Tampilkan postingan dengan label Mengenal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengenal. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Mei 2019

Catatan Sang Pohon Kehidupan.




Catatan Sang Pohon Kehidupan.

Oleh : donnieluthfiyy

Silsilah Nasab menurut saya bisa amat penting, sebab bagaimana kita akan menemukan jati diri kita jika kita sendiri tidak mengetahui asal-usul kita, apalagi bagi Pribadi saya yang tidak pernah menemukan dan merasakan kasih sayang Sosok seorang Kakek maupun Nenek dari Jalur Ayah dikarenakan mereka telah Wafat semenjak Ayah saya juga masih seorang Bocah kecil berumur 2 – 6 tahun, dan saya sendiri bisa dikatakan masih diantara rupa Tanah dan Air. Berawal dari Rasa penasaran yang muncul untuk mengetahui Silsilah Nasab keluarga yaitu sejak beberapa waktu menjelang Wafat Ayahanda tercinta, karena Ayahanda pernah menceritakan tentang kisah Ayah-Ibunya yang meninggalkannya dalam keadaan Yatim Piatu sejak usia kecil, beberapa kali beliau meneteskan Air Matanya ketika menceritakan Ibunda tercintanya yang bernama Maryati, bahkan sesekali dalam Tidur dikala sakitnya Ayahanda mengigau memanggil-manggil Ibundanya tersebut.

Sumber awal yang menjadi informasi berkenaan Silsilah keluarga saya adalah dari Ayah saya sendiri yang bernama lengkap Muhammad Nurhadi Bin Marwi (1942 – 2000 M), ketika mendekati akhir-akhir Hidupnya beliau menceritakan bahwa saya ini adalah seorang Cucu dari seorang Tokoh Kyai bernama Kyai Marwi Bin KH Fulan (Saya Lupa saat ayah saya menyebutkannya dulu) Bin Citro Yudho. Saat mendengar cerita itu saya belum begitu tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang Silsilah keluarga saya itu. Kemudian setelah berjalan beberapa tahun barulah muncul rasa penasaran pada diri saya untuk mencoba menelusuri jejak silsilah keluarga saya tersebut, dimulai dengan bertanya kepada Kakak-kakak saya yang dekat, namun Informasi yang saya dapatkan hanya seputaran kisah-kisah tentang Kakek dan Ayah saya yang juga banyak tersebar di kampung Kelahiran Ayah saya, termasuk kisah-kisah kesaktian kakek saya yang konon katanya sangat ditakuti oleh seorang Wanita Siluman Sakti yang terkenal dengan nama Mbok Lanjar, namun saya mencoba untuk tetap dengan cara pandang realistis dan membuat kesimpulan sendiri tentang Wanita yang di maksud itu, yang menurut saya Ia adalah masih sebangsa manusia namun memiliki kesaktian, semacam Dukun Hitam, namun mohon maaf untuk kisah-kisah tersebut tidak saya ceritakan dalam Catatan ini.

Kemudian pada sekitar Tahun 2014 saya berkunjung ke Kampung kelahiran Ayah saya di Dusun Senet Desa Purwosari Kecamatan Wonoboyo Kabupaten Temanggung Jawa Tengah, selama 2 hari di sana saya manfaatkan waktu untuk bertanya-tanya tentang kakek saya, saat saya bertemu dengan saudara saya, yang sekarang beliau-lah yang paling dituakan dalam urutan keluarga, dan  beliau merupakan Putra dari Kakak Ayah saya (Pakde), di sana saya mendapat Informasi bahwa Kakek saya memiliki Istri 3, Istri pertamanya bernama Mbah Nyai Siti Mu’isah yang memiliki seorng Putra bernama Wahid Bin Marwi (Pakde Saya), kemudian Istri keduanya bernama Mbah Nyai Maryati yang memiliki seorang Putra bernama Wahidun Bin Marwi (Nama Ayah saya waktu kecil), saya tidak tahu kapan nama tersebut di rubah oleh ayah saya Menjadi Muhammad Nurhadi, dan tidak tahu juga apa alasannya, yang saya bisa ambil kesimpulan mungkin karena Anak-anak Kakek saya diberinama dengan menggunakan kata Wahid semua., dan dari Istri ketiganya (Saya belum mendapatkan Informasi namanya) terlahir juga seorang putera yang konon katanya diberinama Wahidin, saya teringat kepada suatu kenangan bahwa Ayah saya pernah mencari-cari keberadaan Adiknya tersebut sampai menemukannya di Kota Malang Jawa Timur, Ayah saya sempat berfoto bersama Adiknya tersebut, dan kayanya memiliki Anak yang sedang bersekolah di SMK Pelayaran di Malang, saat itu saya masih kecil jadi tidak terlalu serius menanggapinya.

Masih dari Informasi yang saya dapatkan dari Kakak Sepupu saya tersebut, beliau bercerita bahwasannya Kakek saya (Mbah Kyai Marwi) dulu Mondok (Pesantren) di Tebuireng Jombang saat masih di asuh oleh Hadlrotus Syaikh KH Hasyim Asy’ari (Pendiri NU), dan kakek saya itu berguru langsung kepada Beliau katanya, saat Mondok di tebuireng kakek saya telah menjadi seorang anak Yatim, yang beberapa tahun kemudian saya baru mendapatkan Informasi bahwasannya Ayah dari Kakek saya itu (Buyut saya) Wafat di Mekah saat menunaikan Haji, dan beliau konon katanya adalah seorang Hafidz Qur’an, Informasi tentang Buyut saya ini sangat minim sekali yang bisa digali.

