering2lah duduk dalam majlis2 Ilmu dengan merendahkan dan menghinakan dirimu dihadapan teman2 majlismu... jika engkau tidak bisa berbuat seperti itu, maka engkau tidak akan mendapatkan nurnya Ilmu, karena Ilmu tidak datang pada hati yang sombong...

Jika engkau mau beramal saja tanpa ilmu, sehingga kau tidak pernah memahami Al Qur'an yg terucap melalui lisanmu, tidak pernah memahami sujudmu, rukukmu, dzikirmu, bahkan engkau tidak pernah memahami untuk apa dan siapa kau beramal... dan tidak pula akan pernah mengenal Dzat yang kau sembah... maka amalmu itu hanya akan menambah dirimu jauh dari tujuanmu...

Orang2 yang beramal dengan Nur Ilmunya, memang tidak sebanyak amalnya orang2 yg beramal saja, karena sibuknya dalam samudera luasnya Ilmu Allah, namun dalam setiap amalnya ia tahu makna dibalik itu semua, hatinya menjadi lembut, tutur katanya menjadi baik, hatinya selalu waspada, dan akalnya sebagai penguat keyakinannya... maka terbentuklah Ihsan.... ketahuilah bahwasannya Ihsan itu tempatnya di dalam hati, karena Allah tidak bisa dilihat dengan kasat mata... namun hati yang akan melihatNya dengan Cahaya Ilmu dan iman...

Maka jika engkau masih berlaku sombong dengan ilmu yang kau ketahui, sesungguhnya engkau hanya seorang yang bodoh, karena Ilmu tidak akan masuk dihati orang2 yang sombong...

Oleh sebab itu jika ilmu yang kau dapatkan itu tanpa adanya susah payahmu dengan merendahkan dan menghinakan dirimu ketika kau mencarinya, maka sesungguhnya kau tidak mendapatkannya...

List Video