Setelah kakek saya Dewasa dan telah selesai mengantongi Ilmu dari belajarnya di Pesantren Tebuireng Jombang, maka sudah saatnya kakek saya mengamalkan ilmunya untuk berdakwah, dari Cerita Putera tertua Pakde saya itu, beliau bercerita bahwasannya ketika Kakek saya datang ke Dusun Senet, di Dusun tersebut sudah berkembang Ajaran dari Hadlrotus Syaikh Mbah KH Ahmad Rifa’i (Pendiri Rifa’iyyah, Seorang Pahlawan Nasional), suatu ketika dalam Dakwahnya, kakek saya itu jatuh cinta kepada seorang Kembang Desa Puteri dari seorang Ulama Rifa’iyyah di desa tersebut, maka kakek saya memberanikan diri untuk melamarnya, namun saat melamar kakek saya malah diberi Tugas terlebih dahulu agar mau mempelajarai Ajaran Rifa’iyyah, karena sejatinya antara Ajaran NU maupun Rifa’iyyah memiliki persamaan yang kuat, bahkan hampir bisa dikatakan tidak ada perbedaan diantara keduanya, sehingga bagi Kakek saya mudah saja menyanggupinya, dan kemudian setelah selesai mempelajarai berbagai Kitab Karangan Mbah KH Ahmad Rifa’i dinikahkanlah Kakek saya tersebut dengan Wanita bernama Nyai Siti Mu’isah dan berdakwah disana menyampaikan Ajaran Ahlu Sunah Wal Jama’ah yang didapatkannya dari Hadlrotus Syaikh KH Hasyim Asy’ari (Pendiri NU) dan Hadlrotus Syaikh KH Ahmad Rifa’i (Pendiri Rifa’iyyah).

Benang merah dari semua misteri ini mungkin akan bisa terjawab jika saja yang konon Katanya (menurut cerita Ayah saya dan beberapa Kerabat sepuh) bahwa Mbah Citro Yudho (Ayah Buyut saya) itu adalah seorang Punggawa (Sekarang Paspampres) kerajaan Mataram, dan jika di runut entah itu pada masa berkuasa Sultan Hamengku Buwono V, VI atau VII, mungkin akan ada catatan tentangnya di Keraton, hanya saja bagaimana cara mengaksesnya, mengingat itu adalah Dokumen penting kerajaan. Yang terpenting adalah terus mencari dan biar Allah swt yang menuntunnya, dan agar anak keturunannya nanti tidak Kepaten Obor.

Sekian, Terimakasih

Karawang, Jum’at 31 Mei 2019.

Selasa, 07 Agustus 2018

Tiga pilar Agama yang tidak boleh di lupakan (Islam, Iman dan Ihsan).





Tiga pilar Agama yang tidak boleh di lupakan.

Oleh : donnieluthfiyy

Agama Islam terbagi menjadi 3 Bagian penting yang tak bisa terpisahkan, ketiganya saling terkait dan melengkapi, jika salah satu dari ketiga bagian tersebut tidak terimplementasikan pada diri penganutnya, maka akan terjadi kepincangan dalam menjalankan Agama.
Ketiga bagian tersebut adalah :

1.       Islam
Agama sebagai landasan hukum bagi perkara-perkara yang Wajib dan perkara-perkara yang dilarang.

2.       Iman
Agama sebagai landasan Aqidah/Keyakinan.

3.       Ihsan
Agama sebagai Penyeimbang antara Landasan Islam dan Iman.

Kebanyakan orang lebih mendominasi dalam Hal Islam dan Iman, namun melupakan bagian Ihsan, sehingga Agama menjadi hal yang kaku yang seakan tidak mampu memberikan solusi bagi kehidupan, saling bertentangan satu dengan lainnya dalam permasalahan Agama itu sendiri, banyak orang lupa bahwa Agama di ciptakan Allah, dan DIA pula yang mengatur dan mengurusnya, sehingga semua sudah dalam kendali dan pengawasannya serta dalam perencanaannya. Ketika seseorang beragama lebih dominan dalam hal Islam dan Iman, maka terkadang ia terpeleset memerankan diri sebagai Pencipta Agama itu sendiri, hal itu dikarenakan dalam menjalankan Agama ia tidak mampu memanifestasikan dalam dirinya bahwa seakan-akan ia selalu diawasi, dilihat atau melihat Allah swt.

Salah satu yang termasuk dalam Bagian Ihsan adalah Bab Ridlo.

Habib Zain bin Ibrohim Bin Sumaith Ba’alawi Al Hasani menyampaikan dalam Kitab karangannya yang berjudul Syarah Hadits Jibril berkenaan dengan Ridlo :

Ridlo dengan Qodho (Ketetapan Allah) adalah Fardhu yang tidak dapat dielakan, sama saja apakah Qodho yang manis maupun yang pahit, Ridlo adalah perkara yang dicari dalam urusan Dunia, dari orang yang Faqir maupun Kaya, dalam keadaan Untung maupun rugi, atau dalam kondisi sakit, sehat sekalipun menjelang kematian ataupun yang semisal hal tersebut. Dalam Hadits Qudsi Allah swt berfirman : ((Siapa orangnnya yang tidak ridlo dengan Qodho-Ku, dan tidak bersabar atas Bala-UjianKu, serta tidak bersyukur kepada Nikmat-nikmatKu, maka silahkan cari Tuhan selainKu)). Dan Baginda Nabi Muhammad saw bersabda : ((Orang yang merasakan kepuasan Iman adalah orang yang Ridlo bahwasannya Allah swt sebagai Tuhan, Agama Islam sebagai Agama dan Nabi Muhammad saw sebagai Nabi)) (HR. Muslim [34]).

Maka siapapun yang Ridlo kepada Allah swt sebagai Tuhan, Wajib baginya Ridlo kepada Pengaturan/PerencanaanNya serta kepada Pilihan-pilihanNya, juga dengan Pahit QodhoNya, dan agar Qona’ah (Menerima dengan Lapang hati) dengan apa yang telah di bagiNya dari perkara Rizqi, dan hendaklah menjadi penyabar ketika datangnya Bala-Ujian, meninggalkan murka ketika datangnya Musibah-musibah dan perkara-perkara yang merugikan. Dalam satu Hadits Nabi saw bersabda : ((Sesungguhnya Allah swt ketika mencintai suatu Kaum, maka Ia menurunkan Bala-UjianNya kepada mereka, maka siapa orangnya yang ridlo, Allah swt juga meridloinya, dan siapa orangnya yang murka, maka Allah swt juga murka kepadanya)). (HR. Imam Tarmidzi [2396]).

Ketahuilah alamat/ tanda-tandanya ketiadaaan Ridlo dengan Qodho adalah :

  1. Perkataan : (Kenapa?) dan (Bagaimana ?).
  2. Nyata dan Nampaknya keluhan kepada Makhluq.
Dalam sebuah Hadits di sebutkan ((Siapa orangnya yang mengeluh dengan musibah yang diturunkan kepadanya, maka seakan-akan Ia mengeluhkan Allah swt (Sebagai tuhannya))).

Syaikh Imam Abul Hasan As Syadzili ra (Seorang Wali Allah Mursyid yang agung) berkata : Satu macam perkara yang bisa menjadikan amal menjadi sia-sia, dan banyak manusia tidak memperhatikan hal tersebut, perkara tersebut yaitu : Murkanya seorang hamba atas Qodho Allah swt, Allah swt berfirman : {{Demikian itu adalah dikarenakan mereka benci terhadap apa yang di turunkan oleh Allah (Subhanahu wa Ta’ala), maka Allah (Subhanahu wa Ta’ala) menghapuskan (pahala ) segala amal perbuatan mereka}}. (Q.S. Muhammad : 9).


Wallahu A’lam....... 

Rabu, 25 Januari 2017

Belajar Menyikapi perbedaan Dari Kyai-Kyai NU...





Didalam tubuh NU sebuah perbedaan adalah hal yang biasa, karena masing-masing menyadari bahwasannya perbedaan itu adalah Fitroh Manusia, Allah SWT sendiri berfirman dalam Surat al Hujurat [10] :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْناكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثى وَجَعَلْناكُمْ شُعُوباً وَقَبائِلَ لِتَعارَفُوا
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal.”

Walaupun berbeda-beda namun tujuannya adalah bukan untuk saling bermusuhan, seperti apa-apa yang dikatakan oleh para Ulama Sholihin berikut ini :

Imam Al-Hasan Al-Bashri ra berkata: "Untuk ikhtilaf lah Allah menciptakan mereka." Namun "Sebagai rahmat mereka diciptakan."

Imam Thawus ra berkata: "Allah tidak menciptakan mereka untuk berselisih, akan tetapi menciptakan mereka untuk bersatu dan rahmat."

Imam Ibnu Abbas ra berkata : "Untuk rahmatlah mereka itu diciptakan dan tidak untuk azab."

Oleh sebab itu sesungguhnya Allah SWT bisa saja atau kuasa dan mampu untuk menciptakan manusia dalam golongan/agama yang satu (tiada perbedaan pada mereka), namun Allah SWT menghendaki manusia agar mampu menjadi Rahmat bagi lainnya.

Imam Ibnu Katsir ra berkata : "Pada ayat ini, Allah memberitakan bahwa Ia mampu untuk menjadikan manusia semuanya menjadi umat yang satu, baik di atas keimanan ataupun di atas kekufuran. Seperti firman Allah :
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ
"Dan jikalau Rabbmu menghendaki tentulah beriman orang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? " (Yunus: 99)

Karena kelak mereka diakhirat juga terbagi menjadi dua golongan....
Imam Ibnu Abbas ra berkata: "Allah menciptakan mereka menjadi dua golongan. Hal itu seperti firman Allah :
فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ
"Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia." (Hud: 105)

Jadi sebenarnya hikmah dibalik ciptaanNya yang berbeda-beda ini adalah Allah SWT  ingin menunjukan Kuasa dan keadilanNya atas makhlukNya.

Berkenaan dengan hal ini maka para Kyai NU sangat menjaga tali silaturahim diantara satu dengan lainnya, agar tidak sampai saling bermusuhan ketika mereka berbeda dalam pendapat, maka satu sama lain saling menghormati pendapat masing-masing.

Seperti kisah Hadlrotus Syaikh Mbah KH Hasyim Asy’ari (Ro’is Akbar NU) ketika terjadi perbedaan pendapat dengan Mbah Kyai Faqih Maskumambang (Wakil Ro’is NU) berkenaan dengan penggunaan kentongan dan bedug di musholla dan masjid, bagaimana sikap mereka satu sama lainnya, bukan fanatisme faham yang di tunjukan, tetapi justru saling hormat dan tawadlu’ masing-masing.

Kemudian juga bagaimana kisah Mufaroqoh KH As’ad Syamsul ‘Arifin dari Ketua Umum PBNU Gusdur, dalam keseharian mereka tetap saling menghormati bahkan sikap mereka tiada perbedaan sama sekali, tiada hujatan dan makian diantara keduanya, yang muncul dari lisan Mbah As’ad hanya sebuah ungkapan halus, beiau berkata “Ibarat imam shalat, Gus Dur sudah batal kentut. Karena itu tak perlu lagi bermakmum kepadanya.” Namun ternyata dibalik mufaroqoh ini adalah bentuk kasih sayang Mbah As’ad kepada Gusdur yang merupakan Cucu Guru beliau tersebut. KH Khotib Umar bertutur berkenaan rahasia Mufaroqoh Mbah KHR As’ad. “ Mbah KHR As’ad dawuh bahwa memusuhi Gus Dur merupakan strategi menghadapi rezim Orde Baru. Supaya Gus Dur tidak dihabisi maka beliau memusuhi Gus Dur. Untuk menyelamatkan beliau. “Saya dengan Gus Dur hanya berbeda dalam siyasi, politik! Mufaraqah bukan berarti benci Gus Dur. Malah saya sangat mengasihi Gus Dur. Saya khawatir kalau Gus Dur di penjara oleh penguasa karena sikap kritisnya, lalu siapa yang akan membela?” Demikian dawuh beliau.

Juga bagaimana perbedaan pandangan antara Gus Mus (KH Musthofa Bishri) dengan Gus Najih Maimun, kenyataannya dalam kesehariannya mereka tetap hidup rukun bersama dengan pandangan masing-masing, dan tanggapan Gus Mus berkenaan dengan hal ini hanya sebuah ungkapan maklum saja, beliau menanggapi dengan perkataan “Najih niku ponakan kulo” (Gus Najih itu keponakan saya), ia tidak pernah kumpul-kumpul dengan kerabat, kyai dan sebagainya untuk tabayyun. Asal ia dengar, langsung diyakini tanpa klarifikasi.”. dan hal tersebut tidak sampai menjadi renggang tali silaturahim dan kekerabatan antar keduanya.

Itulah perbedaan... manusia memang di ciptakan berbeda-beda... Kepala dan isinya pun berbeda-beda, namun dalam perbedaan hingga perselisihan itu bukan untuk saling musuh memusuhi, tetapi justru harus menjadi rahmat bagi umat. Memberi penjelasan yang santun dan halus, tidak saling memaki dan menghujat karena menghendaki pembenaran atas apa yang di fahami dan diyakini. Yang lebih parah adalah adanya usaha-usaha untuk memperuncing permasalahan melalui fitnah dan pernyataan-pernyataan asumtif. Jadi pilihannya Silahkan ingin menjadi Rohmat Allah SWT atau ingin menjadi seorang Hasud seperti Syaitan???

>>
Allah SWT berfirman :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَ لاَ نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَ لاَ تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَ لاَ تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ اْلإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mencela kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang dicela) lebih baik dari mereka (yang mencela) dan jangan pula wanita-wanita (mencela) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita (yang dicela itu) lebih baik dari wanita (yang mencela) dan jangalah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman. Dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (Q.S. Al-Hujarat [49] : 11).
>>
Rasulullah SAW bersabda :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلاَ إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلاَ لاَ فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلاَلِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلاَ لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلاَ أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلاَّ بِالتَّقْوَى
“Wahai manusia, ingatlah, sesungguhnya Tuhanmu adalah satu, dan nenek moyangmu juga satu. Tidak ada kelebihan bangsa Arab terhadap bangsa lain. Tidak ada kelebihan bangsa lain terhadap bangsa Arab. Tidak ada kelebihan orang yang berkulit merah terhadap orang yang berkulit hitam, tidak ada kelebihan orang yang berkulit hitam terhadap yang berkulit merah, kecuali dengan taqwanya..” (H.R. Ahmad, al-Baihaqi, dan al-Haitsami).

Wallahu A'lam... Semoga ada manfa'atnya...



Jumat, 13 Januari 2017

Belajar dari Sejarah karena Al Quran pun kebanyakan isinya adalah sejarah.




Istilah Khulafaur Rasyidin di kenal setelah Wafat Baginda Nabi SAW, mereka adalah Para pemimpin yang diberi petunjuk untuk menggantikan kepemimpinan umat sepeninggal Rasulullah SAW, sebelum beliau SAW wafat, beliau tidak menunjuk secara langsung siapakah yang akan menggantikan beliau sepeninggalnya, mungkin alasannya adalah tiada perintah dari Allah SWT untuk menunjuk penggantinya, atau kepemimpinan Rasulullah SAW tetap berlanjut walaupun beliau SAW telah Intiqol untuk membimbing para Awliya dan Sholihiin, ataupun bisa juga karena kepemimpinan Rasulullah SAW adalah kepemimpinan secara mutlaq dan Kaaffah, karena belau SAW adalah juga pemimpin para Nabi dan Rasul bahkan seluruh yang wujud, mampukah seseorang yang ditunjuk untuk melanjutkan kepemimpinannya yang begitu agung, atau dikhawatirkan malah akan di kultuskan oleh umat sebagai Nabi selanjutnya. Wallahu a’lam.
Ketika Rasulullah SAW wafat, kemudian datang dilema persoalan berkenaan siapakah yang menggantikan Rasulullah SAW sebagai pemimpin umat saat itu. Pada saat itu umat Islam terbagi menjadi dua kubu, satu Kaum Muhajirin yang meng klaim pengganti Rasulullah SAW yang berhak adalah dari golongan mereka, karena merekalah pengikut pertama dan lebih setia kepada Rasulullah SAW, dan kubu kedua yaitu dari Golongan Anshor yang meng klaim sebagai yang lebih berhak menjadi pengganti Rasulullah SAW sepeninggalnya karena merekalah yang menolong dakwah Rasulullah SAW di madinah. Maka kemudian terjadilah konflik internal diantara mereka tetapi saat itu Allah SWT memberikan kesadaran kepada mereka semua sehingga bersepakat untuk mengadakan Musyawarah dengan mengadakan pemilihan berdasarkan suara terbanyak dan masing2 golongan mengusung kandidatnya masing2, Maka muncul lah kandidat dari Kaum Muhajirin yang salah satunya adalah Sayyidina Abu Bakkar Siddiq ra dengan mengambil dasar bahwasannya yang ditunjuk menggantikan Imam shalat ketika Rasulullah SAW sakit adalah beliau ra. Kemudian dari kaum Anshor muncullah kandidat yang salah satunya adalah bernama Sayyidina Sa’ad Bin Ubadah ra, selanjutnya setelah melalui perdebatan dan diskusi yang panjang dengan dasar hujjah masing2 maka atas kesadaran dan kesepakatan terpilihlah alah seorang kandidatnya, yakni Sayyidina Abu Bakar Siddiq ra sebagai Khulafaur Rasyidin pertama.
Sayyidina Abu Bakkar Siddiq ra menjadi khalifah selama 2 tahun lamanya dan beliau ra wafat pada usia 63 tahun setelah menderita sakit sebelumnya. Sebelum beliau wafat, beliau menunjuk penggantinya dikarenakan kekhawatiran akan kenangan terjadinya konflik2 internal ketika pasca Rasulullah SAW wafat atau bisa saja yang sekarang lebih parah, dan beliau ra memilih langsung Sayyidina Umar Bin Khatab sebagai penggantinya. Sayyidina Umar Bin Khatab menjadi seorang pemimpin yang di cintai rakyatnya karena kebijaksanaannya dan pembelaannya yang begitu besar kepada rakyatnya, bahkan tidak jarang beliau turun langsung dalam menyelesaikan problematika2 rakyatnya. Beliau seorang yang tegas namun yang dominan menonjol pada dirinya adalah sifat lembut dan kasih sayangnya kepada rakyatnya. Masa kepemimpinan beliau sebagai khalifah adalah selama 10 tahun 6 bulan dan beliau wafat di usia 63 tahun (namun masih diperselisihkan). Beliau wafat dengan cara di tikam oleh seorang majusi bernama Abu Lu’lu’ah Fairuz. Hal tersebut sesuai dengan do’a dan permohonan Sayyidina Umar Bin Khatab kepada Allah SWT bahwasannya beliau ra menginginkan mati sebagai Syuhada (Syahid) di tanah Nabi SAW, maka beliau wafat di tikam di Madinah, beliau bahagia karena yang membunuhnya adalah seorang yang tidak pernah Shalat dan bersujud kepada Allah SWT Beliau berkata, “Alhamdulillah yang telah menentukan kematianku di tangan seseorang yang tidak beriman dan tidak pernah sujud kepada Allah sekalipun”. Inilah makna Syahid sebenarnya. (Bukan berperang dengan saudara sesama Muslim). Kemudian Sayyidina Umar mewasiatkan agar penggantinya yang menjadi Khalifah dimusyawarahkan oleh enam orang yang Rasulullah wafat dalam keadaan ridha kepada mereka, yaitu, Sayyidina Utsman, Ali, Thalhah, az-Zubair, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash rah. Sayyidina Umar Bin Khatab adalah seorang yang tegas namun bukan seorang pemarah, hal tersebut bisa dibuktikan melalui perkataan beliau ketika menasihati Sayyidina Zubair bin Awam saat Sayyidina Zubair mempermasalahkan calon pengganti/ khalifah selanjutnya jika Sayyidina Umar ra wafat, saat itu Sayyidina Zubair menyampaikannya dengan kata2 yang agak ketus, kemudian Sayyidina Umar menjawabnya Sambil memandang tajam ke a­rah Sayydina Zubair, Sayyidina Umar r.a. berkata: (Baca dengan aksen suara rendah karena Sayyidina Umar dalam keadaan lemah karena sakit) “Tentang dirimu, Zubair…, kau itu adalah orang yang lancang mulut, kasar dan tidak mempunyai pendirian tetap. Yang kausukai hanyalah hal-hal yang menyenangkan dirimu sendiri, dan engkau membenci apa saja yang tidak kau­sukai. Pada suatu ketika engkau benar-benar seorang manusia, tetapi pada ketika yang lain engkau adalah syaitan! Bisa jadi kalau kekhalifahan kuserahkan kepadamu, pada suatu ketika eng­kau akan menampar muka orang hanya gara-gara gandum segan­tang.” Khalifah Umar menghentikan perkataannya sebentar, seolah-­olah mengambil nafas untuk mengumpulkan kekuatan dan me­ngendalikan emosinya. Kemudian ia meneruskan: “Tahukah engkau, jika kekuasaan kuserahkan kepadamu? Lalu siapa yang akan melindungi orang-orang pada saat engkau sedang menjadi syaitan? Yaitu pada saat engkau sedang dirangsang kemarahan?”
Enam sahabat yang diwasiatkan oleh Sayyidina Umar ra untuk memilih khalifah selanjutnya di sebut dengan Ahlu Syuro, yang kemudian sepeninggal Sayyidina Umar ra mereka mengadakan musyawarah untuk menentukan khalifah selanjutnya, maka terjadilah perdebatan yang panjang diantara mereka karena masing2 memilih kandidat dari kalangan kerabat dan sukunya masing2, sampai pada akhirnya masing2 calon menarik diri dari pencalonan dan tersisa dua orang yakni Sayyidina Utsman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib rah, namun kemudian Sayyidina Ali pun menolak untuk di bai’at dan akhirnya Sayyidina Utsman lah yang bersedia untuk di bai’at menjadi Khalifah selanjutnya, pembai’atan tersebut dilakukan oleh Sayyyidina Abdurrahman Bin Auf ra, beliau adalah seorang yang menggantikan Imam Shalat ketika Sayyidina Umar ra sakit menjelang wafatnya. Perlu diketahui bahwasannya selama kepemimpinan para Khalifah sebelumnya bukannya tidak ada yang menyelisihi kebijakan2 yang di terapkan oleh khalifah Abu bakar dan Umar rah, beberapa sahabat ada yang tidak sepandangan dengan kebijakan2 mereka ketika memimpin, namun para sahabat tetap menjunjung tinggi arti kesetiaan kepada seorang pemimpin, dan mereka lebih memilih diam. Dan ketika Sayyidina Utsman dibai’at menjadi khalifah selanjutnya setelah Sayyidina Umar rah maka secara serentak tanpa keraguan mereka menyetujui pembai’atan tersebut.
Namun ketika kesabaran mulai hilang dari hati dan kemudian kemarahan serta provokasi dan fitnah semakin merajalela diakibatkan spekulasi dan dugaan2 yang muncul dalam benak para sahabat berkenaan dengan kebijakan2 pemerintahan sejak masa pemerintahan khalifah pertama. Maka  pada masa khalifah Utsman ra mulai lah terjadi konflik yang berujung pada demonstrasi dan peperangan saudara yang pada kenyataannya tidaklah menjadi solusi sama sekali, malahan terus berlarut2 menjadi sikap dan cara yang semakin merusak peradaban dan norma2 dalam ajaran Islam.
Demonstrasi yang dilakukan rakyat kepada pemerintah pertama dilakukan pada masa kepemimpinan khalifah Utsman bin Affan ra karena adanya penilaian konspirasi, kolusi dan nepotisme dalam internal pemerintahan. Dan hal tersebut terjadi memang sejak masa pemerintahan khalifah Umar Bin Khatab ra. Namun semua itu hanyalah sebatas penilaian karena di dorong oleh fanatisme kekerabatan dan tribes dalam tradisi masyarakat Arab saat itu. Maka muncul lah gerakan demonstrasi Anti-Utsman disebabkan oleh banyaknya faktor dan beberapa diantaranya adalah yang saya sebutkan diatas. Dan pada akhirnya terjadilah sebuah peristiwa besar dari Kelompok ma¬syarakat yang berdemonstrasi ini mendatangi kediaman khalifah dan mengepungnya hingga akhirnya khalifah Usman ibn Affan tewas mengenaskan di tangan para pemberontak pada 35 H/656 M. Namun kematian Khalifah Utsman ini tidaklah menyelesaikan persoalan yang terjadi karena setelahnya diangkatlah Khalifah Ali Bin Abi Thalib ra yang oleh sebagian rakyat dianggap tidak legiminated karena dianggap tidak mewakili suara mayoritas rakyat pada saat itu, karena hanya di dukung oleh kelompok pemberontak. Dengan terpilihnya Sayyidina Ali Bin Abi Thalib ra sebagai khalifah tidak menjadi penyelesaian politik pada saat itu, sebaliknya malah terjadi krisi konflik yang semakin rumit akibat banyaknya protes dari pada pendukung Khalifah Utsman ra yang disebut dengan “Utsmaniyyun” dan mereka yang masih merasa tidak puas. Maka konflik ini berujung pada peperangan Shiffin (38 H/657 M) yang di selelsaikan dengan cara Tahkim (Kemenangan Politik Muawiyyah), akibatnya muncul lah penentang baru Khalifah Ali ra yang disebut Khawarij, dengan lahirnya kelompok ini menambah sulit posisi Khalifah Ali ra dalam menyelesaikan persoalan politik yang terjadi saat itu. Kelompok khawarij ini adalah kelompok yang memisahkan diri daripada ijtihad para sahabat dan dari kelompok mereka ini kelak ada seorang bernama Ibnu Muljam (seorang yang terkenal sebagai Ahli Ibadah dan hafal Al Qur’an) yang kelak menjadi Pembunuh dari Khalifah Ali Bin Abi Thalib ra.
Sebenarnya sebelum terjadinya perang shiffin, sayyidina Ali ra sudah beberapa kali mengajak dialog diplomasi agar penyelesaian masalah tersebut tidak melalui cara peperangan, namun melalui cara2 musyawarah dan damai, namun dari pihak sahabat Muawiyyah ra karena di dorong oleh kepentingan politik tetap bersikeras dan melakukan provokasi agar dilakukannya perang. Padahal Sayyidina Ali ra sendiri sudah bisa mengukur kekuatan lawannya dan optimis akan bisa memenangkan peperangan, namun beliau ra tidak menyukai dan tidak ridlo dengan jalan pertumpahan darah saudara2 se imannya. Dan tentang Peristiwa yang melibatkan Sahabat Muawiyyah ra ini belakangan telah di kabarkan oleh Sayyidina Umar ra menjelang wafatnya kepada 6 sahabat Ahlu Syuro, Kha­lifah Umar r.a. berkata kepada Sayyidina Utsman bin Affan r.a. Tangannya sudah makin melemah dan tenaganya sudah sangat berkurang, beliau ra kemudian berucap “Aku merasa seakan-akan orang Qurraisy telah mempercayakan kekhalifahan kepada anda,” kata Khalifah dengan suara lembut, “karena besarnya rasa kecintaan mereka kepada anda.” Wajah Khalifah Umar r.a. mendadak kelihatan sendu, se­olah-olah sedang menahan perasaan getir yang menyelinap ke dalam kalbu. “Tetapi aku melihat nantinya anda akan mengangkat orang-orang Bani Umayyah dan Bani Mu’aith di atas orang lain. Kepada mereka anda akan menghamburkan harta ghanimah yang tidak sedikit.” Suara Khalifah meninggi pula: “Akhirnya akan ada segerombolan ‘serigala’ Arab datang meng­hampiri anda, lalu mereka akan membantai anda di atas pem­baringan.” Dengan nada peringatan yang sungguh-sungguh, Khalifah Umar r.a. mengakhiri kata-katanya: “Demi Allah, jika anda sampai melakukan apa yang kubayangkan itu, gerombolan ‘srigala’ itu pasti akan berbuat seperti yang kukatakan. Dan kalau yang demikian itu benar-benar terjadi, ingatlah kepada kata-kata­ku ini! Semua itu akan terjadi”. Perlu diketahui bahwa Sahabat Muawiyyah adalah dari keturunan Umayah (Bani Umayah), dan yang dimaksud dengan srigala adalah para demonstran anti-Ustman yang mengakibatkan terbunuhnya Khalifah Utsman ra.
Sejarah ini menjadi pelajaran untuk kita semua bahwa peperangan, anarkisme serta radikalisme adalah cara2 yang tidak bisa dijadikan solusi untuk mengatasi suatu persoalan, justru dampaknya akan semakin memperkeruh dan menambah rumit serta menimbulkan dendam yang berkepanjangan antara pihak2 yang berselisih, terbukti dalam sejarah tersebut, yang akhirnya menjadikan konflik dalam tubuh umat muslim yang tidak selesai2 hingga saat ini, namun masih ada waktu jika kita mau duduk bersama dan membicarakannya secara damai dengan hati yang dingin dan dilandasi prasangka baik (Husnudzon). Maka semuanya Insya Allah atas irodah Allah akan bisa terselesaikan. Itulah yang dikehendaki oleh Imam Ali ra ketika persoalan politik masa khalifah Utsman ra semakin tidak terkendali, dan semua berawal dari demonstrasi pengerahan masa untuk memaksakan kehendak dan kepentingan secara sepihak. Hilang kesabaran, dan lahirnya amarah yang dilandasi dengan prasangka tidak baik (Su’udzon).

Disimpulkan dari berbagai sumber sejarah Khulafaur Rasyidin.
Wallahu a’lam bish Shawab.
Semoga ada manfa’atnya, Jazakumullah Ahsanal Jaza...
By : Al Faqir Ilaa Robbihil Bashir.

Kamis, 15 Desember 2016

Maksud manusia sama dimata Allah SWT



Coba renungkan sejenak...
Fikirkan dengan Jujur berdasar fakta dan pengamatan apa adanya yang terjadi...
Begini...
Bahwasannya... dari mulai yang dianggap mulia entah ia adalah seorang Da'i, pejabat, dokter, guru, artis, aktor, Prajurit, Polisi, hingga yang dinilai hina seperti buruh rendahan, preman, pencuri, PSK, penari bugil, bandar narkoba maupun judi, penipu dan pengemis...
Kesemuanya tiada lain adalah sama berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup dan keluarganya dengan cara dan usahanya masing2... untuk dunianya... untuk kenyamanan hidupnya... untuk perut dan hajat2 dunianya...
Hanya saja ada yg beruntung diberi hidayah dan kesempatan...
Dan ada yang belum sampai kepadanya kebaikan dan kesempatan...
Dan kesemuanya itu tidak lepas dari keadilannya Allah SWT...
Lalu apa hak kita untuk memperlakukan dan menilainya secara berbeda...
Jika mereka semua dalam perjuangan itu adalah untuk dunianya semata... lalu apa bedanya???
Rasulullah SAW ketika menikah dengan Sayyidatina Khadijah adalah orang yang kaya raya... kemudian beliau menggunakan harta dan dunianya itu untuk perjuangan menyelamatkan umatnya agar selamat di akhirat kelak... sampai di akhir hayat beliau adalah seorang yang faqir, bahkan termasuk laqobnya beliau SAW adalah dengan sebutan Abal Fuqoro... dan tidak terwariskan sedirham pun untuk keturunannya... ini menunjukan perjuangan beliau SAW bukan untuk dunianya semata....
Coba renungkan dengan bijak...
Mudah2an kita akan bisa melihat setiap sesuatu dengan kacamata Rohmat Allah dan RasulNya...
 أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ* حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ* كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ* ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ* كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ* لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ* ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ* ثُمَّ تُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ 
[ سورة التكاثر ]

Jumat, 02 Desember 2016

Kerusakan Dan Kebodohan




ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
"Telah nampak (Jelas) kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Al-Ruum: 41)
==> Ayat ini menjelaskan bahwasannya manusia itu gemar membuat kerusakan, lalu apa yang membuat mereka melakukan kerusakan ??? di jawab oleh ayat berikut ini.....
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ
"Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar." (QS. Al-Baqarah: 11-12)
==> Disini menjelaskan bahwa manusia tidak sadar bahwa dirinya itu membuat kerusakan, tetapi yang mereka sadari dan yakini bahwasannya mereka sedang membuat perbaikan. Maka manusia perlu menyadari bahwasannya tidak seikitpun manusia bisa membuat perbaikan/ kemashlahatan kecuali atas petunjuk Allah SWT dan pertolongan-Nya.
==> Jadi pertanyaannya kemudian, apakah manusia boleh mengkalim kebenaran dari sudut pandang akal fikirannya ???? coba kita telaa di ayat berikutnya...
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
"Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. Al-A'raf: 96).
==> Pada ayat ini yang perlu digaris bawahi adalah manusia mendustakan (Ayat-ayat kami – manusia juga kadang tidak menyadari bahwa dirinya mendustakannya) maksudnya tanda dan isyarat dari Allah SWT berkenaan dengan kemashlahatan, jika perbuatan yang menurut kita baik itu malah menimbulkan kemadlorotan bagi umat secara khusus ataupun umum, maka ini menunjukan ketidak Ridloan Allah SWT.
==> Atas lemahnya pengetahuan manusia dan daya tangkap atas tanda dan isyarat dari Allah SWT (Kecuali para Nabi dan Awliya Allah) maka untuk mengklaim kebenaran tidak boleh hanya dari sudut pandangnya saja. Karena Allah SWT berfirman dalam Surat Kkahfi ayat 29.
وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ
“Dan katakanlah (Ayyuhar Rasuul): "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu”
==> Pada ayat ini Allah SWT jua yang akan menuntun manusia pada kebenaran itu sendiri, dengan mencurahkan Rahmat dan keberkahan atas ketakwaan dan keimanannya.
==> Maka perlulah hati2 ketika kita menyatakan kebenaran dari sudut pandang kita sendiri terhadap sesuatu yang ada di hadapan kita, apakah Isyarat yang Allah berikan sudah sesuai dengan apa yang kita tafsirkan???

==> Hati2lah dengan kebodohan dan hawa nafsu kita <==

Tentang Organisasi NU



NU adalah organisasi yg sangat menghargai para pendahulunya sebagai wujud syukur atas apa yg telah mereka berikan kepada bangsa ini, Yakni Agama Islam dan kemerdekaan Indonesia...
Siapa yg menjaga situs2 sejarah peninggalan Walisongo dan para pendakwah yg membawa dinul Islam di Nusantara??? Tiada lain adalah warga NU... siapa yg turut andil dalam kemerdekaan Indonesia dan mengawal kemerdekaannya sampai saat ini?? Tiada lain adalah NU...
Lalu apa jasa mereka yg berceloteh dengan klaim paling benar dan hobi menyalah2kan saudara2 seimannya??? Kemudian berkata paling tahu dengan ajaran walisongo dan sejarah tanah air???
Ketahuilah faham yg mereka bawa itu baru saja lahir kemarin2 dan kemudian mengklaim paling tahu kebenaran dan jejak langkah dakwah para ulama di tanah air...
Harusnya kita sebagai bangsa yg cinta Tanah air dan bangsa Indonesia bisa berfikir lebih sehat... ada apa sebenarnya dengan faham yg mereka bawa itu??? Apa tujuannya?? Dan apa yg di inginkannya???
Tiada lain jawabannya adalah Harta dan tahta serta wilayah...

Dan mereka selalu mencari-cari peluang momentum untuk meraih tujuannya itu...

Dan perlulah kita juga tahu.. asal faham yg mereka bawa itu adalah sebuah negeri kekuasaan kedinastian yg lahir dimasa perang dunia ke-2, yang tiada tercatat dalam sejarah jasa2 dinasti tersebut terhadap dunia Islam... kecuali mereka pandai mengumpulkan harta duniawiyyah dan meninggi2 kan bangunan, menjadikan kehidupan individu mereka gemerlap akan dunia... sampai disitu belum merasa puaslah mereka kecuali dengan menguasai seluruh Umat Islam demi membangun kekuasaan dinasti mereka... hal ini adalah suatu konsepsi klasik yg juga pernah dilakukan pendahulu2 mereka... dan berakhir dengan kehancuran... selalu seperti itu...

Mengenal Allah



Mengenal Allah SWT tetapi dengan standar makhlukNya, brrt belum mengenalNya...

Merasa bahwa Allah senang jika dipuji olehnya, seperti dirinya senang jika dipuji...

Merasa bahwa Allah senang jika dituhankan olehnya, seperti dirinya senang jika di muliakan...

Merasa bahwa Allah senang jika di sembah olehnya, seperti dirinya senang jika di hormati...

Begitupun jika sebaliknya jika Allah tidak di Puji, di tuhankan dan disembah, Allah akan kecewa....

Sungguh Dia itu Dzat yang sempurna tanpa membutuh kepada selainNya...

Semua atas Qudroh (kuasa) dan irodah (kehendak) Nya... maka tiadalah selainNya akan mempengaruhiNya...

Dia Dzat yang terlepas dari sifat2 lemah makhlukNya...

Adapun semua kebaikan dariNya dan kembali untukNya...

Dan adapun semua hinaan dan celaan kepadaNya adalah skenario untuk makhlukNya... untuk menunjukan kehebatannya sebagai pencipta... yang mencipta dengan segala keadilan dan kasih sayangNya... mencipta bukan karena untuk dipuji dan di agungkan, karena Dia Dzat yang tak butuh kepada makhlukNya...

Tetapi Dia lah Dzat yang mencipta dan menyukai jika makhlukNya berusaha untuk mengenalNya (me-Ma'rifati Nya)...

Allah SWT mencipta bukan untuk kepentinganNya... tetapi agar makhlukNya mengetahui keberadaanNya dan mengenalNya...

Sehingga akan hadir ke indahan dan kedamaian yang sangat nikmat dirasa oleh MakhlukNya...

List Video